Month: April 2018

Pejuang Tidak Menyerah

Apa yang paling mudah dalam hidup ini? Yang paling mudah adalah menyerah. Perangmu adalah saat kau berusaha untuk tidak menyerah.

Tuhanku, Engkau mengirimku ke dunia ini untuk berjuang kan? Pejuang itu tak pernah menyerah kan Rabbku? Aku memang tak pernah mengatakan menyerah. Aku hanya khawatir aku akan menyerah. Aku memang butuh banyak dilatih lagi untuk kuat. Aku juga tahu jika tak semua latihan yang Kau beri mampu kulewatkan dengan baik dan membuatku kuat. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah latihan hidup. Aku menulis kitab hidupku seperti ini. Apa ini menarik bagiMu? Mungkin jika dijual di toko buku tak akan laku. Bukankah semua orang menyukai sosok pahlawan dan pejuang? Tak ada yang suka pecundang dan orang yang tak tahan banting. Jadi plot twist seperti apa yang harus kubuat untuk sebuah buku yang baik dan menarik?

Aku selalu membenci versi diriku yang tidak ideal. Aku membenci sesuatu yang bertentangan. Mungkin aku harus berhenti menjadi perfeksionis dan menerima kelemahan dan kekurangan. Tapi saat melihat orang lain bisa berjuang lebih kuat bukankah sebuah kebodohan bersikap pasrah? Artinya aku bisa berjuang lebih kuat juga seperti mereka yang tak kenal lelah. Paling tidak, aku bisa menuliskan kisah luar biasa untuk diriku sendiri dan kupersembahkan dengan bangga di hadapan Rabbku. Bukuku akan dibacakan nanti di hari akhir kelak. Sudah sampai di mana aku berjuang menuliskan kisah terbaik yang akan berakhir baik?

Aku selalu menyukai kisah happy ending. Setiap cerita pendek yang kubuat selalu berakhir bahagia karena itulah harapanku untuk setiap kisah, termasuk kisah kehidupan sendiri. Apa pun yang kita lakukan, lakukanlah dengan baik untuk sesuatu yang baik. Intinya di sini adalah kebaikan bukan capaian yang diberi tepuk tangan atau puja puji manusia, tapi untu mendapat ridha Allah. Bukankah semua capaian dan puja puji bisa direkayasa? Orang-orang bisa berpura-pura dengan hidup mereka dengan keberhasilan semu. Tapi bukan itu tujuanku. Mungkin karena orangtuaku tak pernah mengajariku untuk bermuka dua dan menipu diri sendiri.

Apa lagi yang membuatku bersedih? Aku hanya merasa kurang tangguh dibanding para pejuang yang ikhlas dan tak kenal lelah. Kemarin aku bercerita dengan seorang teman. Bukan teman yang terlalu dekat tapi dia sungguh luar biasa. Kami bercerita bagaimana menghadapi karakter masyarakat yang secara moral dan etika kurang baik, dan sulitnya lagi mereka ada bersama-sama kita dalam sebuah kelompok/organisasi. Ya, karena karakter mereka adalah cerminan masyarakat kita, begitu kata temanku ini.

Temanku berkata tetaplah dengan prinsipmu, tetaplah kuat, dan jangan mudah dilemahkan oleh kata-kata negatif mereka. Jika kita salah akui kesalahan dan perbaiki. Aku cukup tergugah dengan caranya bersikap. Ini bukan sekadar kata-kata karena dia memang menjalankannya. Aku tahu itu berat.

Sekali aku pernah berhadapan dengan seseorang yang sangat sinis, selalu iri dan mencari-cari kesalahan diriku. Dia seperti mendapat kemenangan ketika dapat menyalahkanku dengan kekuranganku. Orang seperti itu pernah membuatku menarik diri bahkan hingga keluar dari sebuah organisasi. Aku merasa tidak nyaman dan berbaur bersama orang seperti itu hanya akan merusak diriku. Ya, aku memilih menghindar dan yang paling menyedihkan aku keluar dari kelompok, aku tampak sudah menyerah dengan keadaan. Aku melakukan ini karena tidak rela dan tidak mau mencederai diri lebih dalam lagi bersama toxic people.

Lalu bagaimana reaksi temanku ini? Dia juga mengalami hal yang sama, tapi dia lebih kuat dariku. Dia mencoba bertahan, tetap berjuang dengan visi dan misi organisasi dan mengabaikan orang-orang yang mencoba melemahkannya. Dia begitu kuat. Dia bisa menutup telinganya dari tuduhan-tuduhan dan ketidaksukaan beberapa orang yang iri terhadap perjuangannya. Dia mampu sekuat itu menghadapi karakter manusia-manusia yang secara langsung melemahkannya. Di sinilah aku berpikir, temanku ini adalah contoh terbaik untukku dalam perjuangan. Dia masih kuat tegak berdiri. Dia bukannya tidak merasa terpuruk dan dibuat tak berarti, tapi tekad dan niat baiknyalah yang membuatnya bertahan. Bukankah tujuan kita untuk kebaikan Rusyda, untuk ridha Allah? Kenapa harus kalah? Begitu katanya.

Di sini aku terpana. Dia benar-benar seorang pejuang. Dan aku masih saja dengan egoku tak mampu bersabar menghadapi tekanan-tekanan yang melemahkan. Temanku berpesan, jika aku berjuang pastikan aku siap menghadapi hal-hal terburuk dan mampu mengabaikan hal-hal yang tidak bermanfaat. Ah, betapa keras dan teguhnya.

