Are You Living in Fiction or Reality?

Kamu tau? Terkadang realitas lebih mengerikan daripada fiksi. Berlama-lama membaca cerita fiksi dengan berbagai judul dan genrenya dengan konten bombastis mungkin suatu hal yang biasa. Bahkan, banyak yang melampaui akal sehat. Akan tetapi bagaimana jika realitas atau kenyataan yang kita lihat dalam hidup lebih pedih dari fiksi tersebut? Kadang di sini saya merasa terguncang. Menurut saya, hal-hal buruk cukuplah terjadi dalam kisah fiksi karena manusia punya kemampuan mengkhayal tingkat tinggi dan memanipulasi kenyataan, akan tetapi sialnya fiksi adalah cerminan realitas. Orang belajar menuliskan realitas kedua dari realitas pertama yang tampak olehnya.

Ok, I’ll tell you. Saya ini hanya manusia biasa yang terkadang muak dengan sifat-sifat manusia yang menyebalkan dan perilakunya yang tak menyenangkan. I always try to be good and do good. I admit that I have ever fallen into stupidity and done wrong things. Kebodohan itu membuat saya kesal dan marah. Jika manusia sadar bahwa kebodohan dan kesalahan yang dia buat seharusnya dia tak melakukannua lagi. Tetapi, ada manusia yang terus-menerus melakukannya dan akhirnya tak bisa lagi mengenali kesalahan sebagai kesalahan dan hal yang buruk. Mereka menikmati kesalahan itu sampai lupa diri dan melakukannya lagi dan lagi. Tampaknya ini yang dikatakan Allah:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 18-19).

“Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah.” (Qs. Al-Mujadilah [5]:19)

Ayat-ayat itu terpampang nyata. Sungguh, Allah Maha Mengetahui. Jika kita pendosa, maka berjuanglah untuk keluar dari dosa-dosa itu. Mohon ampun pada Allah, dan jangan lalukan. Jika kau melakukannya lagi, mohon ampun lagi pada Allah sampai kau bosan berbuat dosa dan membenci perbuatanmu. Pasti kau akan sampai pada titik jenuh dan meninggalkannya karena di dalam hatimu sudah terpaku mana yang mungkar dan mana yang ma’ruf. “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan urusannya senantiasa melewati batas.” (Qs. Al-Kahf [18]:28) Mengenal yang baik dan yang buruk butuh pembelajaran. Belajar ilmu agama adalah satu-satunya cara. Cari tahu apa saja perintah dan larangan Allah. Baca dan pelajari Al Quran dengan serius, pahami hadis dan kaji hukum-hukum fiqih. Setiap pembelajaran akan membuahkan ilmu jika bersugguh-sungguh. Jika kau menolak, artinya hawa nafsumu lebih besar daripada keinginanmu untuk menjadi hamba yang baik dan taat.

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan urusannya senantiasa melewati batas.” (Qs. Al-Kahf [18]:28)

Jika realitas memang lebih mengerikan daripada fiksi, seharusnya realitas juga bisa membuat dan merancang plot twist yang lebih hebat dari yang ditawarkan fiksi. Do good, good things will come to you. Do bad, bad things will come to you. It’s the nature of life.

Advertisements

Losing Chance?

Mungkin sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi saat cita-cita belum tercapai adalah agar waktu tidak cepat berlalu mendahului, atau masih diberikannya kesempatan yang sama untuk keinginan-keinginan yang sama. Tapi terkadang manusia terlalu terburu-buru. Merasa waktu akan segera habis dan melakukan apa pun agar cita-cita mereka tercapai, tak peduli apa yang didapatkan. Lalu bagaimana jika cita-cita itu tidak tercapai? Ya sudah. Mau apa? Terima saja.

Pertanyaan pentingnya adalah apakah kita akan mengorbankan diri kita untuk sesuatu yang membuat kita tidak bahagia? Konsep bahagia mungkin relatif. Kadang saya pun tak tahu bahagia itu seperti apa, kadang berubah-ubah. Tentunya tiap orang punya standar bahagia yang berbeda. Masalahnya adalah apakah kita akan memaksakan standar bahagia kita pada orang lain yang memiliki standar yang berbeda? Tentu tidak bisa. Memaksakan tidak bisa, mempengaruhi dan mengubah persepsi seseorang mungkin bisa.

