Month: May 2016

Menghitung Kesedihan dan Kebahagiaan

post-notes-corkboard-smiley-sad-cartoon-face-expression-happiness-versus-depression-concept-two-stuck-message-45726191

Setiap kali pulang ke rumah setelah aktivitas di luar, saya selalu berusaha mengingat apa saja kesedihan yang saya alami, berapa banyak kebahagiaan yang didapat, serta apa saja hal-hal menyebalkan yang merusak hari itu. Selain itu, yang terpenting adalah mengingat apa saja hal-hal yang harus saya syukuri dan renungkan.

Kebahagiaan yang besar ternyata bisa menghilangkan kekesalan dan kesedihan yang sedikit. Kesedihan yang banyak juga bisa menghapus kebahagiaan yang sedikit. Pernah suatu kali saya bertemu di bis dengan orang yang masuk ke dalam daftar orang paling menyebalkan yang pernah saya temui. Malam itu juga, semua kebahagiaan yang saya dapatkan dari pagi hingga sore hari hilang tak berbekas gara-gara di pengujung sore bertemu orang tersebut. Bagaimana tak menyebalkan jika dia yang posisinya adalah orang asing mencampuri privasi hidup saya dengan menanyakan secara detail tentang diri saya, pekerjaan saya, dan penghasilan saya. Hey, who do you think you are, man? Bahkan sampai-sampai menasihati dan menghakimi hidup saya yang dia tak tahu apa-apa sedikitpun. Kesalahan saya adalah terlibat pembicaraan dengannya. Akhirnya, saya simpulkan bahwa tak perlu meladeni setiap ajakan berkomunikasi jika lawan bicara tidak memiliki etika berkomunikasi. Mendiamkannya adalah yang terbaik daripada sampai pada sebuah komunikasi yang tidak efektif. Nah, itulah contoh betapa sebuah hal yang sangat menyebalkan bisa merusak kebahagiaan. Ini hanya bukti bahwa ada loh orang-orang sok tahu tapi tidak tahu harus berbuat apa dalam hidupnya kemudian berusaha mencampuri hidup orang lain. Orang-orang seperti itu sangat butuh pertolongan karena hidupnya menyedihkan.

Mengingat kesedihan, seharusnya muncul pertanyaan apakah yang sedang kita rasakan adalah keputusasaan, kelemahan atau rasa tidak bersyukur? Jika ketiga hal itu yang meliputi pikiran maka tak ada pilihan lain selain kesedihan yang muncul. Jadi, jika kesedihan datang, pikirkanlah ketiga hal itu, kita sedang dalam keadaan bagaimana sebenarnya. Setidaknya, saya sering berhasil mengidentifikasi kondisi saya kemudian menata kembali pikiran secara rasional setelah merefleksi diri. Sangat mengkhawatirkan jika dalam kesedihan ternyata kita justru sedang mengingkari rahmat Allah yang banyak dengan merasa diri tidak bahagia dan banyak kekurangan. Atau merasa putus asa padahal belum sepenuhnya berusaha. Malaikat mungkin akan sinis melihatnya. Jadi, tak baik baper berlama-lama. Jika pada faktanya ada orang-orang yang dilebihkan oleh Allah dari berbagai hal yang menyenangkan di dunia, bukan berarti Tuhan tidak adil, karena itu bukan ukuran Allah dalam memandang seseorang.

Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya. (Quran surah Al Isra ayat 21)

Lihat, betapa filosofisnya Allah mengajak kita berpikir mendalam memahami makna hidup. Bukankah yang diinginkan-Nya seberapa taat kita kepada-Nya. Secara esensi, ketaatan itu dimaknai sebagai kebahagiaan.

Pada faktanya, kebahagiaan itu sangat banyak dibandingkan kesedihan. Bahagia dengan apa yang dimiliki. Perlu diperhatikan, untuk hal ini kita harus membedakan antara pasrah dengan keadaan dan optimis melangkah ke depan. Jika ada sesuatu yang memang tak membawa perbaikan dan kemajuan, bukan berarti kita harus tinggal lama berada dalam ketidakmenentuan. Diri kita terlalu berharga untuk disia-siakan oleh keadaan yang tidak mendukung dengan baik. Jika punya kekuatan dan keyakinan bahwa keadaan akan berubah maka bertahanlah, jika tidak maka tinggalkan. Beri waktu untuk berkontemplasi dan mencari ruang baru.

Mengapa saya menulis tentang ini? Tujuan awal saya adalah untuk melepaskan beban psikologi, karena menulis adalah salah satu caranya. Saya menulis manajemen emosi ini untuk diri pribadi, kalau-kalau di kemudian hari saya lupa saat mengalami masalah psikologi. Kadang pikiran yang stabil dan tenang dapat dikacaukan oleh situasi insidental yang membuat proses berpikir menjadi terburu-buru dan tidak terarah. Beri waktu untuk berpikir secara bijak di ruangan yang tenang dan nyaman, jauh dari keriuhan. Tuhan selalu dekat di tempat-tempat seperti itu, kecuali jika pikiran memang tidak tertuju pada Tuhan maka apa daya, di tempat yang eksklusif sekalipun keputusasaan tak akan habis-habisnya.