Advertisements

Mitos dan Cara Kita Memahami Dunia

Mau ngelanjutin cerita sebelumnya jadi gak selera hahaha. Apa pentingnya bahas si The Mask. Udah kayak mak lambe aja nanti. Bahas yang lain yuk!

Mari ngomongin mitos aja. Sebenarnya saya udah capek dan ngantuk karena kurang tidur setelah ngurusin berkas naik pangkat, tapi entah kenapa malah pengen bahas ini. Nah, mitos adalah sesuatu hal baik itu benda, tanda, fenomena, dan kisah yang tidak terbukti kebenarannya. Hanya saja mitos ini sudah mengakar dalam kehidupan manusia. Dari jaman batu hingga sekarang mitos selalu tumbuh di berbagai belahan masyarakat dunia. Bahkan, masyarakat Yunani yang dianggap pendorong lahirnya Renaissance malah hidup dengan pikiran-pikiran khayalan semacam mitos. Mereka merekayasa cerita para dewa-dewa dengan kisah khayalan dan menjadikannya sebagai pesan moral bagi masyarakatnya. Banyak kisah dewa-dewanya yang menjadi pelajaran kehidupan mereka. Misalnya kisah tentang Narsiscus yang hobi memandang keindahan wajahnya di air danau hingga membuatnya terlena hingga terjatuh dan tenggelam ke danau. Atau cerita tentang Medusa, wanita cantik yang karena kesombongannya dikutuk memiliki rambut ular. Atau kisah cinta Orpheus dan Euridike yg di sana mensyaratkan Orpheus agar tidak menengok ke belakang saat menjemput Euridike ke dunia kematian. Ya begitulah, sangat khayali sekali kisah-kisahnya. Namun di balik itu, nama-nama dewa ini ternyata banyak menjadi inspirasi untuk pemakaian istilah-istilah di zaman modern seperti penggunaan kata narsis, hedon, echo dll. Ini kisah dari bumi Eropa. Bagaimana pula mitos dari Timur? Mari kita ulas berikutnya.

Tak berbeda dengan di Eropa, masyarakat Timur khususnya Indonesia juga memiliki kebiasaan yang sama. Mereka membangun karakter masyarakat lewat cerita (narasi) dengan memasukkan pesan-pesan moral. Sangat benar sekali jika cerita atau bernarasi adalah cara terbaik dalam menyampaikan pesan. Di Timur, cerita-cerita rakyat juga banyak dibumbui mitos. Khayalan-khayalan yang pada akhirnya tumbuh menjadi kepercayaan masyarakat, seperti kisah Sangkuriang dengan tangkuban perahu, Malin Kundang yang dikutuk jadi batu dalam keadaan bersujud, Bandung Bondowoso dengan kisah pembangunan candinya dll. Kisah-kisah ini mengandung pesan moral di dalamnya agar manusia belajar dari kesalahan, jika tidak maka akan mengalami ketidakberuntungan seperti yang dikisahkan. Ada kesamaan kan antara kita dengan masyarakat Yunani? Dan budaya berkisah ini hidup di seluruh belahan bumi ini.

Secara umum, manusia suka berkisah dan menyampaikan pesan moral melalui kisah. Mungkin ini pula yang menjadi alasan kenapa Allah memberikan pesan moral pada umat manusia melalui kisah para Nabi dengan umat mereka. Kisah lebih gampang dipahami dan masuk ke hati. Akan tetapi Al Quran tentu berbeda kisahnya dengan legenda atau mitologi yang dibuat manusia. Kita bicara antara fakta dan fiksi.

Lalu apa selanjutnya? Jadi poin lainnya adalah mitos-mitos yang berkembang ini justru mengandung kebohongan. Walaupun di sisi lain mitos hidup di masyarakat kita sebagai bentuk ajaran nenek moyang dalam menyampaikan nilai moral. Contohnya mitos menggunting kuku malam-malam bisa diterkam harimau, padahal mungkin maksudnya agar jangan sampai melukai jari tangan karena zaman dulu orang belum punya penerangan seperti saat ini. Atau ada pula yang mengatakan anak perempuan jangan duduk di pintu biar tidak susah jodoh, padahal maksudnya agar jangan menghalangi orang lewat. Ada pula ibu hamil gak boleh ini itu nanti anak jadi begini begitu. Mungkin pesannya adalah agar nanti si anak tidak dibahayakan oleh perilaku si ibu atau tidak meniru hal-hal yang buruk di kemudian hari. Kita terbiasa dididik dengan kebohongan atau istilah sekarang yang populer adalah hoax. Dari zaman dulu hingga sekarang apakah itu untuk kebaikan atau keburukan, manusia sudah sudah terbiasa menyebarkan hoax. Sekarang ini hoax berkembang dengan tujuan untuk memanipulasi, mempengaruhi, dan menipu pikiran orang atau membodohi orang. Sampai saat ini pula ternyata banyak masyarakat senang mendengar dan menyebarkan hoax yang bertebaran di manapun, khususnya media sosial. Apa mungkin karena pengaruh bagaimana mereka dibesarkan oleh mitos?

Bahkan, di zaman di mana dunia sudah secanggih ini banyak muncul mitos dengan versi berbeda untuk mengacaukan pikiran orang lain seperti pembahasan bumi datar dan bumi bulat yang tak berkesudahan, isu global warming dan vaksin yang kontroversial, serta mitos terorisme yang penuh kebohongan.

