Deception and Jail of Mind

Trapped!

Deception is always intriguing us inside and outside.

How strong can we survive?

Lost in crowded space,

No, actually it’s just empty space.

Trapped in empty space and can’t comeback.

It’s a setback!

Fell apart, thrown away.

What a life!

Rehab, rehab.

A sick person tried to wake up from the nightmare.

Tears fell down, flooded, and dried.

Still sick, needs rehab.

Mentally sick.

Fight to comeback.

Tears are the catharsis, more…more tears to ease the nightmare.

How to escape?

The feet are still locked in chain.

The key, where’s the key?

Where to find?

This is a jail.

What jail?

A mind jail.

The key is in the core of mind.

Advertisements

Main-main A la Setan

Kutipan di atas menarik sekaligus menohok diri kita. Terkadang kita mengabaikan hal-hal kecil yang bisa mengantarkan kita pada dosa dan kelalaian dari mengingat Allah. Kita suka coba-coba atau iseng-iseng melakukan sesuatu yang dilarang atau kurang baik. Di sinilah korelasi kutipan gambar di atas. Jangan main-main karena bisa jadi dengan main-main kita justru mengundang setan untuk ikut campur tangan dalam hal tersebut. Makin berbahaya dan runyam jadinya.

Kalau tahu itu salah, segeralah tinggalkan dan jauhi, jangan berlama-lama dalam keadaan tersebut. Karena sejatinya suatu yang buruk itu pasti diketahui gelagatnya dari awal. Berhenti untuk berbaik sangka pada keburukan. Karena suatu keburukan tidak akan membawa pada kebaikan, yang terjadi adalah kita semakin terjerumus dan terpuruk dalam keburukan.

Setan tidak pernah main-main. Dia serius merayu dan menggelincirkan manusia. Lalu kenapa kita malah mengikuti permainannya? Saat serius dengan main-mainnya, kita malah main-main dengan perangkap setan. Seperti tikus yang suka main-main ke dalam perangkap, maka pada akhirnya dia akan masuk perangkap dan terjepit karena digoda oleh umpan yang menarik hati tikus. Begitu pulalah setan bekerja. Dia membisikkan jika hanya sekadar coba-coba tidak apa-apa. Manusia yang mulai terlena akan terus penasaran dan mulai terbawa arus hingga lupa jika dia sudah tidak di situasi coba-cona lagi tapi sudah mencebur dan basah, jadi tanggung mandi sekalian. Di saat manusia diibaratkan “mandi” itulah main-mainnya jadi tidak lagi main-main tapi keterpurukan sebagai buah dari keseriusan setan menjerat kita.

Banyak orang kecanduan narkoba karena coba-coba, akhirnya ketergantungan. Ada orang memulai pacaran atas alasan untuk saling mengenal tapi berakhir dengan sedikit pegangan, sedikit pelukan, sedikit ciuman, hingga zina dan hamil di luar nikah. Jadi, coba-coba dan main-main di ranah yang rawan dosa adalah medan perang setan terhadap manusia. Kita yang sering tak menyadarinya. Jangan coba-coba juga untuk main hati. Main hati selain bikin baper juga bikin kita terjebak dalam lingkaran perasaan yang tidak halal. Lalu lalai dari mengingat Allah, bahkan melakukan hal-hal melampaui batas. Saat seseorang melampaui batas bukankah dia sudah tak main-main lagi? Tapi nekat yang menjerumuskan dirinya pada dosa dan maksiat. Perasaan cinta dan nafsu itu ibarat api, jika dia sudah membesar maka akan membakar segalanya dan tak bisa dipadamkan. Jika dipadamkan dia malah hangus dan rusak. Bukankah itu menyakitkan? Nauzubillahi mindzalik.

