Month: January 2018

Kelayakan

Mencintai sesuatu yang layak untuk dicintai,

Merindukan sesuatu yang layak untuk dirindukan,

Mempertahankan sesuatu yang layak untuk dipertahankan,

Memperjuangkan sesuatu yang layak untuk diperjuangkan.

Mengharapkan sesuatu yang layak untuk diharapkan.

Menangisi sesuatu yang layak untuk ditangisi,

Meminta sesuatu yang layak untuk diminta.

Semua kelayakan itu dimulai dari Allah. Saat semuanya atas ridha Allah, maka semua layak dilakukan.

Advertisements

Ya Allah, Aku Ingin dan Butuh…

Ada yang kau inginkan tetapi itu bukan yang kau butuhkan dan harapkan. Kau mencintai sesuatu tetapi pada versi yang berbeda. Kadang kau ingin yang ada di depan matamu, tapi itu tidak memenuhi yang kau butuhkan. Ada yang kau butuhkan tapi tidak kau inginkan. Kapankah keinginan dan harapan bertemu? Ah, sungguh! Kesempurnaan memang langka dan itu hanya dari Allah.

Tiap orang memiliki keunikan dan ketertarikan yang berbeda. Itulah sebabnya tak ada yang sia-sia di muka bumi ini. Allah sudah mengatur segalanya. Masya Allah, sungguh Allah Maha Adil. Di samping itu, kita akan melihat pula bagaimana manusia menjalani hidupnya dengan cara yang berbeda. Manusia diberi dua jalan yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Ada yang mengambil jalan keburukan ada pula yang mengambil jalan kebaikan sebagaimana firman Allah:

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan).”
(QS. Al-Balad 90: Ayat 10

Ada manusia yang bertindak mengikuti keinginan-keinginannya tanpa melihat baik buruknya. Itu semua pilihan manusia itu sendiri. Di sini Allah memberikan peringatan bahwa ada manusia yang justru mengambil jalan keburukan dalam hidupnya karena jalan kebaikan dianggap sukar untuk dijalani. Padahal jalan yang sukar itulah yang lebih disukai Allah. Jalan di mana manusia berhati-hati melangkah agar tidak terjerumus pada keburukan. Dan jalan di mana manusia harus rela berkorban dengan hal-hal yang dia cintai untuk kebaikan.

Allah tidak memaksa. Dia memberikan arahan untuk hidup dengan cara yang benar agar hidup manusia tidak sia-sia. Bahkan, Allah memberikan ganjaran pahala dan surga bagi yang mengikuti jalan kebaikan. Memang, sesuatu yang berharga tentu tidak didapat dengan cara yang mudah, butuh perjuangan dan kesungguhan.

Ada kalanya kita dihadapkan pada pilihan-pilihan hidup yang sulit. Tidak semua harapan kita bisa terkabul sesuai keinginan. Kita ingin mendapatkan yang sempurna dalam pandangan kita. Hanya saja hidup tidak sesempurma itu. Terkadang kita mendapati sesuatu yang kita inginkan tapi justru bukan itu yang kita butuhkan. Terkadang pula mendapati sesuatu yang kita butuhkan tapi malah tidak kita ingini. Manusia memang banyak permintaan dan tak pernah puas ya.

Allah pasti tidak setega itu menurut saya. Karena manusia punya persepsi berbeda dan keinginan-keinginan berbeda tentu, kerelatifan itu membuka jalan untuk terpenuhinya kenginan manusia. Paling tidak hampir mendekati keinginannya yang sempurna. Allah yang menjadikan sesuatu indah bagi kita, yang pastinya sesuai dengan standar kebenaran dari Allah.

Jika kita berharap sesuatu pada Allah, mintalah sesuatu yang kita inginkan dan butuhkan sesuai maunya Allah. Tak ada yang salah jika meminta sesuatu yang baik pada Allah. Bukankah Allah Maha Kaya? Allah senang dimintai oleh hamba-Nya, jadi jangan malu meminta pada Allah asalkan yang diminta tidak mengandung mudharat dan maksiat. Allah senang diminta hal-hal baik. Dan jangan lupa untuk terus menjadi hamba yang lebih baik agar kita pantas mendapatkan kebaikan yang kita minta.

Are You Living in Fiction or Reality?

Kamu tau? Terkadang realitas lebih mengerikan daripada fiksi. Berlama-lama membaca cerita fiksi dengan berbagai judul dan genrenya dengan konten bombastis mungkin suatu hal yang biasa. Bahkan, banyak yang melampaui akal sehat. Akan tetapi bagaimana jika realitas atau kenyataan yang kita lihat dalam hidup lebih pedih dari fiksi tersebut? Kadang di sini saya merasa terguncang. Menurut saya, hal-hal buruk cukuplah terjadi dalam kisah fiksi karena manusia punya kemampuan mengkhayal tingkat tinggi dan memanipulasi kenyataan, akan tetapi sialnya fiksi adalah cerminan realitas. Orang belajar menuliskan realitas kedua dari realitas pertama yang tampak olehnya.