Namun seringkali orang memaksakan konsep bahagianya pada orang lain. Bukankah ini akan menyakiti dan membebani orang lain? Ok lah, jika ingin seseorang mencapai kebahagiaan yang diinginkan, tak bisakah manusia memberikan atau menawarkan sumber kebahagiaan yang diinginkan orang tersebut? Jika kita ingin bahagia tentu kita akan mencari sesuatu yang baik-baik dan menyenangkan untuk diri kita. Mungkinkah membahagiakan diri dengan sesuatu yang kita sendiri tidak suka? Maka, jika ingin membahagiakan orang lain, berilah yang terbaik untuk mereka. Jangan sampai kita memberikan sesuatu yang kita sendiri tidak suka jika kita diberikan hal tersebut.

Ukurlah kebahagiaan dirimu, ukur juga kebahagiaan orang lain. Jika ingin memberi, mungkin bisa bertanya dulu apa yang disukai orang tersebut. Jadi pemberianmu akan dihargai dan tidak menyakiti serta membebani orang lain. Jangan mentang-mentang orang lain belum mendapatkan kebahagiaan lantas memberikan apa pun yang dipikir dapat membahagiakannya. Bahkan sembarangan memberikan sesuatu tanpa pertimbangan justru akan berdampak fatal di kemudian hari. Ingat, bahwa manusia adalah makhluk yang unik, mereka berbeda secara individu, jangan perlakukan mereka sama dengan mengabaikan sisi personalnya.

Yang pasti Allah menggenggam segalanya. Dia menetapkan dan memberikan sesuai kehendak-Nya. Jika pada akhirnya, itu sesuatu yang telah ditetapkan apa boleh buat. manusia mau apa?

Ilmu dan Perjalanan


Hidup adalah perjalanan. Terkadang memang tidak selalu kita tahu aturan mainnya hingga mesti terjatuh dulu baru menyadari kesalahan. Bisa juga kita melaluinya dengan seperangkat pengetahuan yg memandu hingga kesalahan-kesalahan bisa teratasi. Namun, bagaimanapun, hidup akan selalu memberikan ujian dan permasalahan baru dan kita tak tahu rumusnya. Kita meraba-raba, menerka-nerka, menimbang-nimbang, bahkan bisa jadi memakai suatu stategi tertentu untuk menjalaninya, akan tetap saja itu adalah sebuah ujian yang baru. Maka, bisa dipastikan ada kesalahan-kesalahan yang dilakukan. Atau bisa juga manusia diberi permasalahan yang sama tetapi tak mampu atau lupa mengidentifikasinya hingga mengulangi kesalahan yang sama karena tidak berhati-hati. Semata-mata semua itu karena manusia sangat sedikit ilmunya dan sering mengikuti kehendaknya saja. Tidak tahu mana yang baik dan buruk untuk dirinya, kadang tahu tapi memaksakan kehendak. Saat menyadari kesalahan barulah dia mengerti.

Manusia akan selalu diuji dengan sesuatu yang sering membuatnya terkecoh dan terlalaikan. Dia akan diuji dengan sesuatu yang terlalu disukainya atau hal-hal yang tak disukainya. Seberapa tangguh manusia dalam menjalani dan menyelesaikan masalahnya, maka di situlah keberhasilannya dalam menjalani hidup. Itulah mungkin yang dinamakan tingkatan ujian dan orang-orang yang berhasil akan naik derajat ke yang lebih tinggi di sisi Allah Swt. Jika dia masih gagal, maka ujian yang sama akan terus menghadangnya sampai dia melewatinya. Subhanallah.

“Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapai (derajat itu) dengan amal-amal kebaikannya, maka Allah akan menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu.” (H.R. Athabrani)

Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya lemah dia diuji dengan itu (ringan) dan bila imannya kuat dia akan diuji sesuai dengan itu (keras). Seseorang akan diuji terus menerus sehingga dia berjalan di muka bumi ini bersih dari dosa-dosanya” (H.R. Bukhari)

Islam sudah memberi sekumpulan aturan sebagai panduan. Apa pun ujian dan permasalahannya akan dapat diselesaikan asal selalu merujuk pada aturan tersebut. Seringkali, manusia lupa untuk menguasai atau mengabaikan aturan-aturan tersebut hingga membiarkan hasrat dan keinginan yang menguasai. Maka wajar terjadi kesalahan yang tak bisa dielakkan. Ya, mengabaikan aturan adalah kesalahan paling sering dilakukan. Tapi yang paling fatal adalah tidak mempelajari aturan. Maka saat kesalahan terjadi dia tak sadar jika itu adalah sebuah kesalahan. Ini cukup mengerikan jika kita tak tahu kesalahan kita. Artinya, tidak akan ada kesadaran untuk memperbaiki diri karena apa yang dilakukannya masih dianggap benar, dia hanya menganggap kurang beruntung saja.