Untuk itu, adalah sebuah keharusan bagi kita untuk segera meninggalkan perkara-perkara yang akan mengantarkan kita pada kemaksiatan dan kemungkaran. Betapa banyak orang berselingkuh berawal dari bertemu teman lama, saling tukar nomor, saling sapa, kemudian berlanjut ke tingkat yang tidak terbayangkan sebelumnya. Sebelum terjadi, pintu-pintu fitnah itu harus segera ditutup dan dikunci rapat-rapat karena hidup kita bukan untuk coba-coba tapi menata dan mengelolanya jadi lebih baik.

Ingat sekali lagi, jangan coba-coba bermain di arena rawan. Berbahaya! Segeralah menyingkir dan tinggalkan!

Keasingan dan Keterasingan

Kamu tahu bagaimana rasanya teralienasi? Sensasi aneh di mana kamu ditempatkan pada keadaan yang berbeda dari orang lain. Alinenasi istilah lainnya adalah keterasingan. Ada dua kondisi yang harus kita bedakan yaitu merasa asing karena dibawa ke situasi yang tidak kita kenali dan yang kedua diasingkan oleh orang lain disebabkan oleh penolakannya terhadap diri kita. Pilih yang mana?

Tentunya, keterasingan membuat kita tidak memiliki tempat untuk berpijak, tidak nyaman dengan diri sendiri, serta terhalangi oleh keadaan yang mengungkung diri kita. Ini lain halnya dengan kondisi asing di mana kita dibawa dan masuk ke lingkungan asing. Kita harus mengikuti semua hal yang sebenarnya tidak kita inginkan. Tidak ada yang menyenangkan kedua-duanya.

Saat kita dibawa kepada keasingan, kita diminta untuk menjadi sesuatu yang tidak kita pahami dan inginkan. Mungkin itu adalah akhir dari eksistensi diri kita. Jika kita menyetujuinya tanpa keberatan (consent), then you have to be responsible for it. Bagaimana jika tidak? Could things will be alright? Tak ada yang tahu. Bisa baik bahkan bisa lebih buruk. Yang pasti hal yang harus kita usahakan adalah negosiasi sebelum ditarik pada keasingan yang tidak kita inginkan. Bicara ini mungkin gampang, tapi realisasinya rumit. Apalagi jika kita harus bernegosiasi dengan tradisi masyarakat. Tampaknya tidak ada solusi selain mengikuti yang mereka inginkan. Jikapun mereka mengajukan syarat, apakah kita sudah bisa memenuhinya segera? Oh, betapa hidupmu dalam prahara. Bagaimanapun, saya selalu menolak berada dalam keasingan. Paling tidak saya harus meyakinkan diri apakah itu bisa saya terima atau tidak.

Keasingan dan keterasingan dua hal yg berbeda. Keasingan berarti kita merasa asing dengan keadaan yang ada sedangkan keterasingan adalah kita diasingkan oleh keadaan atau situasi. Kita bisa lepas dari kedua situasi tersebut karena kita bisa memilih untuk keluar dari keduanya. Yang jadi masalah adalah saat kita harus terikat dengan orang-orang yang ada dalam situasi tersebut. Maka inilah prahara tersebut.

Keasingan tidak melulu antara kita dengan lingkungan atau orang lain tetapi bisa juga terjadi antara kita dengan diri kita sendiri. Kita bisa merasa asing dengan diri sendiri karena munculnya hal-hal yang di luar kebiasaan kita atau hal-hal yang tidak kita dapati itu sebagai sosok diri kita. Keasingan bisa dikelola dengan pembiasaan. Pembiasaan akan membuat kita terbiasa. Jika berbicara perubahan, di sinilah kita bisa melihat prosesnya. Kehidupan itu dinamis, manusia berubah setiap saat. Ini artinya manusia adalah makhluk yang mampu mengelola keasingan.

