Month: March 2016

Menulis seperti George Orwell

George-Orwell-Quotes-Thinking

Apakah Anda pernah ingin menjadi penulis? Ketika memulai sebuah tulisan apa yang melatarbelakangi Anda membuatnya? Untuk pemula, sepertinya belum membuat target yang jelas dalam tulisannya, mungkin baru dalam rangka mengasah keterampilan menulis. Ada yang memulainya dengan menulis resensi, membuat puisi, menulis surat pembaca, atau sekadar berbagi pengalaman di blog, atau yang paling mudah adalah membuat status yang cukup panjang di media sosial.

Penulis yang benar-benar serius akan menjadikannya sebuah rutinitas dengan capaian yang jelas. Pada umumnya, orang menulis dilatarbelakangi oleh empat tujuan berikut ini, sebagaimana disimpulkan George Orwell-seorang penulis brilian kenamaan Inggris-dalam esai politiknya “Why I Write“:

  1. Sheer egoism

Banyak orang menulis karena ingin dikenang oleh sejarah, ingin dikenal dan diakui keilmuan dan kepintarannya. Pramoedya Ananta Toer tampaknya sepakat dengan alasan menulis karena hasrat egoisme ini. Dia pernah berkata dalam Rumah Kaca, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Memang tak bisa dipungkiri, alasan ini penggerak terbesar orang menulis. Tapi setidaknya, mereka berbagi kecerdasan dan ilmu yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Hanya saja, tentu tak cukup hanya ingin diakui dan dikenang, tentu dipertanyakan juga arah tulisan-tulisannya. Karena sekali-kali, penulis yang benar-benar menulis tidak pernah menulis sesuatu yang tidak memiliki maksud.

2. Aesthetic enthusiasm

Sebagian orang menulis karena ingin berbagi hal-hal yang mereka anggap indah atau bermakna estetik. Kenapa orang menulis puisi dan prosa? Salah satunya adalah karena alasan seni ini. Mereka mengerti bagaimana membahasakan keindahan hingga pembaca ikut bahagia dan menikmatinya.

Saya dulu sangat suka menulis puisi. Waktu masih kuliah, saya menempel puisi-puisi itu di styrofoam catatan dan timetable untuk diri sendiri. Teman-teman saya membacanya dan mereka menyukainya. Akhirnya saya jadi tergerak untuk membaginya di mading kampus dan majalah agar orang ikut merasakan apa yang saya tulis. Ketika ada yang bilang, “kok kamu bisa sih nemu diksi kayak gini?” Dibilang seperti itu saja saya sudah senang sekali.

Begitu juga dengan karya prosa seperti novel yang kata-katanya sangat memerhatikan prosodi (rima dan pola bunyi). Tak jarang pembacanya menemukan makna yang lebih mendalam dan indah untuk diimajinasikan dan rasakan. Artinya, betapa pentingnya unsur estetika ini mendorong seseorang dalam menulis.

3. Historical Impulse

Orang-orang terkadang menulis karena dorongan ingin mengompilasikan atau mendokumentasikan hal-hal penting yang pernah terjadi di era mereka untuk keperluan generasi mendatang. Mereka ingin mewariskan apa yang dimiliki peradaban masa itu untuk dipelajari, dikenang, atau dipertimbangkan pada peradaban manusia selanjutnya.

Kita sangat berterima kasih pada orang-orang yang telah menuliskan peristiwa sejarah di masa lampau, atau menuliskan tradisi-tradisi budaya etnis yang berkembang dulu. Tulisan-tulisan dengan latar belakang penulisan seperti ini bisa juga berupa temuan-temuan penting dalam ilmu pengetahuan. Dari sana kita belajar dan menghargai apa-apa yang telah dilalui manusia dalam hidupnya. Itu semua menjadi bekal dan pembelajaran di masa mendatang. Seperti kata Orwell dalam 1984, “He who controls the past controls the future. He who controls the present controls the past.” Bagaimana ini terjadi? Salah satunya adalah karena pengaruh tulisan.

Saat ini, banyak orang berusaha menuliskan nilai-nilai budaya mereka agar terus dapat dipelajari dan diwariskan. Dulu, ketika masyarakat masih belum memahami arti penting dokumentasi budaya dan sejarah, mereka berasumsi bahwa menyebarkan pesan lewat bahasa ujar akan menyelamatkan yang nilai-nilai budaya. Ternyata, tidak sesederhana itu.

Sahabat Rasulullah dulu berinisiatif untuk menuliskan teks Al Quran agar dapat diwariskan ke generasi berikutnya, walaupun jumlah penghapal Al Quran waktu itu sangat banyak sekali. Mereka mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan akan muncul di kemudian hari pada generasi mereka. Sekarang, umat Islam telah menikmati hasil tulisan tersebut yang berbentuk salinan teks dari bahasa ujar.

Saat ini, banyak nilai-nilai budaya hilang karena tidak dituliskan, apalagi jika suatu masyarakat tidak mengenal aksara tulis karena mereka hanya berkomunikasi lewat bahasa ujar. Mereka tidak mengenal asal-usul sesuatu dengan jelas, sejarah yang mereka dengar tidak akurat dan sulit dijadikan sebagai bukti.