Ok, I’ll tell you. Saya ini hanya manusia biasa yang terkadang muak dengan sifat-sifat manusia yang menyebalkan dan perilakunya yang tak menyenangkan. I always try to be good and do good. I admit that I have ever fallen into stupidity and done wrong things. Kebodohan itu membuat saya kesal dan marah. Jika manusia sadar akan kebodohan dan kesalahan yang dia buat seharusnya dia tak melakukannua lagi. Tetapi, ada manusia yang terus-menerus melakukannya dan akhirnya tak bisa lagi mengenali kesalahan sebagai kesalahan dan hal yang buruk. Mereka menikmati kesalahan itu sampai lupa diri dan melakukannya lagi dan lagi. Tampaknya ini yang dikatakan Allah:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 18-19).

“Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah.” (Qs. Al-Mujadilah [5]:19)

Ayat-ayat itu terpampang nyata. Sungguh, Allah Maha Mengetahui. Jika kita pendosa, maka berjuanglah untuk keluar dari dosa-dosa itu. Mohon ampun pada Allah, dan jangan lakukan. Jika kau melakukannya lagi, mohon ampun lagi pada Allah sampai kau bosan berbuat dosa dan membenci perbuatanmu. Pasti kau akan sampai pada titik jenuh dan meninggalkannya karena di dalam hatimu sudah terpaku mana yang mungkar dan mana yang ma’ruf.

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan urusannya senantiasa melewati batas.” (Qs. Al-Kahf [18]:28)

Mengenal yang baik dan yang buruk butuh pembelajaran. Belajar ilmu agama adalah satu-satunya cara. Cari tahu apa saja perintah dan larangan Allah. Baca dan pelajari Al Quran dengan serius, pahami hadis dan kaji hukum-hukum fiqih. Setiap pembelajaran akan membuahkan ilmu jika bersugguh-sungguh. Jika kau menolak, artinya hawa nafsumu lebih besar daripada keinginanmu untuk menjadi hamba yang baik dan taat.

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan urusannya senantiasa melewati batas.” (Qs. Al-Kahf [18]:28)

Jika realitas memang lebih mengerikan daripada fiksi, seharusnya realitas juga bisa membuat dan merancang plot twist yang lebih hebat dari yang ditawarkan fiksi. Do good, good things will come to you. Do bad, bad things will come to you. It’s the nature of life.

Losing Chance?

Mungkin sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi saat cita-cita belum tercapai adalah agar waktu tidak cepat berlalu mendahului, atau masih diberikannya kesempatan yang sama untuk keinginan-keinginan yang sama. Tapi terkadang manusia terlalu terburu-buru. Merasa waktu akan segera habis dan melakukan apa pun agar cita-cita mereka tercapai, tak peduli apa yang didapatkan. Lalu bagaimana jika cita-cita itu tidak tercapai? Ya sudah. Mau apa? Terima saja.

Pertanyaan pentingnya adalah apakah kita akan mengorbankan diri kita untuk sesuatu yang membuat kita tidak bahagia? Konsep bahagia mungkin relatif. Kadang saya pun tak tahu bahagia itu seperti apa, kadang berubah-ubah. Tentunya tiap orang punya standar bahagia yang berbeda. Masalahnya adalah apakah kita akan memaksakan standar bahagia kita pada orang lain yang memiliki standar yang berbeda? Tentu tidak bisa. Memaksakan tidak bisa, mempengaruhi dan mengubah persepsi seseorang mungkin bisa.

Namun seringkali orang memaksakan konsep bahagianya pada orang lain. Bukankah ini akan menyakiti dan membebani orang lain? Ok lah, jika ingin seseorang mencapai kebahagiaan yang diinginkan, tak bisakah manusia memberikan atau menawarkan sumber kebahagiaan yang diinginkan orang tersebut? Jika kita ingin bahagia tentu kita akan mencari sesuatu yang baik-baik dan menyenangkan untuk diri kita. Mungkinkah membahagiakan diri dengan sesuatu yang kita sendiri tidak suka? Maka, jika ingin membahagiakan orang lain, berilah yang terbaik untuk mereka. Jangan sampai kita memberikan sesuatu yang kita sendiri tidak suka jika kita diberikan hal tersebut.

Ukurlah kebahagiaan dirimu, ukur juga kebahagiaan orang lain. Jika ingin memberi, mungkin bisa bertanya dulu apa yang disukai orang tersebut. Jadi pemberianmu akan dihargai dan tidak menyakiti serta membebani orang lain. Jangan mentang-mentang orang lain belum mendapatkan kebahagiaan lantas memberikan apa pun yang dipikir dapat membahagiakannya. Bahkan sembarangan memberikan sesuatu tanpa pertimbangan justru akan berdampak fatal di kemudian hari. Ingat, bahwa manusia adalah makhluk yang unik, mereka berbeda secara individu, jangan perlakukan mereka sama dengan mengabaikan sisi personalnya.

Yang pasti Allah menggenggam segalanya. Dia menetapkan dan memberikan sesuai kehendak-Nya. Jika pada akhirnya, itu sesuatu yang telah ditetapkan apa boleh buat. manusia mau apa?