Month: March 2018

For Those Who Are Battling

img_20180328_0229442019223316.jpg

Source: https://youtu.be/EPJSkSn7rt0

Jika tulisan-tulisan di sini adalah bagian dari terapi, maka itu belumlah cukup. Untuk tetap menjadi waras, kau memang harus melakukan banyak hal. Berjuang untuk tidak terkalahkan oleh kecamuk pikiran sendiri. Ya, pada akhirnya pikiran kita bisa mengalahkan diri kita sendiri. Dia bisa menjadi kawan dan lawan dalam waktu bersamaan. Bukankah ia sesuatu yang lebih membahayakan daripada musuh di depan mata yang bisa kau kenali?

Dalam dirimu ada monster kecil yang bisa berubah menjadi besar jika tak mampu kau kendalikan. Dia bisa mengaum bahkan menerkammu. Untuk itu, adakalanya kau harus melawan dirimu sendiri. Monster itu ada dalam setiap diri manusia. Bukankah Rasulullah sudah menyebut ini dalam sebuah riwayat berikut:

Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya” (Hadits shahih diriwayatkan oleh ibnu Najjar dari Abu Dzarr).

Adakah manusia yang aman dari dirinya sendiri? Tak ada. Jika ada yang mengatakan demikian, sungguh dia telah berbohong.

Sebagaimana yang diungkapkan di atas, menulis ini hanya sebagian kecil usaha untum terus menjadi waras dan tidak melampaui batas. Ada banyak hal lain bisa dilakukan yaitu berbicara dengan orang-orang terdekat yang kau percayai. Mereka adalaj penolongmu. Paling tidak bisa mendukungmu, memberikan pandangan alternatif, atau mungkin menyadarkanmu dengan cara yang berbeda. Mereka berharga.

Tetaplah di jalur yang benar, jangan pernah melampaui batas.

I keep myself sane and right. This is my battle.

Advertisements

Siapa yang Menghilang?

Sejauh apa kau mencari ketenangan? Ke manapun kau lari tetap saja kau merasakan hampa.

Sudahlah, hentikan drama-drama tak bermanfaat serupa sinetron dan novel metropop. Cukup cari pemilik hatimu di hamparan sajadah. Shalatlah dan berdoa!

Tak usah kau cari jauh-jauh tempat penenang hatimu, pelepas gundahmu. Karena yang bermasalah adalah hati dan pikiranmu.

Kau meratap seolah kau tak punya siapa-siapa dan merasa sendiri. Katakan padaku siapa sebenarnya yang menghilang? Dirimu ataukah Tuhan? Kau merasa Tuhan menghilang padahal sesungguhnya kau yang menjauhkan diri dari-Nya dan sibuk dengan pikiran dan hatimu. Lalu kau sebut Tuhan tak peduli? Kau yang tak melibatkan Tuhan dalam perbincangan pikiran dan hatimu. Kau ingin melebih-lebihkan kesedihanmu dan berakhir menjadi artis drama tak tertandingi. Apa kau tak malu? Mungkin hanya Tuhan yang tak malu melihatmu.

Sudahlah, tanya pemilik hatimu. Bawa Dia dalam percakapanmu. Kau tahu Dia selalu ada besertamu. Dia melihatmu, mendengarmu, bahkan menyelami irama nadimu. Dia pemilik dirimu. Dan kau pura-pura tak tahu. Ini bentuk kebodohan nyata manusia pada umumnya.

Hamparkan sajadahmu, bicaralah pada Allah. Kau sudah terlalu lelah melarikan diri dan menyakiti dirimu sendiri. Karena sesungguhnya bersamaNya adalah obat bagimu, penawar rasa sakit, pengering luka yang melepuh, pengangkat duri yang menusuk dalam.

Jangan jauh-jauh dari Allah. Kau tahu jika Dia tak pernah pergi dan menghilang. Kau saja yang tak kembali menemui-Nya.