Sampai di sini, yang ingin saya katakan adalah sangat penting sekali untuk berilmu sebelum beramal. Penting untuk mengetahui aturan-aturan dalam menjalani kehidupan. Dengan demikian kita akan terhindar dari kesalahan. Jika kita salah akan segera beristighfar dan memperbaikinya.

Bagi seorang muslim penting baginya untuk mengkaji aturan dalan Al Quran dan hadis sebagai sumber utama aturan. Kita bisa memperdalamnya lagi dalam kajian qiyas dan ijtihad, serta ijma’ atau kesepakatan para ulama.

Dalam Islam, menuntut ilmu adalah wajib. Ilmu yang utama adalah ilmu Islam yang akan menjadi landasan dan panduan dalam kehidupan. Ilmu-ilmu untuk urusan dunia pun tak lepas dari perhatian dalam Islam agar manusia mengetahui cara memfasilitasi dan memenuhi kehidupannya dengan baik. Maka dari itu, mari kita semakin bersemangat dalam menuntut ilmu, terutama ilmu Islam. 😊

Photo credit here

Release it, content it!


Tuhan mengujimu sampai kau benar-benar tangguh. Hingga yang tersisa adalah penyerahan dirimu pada-Nya seutuhnya. Lalu,  kenapa masih berusaha mengambil alih semua urusan seolah kau mampu mengendalikannya sekehendakmu? Berhentilah. Serahkanlah dan lepaskanlah. Itu lebih baik bagimu. Karena dirimupun seutuhnya adalah milik-Nya.

Berhentilah mengkhawatirkan segala sesuatu, kecuali amalmu pada-Nya. Berhentilah memaksakan sesuatu yang kau tak tahu baik buruknya. Berhentilah memikirkan sesuatu yang tak membawa peningkatan derajatmu di hadapan Tuhanmu. Berhentilah membuat dirimu berlelah-lelah untuk sesuatu yang tak bermakna bahkan sia-sia.

Allah dekat, lebih dekat dari urat nadimu. Dia menggenggam hati dan jiwamu. Kemana kau akan pergi? Kemana akan lari? Ah, jahat sekali saat kau berpaling dan mencari pertolongan selain dari-Nya. Kau membiarkan dirimu terlunta-lunta mencari pertolongan lain. Akhirnya, tercabik-cabik hilang arah.

Sudah cukup menyibukkan diri dengan pikiran dan kehendakmu sendiri. Lepaskanlah dan serahkan pada Allah. Kau akan terbebas, ternaungi, terampuni, dan terberkahi. Kau akan dicintai dan ditunjuki.

Lepaskan dan serahkan semua pada Allah.

The heart story

 

I always talk to my heart every day. I ask questions and give answers. This is my daily activity. I construct my mind and heart every day so that they stay sane and calm. Yes, they should be like that. I hate it when they turn to contradict each other and I have to end tortured.

My heart keeps searching its mate. Sometimes my radar can find and feel it. After that, I feel afraid. I’m afraid I was wrong and expect too much. Then, I will try to pamper my heart that I shouldn’t be too hasty. I ask God to guide my heart since I don’t know what it really wants and needs. Sometimes I cried many nights to convince my self not to hurry and hope God will tie my heart to its real mate. Yes, sometimes I found it, but then I was wrong. I found it again, and feel afraid and hesitate. I’m a little coward who try to deny my feeling and afraid to be dumped. I’m not that strong woman, right? Haha. This is stupid and random. What I did in the end is to calm my self and not to hurry. I’m afraid I was wrong and if it’s just me who feel and want it. Again, I ask God to guide my heart and let my self be calm. I keep searching and hoping. I don’t know when I have to stop.