4. Political Purpose

Orwell sangat sadar jika poin keempat ini adalah terpenting. Dia mengakui jika tiga hal pertama juga adalah tujuannya dalam menulis. Akan tetapi, yang keempat adalah tujuan utamanya. Bagaimanapun, tulisan seseorang pastilah memiliki kecenderungan pada suatu arus atau ideologi. Teknik beropini dan mengarahkan pesan sesuai maksud benar-benar dirancang agar sampai pada pembaca. Paling tidak, seseorang pasti akan menuliskan sesuatu yang menjadi kecenderungan dirinya. Dia tahu mana yang harus dituliskan dan mana yang tidak. Mengerti apa yang mesti ditonjolkan dan mana yang disamarkan. Terlebih lagi, para penulis dengan alasan politis paling memahami bagaimana merancang opini yang mereka giring dalam sebuah tulisan akan dapat membawa perubahan bagi masyarakat, dan tentunya sesuai dengan padangan politiknya.

Bisakah kita menuntut bahwa sebuah tulisan haruslah netral? Tentunya ini hal yang sangat sulit sekali, kecuali jika itu berhubungan dengan sains murni di mana dalam sebuah penelitian data-data diujikan sesuai standar kevalidan yang objektif. Fakta dan data berdiri sendiri, tidak bercampur dengan asumsi subjektif penelitinya.

Sedangkan pada tulisan-tulisan ilmu sosial termasuk penelitian sosial sekalipun, hasil temuan dan analisisnya bergantung pada persepsi penulisnya, ke mana ingin diarahkan. Maka subjektifitas penulis sangat kentara di sini. Begitu juga, ketika membaca buku populer, novel, atau opini di media massa subjektifitasnya dapat ditangkap dengan jelas. Di sinilah George Orwell bermain dalam tulisan-tulisannya.

Orwell sendiri memulai tulisan pertamanya berupa puisi saat masih duduk di sekolah dasar, ketika berumur sekitar 6 tahun. Hal yang menarik adalah sewaktu kecil dia sudah bertekad untuk menjadi penulis. Dia menulis apa pun peristiwa yang dia lalui dan amati ketika remaja.

Tampaknya ada benarnya jika kebanyakan penulis adalah seorang introvert. Orwell remaja adalah seorang introvert yang tidak populer di antara teman-temannya, sehingga dia punya banyak waktu untuk menuliskan perasaan-perasaan dan pikiran-pikirannya. Sewaktu duduk di jenjang perkuliahan, dia sering menulis dan mengirimkannya ke koran, bahkan dia pernah diminta untuk menjadi editor di majalah kampusnya.

Orwell baru serius menulis pada umur 30 tahun dengan diselesaikannya novel pertamanya The Burmese Days. Seiring dengan kehidupan Orwell yang mengalami perubahan, maka hal itu juga membawa pengaruh pada tulisan-tulisannya. Orwell yang pernah ditempatkan ke beberapa wilayah kolonisasi Inggris oleh pemerintah Inggris menjadi memahami bagaimana jahatnya kolonialisme dan imperialisme. Inilah yang mendorongnya untuk mendalami ideologi politik.

Latar belakangnya bekerja di bagian kepolisian Inggris di Burma dan India cukup membuatnya melihat ketidakadilan. Maka, dalam novel-novelnya dia selalu mengusung kritik terhadap isu kolonialisme dan totalitarianisme. Dalam novel Animal Farm dan 1984, Orwell mengkritik sistem ideologi Komunis a la Soviet yang menjurus pada totalitarian. Dia berusaha mempromosikan pemikiran sosialisnya yang egaliter dan adil. Walaupun, pada kondisi tertentu juga mengalami keabsurdan.

Apakah Orwell tak pernah mengalami kendala dalam menulis? Pastinya. Setiap orang pasti pernah mengalami hari-hari buruk dan hal-hal sulit dalam hidupnya. Novel Orwell pernah dianggap oleh salah seorang kritikus terlalu menjurus kepada jurnalisme, tidak enak dibaca dan kehilangan sisi estetikanya. Walaupun di sana dituliskan fakta-fakta dan data-data yang mungkin ingin diketahui orang banyak. Novel tetaplah novel, estetika sangat penting. Karena itulah Orwell pernah berkata, “What I have most wanted to do throughout the past ten years is to make political writing¬†into an art”. Menulis dengan tujuan politis namun tetap membawa estetika. Itulah yang diinginkan pembaca. Apa pun yang Anda tulis, jangan lupakan estetikanya.

Pernahkah Anda membaca tulisan tentang politik tapi enak dan ringan dibaca? Saya terkagum-kagum pada orang-orang yang mampu menyederhanakan bahasa mereka yang rumit sehingga dapat dipahami oleh orang awam dengan sangat baik. Contoh tulisan politik yang sederhana tapi estetis itu saya temui ketika membaca buku Emha Ainun Najib seri Markesot, serta beberapa opini di surat kabar nasional, sebutlah Kompas dan Republika. Jika ingin mengungkap banyak data, maka beritalah yang tepat medianya, bukan sebuah tulisan opini atau esai. Opini dan esai “seharusnya” menjadi lahan untuk membingkai opini dan mempersuasi pembaca dengan argumentasi yang logis dan estetis. Orwell sudah membuktikannya. Betapa berpengaruh Animal Farm dan 1984-nya.

 

Advertisements