Menghapus Kesedihan

Kau pernah tahu tentang orang-orang yang berusaha menghapus kesedihannya dengan menghamburkan uang?

Dia pergi ke sudut kafe mahal meminta pesanan pada pelayan. Kemudian makan dan minum menelan airmatanya.

Sedikit kesedihan itu menguap digantikan lezatnya makanan dan nikmatnya minuman.

Selepas membayar tagihan dan berjalan pulang. Dia kembali ke kamarnya yang membawa aroma kesedihan yang sama.

Orang-orang yang menghapus kesedihan dengan menghamburkan uang.

I got a bad score

Untuk menilai diri, kita harus melalui sebuah ujian. Kita sudah biasa dengan ujian mulai dari SD sampai ke bangku perkuliahan. Nilai atau skor yang dihasilkan adalah kualitas diri kita, dengan catatan tes tidak dilakukan dengan kecurangan.

Ujian dilakukan setelah kita melaksanakan serangkaian pembelajaran. Ujian memang tidak memandang kita siap atau tidak karena waktunya telah ditentukan. Artinya, dalam keadaan apa pun kita harus terus mempersiapkan diri, apalagi saat jadwalnya sudah diumumkan. Berlatih adalah cara jitu untuk lulus ujian dan mendapat nilai terbaik, dengan melatih diri mengerjakan berbagai soal untuk meningkatkan penguasaan pengetahuan yang telah dipelajari. Latihan yang sedikit akan berakibat kurang tangkasnya kita menjawab soal. Seringkali menyebabkan kita jadi kewalahan, buntu, dan senewen.

Sebelum ujian, tidak ada salahnya memprediksi skor untuk diri kita sendiri. Skor yang rendah di beberapa bagian bidang akan memetakan di mana kelemahan kita. Itulah yang harus diperbaiki. Sebagaimana skor yang saya dapatkan untuk tes IELTS beberapa waktu lalu. Tak disangka justru nilai terendah saya dapatkan pada bagian Writing. Saya cuma dapat poin 4.5 selebihnya memuaskan. Saya cukup kaget. Kok bisa? Padahal selama ini listening yg membuat saya khawatir.

Kenapa hasil tes saya pada Writing sangat rendah? Ternyata setelah saya sadari, selama ini saya mengabaikan latihan Writing. Saya merasa sudah yakin akan bisa mempertahan skill Writing yang saya punya. Faktanya malah meleset. Skill yang tak pernah diasah akan berkarat. Ia akan menumpul dan tidak berkembang. Apalagi untuk tes IELTS yang topik Writing-nya tak bisa diprediksi. Saya sudah meremehkan sesuatu tanpa sadar. Jujur, saya cukup malas berlatih mengerjakan latihan Writing sebelum mengikuti tes. Saya berpikir, dengan membaca cara menulis yang baik dan benar sudah cukup. Ah, betapa salahnya. Itulah sebabnya membaca instruksi dan cara pengerjaan tidak sama dengan mempraktikkannya.

Baiklah, hasil Writing ini cukup membuat saya terguncang. Saya kok jadi bodoh banget. Kok menurun sekali kualitasnya. Saya tak henti-henti merutuk diri. Ah, bagaimanapun penyesalan tidak akan mengubah keadaan. Yang saya butuhkan sekarang adalah mulai berlatih Writing sesuai teknik yang benar. Menambah pengetahuan dengan bacaan yang memperkaya uraian tulisan.

Pelajaran yang bisa saya ambil adalah boleh saja merutuk, kecewa dan menyesal. Tapi bukan itu poin dari kegagalan dalam sebuah tes/ujian. Hasil hanyalah penanda kualitas dan pencapaian kita. Poin utamanya adalah perbaiki segera kekurangan dan berlatihlah dengan sungguh-sungguh agar tangkas dalam menghadapi ujian. Mampu membaca soal ujian dan mampu menyelesaikannya dengan baik sesuai teknik pengerjaannya.

Kasus di atas adalah sesuatu yang bisa menjadi percontohan bagi berbagai tes atau ujian yang dihadapi, tak terkecuali ujian hidup (eaaa…).