Lain pula dengan keterasingan. Keterasingan membutuhkan konvensi dengan pihak yang mengasingkan karena keterasingan muncul dari perilaku lingkungan atau orang lain yang mengasingkan diri kita. Ini bisa terjadi pada pihak-pihak yang diboikot, dikarantina, atau dilokalisasikan. Keterasingan membutuhkan kekuatan dan kekuasaan untuk menghilangkannya. Perkara ini lebih rumit daripada keasingan karena sudah berkaitan dengan tarik-menarik kekuasaan antar individu ataupun kelompok.

Kenapa saya menulis ini? Karena kadangkala keasingan dan keterasingan itu muncul dalam kehidupan saya. Saya hanya sedang ingin mengurainya menjadi sebuah pemahaman yang membantu saya memahami hal tersebut. Ada kalanya kita punya kuasa untuk mengalienasi orang lain dan orang lain pun punya kuasa mengalienasi diri kita. Dalam bahasa lainnya, kita bisa memenjarakan orang lain dan orang lain bisa memenjarakan kita dengan suatu keadaan.

Photo credit to here

Mengonstruksi Ilusi

Ini sebuah pembicaraan yang menarik. Beberapa hari ini saya terlibat diskusi serius dengan mahasiswa terkait masalah penerimaan terhadap realitas. Realitas berbeda dari fakta. Realitas bersifat relatif karena bisa dibangun sedangkan fakta adalah keadaan sesuatu  begitu adanya. Kadang memang tak semua orang rela menerima fakta apa adanya sehingga dia membangun realitasnya sendiri. Bahkan, bisa pula karena ada penolakan terhadap fakta yang tidak sesuai keinginannya. Di samping itu, bisa juga karena tidak memahami fakta yang ada sehingga dia membangun kerangka berpikir dengan asumsi.

Realitas yang tak diharapkan akan mengarah pada pembentukan realitas baru yang bisa disebut sebagai ilusi. Ilusi bisa diartikan sebagai fantasi yang diinginkan sebab fakta tidak mendukung harapan seseorang. Banyak orang pada akhirnya membangun ilusi yang dijadikan nyata olehnya. Mereka membangunnya lewat persepsi yang menyalahi hukum alam. Pada akhirnya, mereka hidup dalam ilusi yang dibayang-bayangi oleh rapuhnya bangunan realitas tersebut.

Ini terdengar filosofis, karena hal ini memang dilandasi oleh pikiran-pikiran mendasar tentang realitas walaupun semu. Terkadang manusia merasa nyaman dengan ilusi yang dia buat hingga dia mendapati ruang fantasinya hancur oleh ketidaksinkronan fakta dengan harapan.

Maka dari itu, untuk memeriksa kewarasan kita, perlu kiranya melihat apakah perkara hidup yang kita jalani berdasarkan ilusi ataukah hukum alam yang tidak saling bertentangan.

Hidup dalam fantasi atau ilusi sama seperti orang-orang yang terperdaya dengan angan-angan panjang hingga dia menyadari apa yang dia bayangkan adalah semu dan rapuh. Manusia pada umumnya hidup dalam ilusi yang dia bangun. Dalam konteks yang sangat serius atau “nyata” pun manusia masih sempat-sempatnya membangun ilusi yang dia jadikan reitas hidup yang diimpikan. Contohnya saja bagaimana orang-orang menciptakan konsep Demokrasi sebagai fantasi realitas yang kemudian mereka wujudkan dalam realitas nyata untuk mengatur urusan hidup mereka. Mereka sadar jika Demokrasi hanyalah ilusi, tapi mereka masih percaya dan ingin tetap berada dalam bayang-bayang ilusi yang mereka bangun.

Demokrasi tak pernah bisa menjadi nyata karena dari sifatnya sudah menyalahi hukum alam atau sunnatullah. Manusia saja yang bersikeras untuk menjadikan Demokrasi sebagai realitas mereka. Sampai sekarang Demokrasi tak pernah sampai pada tahapan yang diinginkan karena pada faktanya kehidupan sosiologis manusia tidak memungkinkan itu terwujud.