Jadi asal usul saya menulis tentang miyos adalah tadi pagi saya membaca berita yang memperlihatkan awan di kota Padang seperti tersibak oleh angin berkekuatan besar hingga membentuk sebuah corong atau sorotan. Ada yang bilang itu adalah awan penanda gempa besar. Maka segeralah saya googling tentang awan gempa. Rupanya banyak juga ulasannya. Ada bantahan ada persetujuan. Nah, kalau sudah begini kita dihadapkan pada mitos yang membutuhkan penjelasan ilmiah dan harus kuat pembuktiannya. Jadi, pahamkan maksud saya membahas seputar mitos ini? Ya semacam berita yang menyimpangkan pikiran tapi hidup dengan akur di kehidupan kita.

What da fake!

Ini sangat lucu. Apa itu? Manusia suka sekali menipu dirinya. Semua orang tahu ini dan bisa jadi sering melakukannya. Di luar sana banyak orang memasang topengnya saat berhadapan dengan orang lain. Topeng ini suatu yang membahayakan. Membahayakan diri sendiri dan orang lain. Pagi ini saya tergelitik untuk membahas ini karena menemukan fakta yang cukup membuat miris di lingkungan sekitar saya. Ini menyedihkan karena kita melihat orang-orang yang memakai topeng adalah orang-orang yang tak mampu menerima keadaan dirinya sendiri. Saat topeng itu lepas justru menjadi hal yang menyakitkan bagi orang-orang di sekitarnya. Yah, begitulah. Menyebalkan memang orang sepeti ini, tapi sayangnya mereka ada, adaaaa gitu loh. Ah, people… Kenapa sih orang suka memperumit hidup seperti ini dengan topengnya? 😑

Tulisan ini akan saya lanjutkan nanti, harus berangkat ke kampus sekarang. Nitip topik seru dulu.

Ada Apa dengan Malam?

Kau tahu bagaimana menjadi kuat? Saat orang-orang membiarkanmu berjuang sendiri, dan kau masih punya semangat untuk melangkah tanpa ragu. Karena kau tahu, yang kau butuhkan adalah pertolongan Allah lewat orang-orang ikhlas. Apa kau tahu jika kau benar-benar kuat? Saat kau tak meminta lebih atas apa yg diberikan manusia padamu dan meminta Allah yang mencukupinya. Kau memang benar-benar kuat saat orang-orang memamerkan kebahagiaan mereka dan kau tak merasa sedih dan iri sedikitpun karena kau tahu bagian mereka bukan bagianmu, begitu juga bagianmu bukan bagian mereka.

Kau tahu siapa yang menetapkan itu? Allah Yang Maha Besar, Maha Memberi kecukupan dan Maha Menyayangi. Belum tentu apa yang diberi Allah untuk orang lain akan membuatmu bahagia. Allah hanya menyuruhmu untuk bersyukur atas apa yang kau punya dan ada waktunya bagianmu akan tiba sesuai yang diinginkan Allah. Bisa jadi kehidupan yang kau harapkan dari yang dipunyai orang lain bukan sesuatu yang kau butuhkan. Bukan berarti kau tak boleh meminta pada Allah. Tapi tentunya Allah akan beri sesuatu yang terbaik untukmu. Kau percaya kan Allah Maha Melihat dan Mendengar harapan-harapan di dalam dadamu? Jadi, tetaplah bahagia dan bersyukur.

Saya selalu datang ke rumah kedua ini, ya ke blog ini untuk merefleksi diri. Tempat ini semacam sanctuary untuk saya. Tempat nyaman untuk melepas semua yang terasa. Tempat menemukan diri saya kembali, dan tempat untuk membangun kekuatan diri. Bahkan mungkin tempat pelarian dari kusut dan riuhnya dunia. Ternyata masih ada rumah lain untuk bersinggah. Di sini saya bisa berbincang lebih lama dengan diri sendiri. Sepertiga malam belum cukuprasanya untuk diri dan Rabb saya. Ah, kenapa tiba-tiba jadi sedih begini. Kok airmata sampai merembes hingga ke kelopak mata. Mungkin karena apa yang saya rasakan malam ini.

Jika saya pulang dari kampus selepas maghrib, selalu ada perasaan ganjil yang menyergap saat saya berdiri menunggu kendaraan umum untuk pulang. Saya seperti berdiri di tempat asing melihat malam semakin kelam. Melihat mobil-mobil melintas, perasaan asing itu semakin asing. Saya merasa asing. Malam bukanlah waktu yang tepat untuk saya. Orang-orang yang warungnya saya jadikan tempat berteduh ketika hujan selalu bertanya kenapa saya sendiri. Ah, mereka tak tahu. Jika keluarga saya ada di kota ini tentu saya tidak akan sendiri malam-malam begini. Ternyata, kita butuh kehadiran keluarga di kota ini.

Entahlah, sejak saya kuliah ke luar pulau dulu justru sendiri bukanlah hal yang asing dan menyedihkan. Sekarang saat saya pulang ke kampung halaman, kesendirian menjadi hal aneh dan tak menyenangkan. Kadang suasana lingkungan dan karakter orang-orangnya bisa mengubah perasaan dan persepsi kita. Di kota ini orang terbiasa dimanjakan pasangannya. Sedangkan di kota besar, bukanlah keanehan melihat perempuan tak ditemani laki-laki. Memang ada baiknya perempuan tak boleh pulang melewati Maghrib. Tak elok dan tak aman rasanya. Pantaslah perasaan saya selalu tak enak kalau sudah kesorean atau pulang di awal malam begini.