Saya mengimani Allah, itulah sebabnya semua hal selalu kembali ke sana. Dari tidak ada, saya menjadi ada, hingga nanti akan kembali kepada ketidakadaan. Itu sudah cukup menjelaskan tentang siapa saya. Artinya, keyakinan ini yang membentuk diri saya dan cara saya mengelola hidup.

Dunia ini terlalu riuh. Tak semua harus dituruti. Kita perlu mengambil ruas jalan sendiri untuk memahami esensi diri. Seperti kata sebuah kutipan yang sangat membekas bagi saya: Follow your heart, but take your brain with you. Tuhan sangat tahu kenapa memberi bekal akal pada kita.

The Lone Ranger itu tidak ada, hanya nama film saja

 

the_lone_ranger_movie-wide

Saat sendiri, kita sering merasa tidak berdaya padahal banyak orang di sekitar kita. Apalagi keadaannya adalah saat Anda sendirian dalam berjuang. Anda tak punya orang-orang di sekeliling Anda yang memiliki cita-cita sama dan pemikiran yang bisa dibagi bersama. Mereka hanya mendengar tapi tidak mengulurkan tangan dan ide. Ya, Anda semacam The Lone Ranger.

Mengubah keadaan tak bisa sendiri. Kita perlu mengumpulkan kekuatan untuk melakukannya. Sedihnya adalah saat Anda ingin menyatukan kekuatan, ada orang-orang yang terlihat ogah-ogahan. Itu hanya membebani dan tak perlu dilakukan karena secara materi tidak menguntungkan, mungkin begitu pikir mereka. Apa Anda sedih melihat situasi itu? Dengan kondisi seperti itu, tampaknya keadaan tidak akan berubah.

Saya harus mengatakan bahwa keadaan di atas sering mendorong seseorang untuk keluar dari lingkungan itu dan mencari yang baru. Jalan pintasnya memang demikian. Sampai kapan akan menunggu? Toh, kekuasaan saja tak punya, apalagi orang yang berkuasa tidak memiliki visi yang sama. Dorongan untuk pergi semakin menjadi-jadi.

Saya jadi teringat pada seorang teman. Entahlah, saya tidak tahu apa masih harus menyebutnya sebagai teman karena pertemanan kami tidak semulus yang diharapkan. Lepas dari itu, dia pernah berkata bahwa kondisi di atas sangat mustahil bisa diubah dengan tangan satu atau dua orang yang tak punya kekuatan. Itu karena semesta sistemnya tidak menghendaki perubahan itu sendiri. Seperti kata teman saya yang lain, mengubah sistem dari dalam itu sangatlah sulit, makanya dibutuhkan orang-orang baru dari luar untuk menggantinya. Hanya saja, ini bukan sistem sosial, tapi sebuah lembaga profit yang melayani kepentingan publik dengan struktur yang telah ditetapkan dari atas secara terpimpin bukan dimusyawarahkan apalagi voting. Ini tentu tidak setara jika dibandingkan.

Saya dalam kondisi ini justru teringat pada dokter Kang Mo Yeon, salah seorang tokoh utama dalam serial drama Descendants of The Sun. Dia pernah berkata pada Captain Yoo Si Jin, jika Si Jin tidak datang pastilah dia telah lari meninggalkan medan bencana. Waktu itu gempa bumi melanda sebuah wilayah dan menelan banyak korban. Dia berpikir demikian karena merasa sendiri, tak ada yang menguatkan dan memegang erat tangannya untuk bergerak bersama sebelum Si Jin datang. Saya hanya balik berpikir, kenapa harus memilih di posisi dokter Kang Mo Yeon bukan Captain Yoo Si Jin? Menjadi Yoo Si Jin sungguh berat. Dia mungkin memang terlahir menjadi The Lone Ranger, ah tapi dia tidak sendiri juga karena memiliki tim solid seperti Alpha Team. Jadi, The Lone Ranger itu siapa? Tak ada. Mungkin Batman atau Soe Hok Gie? Ah, cedih…

Saat ini, saya hanya ingin merenung dan berpikir lebih jernih dan bijak. Mungkin saya ini hanya sedang lebay. Kalaupun jejeritan orang hanya akan mendengar, tapi tidak menolong. Ah, tambah desperate saja. Jika saya tetap tinggal, apakah saya kian hari kian melemah kemudian menjadi bagian dari arus utama yang akhirnya melepaskan cita-cita untuk mengubah keadaan? Saya akan beri tahu seiring berjalannya waktu. Seiring semakin kencangnya badai otak yang menyerang.