Mari mulai berlatih dari sekarang. Jangan lupa menilai diri sendiri melalui prediksi latihan-latihan yang kita lalukan. 😊

Mengejar yang Tak Berfaedah

Kita manusia adakalanya dihadapkan pada kejadian-kejadian yang menguras perhatian dan tenaga yang lebih besar, bahkan mampu memperdaya kita menjadi sosok yan tidak biasa. Pernah mengalami ini? Tentunya semua orang pernah mengalaminya. Untuk hal-hal baik tentu ini tidak ada masalah, tapi bagaimana jika sebuah kejadian pada akhirnya membuat kita terbawa, terhanyutkan, bahkan terlalu memaksa diri untuk mendapatkan apa yang kita inginkan walaupun itu faedahnya sedikit?

Kejadian seperti ini bisa menimpa siapa saja. Saat seseorang dibutakan oleh kenginannya, maka dia bisa melanggar batas-batas norma, bahkan nilai yang dia yakini bisa dilibas. Biasanya dalam kondisi ini seseorang sudah tidak bisa berpikir logis dan rasional. Salah-benar, baik-buruk bukan patokan lagi, tapi sudah digiring oleh keinginan atau hawa nafsu.

Seseorang bisa saja kehilangan akal sehatnya tatkala terpukau oleh sesuatu yang dia kagumi, ingini, atau harapkan. Hal tersebut membuatnya lupa mempertimbangkan hal yang lain yaitu apakah itu baik untuk dirinya.

Akhirnya, seseorang bisa saja mengejar-ngejar sesuatu yang tidak berfaedah bagi dirinya. Dia menjadi posesif untuk memenuhi keinginannya. Sebelum sampai ke tahap mengejar-ngejar, pertimbangan matang perlu dilakukan. Apakah yang dikejar mendatangkan manfaat dan memberikan kebaikan atau justru malah tidak bermanfaat dan mendatangkan mudharat. Jadi tak perlu terburu nafsu. Jangan berfikir itu adalah satu-satunya yang bisa dikejar. Kalau yang dikejar yang baik tentu tidak salah.

Manusia betapa sangat gampang dibutakan, diperdaya, dan dibuat terhanyut oleh sesuatu yang tidak berharga.

Untuk itu dalam keadaan apapun tantanglah diri sendiri untuk mampu menggunakan rasionalitas dan standar nilai baik-buruk agar tidak salah kejar. Karena akan ada masa di mana kita akan sampai pada sebuah kesadaran rasional dan di saat itulah seseorang mulai menyesal dan meratapi pilihannya.

Take your chance, reach your dream!

Hari ini saya bersyukur masih memiliki teman yang bisa saya ajak berdikusi dan berbicara tentang hal apa pun tanpa harus merasa malu dan menutupi. Seolah kami menjadi penutup dan penjaga satu sama lain. Kami saling mendengarkan, saling mendukung, dan saling menguatkan, bahkan saling mengingatkan. Alhamdulillah. Saya bersyukur masih diingatkan, dikhawatirkan, dan dirindukan. Teman baik adalah anugrah terindah dari Allah.

“Kamu akan mendapatkan apa yang kamu cari”. Begitu adagium yang sering kita dengar. Jika kita mencari kebaikan maka kebaikanlah yang kita peroleh, dan jika yang kita cari adalah keburukan, maka jalan untuk disandingkan dengan keburukan akan diberikan dan dimudahkan juga. Bagitulah hukum alamnya. Walaupun terkadang ada kondisi-kondisi pengecualian yang menyelisihi kelaziman tersebut. Artinya, itu adalah kehendak Allah dalam menetapkan takdir untuk hambanya.