Salahkah Godaan?

Apa yang membuat cita-cita menjadi buyar? Karena datangnya godaan-godaan yang melemahkan. Seringkali saya mengalami hal ini, bahkan sekarang muncul hal serupa. Ini yang bikin galau tak jelas. Saya lemah kalau sudah begini. Seperti anak gadis pasrah dipaksa kawin hehe lebay. Cita-cita memang sangat butuh determinasi kuat.

Setiap saya mau melangkah mengambil keputusan besar selalu muncul tawaran-tawaran lain yang bisa mengurungkan niat saya. Haduuh… Ketika hidup menawarkan banyak pilihan, kita seperti dihadang oleh pertanyaan apa prioritasmu?

Kejadian pertama yang saya lalui adalah saat ada tawaran S3 dari dosen pembimbing S2 saya untuk ke Prancis tahun 2011. Saya bersemangat, akan tetapi orangtua saya meminta saya untuk menikah dulu. Ini membuat saya tersenyum nyengir hingga sekarang. Mom and dad, I’m still single until now. Any idea? Kejadian kedua adalah saat saya akan mengikuti tes CPNS dosen tahun 2014, lagi-lagi saya urungkan karena merasa terikat dengan kampus saya sekarang. Look what happened now! No progress. Nah, sekarang saya mau berniat sekolah lagi. Jangan sampai ada yang mengurungkan niat saya lagi. Walaupun, rasa-rasanya mulai bermunculan nih bermacam-macam godaan penghalangnya. Oh Tuhan, kadang memang harus tega ya bikin keputusan besar dan tidak boleh banyak alasan gak jelas. Kuatkan dan permudahlah ya Allah. Aamiin.

Segala Hal Atas Kadarnya

Dunia bagi banyak orang sangat mempesona karena memberikan sifat indah bagi mereka akan hal-hal tersebut. Termasuk bagi saya. Setiap orang punya ujian masing-masing terhadap pesona dunia. Ada orang yang terobsesi dengan uang, jabatan, makanan, pakaian, peliharaan, perhiasan, kecantikan dan ketampanan, kekuasaan, kemewahan, pasangan hidup, anak-anak, seksualitas, bahkan sampai pada hiburan yang memanjakan diri. Begitu banyak godaan dunia. Tiap orang akan menghadapi salah satu dari ini atau bahkan lebih. Mengerikan ya manusia. Ya, manusia memang semengerikan itu. Itu dinamakan nafsu, yang tak dipunyai oleh malaikat.

Saat seseorang mendapatkan dunia yang diinginkannya, tak sedikit orang yang iri padanya. Ya di sinilah masalah itu dimulai. Ada manusia yang selalu merasa tak senang jika ada orang yang diberikan kenikmatan dunia melebihi dirinya. Saat ada orang lain yang usahanya sukses timbul dengki, ada yang lebih cantik darinya malah iri hati. Sampai-sampai ada yang berusaha untuk menghalangi ataupun menghancurkan apa yang diperoleh orang lain. Padahal orang itu tak merugikan dirinya sedikitpun. Aneh ya manusia. Manusia bisa seaneh ini karena mengikuti sifat syaitan. Dulu iblis, nenek moyang syaitan, merasa iri kepada kemuliaan yang diberikan Allah pada Nabi Adam. Rasa iri itu berubah menjadi dengki dan hasad. Di sinilah pangkal mula Adam diperdaya oleh iblis hingga keluar dari surga. Perilaku iblis ini tak jauh beda dengan perilaku manusia yang iri dan berupaya mencelakakan orang-orang yang diberi lebih dari dirinya dalam urusan dunia maupun yang disebut rizki. Untuk apa sih iri dengan ujian kesenangan dunia orang lain? Ujian kesenangan dunia itu berat loh.

Kemarin teman saya bercerita di media sosial tentang kisah orangtuanya, tepatnya ibunya. Ibunya dulu mendapat kelimpahan rizki dengan berkembangnya ternak sapi dan kebun. Walaupun pencapaian ibunya adalah usaha sendiri dan juga kemudahan rizki dari Allah, ternyata ada tetangga yang iri dan dengki dengan apa yang beliau dapatkan. Hingga ibunya dibuat tak berdaya dengan sakit yang berkepanjangan, setelah diobati ke sana ke mari tak sembuh-sembuh ternyata kena santet oleh tetangganya. Betapa mengerikannya. Di zaman yang sudah modern ini dan manusia sudah dianggap beriman pada Tuhan, tetap saja banyak orang yang memilih jalan kesyirikan (menyekutukan Allah). Mereka meminta bantuan pada setan atau jin untuk menghancurkan manusia lain karena kebencian dan rasa iri. Sampai akhirnya, semua harta ibu teman saya tadi habis untuk pengobatan dan mereka pindah diajak Bapaknya merantau ke Papua mencari kehidupan baru. Kepindahan dan habisnya harta mereka ternyata menghentikan santet tadi. Lihatlah bagaimana manusia begitu sangat jahatnya pada manusia lain sampai pada taraf menzalimi sedemikian rupa.