You know, I’m not good in telling a story about heart and feeling. I don’t have many vocabularies about it. Because the thing I know is only the word “love”. *I’m a romantic badass! 😄

Sorry.  This story is real but I don’t know why I write it like a trash. 😅

A profane life

Hidup itu tidak suci. Manusia itu tidak suci. Manusia berbuat dosa setiap detik. Dosa kecil mana yang luput dilakukan dalam sehari? Ada saja kesalahan yang dilakukan, sadar atau tidak sadar. Sekali-kali karena manusia itu bukan makhluk suci. Kita harus tercabik-cabik, berdarah-darah, bahkan seperti ditarik untuk sekadar mengalami dosa. Dosa yang kita perbuat atas kebodohan diri, kelalaian diri, dan ketidaksabaran. Dosa yang menjadi bukti betapa kecil dan lemahnya kita. Apa yang kita banggakan sebagai manusia? Tidak ada! Kita sangat lemah; tak punya kuasa dan kendali; mudah tergelincir dan terkecoh; sedikit sekali ilmu yang dipunya.  

Rahmat Allah-lah yang telah meninggikan derajat manusia, yang membuatnya lepas dari dosa dan kesalahan. Jika bukan karena rahmat Allah, apa yang akan menolong? Tak ada. Maka mintalah selalu ampunan, pertolongan, perlindungan, kasih sayang, dan petunjuk dari Tuhanmu— Allah SWT. Dia-lah satu-satunya tempat meminta, berharap, dan bersandar. Atas kehendak dan kekuatan-Nya semua terlaksana. La haula walaquwwatta illabillahil ‘aliyyil’azhim. 

Allah, we are sinners. Please, forgive us.

Photo credit: here

Kemana Doa-doa Bermuara?

d702f04d86a0c229653b64e746d9fcae

Hari pertama di bulan Maret. Apa kabar? Sudah empat bulan rupanya aku tak pulang ke sini. Bukan tak ada yang akan ditulis tetapi dunia nyata tampaknya lebih menarik untuk “ditulis”.

Empat bulan bukan waktu yang singkat karena ada doa-doa yang selalu dirapalkan dan menunggu untuk dikabulkan. Memang tak selalu doa-doa dijawab secepat itu. Bahkan Allah sepertinya tak selalu berfokus pada apa-apa yang ingin kita capai. Dia ingin melihat kesungguhan dan kesabaran kita untuk tetap berdoa tanpa henti dan ragu serta hanya bersandar pada-Nya. Dengan kata lain, Dia menginginkan kedekatan itu terus berlanjut hingga kita tak lagi berfokus pada capaian-capaian kita tetapi justru menikmati saat-saat bersama-Nya. Bukankah itu sangat syahdu?

Sangat gampang bagi Allah untuk mengabulkan semua permintaan. Terkadang manusia memang egois karena seringkali hanya ingat akan keinginannya tapi lupa pada pemberi nikmat itu setelah didatangkan. Sangat tidak berterima kasih dan bersyukur. Untuk itu, kita memang harus selalu berpikir akan hal-hal mendasar ini, bahwa Allah hanya menginginkan ketaatan dan keterikatan kita pada-Nya.

Allah suka pada hamba-hamba yang selalu meminta kepada-Nya. Itu bukti bahwa manusia memang sangat membutuhkan Tuhannya. Akan tetapi, seberapa besarkah permintaan itu dibanding ketawakalan kita pada-Nya? Tawakkal berarti ikhlas dan mempercayakan semua urusan hanya pada Allah, dan tak ada kekhawatiran sedikitpun akan ketatapan-Nya. Tuhan tak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya. Kenapa ragu dengan keputusan Tuhan? Artinya semua harus disyukuri. Setiap ketetapan pasti ada kebaikan di baliknya. Tuhan tak pernah salah dalam menetapkan sesuatu. Dia lebih memahami qadar akan segala hal.

Percayakan saja semua urusanmu pada Allah. Semakin lama permintaanmu dikabulkan artinya semakin ingin Allah dekat denganmu. Kesulitan-kesulitan dan pengharapan itu bisa jadi jalan menuju dekat dengan Allah. Kelak mungkin kita tak akan lagi mementingkan itu. Tidakkah kau rindu pada-Nya? Sudah sampaikah sebuah hadis qudsi pada kita bahwa saat kita mendekat kepada-Nya sejengkal maka Dia akan lebih dekat sehasta. Saat kita berjalan kepada-Nya, Dia akan berlari menemui kita. Allah akan mengingat kita saat kita mengingat-Nya. Tak cukupkah kebahagiaan itu saat Allah senantiasa mengingat kita dalam dirinya? Bisa jadi itu satu hal yang akan kita dambakan pada akhirnya nanti, saat di akhirat, kita akan berbahagia saat catatan itu dibacakan.

photo credit: estuary photo

Apa Artinya Membaca?