Demokrasi menginginkan semua orang bebas memberikan pendapatnya sekalipun itu salah dan mengandung bahaya. Mereka menganggap dengan dikeluarkannya aspirasi semua orang maka seseorang tersebut akan hidup bahagia sekalipun dia hidup dalam ilusi atau fantasi yang kapanpun dapat membahayakan dirinya dan orang lain.

Baik dan buruk serta salah dan benar tak pernah diperhitungkan dalam Demokrasi, demikian juga dalam ilusi dan fantasi manusia. Itulah sebabnya ini membahayakan. Seseorang menjalankan hidupnya hanya berdasarkan keinginan-keinginannya semata yang memuaskan hasratnya tanpa memperhitungkan kebaikan dan keburukannya. Sejatinya, baik dan buruk adalah proses alam. Alam sudah diberikan mekanisme oleh Allah untuk menjalankan segala sesuatu sesuai dengan standar kebaikan. Itulah sebabnya saat kehidupan manusia mengalami kekacauan (chaos) pasti ada hal yang melanggar hukum alam.

Dari pembicaraan ini yang bisa saya sampaikan adalah seharusnya manusia berhenti bermain-main dengan fantasi dan ilusinya karena saat hal tersebut mereka paksakan menjadi realitas, maka mereka akan mengalami kehancuran atau kekacauan hidup.

Allah lebih tahu mana yang baik dan buruk. Itulah sebabnya, manusia perlu memahami aturan Penciptanya agar selamat dan aman kehidupannya di dunia dan akhirat. Jadi, berhati-hatilah mengonstruksi ilusi menjadi realitas, kelak kita akan mendapatkan apa yang kita tuai.

Kelayakan

Mencintai sesuatu yang layak untuk dicintai,

Merindukan sesuatu yang layak untuk dirindukan,

Mempertahankan sesuatu yang layak untuk dipertahankan,

Memperjuangkan sesuatu yang layak untuk diperjuangkan.

Mengharapkan sesuatu yang layak untuk diharapkan.

Menangisi sesuatu yang layak untuk ditangisi,

Meminta sesuatu yang layak untuk diminta.

Semua kelayakan itu dimulai dari Allah. Saat semuanya atas ridha Allah, maka semua layak dilakukan.

Ya Allah, Aku Ingin dan Butuh…

Ada yang kau inginkan tetapi itu bukan yang kau butuhkan dan harapkan. Kau mencintai sesuatu tetapi pada versi yang berbeda. Kadang kau ingin yang ada di depan matamu, tapi itu tidak memenuhi yang kau butuhkan. Ada yang kau butuhkan tapi tidak kau inginkan. Kapankah keinginan dan harapan bertemu? Ah, sungguh! Kesempurnaan memang langka dan itu hanya dari Allah.

Tiap orang memiliki keunikan dan ketertarikan yang berbeda. Itulah sebabnya tak ada yang sia-sia di muka bumi ini. Allah sudah mengatur segalanya. Masya Allah, sungguh Allah Maha Adil. Di samping itu, kita akan melihat pula bagaimana manusia menjalani hidupnya dengan cara yang berbeda. Manusia diberi dua jalan yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Ada yang mengambil jalan keburukan ada pula yang mengambil jalan kebaikan sebagaimana firman Allah:

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan).”
(QS. Al-Balad 90: Ayat 10

Ada manusia yang bertindak mengikuti keinginan-keinginannya tanpa melihat baik buruknya. Itu semua pilihan manusia itu sendiri. Di sini Allah memberikan peringatan bahwa ada manusia yang justru mengambil jalan keburukan dalam hidupnya karena jalan kebaikan dianggap sukar untuk dijalani. Padahal jalan yang sukar itulah yang lebih disukai Allah. Jalan di mana manusia berhati-hati melangkah agar tidak terjerumus pada keburukan. Dan jalan di mana manusia harus rela berkorban dengan hal-hal yang dia cintai untuk kebaikan.