Pembicaraan saya hari ini adalah tentang perubahan-perubahan yang harus saya lakukan. Saya adalah orang yang selalu tak nyaman di dalam zona nyaman. Saya selalu mempertanyakan diri sendiri, apa ini sudah cukup saya lakukan dalam hidup? Sampai di sini sajakah pencapaian saya dalam hidup? Pencapaian ini dalam lingkup dua hal yaitu dunia dan akhirat. Saya tidak boleh merasa cukup atas kualitas diri yang ada sekarang. Saya harus meningkatkannya menjadi lebih baik. Termasuk keberadaan saya dalam sebuah lingkungan. Jika lingkungan itu membuat diri kita semakin buruk, maka waktunya berpindah karena memperbaiki ternyata justru dihalangi.

Kata teman saya, kita tidak boleh menyia-nyiakan potensi diri sendiri dengan mengorbankan diri dalam kesia-siaan dan membiarkan diri menjadi tumpul. Ya, menumpul adalah hal terburuk dalam hidup kita. Tajamkan terus potensimu untuk dunia dan akhirat, maka tak akan ada yang sia-sia.

“Kamu harus tega!” Begitu kata temanku. Tega keluar dari zona nyaman yang mengerdilkan diri sendiri. Ya, ini kata-kata lecutan yang cukup membekas kuat. Selama ini saya tidak tega menjadi orang yang hanya memikirkan diri saya saja. Akan tetapi, sebenarnya apa kiprah saya benar-benar dimanfaatkan oleh berbagai lini di lingkungan tempat saya berada? Tidak. Bahkan saya hanya bisa mengubah dan mempengaruhi satu lini saja, itu pun tidak diberikan sepenuhnya.

Yup, cukup! Sekarang berhentilah! Ambil langkah baru, dan mulai menata apa yang telah lama diabaikan. Bergerak menjadi diri baru yang nanti tidak akan disesali.

Tentang Kita

Hidup pun bukan tentang menjalaninya sendiri tp berbagi pengalaman yang mengantarkan kita pada siapa kita. Kita tidak tumbuh sendiri. Kita adalah apa-apa yang kita bagi bersama orang lain. Akan tetapi pada akhirnya kita akan menanggungnya sendiri.

Hidupmu adalah tentang dengan siapa kau bagi selama ini. Adakalanya kehidupanmu kau bagi dengan orang-orang yang salah. Mereka akan menjadi pelajaran bagimu. Terkadang kita tak bisa menolak dengan siapa kita berbagi kehidupan. Lingkungan yang melingkupi adalah kumpulan manusia yang tidak bisa kita pilih satu per satu untuk bersinggungan dengan diri kita.

Kita harus tahu jika ini bukan surga yang di sana tidak ada hal sia-sia terjadi, di mana tak akan ada orang yang datang untuk mencelakaimu, membencimu, atau menghancurkanmu. Ini dunia fana, kumpulan manusia dengan segala tabiatnya.

Kita adalah dengan siapa kita bergaul dan dengan siapa kita menghabiskan hidup. Kita adalah irisan diri dari diri-diri yang berbaur dengan kita.

Satu hal yang mungkin bisa kita lakukan untuk perubahan yaitu masuk ke lingkungan baru yang akan menyumbangkan konsep diri yang baru.

Kita adalah dengan siapa kita berteman dan menghabiskan waktu berbagi pikiran dan perilaku.

Rasulullah SAW bersabda:

“Seseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Allah berfirman dalam Al Quran:

“Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku), sungguh dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika (Al-Qur’an) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia.”
(QS. Al-Furqan 25: ayat 28-29)

My Makeover Lipsticks

Gambar 1: Makeover lipstick new shades

Ok, setelah tulisan-tulisan yang penuh renungan, sekarang saya ingin menulis sesuatu yang ringan saja. Ini girls’ talk lah ya kalau mau dikategorikan.