Praktik syirik serupa santet ini masih berkembang di masyarakat kita. Orang-orang masih banyak yang menjadi pemuja setan padahal mereka mengatakan beriman pada Tuhan. Orang-orang ini adalah mereka yang tak mensyukuri hidupnya dan tidak bahagia dengan apa yang mereka punya. Mereka orang-orang terburuk yang ada di dunia ini. Padahal, seharusnya orang yang beriman paham bahwa rizki itu Allah yang memberi dan mengatur. Manusia bisa berusaha mencari rizki tapi tetap Allah yang menetapkan berapa banyak yang akan diberi. Mau bilang Allah tak adil? Justru dengan mengatakan Allah tak adil, manusia itu sudah sampai pada taraf menduakan Allah. Apakah yang lebih dicintainya adalah harta dan kemilau dunia ataukah Allah? Allah tak pernah memandang harta dan kesenangan dunia sebagai bentuk keberhasilan dan keberuntungan manusia. Allah cuma melihat dan memuji ketundukan dan ketaatan manusia pada-Nya. Lihatkan, perbedaan pandangan antara Allah dan kebanyakan manusia di muka bumi ini? Semakin cinta manusia pada dunia, Allah tahu mereka akan semakin lupa diri hingga lupa pada Allah. Inilah yang menjadi kebencian dan kemurkaan Allah pada manusia. Karena pada akhirnya Tuhan mereka berganti menjadi harta, kekuasaan, jabatan, kecantikan, dan semua kesenangan.

Bukannya Allah tak mau manusia mendapatkan kesenangan. Justru Allah akan menambah kenikmatan itu saat manusia semakin dekat, taat, dan bersyukur kepada Allah. Nah, di sinilah poinnya. Bagaimanapun harta itu ditambah oleh Allah, jika orang itu tidak gila harta, maka harta itu hanyalah suatu yang biasa dan tidak memperdaya bagi orang-orang yang bertaqwa. Mereka justru memanfaatkan harta atau kekuasaannya untuk kebaikan manusia lain. Mereka berinfak tak kenal jumlah, sebagaimana sahabat Usman bin Affan menginfakkan hartanya yang banyak di jalan Allah. Mereka mengganggap harta itu hanya titipan dan akan berarti jika dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia. Sungguh orang seperti inilah yang dicintai Allah. Mereka yang tetap taat walaupun dalam curahan rizki yang banyak. Dan tak banyak orang seperti ini. Yang ada malah semakin diberi harta dan rizki, semakin kikir dan menghamburkannya untuk hal-hal tak berguna. Maka, untuk apa menumpuk harta jika harta yang sedikit saja belum bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. Allah tahu, jika semakin diberi manusia malah semakin menjauh dari-Nya. Bukankah seharusnya kita puas dengan apa yang sudah mencukupi? Kenapa terobsesi meminta lebih? Apa yang mau dicapai? Jika untuk menambah infaq dan ketaatan tentu sangat baik, tapi jika hanya untuk menambah kesombongan apa gunanya?

Dalam hal ini, kita seharusnya menjadi hamba Allah yang selalu bersyukur dengan rizki yang diberikan-Nya. Perbedaan jumlah rizki yang diberi bukan bentuk pilih kasih Allah pada manusia. Bahkan, rizki itu bisa menjadi ujian yang mencelakakan. Allah tahu berapa kadar rizki yang pantas untuk kita. Tidak salah meminta rizki pada Allah dan mencari rizki dengan giat asalkan niatkan semua karena Allah, untuk mendapatkan keberkahan dari Allah, bukan untuk melalaikan diri hingga jauh dari Allah. Sungguh Allah lebih mengetahui yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya.

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa’ : 32)

Keberhasilan yang Menentramkan

Hidup terasa cukup sempurna saat kita memiliki teman-teman terbaik yang selalu hadir dalam keadaan terburuk dan terbaik. Mereka bahagia saat kita bahagia dan mereka hadir membawa semangat dan menenangkan di kala gundah dan sedih. Katakanlah kita hidup di situasi yang berbeda dan menghadapi persoalan berbeda, dan mengalami ketidakwarasan yang berbeda. Namun, kehadiran mereka mampu sebagai penyeimbang dan pembawa kestabilan. Kenapa? Karena kita bersama teman-teman terbaik yang senantiasa saling mengingatkan, menghibur, dan menguatkan. Dia tahu kondisi terburuk kita dan hadir sebagai penyelamat, begitu juga saat kondisi terburuknya kita hadir menemaninya dan meluruskan jika salah.

Sebenarnya apa yang sedang ingin saya bahas? Ini bukan semata soal adanya teman dalam kehidupan kita, tetapi bagaimana teman mampu membantu kita memandang dunia menjadi lebih luas dan dalam. Saya bersyukur diberi teman-teman terbaik yang senantiasa memandu pikiran dan kehidupan saya. Mereka sedikit banyaknya adalah bagian dari diri saya. Begitupun sebaliknya. Ada bagian diri saya di dalam jiwa mereka. Mungkin ini yang namanya soulmates. Belahan jiwa ternyata tak melulu tentang pasangan hidup yang melengkapi tapi juga teman-teman yang separuh diri mereka ada dalam pikiran dan jiwa kita.