14670847_1001785846616849_8442569675272830306_n

Ah, saya baru benar-benar menyadarinya sekarang. Padahal saya sudah tahu keadaan itu sebelumnya. Mungkin ini sesuatu yang disebut pengabaian dan berujung pada sesuatu yang semakin buruk. Kemampuan membaca. Ya, ini tentang kemampuan membaca mahasiswa saya yang saya abaikan selama ini. Saya sibuk memahamkan mereka berdasarkan pembacaan saya terhadap buku-buku yang saya baca dan permasalahan-permasalahan yang saya analisis sebagai kasus dalam perkuliahan. Beberapa hari yang lalu, saya menemukan fakta yang semakin membuat saya merasa bersalah. Why did I leave them (my students) in that condition? It makes me sad.

Beberapa hari yang lalu, tiga mahasiswa menemui saya. Mereka meminta bantuan untuk menafsirkan pembacaan saya terhadap sebuah buku karena ada dosen yang meminta mereka untuk membuat presentasi dari rujukan sebuah buku. Saya kaget, apakah mereka tak bisa membacanya? Ya, memang saya akui itu adalah buku terjemahan yang mungkin sulit mereka pahami. Rata-rata buku terjemahan memang seperti itu karena konteks bahasa dan persepsi tidak selalu sama, jadinya ketika diterjemahkan banyak hal-hal yang sulit dipahami karena perbedaan padanan konteks dan faktanya. Itulah sebabnya, menurut saya, penting menguasai bahasa asing, agar mampu memahami konteks bahasa tersebut. Ya, ini memang suatu variabel lain yang mempengaruhi kemampuan membaca seseorang. Dan itu mungkin akan butuh waktu. Bagaimanapun, kemampuan membaca sangat penting untuk menghasilkan pemahaman tentang suatu ide atau ilmu. Akhirnya, saya benar-benar terusik dengan kondisi mahasiswa di atas, walaupun pada akhirnya saya membantu mereka “membaca” beberapa bagian buku tersebut.

Apa yang salah dengan metode pembelajaran kita selama ini? Kita pendidik memberikan tugas membaca pada mahasiswa, tapi jarang sekali mengajari bagaimana cara membaca pada mereka. Mereka disuruh membaca buku teks, jurnal, dan bahkan buku berbahasa asing, tetapi tidak mengevaluasi dan mengoreksi hasil pembacaan mereka. Ini akan membuat mereka lama dan salah dalam memahami. Itulah sebabnya diskusi sangat penting. Seringkali mahasiswa diminta untuk presentasi, kemudian mereka dibiarkan begitu saya, tanpa ada penguraian lebih lanjut dari pendidik. Ini bencana ilmu namanya. Mahasiswa akan pulang dengan pikiran yang bingung dan tidak memahami apa yang telah dia lakukan. Semua menguap begitu saja.

Ini artinya, mendidik adalah masalah bagaimana belajar bersama-sama mereka hingga mereka sampai pada pemahaman tertentu. Jika kita memberikan bacaan pada mereka, maka mereka perlu mengutarakan hasil pembacaan mereka, dan kita perlu mendampingi mereka dengan memberikan hasil pembacaan kita juga. Pada beberapa mata kuliah saya melakukan ini. Saya tahu betapa rendahnya minat baca mahasiswa beserta kemampuan mereka memahami bacaan. Ini yang membuat saya tidak sabar kemudian mengganti metode ini dengan ceramah dan presentasi yang saya lakukan sendiri. Sayangnya, justru ketidaksabaran saya membuat mereka tidak tumbuh sebagaimana mestinya. Tugas membaca saya hilangkan dari rutinitas mereka. What a big mistake I’ve done! Artinya, yang makin sering membaca adalah saya, bukan mereka. Ya, mereka punya pemahaman yang baik dan kritis, tapi tidak terbiasa menggali dari proses belajar sendiri.

