Kita adalah Kebiasaan-Kebiasaan Kita

whatwerepeatedlydo-@allielefevere

Kebiasaan sangat dipengaruhi lingkungan. Ini sangat benar. Secara pembuktian ilmiah, ilmu psikologi sudah melakukannya, secara pengalaman dan pengamatan pribadi mungkin banyak dari kita juga sudah membuktikannya.

Selama enam bulan terakhir, saya memilih menyewa kamar kos yang berbaur dengan keluarga yang punya rumah. Saya menyadari betapa tiap keluarga punya kebiasaan dan tradisinya masing-masing. Tidak hanya hobi yang dilakukan bersama, tetapi juga bagaimana cara bersikap, berbicara, membangun kereratan hubungan, dan menyelesaikan masalah. Di awal saya agak kaget, bertanya-tanya mengapa orang bersikap begini, punya kebiasaan begitu. Bahkan, saya sedikit ngeri membayangkan, kalau saya berkeluarga nanti seperti apakah karakter keluarga suami saya? Bisakah saya berbaur dengan baik dan bertoleransi dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan saya? Apakah semua orang punya niat membangun hubungan baik? Kalau sudah begini saya jadi tertekan, hihi…berhenti memikirkan sesuatu yang tidak/belum terjadi itu penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental.

Baiklah, yang akan saya tulis di sini adalah kebiasaan keluarga ibu kos saya yang tak pernah keluarga saya lakukan. Ini sangat berpengaruh pada perbedaan keluarga kami. Mau tahu itu apa? Ini agak lucu mungkin, tapi membuat saya tertegun berkali-kali. Di Minggu pertama saya pindah ke kosan baru, saya sebenarnya sudah memantapkan hati dan bersiap menerima banyak hal. Kenapa? Saya tinggal serumah dengan ibu kos, artinya saya masuk ke dalam sebuah keluarga dan mungkin dianggap bertambahnya satu anggota keluarga baru (atau orang asing?) bagi keluarga ibu kos saya. Ini adalah kali kedua saya tinggal serumah dengan ibu kos, dulu waktu semester pertama kuliah di Jatinangor, Mama dan Papa saya mencarikan saya tempat kos yang serumah dengan keluarga pengelola kosan. Mereka berpikir itu cara terbaik untuk menjaga saya, mereka takut saya belum bisa mandiri di negeri orang. Tapi sebenarnya apa yang saya rasakan?

Tinggal dengan keluarga baru justru adalah tantangan yang cukup perlu penyesuaian khusus dan trik-trik tertentu menghadapinya, karena kultur keluarga tiap orang pasti berbeda. Berbeda dengan tinggal di rumah yang khusus untuk anak kos semua, yang semua saling memaklumi, senasib sepenanggungan, tak ada penyesuain khusus, bahkan ritme/gaya hidup individualis dan kolektivis bisa diatur dengan mudah. Saya sangat menyadari seperti apa kondisi tinggal bersama keluarga orang lain. Akan tetapi, entah kenapa sekarang ini saya ingin menantang diri melakukan hal itu lagi. Tampaknya, naluri sebagai manusia dewasa yang menganut zoon politicon (manusia makhluk sosial) istilah Aristoteles atau yang kata Adam Smith homo homini socius (manusia menjadi teman bagi manusia lain) membuat saya berniat berbaur pada sebuah keluarga.

Bagaimana hasil pengalaman saya kali ini? Wah, sepertinya sebagai perempuan dewasa saya mulai agak sensitif, dulu waktu saya remaja ternyata lebih cuek. Sekarang, saya sangat peka dengan sikap-sikap orang di sekitar saya, belajar memahami pesan-pesan verbal dan nonverbal mereka, menerka apa yang ada dalam pikiran mereka, dan mengubah sikap-sikap saya untuk mengantisipasi sikap mereka.

Saya sebenarnya sangat sensitif dengan kata-kata emosional atau adu mulut, jika mendengar orang bertengkar atau marah-marah, secara psikologis saya merasa tertekan, walaupun itu bukan ditujukan pada saya. Mendengar adu pendapat antara anggota keluarga ibu kos saya membuat saya merasa terintimidasi, walaupun saya hanya mendengar mereka dari dalam kamar. Sungguh sangat tidak nyaman sekali. Rupanya, setelah saya amati berulang kali, memang begitu kebiasaan anggota keluarga tersebut. Itu bukan masalah bagi mereka, bahkan bisa berdamai seperti biasa setelah adu argumen atau sindir-menyindir dengan bahasa verbal atau nonverbal. Bagi saya itu melelahkan, tapi bagi mereka ternyata itu adalah upaya pemecahan masalah. Etika? Mungkin itu menurut mereka tidak ada hubungannya dengan etika.