Pagi ini saya mendapat nofikasi Whatsapp dari teman saya. Teman yang ada saat kondisi saya terpuruk. Tampaknya kali ini kami bertukar tempat. Saya dalam kewarasan optimal dan dia dalam kegalauan yang hampir menuju ketidakwarasan. Nah kan. Setiap orang akan mengalami ketidakwarasan yang berbeda-beda dalam hidupnya dikarenakan kondisi-kondisi tertentu yang terlalu membuat buyar dan tertekan.

Apakah yang sedang dihadapi teman saya itu? Rupanya dia sedang berusaha memahami kembali makna pencapaian dalam hidup. Apa sih yang dia galaukan? Ternyata dia berpikir ulang tentang arti pernikahan. Wah? Saya awalnya terbingung-bingung dan kaget. Apakah dia menyesal telah menikah? Teman saya menikah tahun lalu atas dasar keputusan mendadak karena dorongan orangtua dan usianya yang genting kian memaksa. Dia menikah dengan seseorang yang tidak masuk kriteria idamannya tapi masih bisa dia terima. Paling tidak, laki-laki yang dia nikahi shalih dan mampu menjadi pemimpin baginya. Saya dulu cukup kaget mendengar keputusannya, bahkan memastikan apa dia sadar melakukan itu dan siap menerima konsekuansinya. Seakan tak percaya dia akan membuat keputusan secepat dan senekat itu. Tapi mau bagaimana, itu sudah pilihannya. Setelah menikah apa dia bahagia? Apakah suaminya baik? Sebenarnya dia cukup bahagia dengan suami yang menyayanginya dan siap menghadapinya dengan penuh kesabaran.

Lalu di mana masalahnya? Nah, itu dia. Dia merasa tidak puas dengan hidup yang dijalaninya. Setelah menikah dia berhenti bekerja dan pulang ke kampung halamannya. Sekarang sudah memiliki bayi dan harus tinggal di rumah mengasuh setiap waktu. Apa lagi yang membuat tidak puas? Saya bertanya-tanya. Bukankah bagi banyak orang pernikahan adalah salah satu keberhasilan hidup? Apalagi punya anak. Sedangkan saya masih belum bisa meraih itu. Terkadang hidup memang aneh. Saya merenungi kesendirian saya sedangkan teman saya meratapi pernikahannya.

Akhirnya saya memahami bahwa apa yang dikatakan banyak orang sebagai keberhasilan belum tentu sebuah keberhasilan. Dan saya yang dikatakan belum berhasil belum tentu begitu. Teman saya justru iri dengan keadaan saya yang masih lajang, bisa berkarir, melakukan banyak hal yang saya sukai. Ya seperti menikmati hidup mungkin tepatnya. Padahal, dia tidak tahu apa yang saya rasakan. Bagaimana saya merasa kesepian dan merasa ada yang kurang. Dan saya juga ternyata baru tahu apa yang dia rasakan saat kegundahan melandanya. Ternyata pernikahan bukan bukti keberhasilan seseorang dalam hidup. Bahkan, ada teman saya yang lain dan sudah menikah menyarankan agar saya tidak perlu ngotot terburu-buru untuk menikah apalagi salah pilih pasangan. Jika waktunya tiba maka ia akan tiba juga katanya. Sebelum itu datang lebih baik optimalkan potensi diri untuk melakukan banyak hal yang positif seperti belajar, berkarya, dan mengeksplorasi hal yang kita suka dan tekuni.

Lalu apa sih sebenarnya keberhasilan itu? Kenapa makna keberhasilan jadi tidak pasti? Tulisan ini terinspirasi dari kajian Shubuh ustadz Abdul Somad tadi pagi tentang sukses hakiki. Kita mungkin sudah tahu, tapi sering lupa. Sukses yang sebenarnya yaitu senantiasa berada di jalan kebenaran yang diperintahkan Allah. Saya mencoba mengaitkan makna itu dengan kasus yang dialami teman saya, termasuk kasus saya sendiri. Saya menemukan makna keberhasilan dengan bahasa yang berbeda. Keberhasilan adalah saat kita ikhlas menerima apa yang diberikan Allah untuk kita. Menyukuri apa yang ada di hadapan kita. Makna keberhasilan bukan memiliki kekayaan berlimpah, punya paras cantik dan ganteng, menikah, punya anak, punya karir hebat, dan jabatan tinggi. Kenapa? Karena orang-orang yang memiliki hal tersebut masih saja tidak bahagia dengan apa yang mereka dapat. Bagaimana dengan orang yang hidup pas-pasan tapi bahagia? Atau tidak menikah dan punya anak tapi bahagia? Ternyata inti dari semua kebahagiaan yang berbanding lurus dengan keberhasilan itu adalah rasa syukur. Penerimaan atas keadaan yang ada dengan ikhlas. Bukankah setelah itu tak ada lagi kegalauan dan kekhawatiran? Saya berpikir, Allah pasti ingin membawa kita pada pemahaman ini. Berhasil berarti bersyukur atas apa yang Allah beri. Tetap berusaha memperbaiki diri dan melakukan yang terbaik untuk perubahan kehidupan di dunia dan akhirat yang diridhai Allah. Keberhasilan itu standarnya Allah yang menentukan. Apakah itu? Taqwa. Orang-orang bertaqwalah yang dikatakan Allah orang beruntung, sukses, dan berhasil. Bukan yang lainnya. Rasanya hidup lebih berarti dengan memaknai berhasil berdasarkan standar Allah ini.

”Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al A’raf: 69).

”Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al Maidah: 35).