Saya teringat akan metode belajar pada sebuah kelompok dakwah yang saya masuki beberapa tahun lalu. Metode belajarnya sangat luar biasa. Dari sinilah saya belajar yang benar dalam membaca dan memahami. Pada metode belajarnya, pengajar akan meminta seorang anggota yang diajarinya membaca satu paragraf dari sebuah buku berbahasa Arab, kemudian menerjemahkannya. Pengajar akan mengoreksi jika ada kesalahan membaca dan penerjemahan. Setelah itu, pengajar akan menjelaskan makna dari kalimat per kalimat pada paragraf yang telah dibaca dengan referensi dari buku-buku pendukung. Artinya, ada proses membaca, mengenali bahasa bacaan, dan menganalisis makna bacaan, dan memperluas dan memperdalam materi. Ini proses belajar yang memberikan hasil luar biasa. Saya berani mengatakan jika hasil didikan seperti ini telah menciptakan orang-orang dengan pemahaman kuat dari proses belajar yang benar dan sistematis. Tentunya hasil tidak akan menyalahi proses.

Ini pembelajaran penting bagi pendidik, terutama saya. Saya suka membaca, saya membaca apa pun dari teks-teks berbahasa Indonesia maupun Inggris, tetapi saya tidak menularkan kebiasaan ini pada mahasiswa saya. Ketidaksabaran saya membuat saya mendidik mereka secara instan dan tidak mengakar proses belajarnya. Ke depannya harus ada kelas membaca agar tradisi membaca menjadi kebiasaan. Bukankah kita sadar bahwa tingkat membaca masyarakat kita sangatlah rendah, jauh dari standar rata-rata. Kita tak punya buku-buku wajib baca di sekolah. Kita punya perpustakaan di sekolah dan universitas, tetapi fungsinya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Perpustakaan kondisinya seperti museum, buku seperti barang antik. Proses menjadi anggota perpustakaan dipersulit, sistem kontrolnya pun sangat tidak efektif. Maka wajarlah jika banyak yang malas ke perpustakaan, banyak buku yang hilang tak kembali, banyak buku yang melapuk, bangku-bangku kosong, tak ada diskusi di ruang-ruang baca. Ini keadaan kita hari ini.

Mungkin situasi yang ideal baru kita temui di toko buku, sebutlah Gramedia. Di sana terlihat orang-orang yang punya minat membaca, punya keinginan untuk memiliki buku, membelinya, membawanya segera pulang, dan melahapnya. Bahkan di Jepang, ada istilah tsundoku orang-orang yang gila membeli dan mengoleksi buku, dan hanya membiarkannya tersusun di rak buku, hingga tidak sempat membacanya. Istilah ini tidak ada sinonimnya pada bahasa lain. Artinya istilah ini muncul dari gaya hidup masyarakat. Bahasa muncul dari gaya hidup dan mempengaruhi persepsi. What about us? Kita masih jauh dari hal itu. Semoga akan ada perubahan dalam sistem pendidikan kita, termasuk metode pembelajaran kita.

Ketika Mahasiswa Saya Bertanya

idea-edited

Hasil akhir dari pendidikan adalah mencetak generasi yang beriman dan bertaqwa, cerdas secara akademik, memiliki kesadaran akan lingkungan, serta memiliki visi untuk membangun peradaban menjadi lebih baik. Setidaknya itu yang ingin saya capai sebagai seorang pendidik.

Dalam tiap perkuliahan saya selalu meminta pendapat mahasiswa tentang berbagai hal, seperti isu-isu yang sedang tren saat itu, persepsi mereka tentang berbagai masalah sosial yang berkaitan dengan perkuliahan, serta solusi mereka dalam menyelesaikan masalah-masalah yang saya ajukan. Menurut saya, brainstorming sangat penting bagi perkembangan pemikiran mereka. Tujuan saya tidak lain adalah untuk mengukur kepekaan mereka terhadap lingkungan serta menuntut kepedulian serta kekritisan mereka menganalisis permasalahan. Kenapa saya melakukan itu? Sederhana saja, karena dalam hidup kita memang akan selalu dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan dan permasalahan-permasalahan yang datang silih berganti. Otak kita tidak akan pernah berhenti berpikir tentang ini hingga mati.

Di awal memang terasa berat bagi mahasiswa saya. Mereka seperti hilang ide, tidak tahu harus memberikan solusi dan opini apa. Bahkan ada yang sampai menguap-nguap segala karena hampir hilang akal (hehe…lebay). Saya berasumsi jika orang-orang yang tidak memiliki pemikiran dan solusi tentang sesuatu hal biasanya orang yang malas atau tidak terbiasa berpikir, kurang peka dengan lingkungan, jika ada masalah cenderung mengabaikan bukan menyelesaikan. Maka dari itu, ini adalah semacam simulasi atau latihan yang saya terapkan pada mereka. Setelah setengah semester berjalan, hasilnya lumayan terlihat. Mereka tidak lagi menjadi cuek, ngobrol sana-sini, dan menganggap kuliah hanya rutinitas membosankan.

