Are You Living in Fiction or Reality?

Kamu tau? Terkadang realitas lebih mengerikan daripada fiksi. Berlama-lama membaca cerita fiksi dengan berbagai judul dan genrenya dengan konten bombastis mungkin suatu hal yang biasa. Bahkan, banyak yang melampaui akal sehat. Akan tetapi bagaimana jika realitas atau kenyataan yang kita lihat dalam hidup lebih pedih dari fiksi tersebut? Kadang di sini saya merasa terguncang. Menurut saya, hal-hal buruk cukuplah terjadi dalam kisah fiksi karena manusia punya kemampuan mengkhayal tingkat tinggi dan memanipulasi kenyataan, akan tetapi sialnya fiksi adalah cerminan realitas. Orang belajar menuliskan realitas kedua dari realitas pertama yang tampak olehnya.

Ok, I’ll tell you. Saya ini hanya manusia biasa yang terkadang muak dengan sifat-sifat manusia yang menyebalkan dan perilakunya yang tak menyenangkan. I always try to be good and do good. I admit that I have ever fallen into stupidity and done wrong things. Kebodohan itu membuat saya kesal dan marah. Jika manusia sadar akan kebodohan dan kesalahan yang dia buat seharusnya dia tak melakukannua lagi. Tetapi, ada manusia yang terus-menerus melakukannya dan akhirnya tak bisa lagi mengenali kesalahan sebagai kesalahan dan hal yang buruk. Mereka menikmati kesalahan itu sampai lupa diri dan melakukannya lagi dan lagi. Tampaknya ini yang dikatakan Allah:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 18-19).

“Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah.” (Qs. Al-Mujadilah [5]:19)

Ayat-ayat itu terpampang nyata. Sungguh, Allah Maha Mengetahui. Jika kita pendosa, maka berjuanglah untuk keluar dari dosa-dosa itu. Mohon ampun pada Allah, dan jangan lakukan. Jika kau melakukannya lagi, mohon ampun lagi pada Allah sampai kau bosan berbuat dosa dan membenci perbuatanmu. Pasti kau akan sampai pada titik jenuh dan meninggalkannya karena di dalam hatimu sudah terpaku mana yang mungkar dan mana yang ma’ruf.

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan urusannya senantiasa melewati batas.” (Qs. Al-Kahf [18]:28)

Mengenal yang baik dan yang buruk butuh pembelajaran. Belajar ilmu agama adalah satu-satunya cara. Cari tahu apa saja perintah dan larangan Allah. Baca dan pelajari Al Quran dengan serius, pahami hadis dan kaji hukum-hukum fiqih. Setiap pembelajaran akan membuahkan ilmu jika bersugguh-sungguh. Jika kau menolak, artinya hawa nafsumu lebih besar daripada keinginanmu untuk menjadi hamba yang baik dan taat.

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan urusannya senantiasa melewati batas.” (Qs. Al-Kahf [18]:28)

Jika realitas memang lebih mengerikan daripada fiksi, seharusnya realitas juga bisa membuat dan merancang plot twist yang lebih hebat dari yang ditawarkan fiksi. Do good, good things will come to you. Do bad, bad things will come to you. It’s the nature of life.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s