“Maka adapun orang yang bertobat dan beriman, serta mengerjakan kebajikan, maka mudah-mudahan dia termasuk orang yang beruntung.” (Al-Qashas 67)

Masih banyak ayat-ayat yang membahas definisi dan contoh menjadi sukses/beruntung. Sungguh pandangan Allah lebih menentramkan untuk hidup kita daripada mengikuti pandangan manusia kebanyakan. Karena Allah lebih tahu apa yang harus dipentingkan dan yang terbaik untuk diri kita. Jadi, syukuri apa yang ada dalam diri kita dan terus berdoa meminta kebaikan.

Menulis adalah Kehidupan

Hari ini ada berita gembira. Barusan saya diberi tahu kalau kumpulan cerpen saya dan teman penulis lainnya akan terbit dalam waktu dekat ini. Senang sekali menunggu momen ini. Ini cerpen kedua saya yang terbit, sebelumnya terbit sekitar tahun 2012. Sudah lama sekali. Tahun lalu saya dan teman-teman penulis lainnya melahirkan esai yang diterbitkan dalam bentuk e-book. Melihat karyamu lahir dan dibaca orang adalah suatu kebahagiaan tersendiri.

Menulis adalah aktivitas yang menyenangkan. Seharusnya saya benar-benar menekuni ini. Bahkan, ada seorang teman Facebook yang memotivasi saya untuk menulis agar bisa bertemu dengan penulis-penulis lainnya, dan siapa tau itu jodoh saya katanya. Saya hanya tertawa mendengarnya. Ya sih siapa tau. Tapi bukan itu tujuan saya menulis. Jodoh bisa datang dari mana saja, bahkan dari tempat atau situasi yang tidak diduga. Menulis adalah ajang mendokumentasikan pikiran dan menyebarkan kebaikan bagi saya.

Saya menulis apa pun yang saya suka. Dulu waktu masih kuliah S1, saya adalah penggila puisi hingga banyak puisi yang saya tulis. Menulis cerpen kesenangan saya sewaktu SMA, kemudian vakum cukup lama dan berlanjut saat saya kuliah S2. Untuk esai, saya menyenangi analisis tentang politik, agama, budaya, dan sastra. Itulah sebabnya blog adalah sesuatu yang penting bagi saya. Hingga saat ini saya sudah punya empat akun blog, yang tersisa dua, dan yang aktif cuma WordPress. Blog tumblr sudah terabaikan sekian lama. Tapi entahlah kenapa sekarang tulisan saya lebih banyak curhatan. Saya tampak seperti pribadi yang melankolis dan kesepian.

Banyak hal yang bisa saya lakukan, tapi tak saya seriusi. Saya kurang fokus sepertinya. Dalam hal apa pun, saya butuh teman dalam berkarya. Seperti kumpulan cerpen dan antalogi esai yang sudah terbit adalah contoh bagaimana saya termotivasi oleh lingkungan. Saya tampak kesepian sekali akhir-akhir ini. Sejak kepindahan ke Padang dari Jakarta tahun 2013 lalu, saya benar-benar kehilangan teman-teman terbaik saya. Walaupun masih saling kontak hingga sekarang, tetap saja kebersamaan dengan mereka sangat saya rindukan. Itulah sebabnya, saya berniat untuk kuliah lagi untuk membunuh kegundahan dan ketidakdinamisan hidup yang saya alami sekarang. Ini benar-benar membuat galau. Saya tak rela meninggalkan kedua orangtua yang selalu saya rindukan dan sayangi, tetapi juga tak mau terjebak pada lingkungan sosial saya yang monoton. Bagaimanapun, tampaknya saya memang harus sekolah lagi.

Tentang menulis, saya akan menekuninya lagi. Mungkin menulis fiksi adalah pilihan menarik saat ini. Pengalaman hidup tahun lalu sangat menginspirasi untuk saya dituliskan. Sebuah pelajaran berharga untuk diri saya bahwa kita tak selalu hidup dalam alur yang kita inginkan. Terkadang ada jalan yang membawa kita pada pemahaman tentang hidup yang lebih mendalam. Seolah sebuah pertanyaan besar yang ditujukan pada diri saya. Apa makna kehidupan bagi saya dan kehidupan seperti apa yang sesungguhnya saya inginkan. Bagaimanapun, pertarungan tahun lalu adalah sebuah kemenangan untuk diri saya dalam mempertahankan dan memperlihatkan prinsip hidup saya. Walaupun harus berkuras airmata dan kepedihan hati. Ini bukan hanya masalah cinta tapi identitas diri dan pilihan hidup.

Kisah hidup kita adalah sebuah buku yang akan dibacakan nanti di akhirat. Bahkan hidup kita sendiri adalah sebuah narasi yang akan dibukukan kelak.

Politik Emosi

Jelang Pilplres 2019 makin ramai perang isu. Semua bisa dijadikan bahan diskusi, perdebatan, bahkan untuk kampanye politis, entah untuk menyerang atau membangun citra. Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis masalah politik dan isu-isu kekinian, seringnya malah curhat di blog ini. Padahal, di medsos mah diskusinya politik melulu. Ini yang namanya dramaturgi kehidupan. Manusia dalam keadaan tertentu selalu memiliki front stage dan backstage-nya. Front stage saya adalah di kehidupa publik, termasuk di media sosial. Sedangkan backstage saya adalah ruang pribadi bersama orang-orang terdekat saya, termasuk blog ini. Kenapa blog juga? Karena saya tak punya banyak followers di blog ini, kecuali kalau ada yang stalking ya. Itu di luar pengetahuan saya. Masa iya ada yang stalking? Jika ada, bahaya ini. Jadi kelihatan sisi melankolisnya, padahal image saya adalah mandiri, strong, dan antilebay (haha…bawaannya curcol mulu di sini).