Bagi saya pribadi, mendidik itu tidak gampang. Banyak yang harus diubah dari mahasiswa saya mulai dari etika, kedisiplinan, tradisi akademik, serta visi hidup mereka–paling tidak menjadi manusia baik dan bermanfaat bagi orang lain. Terkadang saya kurang sabar dan sedikit keras dengan meminta mereka berpikir seperti saya berpikir, meminta mereka lebih fokus dan serius dalam berpikir. Bahkan tak jarang ceramah kuliah berubah menjadi ceramah seorang ibu kepada anak, dan bisa seperti eksekutor hukuman saat mereka memperlihatkan sikap tidak baik dan melanggar komitmen kuliah. Ini juga yang terkadang membuat mereka terkaget-kaget dengan perubahan sikap saya yang kalem menjadi sedikit “ganas”.

Namun demikian, saya tak pernah berteriak, berkata-kata kasar, dan marah di depan mereka, hanya omongan yang agak sarkastik saja, dan bikin wow. Kata teman saya, cara ini yang membuat dia merasa tertampar tanpa dipukul. Itu sakiiit. Contohnya: “Kamu tidak perlu isi KRS dan masuk kelas saya kalau memang tidak ingin belajar, semua berawal dari niat.” “Saya lari-lari ke kampus sampai kelas agar tidak melebihi batas telat, kamu kok bisa-bisanya minta agar jumlah ketidakhadiranmu dikurangi karena sering telat?” “Hal-hal dangkal seharusnya tidak perlu dibahas dan dipertanyakan lagi, lebih baik pertanyaannya yang bisa dianalisis dan dikaitkan ke fakta-fakta lain.” Itu semua disampaikan sambil ngomong kalem loh. Semoga tidak ada yang tersinggung. 🙂

Bagaimanapun, mereka harus menjadi orang-orang yang kuat pemikiran dan baik perilakunya. Efek dari apa yang saya lakukan memang tidak sederhana. Pada akhirnya, keingintahuan dan kekritisan mereka membuat saya harus dihadang berbagai pertanyaan dan sanggahan dari mereka. What a life! Ini akhirnya mengajari saya untuk selalu sabar dan sadar dalam memberikan argumentasi logis dan menjauhi logical fallacies. Mereka tak boleh dibodohi dengan opini bohong dan logika yang salah. Sikap merasa paling benar, merendahkan, dan sok hebat itu berbahaya. Ini yang sangat saya takutkan. Saya mewanti-wanti mahasiswa agar jangan sampai bersikap demikian.

Pernah mahasiswa saya bertanya apa pendapat saya tentang memilih pemimpin nonmuslim. Saya ada di pihak mana dan apakah salah jika memihak? Ketika saya menjelaskan karakter budaya masyarakat, mereka selalu menanyakan karakter saya seperti apa, identitas apa yang saya pilih dan prioritaskan. Mereka bisa bertanya sampai sejauh itu. Itu tidak mudah menjawabnya karena harus memberikan keadilan berpikir. Saya selalu mengatakan, tiap orang berhak dengan pilihan-pilihannya. Pilihan-pilihan itu tentu didasari oleh pemikiran, ideologi, atau identitas yang mereka utamakan. Manusia dengan banyak identitas yang dimilikinya tentu memiliki satu identitas yang ditonjolkannya yang bisa dipengaruhi oleh agama, etnis, aliran politik, ideologi ekonomi, kewarganegaraan, dll.

Dari sekian banyak identitas itu, saya mempertanyakan kekonsistenan mereka dalam menjaga identitas yang mereka prioritaskan. Kita tidak bisa mengatakan identitas kita adalah seorang muslim jika pemikiran, perilaku dan cara berpakaian kita jauh dari nilai-nilai keislaman. Identitas itu membutuhkan  pertanggungjawaban. Benar jika identitas ada yang sifatnya permanen dan ada yang tidak permanen (bisa diubah). Sesuatu yang sifatnya permanen adalah bawaan lahir seperti jenis kelamin dan ras, sedangkan nilai-nilai yang dianut bersifat dinamis dan sangat mungkin berubah. Di sinilah dituntut kesadaran manusia terhadap dirinya, mencari jati dirinya.

