Month: February 2018

Deception and Jail of Mind

Trapped!

Deception is always intriguing us inside and outside.

How strong can we survive?

Lost in crowded space,

No, actually it’s just empty space.

Trapped in empty space and can’t comeback.

It’s a setback!

Fell apart, thrown away.

What a life!

Rehab, rehab.

A sick person tried to wake up from the nightmare.

Tears fell down, flooded, and dried.

Still sick, needs rehab.

Mentally sick.

Fight to comeback.

Tears are the catharsis, more…more tears to ease the nightmare.

How to escape?

The feet are still locked in chain.

The key, where’s the key?

Where to find?

This is a jail.

What jail?

A mind jail.

The key is in the core of mind.

Advertisements

Main-main A la Setan

Kutipan di atas menarik sekaligus menohok diri kita. Terkadang kita mengabaikan hal-hal kecil yang bisa mengantarkan kita pada dosa dan kelalaian dari mengingat Allah. Kita suka coba-coba atau iseng-iseng melakukan sesuatu yang dilarang atau kurang baik. Di sinilah korelasi kutipan gambar di atas. Jangan main-main karena bisa jadi dengan main-main kita justru mengundang setan untuk ikut campur tangan dalam hal tersebut. Makin berbahaya dan runyam jadinya.

Kalau tahu itu salah, segeralah tinggalkan dan jauhi, jangan berlama-lama dalam keadaan tersebut. Karena sejatinya suatu yang buruk itu pasti diketahui gelagatnya dari awal. Berhenti untuk berbaik sangka pada keburukan. Karena suatu keburukan tidak akan membawa pada kebaikan, yang terjadi adalah kita semakin terjerumus dan terpuruk dalam keburukan.

Setan tidak pernah main-main. Dia serius merayu dan menggelincirkan manusia. Lalu kenapa kita malah mengikuti permainannya? Saat serius dengan main-mainnya, kita malah main-main dengan perangkap setan. Seperti tikus yang suka main-main ke dalam perangkap, maka pada akhirnya dia akan masuk perangkap dan terjepit karena digoda oleh umpan yang menarik hati tikus. Begitu pulalah setan bekerja. Dia membisikkan jika hanya sekadar coba-coba tidak apa-apa. Manusia yang mulai terlena akan terus penasaran dan mulai terbawa arus hingga lupa jika dia sudah tidak di situasi coba-cona lagi tapi sudah mencebur dan basah, jadi tanggung mandi sekalian. Di saat manusia diibaratkan “mandi” itulah main-mainnya jadi tidak lagi main-main tapi keterpurukan sebagai buah dari keseriusan setan menjerat kita.

Banyak orang kecanduan narkoba karena coba-coba, akhirnya ketergantungan. Ada orang memulai pacaran atas alasan untuk saling mengenal tapi berakhir dengan sedikit pegangan, sedikit pelukan, sedikit ciuman, hingga zina dan hamil di luar nikah. Jadi, coba-coba dan main-main di ranah yang rawan dosa adalah medan perang setan terhadap manusia. Kita yang sering tak menyadarinya. Jangan coba-coba juga untuk main hati. Main hati selain bikin baper juga bikin kita terjebak dalam lingkaran perasaan yang tidak halal. Lalu lalai dari mengingat Allah, bahkan melakukan hal-hal melampaui batas. Saat seseorang melampaui batas bukankah dia sudah tak main-main lagi? Tapi nekat yang menjerumuskan dirinya pada dosa dan maksiat. Perasaan cinta dan nafsu itu ibarat api, jika dia sudah membesar maka akan membakar segalanya dan tak bisa dipadamkan. Jika dipadamkan dia malah hangus dan rusak. Bukankah itu menyakitkan? Nauzubillahi mindzalik.

Untuk itu, adalah sebuah keharusan bagi kita untuk segera meninggalkan perkara-perkara yang akan mengantarkan kita pada kemaksiatan dan kemungkaran. Betapa banyak orang berselingkuh berawal dari bertemu teman lama, saling tukar nomor, saling sapa, kemudian berlanjut ke tingkat yang tidak terbayangkan sebelumnya. Sebelum terjadi, pintu-pintu fitnah itu harus segera ditutup dan dikunci rapat-rapat karena hidup kita bukan untuk coba-coba tapi menata dan mengelolanya jadi lebih baik.

Ingat sekali lagi, jangan coba-coba bermain di arena rawan. Berbahaya! Segeralah menyingkir dan tinggalkan!

