Ketika Mahasiswa Saya Bertanya

idea-edited

Hasil akhir dari pendidikan adalah mencetak generasi yang beriman dan bertaqwa, cerdas secara akademik, memiliki kesadaran akan lingkungan, serta memiliki visi untuk membangun peradaban menjadi lebih baik. Setidaknya itu yang ingin saya capai sebagai seorang pendidik.

Dalam tiap perkuliahan saya selalu meminta pendapat mahasiswa tentang berbagai hal, seperti isu-isu yang sedang tren saat itu, persepsi mereka tentang berbagai masalah sosial yang berkaitan dengan perkuliahan, serta solusi mereka dalam menyelesaikan masalah-masalah yang saya ajukan. Menurut saya, brainstorming sangat penting bagi perkembangan pemikiran mereka. Tujuan saya tidak lain adalah untuk mengukur kepekaan mereka terhadap lingkungan serta menuntut kepedulian serta kekritisan mereka menganalisis permasalahan. Kenapa saya melakukan itu? Sederhana saja, karena dalam hidup kita memang akan selalu dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan dan permasalahan-permasalahan yang datang silih berganti. Otak kita tidak akan pernah berhenti berpikir tentang ini hingga mati.

Di awal memang terasa berat bagi mahasiswa saya. Mereka seperti hilang ide, tidak tahu harus memberikan solusi dan opini apa. Bahkan ada yang sampai menguap-nguap segala karena hampir hilang akal (hehe…lebay). Saya berasumsi jika orang-orang yang tidak memiliki pemikiran dan solusi tentang sesuatu hal biasanya orang yang malas atau tidak terbiasa berpikir, kurang peka dengan lingkungan, jika ada masalah cenderung mengabaikan bukan menyelesaikan. Maka dari itu, ini adalah semacam simulasi atau latihan yang saya terapkan pada mereka. Setelah setengah semester berjalan, hasilnya lumayan terlihat. Mereka tidak lagi menjadi cuek, ngobrol sana-sini, dan menganggap kuliah hanya rutinitas membosankan.

Bagi saya pribadi, mendidik itu tidak gampang. Banyak yang harus diubah dari mahasiswa saya mulai dari etika, kedisiplinan, tradisi akademik, serta visi hidup mereka–paling tidak menjadi manusia baik dan bermanfaat bagi orang lain. Terkadang saya kurang sabar dan sedikit keras dengan meminta mereka berpikir seperti saya berpikir, meminta mereka lebih fokus dan serius dalam berpikir. Bahkan tak jarang ceramah kuliah berubah menjadi ceramah seorang ibu kepada anak, dan bisa seperti eksekutor hukuman saat mereka memperlihatkan sikap tidak baik dan melanggar komitmen kuliah. Ini juga yang terkadang membuat mereka terkaget-kaget dengan perubahan sikap saya yang kalem menjadi sedikit “ganas”.

Namun demikian, saya tak pernah berteriak, berkata-kata kasar, dan marah di depan mereka, hanya omongan yang agak sarkastik saja, dan bikin wow. Kata teman saya, cara ini yang membuat dia merasa tertampar tanpa dipukul. Itu sakiiit. Contohnya: “Kamu tidak perlu isi KRS dan masuk kelas saya kalau memang tidak ingin belajar, semua berawal dari niat.” “Saya lari-lari ke kampus sampai kelas agar tidak melebihi batas telat, kamu kok bisa-bisanya minta agar jumlah ketidakhadiranmu dikurangi karena sering telat?” “Hal-hal dangkal seharusnya tidak perlu dibahas dan dipertanyakan lagi, lebih baik pertanyaannya yang bisa dianalisis dan dikaitkan ke fakta-fakta lain.” Itu semua disampaikan sambil ngomong kalem loh. Semoga tidak ada yang tersinggung. 🙂

Bagaimanapun, mereka harus menjadi orang-orang yang kuat pemikiran dan baik perilakunya. Efek dari apa yang saya lakukan memang tidak sederhana. Pada akhirnya, keingintahuan dan kekritisan mereka membuat saya harus dihadang berbagai pertanyaan dan sanggahan dari mereka. What a life! Ini akhirnya mengajari saya untuk selalu sabar dan sadar dalam memberikan argumentasi logis dan menjauhi logical fallacies. Mereka tak boleh dibodohi dengan opini bohong dan logika yang salah. Sikap merasa paling benar, merendahkan, dan sok hebat itu berbahaya. Ini yang sangat saya takutkan. Saya mewanti-wanti mahasiswa agar jangan sampai bersikap demikian.

Pernah mahasiswa saya bertanya apa pendapat saya tentang memilih pemimpin nonmuslim. Saya ada di pihak mana dan apakah salah jika memihak? Ketika saya menjelaskan karakter budaya masyarakat, mereka selalu menanyakan karakter saya seperti apa, identitas apa yang saya pilih dan prioritaskan. Mereka bisa bertanya sampai sejauh itu. Itu tidak mudah menjawabnya karena harus memberikan keadilan berpikir. Saya selalu mengatakan, tiap orang berhak dengan pilihan-pilihannya. Pilihan-pilihan itu tentu didasari oleh pemikiran, ideologi, atau identitas yang mereka utamakan. Manusia dengan banyak identitas yang dimilikinya tentu memiliki satu identitas yang ditonjolkannya yang bisa dipengaruhi oleh agama, etnis, aliran politik, ideologi ekonomi, kewarganegaraan, dll.

Dari sekian banyak identitas itu, saya mempertanyakan kekonsistenan mereka dalam menjaga identitas yang mereka prioritaskan. Kita tidak bisa mengatakan identitas kita adalah seorang muslim jika pemikiran, perilaku dan cara berpakaian kita jauh dari nilai-nilai keislaman. Identitas itu membutuhkan  pertanggungjawaban. Benar jika identitas ada yang sifatnya permanen dan ada yang tidak permanen (bisa diubah). Sesuatu yang sifatnya permanen adalah bawaan lahir seperti jenis kelamin dan ras, sedangkan nilai-nilai yang dianut bersifat dinamis dan sangat mungkin berubah. Di sinilah dituntut kesadaran manusia terhadap dirinya, mencari jati dirinya.

Tampaknya saya memang terpengaruh dengan aliran filsafat eksistensialisme. Ini yang mengajari saya menjadi manusia yang mengada (efek kuliah Critical Theory di Sastra). Dalam hal ini, saya hanya mengambil konsepnya saja, karena seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa manusia itu nilai-nilai yang diadopsinya bersifat dinamis, akan ada perkembangan pemikiran, perubahan, dan penambahan karena proses belajar yang membuat mereka menganut nilai-nilai baru, mengasimilasikannya, ataupun mengintegrasikannya. Kita hari ini tidak sama dengan yang dulu dan hari esok. Semoga apa yang kita yakini dan pilih adalah hal yang lebih baik yang akan mengarahkan dan mengembalikan kita kepada jalan yang diridhai Allah.

Pic credit: http://www.click4assistance.co.uk/dyn/blogs/idea-edited.gif

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s