Allah tidak memaksa. Dia memberikan arahan untuk hidup dengan cara yang benar agar hidup manusia tidak sia-sia. Bahkan, Allah memberikan ganjaran pahala dan surga bagi yang mengikuti jalan kebaikan. Memang, sesuatu yang berharga tentu tidak didapat dengan cara yang mudah, butuh perjuangan dan kesungguhan.

Ada kalanya kita dihadapkan pada pilihan-pilihan hidup yang sulit. Tidak semua harapan kita bisa terkabul sesuai keinginan. Kita ingin mendapatkan yang sempurna dalam pandangan kita. Hanya saja hidup tidak sesempurma itu. Terkadang kita mendapati sesuatu yang kita inginkan tapi justru bukan itu yang kita butuhkan. Terkadang pula mendapati sesuatu yang kita butuhkan tapi malah tidak kita ingini. Manusia memang banyak permintaan dan tak pernah puas ya.

Allah pasti tidak setega itu menurut saya. Karena manusia punya persepsi berbeda dan keinginan-keinginan berbeda tentu, kerelatifan itu membuka jalan untuk terpenuhinya kenginan manusia. Paling tidak hampir mendekati keinginannya yang sempurna. Allah yang menjadikan sesuatu indah bagi kita, yang pastinya sesuai dengan standar kebenaran dari Allah.

Jika kita berharap sesuatu pada Allah, mintalah sesuatu yang kita inginkan dan butuhkan sesuai maunya Allah. Tak ada yang salah jika meminta sesuatu yang baik pada Allah. Bukankah Allah Maha Kaya? Allah senang dimintai oleh hamba-Nya, jadi jangan malu meminta pada Allah asalkan yang diminta tidak mengandung mudharat dan maksiat. Allah senang diminta hal-hal baik. Dan jangan lupa untuk terus menjadi hamba yang lebih baik agar kita pantas mendapatkan kebaikan yang kita minta.

Are You Living in Fiction or Reality?

Kamu tau? Terkadang realitas lebih mengerikan daripada fiksi. Berlama-lama membaca cerita fiksi dengan berbagai judul dan genrenya dengan konten bombastis mungkin suatu hal yang biasa. Bahkan, banyak yang melampaui akal sehat. Akan tetapi bagaimana jika realitas atau kenyataan yang kita lihat dalam hidup lebih pedih dari fiksi tersebut? Kadang di sini saya merasa terguncang. Menurut saya, hal-hal buruk cukuplah terjadi dalam kisah fiksi karena manusia punya kemampuan mengkhayal tingkat tinggi dan memanipulasi kenyataan, akan tetapi sialnya fiksi adalah cerminan realitas. Orang belajar menuliskan realitas kedua dari realitas pertama yang tampak olehnya.

Ok, I’ll tell you. Saya ini hanya manusia biasa yang terkadang muak dengan sifat-sifat manusia yang menyebalkan dan perilakunya yang tak menyenangkan. I always try to be good and do good. I admit that I have ever fallen into stupidity and done wrong things. Kebodohan itu membuat saya kesal dan marah. Jika manusia sadar akan kebodohan dan kesalahan yang dia buat seharusnya dia tak melakukannua lagi. Tetapi, ada manusia yang terus-menerus melakukannya dan akhirnya tak bisa lagi mengenali kesalahan sebagai kesalahan dan hal yang buruk. Mereka menikmati kesalahan itu sampai lupa diri dan melakukannya lagi dan lagi. Tampaknya ini yang dikatakan Allah:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 18-19).

“Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah.” (Qs. Al-Mujadilah [5]:19)

Ayat-ayat itu terpampang nyata. Sungguh, Allah Maha Mengetahui. Jika kita pendosa, maka berjuanglah untuk keluar dari dosa-dosa itu. Mohon ampun pada Allah, dan jangan lakukan. Jika kau melakukannya lagi, mohon ampun lagi pada Allah sampai kau bosan berbuat dosa dan membenci perbuatanmu. Pasti kau akan sampai pada titik jenuh dan meninggalkannya karena di dalam hatimu sudah terpaku mana yang mungkar dan mana yang ma’ruf.