Keasingan dan Keterasingan

Kamu tahu bagaimana rasanya teralienasi? Sensasi aneh di mana kamu ditempatkan pada keadaan yang berbeda dari orang lain. Alinenasi istilah lainnya adalah keterasingan. Ada dua kondisi yang harus kita bedakan yaitu merasa asing karena dibawa ke situasi yang tidak kita kenali dan yang kedua diasingkan oleh orang lain disebabkan oleh penolakannya terhadap diri kita. Pilih yang mana?

Tentunya, keterasingan membuat kita tidak memiliki tempat untuk berpijak, tidak nyaman dengan diri sendiri, serta terhalangi oleh keadaan yang mengungkung diri kita. Ini lain halnya dengan kondisi asing di mana kita dibawa dan masuk ke lingkungan asing. Kita harus mengikuti semua hal yang sebenarnya tidak kita inginkan. Tidak ada yang menyenangkan kedua-duanya.

Saat kita dibawa kepada keasingan, kita diminta untuk menjadi sesuatu yang tidak kita pahami dan inginkan. Mungkin itu adalah akhir dari eksistensi diri kita. Jika kita menyetujuinya tanpa keberatan (consent), then you have to be responsible for it. Bagaimana jika tidak? Could things will be alright? Tak ada yang tahu. Bisa baik bahkan bisa lebih buruk. Yang pasti hal yang harus kita usahakan adalah negosiasi sebelum ditarik pada keasingan yang tidak kita inginkan. Bicara ini mungkin gampang, tapi realisasinya rumit. Apalagi jika kita harus bernegosiasi dengan tradisi masyarakat. Tampaknya tidak ada solusi selain mengikuti yang mereka inginkan. Jikapun mereka mengajukan syarat, apakah kita sudah bisa memenuhinya segera? Oh, betapa hidupmu dalam prahara. Bagaimanapun, saya selalu menolak berada dalam keasingan. Paling tidak saya harus meyakinkan diri apakah itu bisa saya terima atau tidak.

Keasingan dan keterasingan dua hal yg berbeda. Keasingan berarti kita merasa asing dengan keadaan yang ada sedangkan keterasingan adalah kita diasingkan oleh keadaan atau situasi. Kita bisa lepas dari kedua situasi tersebut karena kita bisa memilih untuk keluar dari keduanya. Yang jadi masalah adalah saat kita harus terikat dengan orang-orang yang ada dalam situasi tersebut. Maka inilah prahara tersebut.

Keasingan tidak melulu antara kita dengan lingkungan atau orang lain tetapi bisa juga terjadi antara kita dengan diri kita sendiri. Kita bisa merasa asing dengan diri sendiri karena munculnya hal-hal yang di luar kebiasaan kita atau hal-hal yang tidak kita dapati itu sebagai sosok diri kita. Keasingan bisa dikelola dengan pembiasaan. Pembiasaan akan membuat kita terbiasa. Jika berbicara perubahan, di sinilah kita bisa melihat prosesnya. Kehidupan itu dinamis, manusia berubah setiap saat. Ini artinya manusia adalah makhluk yang mampu mengelola keasingan.

Lain pula dengan keterasingan. Keterasingan membutuhkan konvensi dengan pihak yang mengasingkan karena keterasingan muncul dari perilaku lingkungan atau orang lain yang mengasingkan diri kita. Ini bisa terjadi pada pihak-pihak yang diboikot, dikarantina, atau dilokalisasikan. Keterasingan membutuhkan kekuatan dan kekuasaan untuk menghilangkannya. Perkara ini lebih rumit daripada keasingan karena sudah berkaitan dengan tarik-menarik kekuasaan antar individu ataupun kelompok.

Kenapa saya menulis ini? Karena kadangkala keasingan dan keterasingan itu muncul dalam kehidupan saya. Saya hanya sedang ingin mengurainya menjadi sebuah pemahaman yang membantu saya memahami hal tersebut. Ada kalanya kita punya kuasa untuk mengalienasi orang lain dan orang lain pun punya kuasa mengalienasi diri kita. Dalam bahasa lainnya, kita bisa memenjarakan orang lain dan orang lain bisa memenjarakan kita dengan suatu keadaan.