Hal di atas baru dari aspek komunikasinya, belum hobi dan kesenangan. Keluarga ibu kos saya punya kebiasaan berkaraoke dan memutar lagu sebelum masuk waktu Maghrib atau pagi-pagi sekali. Saya tak mengerti kenapa seperti itu. Awalnya saya kaget, suara hingar-bingar masuk ke seluruh ruangan, termasuk ruangan saya. Saya terganggu, tapi sepertinya mereka tidak berpikir demikian. Alasan saya terganggu adalah karena itu bukan kebiasaan di keluarga saya memasang musik keras-keras, di samping saya tidak suka kebisingan. Adik saya pernah melakukan ini, langsung saya peringatkan karena akan mengganggu orang lain. Kenapa tak pakai headset saja jika itu lagu favorit pribadi? Jika ingin diperdengarkan ke orang banyak harusnya ada volume toleransi. Tapi lama-kelamaan saya bisa memahami jika itu kebiasaan mereka. Bertoleransi untuk hal yang tak wajar itu sangat berat, bagaimanapun hati saya tetap menolak.

Rupanya tradisi berkaraoke ria adalah tradisi keluarga ibu kos saya. Mereka suka sekali dengan musik. Bahkan, cucu ibu kos yang masih berumur 1,5 tahun sudah mewarisi kebiasaan itu. Setiap pagi gadis kecil itu diputarkan lagu anak-anak dengan volume tinggi. Akhirnya ini menjadi kebiasaannya. Tiap pagi dia akan minta diputarkan lagu, mau tidur putar lagu, bahkan ketika mandi juga diajak bernyanyi. Saya suka musik, tapi untuk konsumsi pribadi, dalam suasana tertentu saja. Musik bukan bagian penting dalam hidup saya. Mama dan Papa saya suka musik, tapi tidak menjadikan itu sebagai hobi keluarga kami. Mereka mendengar musik di televisi atau video sesekali saja untuk melepas lelah, itu pun tak ada waktu khususnya.

Kebiasaan yang ditularkan Papa saya di rumah adalah hobi beliau membaca dan membeli buku. Beliau suka buku-buku agama dan fiksi. Dari kecil saya sudah baca fiksi di majalah Bobo dan majalah anak-anak lainnya. Waktu remaja, bacaan saya meningkat ke fiksi remaja dan buku-buku agama yang beliau belikan. Bahkan, sampai sekarang kami sering bertukar buku khususnya novel. Beliau suka membaca novel-novel yang saya beli. Waktu kuliah, beliau beberapa kali memberikan kado buku dan novel untuk saya.

Waktu saya pulang kampung untuk menetap di rumah, saya membawa semua buku saya yang berkardus-kardus. Mama saya kebingungan karena di rumah juga sudah menumpuk banyak buku papa dan adik saya. Bahkan adik laki-laki saya bukunya sudah tak punya tempat lagi saking banyaknya. Maka beliau belilah lemari buku yang besar untuk buku-buku kami. Saya tak menyangka, sudah sebanyak ini buku yang kami koleksi seumur hidup. Ketika adik laki-laki saya menikah, dia membawa sebagian besar buku ke rumah istrinya. Pemandangan lemari buku itu sekarang tak semegah dulu karena saya pun juga sudah membawa sebagian koleksi buku-buku saya ke tempat kos.

Papa saya senang sekali melihat-lihat koleksi buku yang tersisa di lemari. Waktu saya pulang ke rumah, beliau bercerita kalau sudah menamatkan beberapa novel saya yang disimpan di lemari buku. Beliau memberikan penilaian mana saja novel-novel yang bagus dan menarik. Ini pembicaraan yang menyenangkan. Adik laki-laki saya pun begitu, selalu membahas buku-buku yang dia baca ketika bertemu saya. Saya tetap mendengarkannya walaupun saya tidak menyukainya hihihi. Ini bagian dari toleransi saya padanya. Tapi anehnya, dia sering tidak peka pada perasaan saya. Dia memang egois hahaha. Tapi, ini adalah kebiasaan keluarga saya. Bagi orang lain mungkin tidak menyenangkan.

Untuk masalah sikap dan gaya berkomunikasi, papa saya selalu mengajarkan bagaimana menyelesaikan masalah dengan diskusi, bicara dari hati ke hati. Adu mulut bukan sesuatu yang beliau ajarkan. Beliau lebih memilih diam jika kami tetap bersikukuh atau ngotot dengan pendapat sendiri. Itu artinya, kami harus introspeksi diri. Sesuatu yang selalu beliau ingin bangun adalah keakraban hubungan dan persepsi yang sejalan dalam keluarga. Ini tidak mudah, karena kami beranjak remaja, kemudian dewasa. Lingkungan di luar keluarga memberikan kontribusi cukup penting bagi perubahan diri kami. Bukankah ketika membangun sesuatu juga harus siap menjaga dan merawatnya dari serangan/gangguan dari luar? Menjadi orangtua sesuatu yang sangat serius ya?

Setelah melalui pengalaman ini, saya benar-benar berpikir serius, kebiasaan apa yang akan saya tularkan pada anak-anak saya nanti. Mereka akan menjadi apa yang saya berikan pada mereka nanti, termasuk dalam cara bersikap, berkomunikasi, dan berbaur dengan orang lain. Belum lagi pengaruh lingkungan yang akan menerpa keluarga. Perlu cara bagaimana mengelolanya. Pola hidup itu hasil dari rancangan keluarga dan lingkungan. Menjadi baik adalah hasil pembelajaran, menjadi apa pun adalah hasil pembelajaran. Itu bukan sesuatu yang terjadi tiba-tiba, atau terbentuk dengan sendirinya. Semuanya adalah rancangan, desain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s