Belakangan saya keranjingan beli lipstik Makeover, berawal dari ketemu akun instagram Makeoverid yang postingannya bikin mupeng. Setelah browsing jenis-jenis lipstiknya, akhirnya saya memilih lipstik jenis Ultra Shine dan Creamy Lust. Ultra Shine lebih lembap (moist dan glossy) dan Creamy Lust agak matte tapi masih terkategori lembap. Kenapa saya pilih dua jenis ini? Karena bibir saya gampang kering. Pernah nyoba lip cream jadinya malah kayak mengkerut bibirnya, jelas banget guratannya. Saya gak suka pake lipstik yang bibirnya jadi keliatan kering. Walaupun yang dipakai bukan lip cream Makeover, tetap saja saya udah kapok beli yang sejenis lip cream, mungkin karena ngebersihin lip cream juga ribet.

Ok, sekarang saya mau bahas shade dua jenis lipstik ini. Kata adik saya, kulit saya lebih cocok memakai lipstik pink karena jadi terlihat lebih muda (merasa tua bener, padahal merasa muda terus hehe). Tapi yang namanya manusia, selalu saja gak pernah puas. Pasti hobi banget eksplorasi hal-hal baru karena hidup yang monoton memang membosankan, kurang berwarna. Nah, begitu juga dengan pilihan shade lipstik hehe.

Pertama kali beli lipstik Makeover, saya jatuh cinta sama shade warna emas “Glorious Gold”. Waktu itu berasa mewah lihat bibir ada emas-emasnya gitu. Jadilah saya beli. Pas dipake, iya sih bagus. Tapi kok malah ngerasa terlalu glamor. Warnanya agak orange gitu. Lipstik ini menurut saya pas dipakai di momen tertentu saja. Tapi klo pede mah kapanpun bisa dipakai. Nah, kebiasaan buruk saya kalau kurang puas sama barang yang dibeli pasti bakal penasaran untuk beli yang lebih bagus dan memuaskan hati.

Sebelum Makeover, saya pakai lipstik Zoya shade “Mocca Float”. Duh ini kece banget warna pink-nya sampai saya pake terus. Warnanya warm pink bukan pink terang, merasa kalem makenya. Ini kalau di bibir saya jadinya dark pink (kalau istilah saya warm pink) walaupun ini terlihat browny atau peachy gitu. Harganya juga sangat terjangkau, sekitar Rp35.0000. Kalau dibandingkan Makeover ya beda lah.

Gambar 2: shade Mocca Float, Zoya Ultramoise

Nah, gara-gara Makeover ngeluarin produk baru spesial Valentine, akun Instagramnya posting macam-macam shade pink. Akhirnya tergoda hunting produk baru ini ke counternya. Stok lipstik baru waktu itu yang ada cuma shade “Velvet Truffle” dari Ultra Shine. Sebenarnya mau beli “Pink Cocktail-nya Creamy Lust yang warna pink-nya lebih kuat, tapi kosong barangnya hiks. Karena prinsip saya dalam belanja “pantang pulang tanpa bawa barang” dengan berat hati dibeli juga shade Velvet Truffle. Bagus sih, cuma di wajah saya jadi kalem banget, warna bibir banget. Malah jadi cenderung pucat. Tapi saya masih suka, paling gak punya satu warna nude yang netral dipakai ke mana-mana.

Setelah itu, saya jadi terdorong untuk browsing apa-apa saja shade lipstik Makeover. Saya masih jatuh hati sama shade Pink Cocktail dari Creamy Lust, tapi barangnya kosong terus. Akhirnya malah beli shade Creamy Lust lain yg masih warna pink, “Retro Pink”. Ini pink-nya seger banget. Gak terlalu muda dan gak terlalu tua. Bagus sih, cuma saya makenya mood mood-an hehe, merasa bright aja, takut jadi pusat perhatian, apalagi klo ngajar, ntar mahasiswa ngeliat ke bibir terus (haha… asumsi kuat saya). Retro pink ini teksturnya matte banget, pertama pakai bibir saya jadi terasa kering, makin disaster saat bibir pecah-pecah, makin gak tertolong, jadi mesti pakai lipbalm dulu kalau bibir kering banget. Tapi kata mbak-mbak counternya sih itu shade yang banyak dicari.