Photo credit to here

Mengonstruksi Ilusi

Ini sebuah pembicaraan yang menarik. Beberapa hari ini saya terlibat diskusi serius dengan mahasiswa terkait masalah penerimaan terhadap realitas. Realitas berbeda dari fakta. Realitas bersifat relatif karena bisa dibangun sedangkan fakta adalah keadaan sesuatu  begitu adanya. Kadang memang tak semua orang rela menerima fakta apa adanya sehingga dia membangun realitasnya sendiri. Bahkan, bisa pula karena ada penolakan terhadap fakta yang tidak sesuai keinginannya. Di samping itu, bisa juga karena tidak memahami fakta yang ada sehingga dia membangun kerangka berpikir dengan asumsi.

Realitas yang tak diharapkan akan mengarah pada pembentukan realitas baru yang bisa disebut sebagai ilusi. Ilusi bisa diartikan sebagai fantasi yang diinginkan sebab fakta tidak mendukung harapan seseorang. Banyak orang pada akhirnya membangun ilusi yang dijadikan nyata olehnya. Mereka membangunnya lewat persepsi yang menyalahi hukum alam. Pada akhirnya, mereka hidup dalam ilusi yang dibayang-bayangi oleh rapuhnya bangunan realitas tersebut.

Ini terdengar filosofis, karena hal ini memang dilandasi oleh pikiran-pikiran mendasar tentang realitas walaupun semu. Terkadang manusia merasa nyaman dengan ilusi yang dia buat hingga dia mendapati ruang fantasinya hancur oleh ketidaksinkronan fakta dengan harapan.

Maka dari itu, untuk memeriksa kewarasan kita, perlu kiranya melihat apakah perkara hidup yang kita jalani berdasarkan ilusi ataukah hukum alam yang tidak saling bertentangan.

Hidup dalam fantasi atau ilusi sama seperti orang-orang yang terperdaya dengan angan-angan panjang hingga dia menyadari apa yang dia bayangkan adalah semu dan rapuh. Manusia pada umumnya hidup dalam ilusi yang dia bangun. Dalam konteks yang sangat serius atau “nyata” pun manusia masih sempat-sempatnya membangun ilusi yang dia jadikan reitas hidup yang diimpikan. Contohnya saja bagaimana orang-orang menciptakan konsep Demokrasi sebagai fantasi realitas yang kemudian mereka wujudkan dalam realitas nyata untuk mengatur urusan hidup mereka. Mereka sadar jika Demokrasi hanyalah ilusi, tapi mereka masih percaya dan ingin tetap berada dalam bayang-bayang ilusi yang mereka bangun.

Demokrasi tak pernah bisa menjadi nyata karena dari sifatnya sudah menyalahi hukum alam atau sunnatullah. Manusia saja yang bersikeras untuk menjadikan Demokrasi sebagai realitas mereka. Sampai sekarang Demokrasi tak pernah sampai pada tahapan yang diinginkan karena pada faktanya kehidupan sosiologis manusia tidak memungkinkan itu terwujud.

Demokrasi menginginkan semua orang bebas memberikan pendapatnya sekalipun itu salah dan mengandung bahaya. Mereka menganggap dengan dikeluarkannya aspirasi semua orang maka seseorang tersebut akan hidup bahagia sekalipun dia hidup dalam ilusi atau fantasi yang kapanpun dapat membahayakan dirinya dan orang lain.

Baik dan buruk serta salah dan benar tak pernah diperhitungkan dalam Demokrasi, demikian juga dalam ilusi dan fantasi manusia. Itulah sebabnya ini membahayakan. Seseorang menjalankan hidupnya hanya berdasarkan keinginan-keinginannya semata yang memuaskan hasratnya tanpa memperhitungkan kebaikan dan keburukannya. Sejatinya, baik dan buruk adalah proses alam. Alam sudah diberikan mekanisme oleh Allah untuk menjalankan segala sesuatu sesuai dengan standar kebaikan. Itulah sebabnya saat kehidupan manusia mengalami kekacauan (chaos) pasti ada hal yang melanggar hukum alam.

Dari pembicaraan ini yang bisa saya sampaikan adalah seharusnya manusia berhenti bermain-main dengan fantasi dan ilusinya karena saat hal tersebut mereka paksakan menjadi realitas, maka mereka akan mengalami kehancuran atau kekacauan hidup.

Allah lebih tahu mana yang baik dan buruk. Itulah sebabnya, manusia perlu memahami aturan Penciptanya agar selamat dan aman kehidupannya di dunia dan akhirat. Jadi, berhati-hatilah mengonstruksi ilusi menjadi realitas, kelak kita akan mendapatkan apa yang kita tuai.