Ok, kembali ke isu trending di tahun politik ini. Bisa kita pastikan ketegangan dan polarisasi opini mulai mencuat setelah terjadinya kasus pencalonan Ahok di Pilkada Jakarta tahun 2016 lalu. Isu penolakan terhadap Ahok semakin memuncak gara-gara rekaman pernyataannya yang menyinggung surah Al Maidah 51, yang dianggap umat Islam bentuk pelecehan. Dalam hal ini saya setuju itu bentuk pelecehan. Bagaimanapun ayat itu adalah firman Allah yang menjadi landasan beriman, berpikir, dan berperilaku umat Islam. Larangan memilih pemimpin nonmuslim itu sangat jelas dan terang, bukan untuk dinegosiasikan. Jadi, ini bagi saya bukan urusan kepentingan politik tapi keimanan.

Dari hal-hal yang bersifat SARA ini kita bisa memahami bahwa dalam lingkup masyarakat plural, sangat riskan membenturkan hal-hal yang dianggap sakral. Sekarang isu berbau SARA ini terus bergulir, seolah tak belajar dari pengalaman. Akhir-akhir, ini publik kembali dibuat heboh oleh puisi Sukmawati Soekarnoputri yang membenturkan cadar dengan konde, azan dengan kidung. Siapa yang tak meradang dibanding-bandingkan begini? Perbandingan yang dibuat malah komparatif (better than) pula. Ini yang jadi pangkal konflik. Kalau bahasanya Al Quran “lakum dinukum waliyadin” aja lah.

Isu puisi ini sampai membuat masyarakat turun ke jalan menuntut Sukmawati dan bahkan melayangkan surat tuntutan hukum kepada pelaku. Isu ini seakan sedikit meredam saat Sukmawati meminta maaf kepada umat Islam. Tapi ya yang namanya maaf tidak selalu menyelesaikan masalah. Nah, tiap orang harus peka untuk urusan SARA ini, apalagi politisi. Sampai-sampai PDIP merasa terancam dengan perilaku Sukmawati yang notabene adalah saudara kandung Megawati. Bisa panjang cerita jika gara-gara ini elektabilitas partainya menurun. Sukmawati juga adalah seorang politisi dari partai PNI Marhaenisme, jadi posisinya dirinya cukup sulit sebenarnya terjerat dalam kasus ini. Maka, wahai politisi berhati-hatilah dengan omonganmu karena imbasnya adalah kepercayaan publik.

Bagaimanapun, kasus pelecehan agama ini tak lepas dari kepentingan politik. Jika umat Islam bergerak karena alasan keimanan, maka ada kelompok lain yang berupaya mengambil kesempatan untuk memberikan dukungan pada umat dengan memperlihatkan keberpihakan mereka. Ya mau bagaimana, pada akhirnya ini tidak dapat dihindari. Preferensi politik seseorang pasti juga dipengaruhi oleh sisi sosial kultural termasuk agama.

Polarisasi opini menjadi terbagi antara kelompok Islamis vs nasionalis-sekuler. Semakin tajam gesekannya dari hari ke hari. Hingga ada yang khawatir ini bisa menjadi perpecahan. Sekali lagi, perbedaan pandangan politik adalah hal yang tak dapat dihindari. Sekarang yang dibutuhkan adalah bagaimana menampilkan ideologi kedua kutub hingga tampak mana yang unggul dari segi kualitas sistem yang ingin dibangun. Kadang, sisi psikologi berupa emosi memang dapat mengambil simpati bahkan memenangkan, tapi tak cukup untuk mengurusi urusan rakyat, tetap saja dibutuhkan kualitas sistem yang akan dibangun. Maka dari itu, kedua kubu seharusnya bertarung dalam menampilkan kualitas pemikiran dan sistem yang akan dibangun untuk masyarakat. Memenangkan sesuatu dengan memicu konflik psikologis justru tidak membuat diri menjadi unggul hanya sekadar membangun emosi massa saja.

Make A Move

Do you know where I should start? I built something then it fell apart. I need more courage and optimism to rebuild my vision. I want to give up but I don’t want to be defeated. I want to get lost but at the same time I hate weakness and cowardice.

Things must be changable. Once, I played the song O Fortuna by Carmina Burana in the middle of the night. Yes, life is rough and tough. People become desperately depressed. I whined sometimes then stuck on boring situation. I found myself in prison of my own mind. My friend told me to get out of it. My mom and my sister asked me what I really want in life. I’m in the middle of intersection. I’m not looking for wealth, popularity, and pride. I want a meaningful life like becoming pious and grateful creature. It’s satisfying when we can give and share good things to other people. One thing I realize that I need to meet new people and new place. I need to share my vision. My problem is the stagnant environment. I’m surrounded by people who lost their vision in life. They let many precious chances go in vain. This is the matter that will happen when you are working under bad leadership and management. Oh, looks like I’m trying to blame some people. 😄

Yes, I have to take my doctoral degree soon. I have to. It’s a must! 😤

Let’s prepare for new experience! I’m thinking of my proposal. Let’s work it out!