Petualangan dan pengejaran saya pada lipstik Makeover belum kelar. Tadi sore saya kembali hunting. Pokoknya sudah bertekad akan beli yang Ultra Shine aja apa pun shade-nya, untuk menghindari tragedi bibir kering. Nah, ketemulah shade baru “Peninsula Peach” yang warnanya peach agak pink gitu. Bagus warnanya, kalem. Akhirnya beli dengan mantap. Saya kalau belanja kalau gak ada yang larang biasanya susah ditahan, akhirnya nambah satu shade lagi “Mocha Toffee”. Ini peach terang tapi gak ngejreng, masih terlihat cute dan kalem.

Nah, ini dia gambar-gambarnya.

Gambar 3: Warna lipstik dan nomornya dari kiri ke kanan (Ultra Shine Velvet Truffle No 15, Creamy Lust Retro Pink No. 2, Creamy Lust Glorious Gold No.6, Ultra Shine Mocha Toffee No 8, Ultra Shine Peninsula Peach No. 14)

Gambar 4: Warna di tempat agak gelap

Gambar 5: Warna di tempat agak terang pakai flash.

Secara keseluruhan, Makeover memang keren. Warnanya menyatu ke bibir. Teksturnya lembut dan tidak menggumpal. Cuma untuk creamy lust yang matte pastikan bibir tidak sedang kering sewaktu mengaplikasikan. Hanya saja, ada beberapa produk yang teksturnya berbeda dari yang lain walaupun sama-sama matte atau sama-sama glossy dan moist. Ada creamy lust yang justru jadi glossy dan moist banget waktu diaplikasikan, seperti punya adik saya “Twilight Buff” (No.8). Ada pula Ultra Shine yang di bibir malah kayak matte, seperti lipstik yang saya beli Peninsula Peach dan Mocha Toffee, tapi ini masih dalam toleransi matte-nya dan terasa glossy. Untuk harga, saya beli Ultra Shine kemarin Rp75.000. Karena saya belinya bertahap dan di beberapa tempat harga beda-beda. Kisaran harga Creamy Lust dan Ultra Shine antara Rp65.000-75.000. Kualitasnya sebanding dengan harganya. Sekian review singkat saya.

Ash-Shabuur

Ada satu nama dalam Asmaul Husna yang membuat saya merasa malu dan bersalah terus pada Allah. Ash-shabuur, Allah Maha Sabar. Sabarnya Allah melebihi kesabaran yang dipunyai makhluk. Inilah satu nama baik Allah yang mengingatkan kita agar jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.

Kita manusia tak pernah luput dari berbuat hal-hal yang melanggar aturan Allah. Ada saja kesalahan yang kita sengaja, tidak disengaja, ataupun kesalahan yang kita sadari dan yang tidak kita sadari. Pada kondisi tertentu, terkadang saya merasa frustrasi saat tidak bisa berjuang menjadi lebih baik sebagai hamba Allah. Saya berjanji untuk menjadi lebih baik, namun sialnya saya terus saja mengulangi kesalahan yang sama. Saya mengutuk diri, menyesali diri, dan membenci diri. Saya merasa betapa sukar dan mendakinya jalan menuju surga. Ya, Allah apakah saya akan sampai ke sana?

Dalam keadaan yang hampir putus asa tersebut, saya mengingat Allah. Apakah Allah masih peduli dengan saya. Saya punya target dan harapan tapi justru saya sendiri yang menggagalkannya. Saya tahu, setiap langkah kita untuk menjadi lebih baik pasti akan diiringi ujian oleh Allah. Allah ingin mengukur diri saya, seberapa tangguh saya berjuang. Pada akhirnya saya mengakui kelemahan diri pada Allah bahwa saya belumlah cukup tangguh.

Jika tidak karena harapan yang diingatkan oleh Nabi Ya’qub di dalam Al Quran agar jangan berputus asa dari rahmat Allah, mungkin saya sudah lepas kendali. Jika bukan karena sifat Allah Yang Maha Sabar, pasti saya sudah berhenti berjuang.

“dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf 12: Ayat 8)

Allah bersabar dengan kesalahan yang kita lakukan berulang-ulang. Betapa banyaknya dosa anak Adam di dunia ini, dan Allah masih bersabar menunggu kita untuk berubah menjadi lebih baik dan kembali pada Allah.

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 54)

Betapa sangat memalukannya saat Allah terus bersabar tapi kita terus mengulangi kesalahan. Bagaimana jika waktu tenggang untuk kita telah habis diberi Allah?

Saya tahu jika yang mampu menolong kita hanyalah rahmat Allah semata. Betapa banyak orang-orang yang sudah ditolong Allah untuk kembali ke jalan lurus setelah kehidupan rusak yang mereka alami. Bukankah Allah Maha Pemaaf? Membaca kisah orang-orang yang berhijrah menuju jalan Allah sangat menggugagah pikiran dan hati kita. Kok Allah masih mau menerima mereka? Kok Allah bisa memberi hidayah kepada mereka? Padahal dosa-dosa mereka sudah tak tanggung-tanggung. Kita sebagai manusia belum tentu mau memaafkan orang yang sudah sangat jahat kepada kita.

Yaa Shabuur, seharusnya kesabaran Allah membuat kita malu dan tahu diri. Apa kita tega memanfaatkan kesabaran Allah untuk terus-terus berbuat kesalahan dan dosa? Jika iya, jahat sekali kita sebagai manusia. Jahat dan tak punya muka.

Bagaimanapun, Allah akan terus menguji kita sebagai pembuktian apakah kita sungguh-sungguh untuk berhijrah dan berjuang menjadi lebih baik. Sebagaimana yang dikatakan Allah dalam firman-Nya:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, Kami telah beriman dan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 2)

Ujian itu pun datang dengan berbagai bentuk. Saat kita sudah mulai lebih baik muncul rintangan, bisa perkara yang melalaikan, menjauhkan dari kebaikan, dan penolakan terhadap perubahan yang kita bawa. Allah kadang menguji kita dengan kelemahan kita. Apa kita bisa konsisten dengan niat dan tekad di awal. Allah menguji kita dengan sesuatu yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Ada orang diberi harta berlimpah, kekurangan uang, tawaran-tawaran yang menggelincirkan, serta kesulitan yang akan mendera jika teguh memegang kebenaran.

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 35)

Allah sudah sangat jelas menerangkan bahwa ujian akan selalu diberikan dengan berbagai macam bentuk untuk menguji ketaatan dan keteguhan manusia dalam jalan kebenaran dan ketaatan pada Allah.

Saya terkadang merasa sedih kenapa Allah memberi ujian yang membuat saya justru tergelincir hingga saya harus jatuh lagi dan mengulang lagi dari awal semuanya. Tapi, saya kemudian sadar, Allah bersabar melihat proses diri saya. Allah tahu manusia itu tak sempurna. Allah mau saya berjuang terus walaupun harus jatuh bangun, terhempas, dan terseret. Allah menguji saya apakah saya akan kembali pada-Nya lagi setelah saya tergelincir, apakah saya akan tegap berdiri lagi setelah terlempar. Dan apa saya tetap mengingat-Nya dalam keadaan apapun.

Saya menulis ini sebagai bentuk perenungan agar menjadi manusia yang tahu diri di depan Allah. Allah sudah baik kok masih saja dikhianati dengan kesalahan yang sama. Saya sadar jika saya lemah, tak akan kuat berjuang sendiri. Allah mau mengingatkan, jika berjuang maka mintalah selalu kekuatan dan perlindungan pada-Nya. Minta untuk selalu dikuatkan agar terus istiqamah dalam jalan kebaikan. Siapa yang menjamin dan menjaga keistiqamahan selain Allah. Jadi, jangan sok kuat dan merasa diri sudah kuat. Kita selalu butuh Allah. Dan Allah sangat suka hambanya bergantung pada-Nya.