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan urusannya senantiasa melewati batas.” (Qs. Al-Kahf [18]:28)

Mengenal yang baik dan yang buruk butuh pembelajaran. Belajar ilmu agama adalah satu-satunya cara. Cari tahu apa saja perintah dan larangan Allah. Baca dan pelajari Al Quran dengan serius, pahami hadis dan kaji hukum-hukum fiqih. Setiap pembelajaran akan membuahkan ilmu jika bersugguh-sungguh. Jika kau menolak, artinya hawa nafsumu lebih besar daripada keinginanmu untuk menjadi hamba yang baik dan taat.

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan urusannya senantiasa melewati batas.” (Qs. Al-Kahf [18]:28)

Jika realitas memang lebih mengerikan daripada fiksi, seharusnya realitas juga bisa membuat dan merancang plot twist yang lebih hebat dari yang ditawarkan fiksi. Do good, good things will come to you. Do bad, bad things will come to you. It’s the nature of life.

Losing Chance?

Mungkin sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi saat cita-cita belum tercapai adalah agar waktu tidak cepat berlalu mendahului, atau masih diberikannya kesempatan yang sama untuk keinginan-keinginan yang sama. Tapi terkadang manusia terlalu terburu-buru. Merasa waktu akan segera habis dan melakukan apa pun agar cita-cita mereka tercapai, tak peduli apa yang didapatkan. Lalu bagaimana jika cita-cita itu tidak tercapai? Ya sudah. Mau apa? Terima saja.

Pertanyaan pentingnya adalah apakah kita akan mengorbankan diri kita untuk sesuatu yang membuat kita tidak bahagia? Konsep bahagia mungkin relatif. Kadang saya pun tak tahu bahagia itu seperti apa, kadang berubah-ubah. Tentunya tiap orang punya standar bahagia yang berbeda. Masalahnya adalah apakah kita akan memaksakan standar bahagia kita pada orang lain yang memiliki standar yang berbeda? Tentu tidak bisa. Memaksakan tidak bisa, mempengaruhi dan mengubah persepsi seseorang mungkin bisa.

Namun seringkali orang memaksakan konsep bahagianya pada orang lain. Bukankah ini akan menyakiti dan membebani orang lain? Ok lah, jika ingin seseorang mencapai kebahagiaan yang diinginkan, tak bisakah manusia memberikan atau menawarkan sumber kebahagiaan yang diinginkan orang tersebut? Jika kita ingin bahagia tentu kita akan mencari sesuatu yang baik-baik dan menyenangkan untuk diri kita. Mungkinkah membahagiakan diri dengan sesuatu yang kita sendiri tidak suka? Maka, jika ingin membahagiakan orang lain, berilah yang terbaik untuk mereka. Jangan sampai kita memberikan sesuatu yang kita sendiri tidak suka jika kita diberikan hal tersebut.

Ukurlah kebahagiaan dirimu, ukur juga kebahagiaan orang lain. Jika ingin memberi, mungkin bisa bertanya dulu apa yang disukai orang tersebut. Jadi pemberianmu akan dihargai dan tidak menyakiti serta membebani orang lain. Jangan mentang-mentang orang lain belum mendapatkan kebahagiaan lantas memberikan apa pun yang dipikir dapat membahagiakannya. Bahkan sembarangan memberikan sesuatu tanpa pertimbangan justru akan berdampak fatal di kemudian hari. Ingat, bahwa manusia adalah makhluk yang unik, mereka berbeda secara individu, jangan perlakukan mereka sama dengan mengabaikan sisi personalnya.

Yang pasti Allah menggenggam segalanya. Dia menetapkan dan memberikan sesuai kehendak-Nya. Jika pada akhirnya, itu sesuatu yang telah ditetapkan apa boleh buat. manusia mau apa?