Tampaknya saya memang terpengaruh dengan aliran filsafat eksistensialisme. Ini yang mengajari saya menjadi manusia yang mengada (efek kuliah Critical Theory di Sastra). Dalam hal ini, saya hanya mengambil konsepnya saja, karena seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa manusia itu nilai-nilai yang diadopsinya bersifat dinamis, akan ada perkembangan pemikiran, perubahan, dan penambahan karena proses belajar yang membuat mereka menganut nilai-nilai baru, mengasimilasikannya, ataupun mengintegrasikannya. Kita hari ini tidak sama dengan yang dulu dan hari esok. Semoga apa yang kita yakini dan pilih adalah hal yang lebih baik yang akan mengarahkan dan mengembalikan kita kepada jalan yang diridhai Allah.

Pic credit: http://www.click4assistance.co.uk/dyn/blogs/idea-edited.gif

Don’t Be Hasty

hastiness

Adakah yang lebih berat daripada perang melawan diri sendiri? Ketidakmampuan mengelola emosi dan keinginan adalah hal terberat saat kita secara dramatis menganggap itu suatu hal yang harus dipenuhi–dilaksanakan sekarang juga. Melelahkan harus menahan diri dan mengontrol pikiran sendiri. Benar rupanya jika rasionalitas tidak bisa sejalan dengan perasaan/emosi. Mereka berada di jalur sel saraf yang berbeda. Tak bisa disatukan, kecuali kita mengambil jeda sejenak. Jeda ini berarti menunggu, masuk ke ruang kosong, kemudian mempertemukan isi pikiran dan hati yang berseteru. Kita akan menemukan makna saat kita memberi waktu, saat tidak terburu-buru.

Dalam kajian Psikologi, kita mengenal kecerdasan emosi untuk pengelolaan emosi. Kecerdasan emosi berarti melibatkan kemampuan berkomunikasi dengan diri sendiri. Membiarkan pikiran dan perasaan kita bercakap-cakap, menimbang-nimbang berbagai hal, kemudian memutuskan. Ini lebih sulit daripada berkomunikasi dengan orang lain. Artinya, penyelesaian masalah di atas tak cukup diselesaikan dengan komunikasi intrapersonal, tapi membutuhkan komunikasi antarpersonal. Kita memberikan kesempatan pada orang lain untuk mendekonstruksi pikiran dan perasaan kita.

Selain itu, cara untuk melepaskan masalah di atas adalah dengan menangis. Ini cara sederhana yang ampuh. Setelah menangis biasanya pikiran dan perasaan akan lebih rileks. Sel-sel otak disegarkan kembali. Kita pun lebih waras dari keadaan sebelumnya. Ini memang selalu ada hubungannya dengan kajian Neurologi dan Psikologi. Sayangnya, saya kurang mendalami kedua ilmu itu sehingga proses ilmiahnya tidak tergambar secara jelas dalam tulisan ini.

Cara lain yang juga ampuh adalah beribadah. Spiritualitas sangat membantu menenangkan. Hubungan antara manusia dengan Tuhannya menembus batas-batas dan memberikan efek psikologis yang positif. Banyak mengingat Allah dengan beristighfar (memohon ampun pada Allah) dan memperbanyak dan memperpanjang doa terbukti mampu mengangkat beban pikiran dan perasaan. Ketika semuanya dikembalikan pada Allah, bukankah tak ada yang perlu dikhawatirkan? Karena semua berjalan atas kehendak Allah. Jikapun ada keingingan tidak terwujud, kita bisa ikhlas menerima.

Cara lain yang saya terapkan untuk mengelola emosi adalah dengan mengkonsumsi minuman berkafein. Ini cukup membantu memberikan sensasi menenangkan mood yang turun naik. Walaupun ini sifatnya sementara, tak ada salahnya juga dicoba. Tapi, saya tidak berani berlebihan mengonsumsi kafein khawatir memberikan efek kesehatan yang buruk.

Apa pun itu, kita harus selalu beri waktu. Sikap impulsif dan terburu-buru membuat masalah menjadi semakin runyam dan kita tak lebih dari orang mabuk yang berusaha memutuskan perkara. Jika kita sampai melakukannya, maka bersiaplah dengan masalah baru yang lebih buruk lagi. Jika pernah melakukan kesalahan itu, maka masuk ke lubang yang sama adalah kebodohan besar. Be sane!

I’m on my way to be sane right now. This short writing helps me a lot. 🙂

Photo credit: https://id.pinterest.com/pin/77687162294354456/