Menulis adalah Kehidupan

Hari ini ada berita gembira. Barusan saya diberi tahu kalau kumpulan cerpen saya dan teman penulis lainnya akan terbit dalam waktu dekat ini. Senang sekali menunggu momen ini. Ini cerpen kedua saya yang terbit, sebelumnya terbit sekitar tahun 2012. Sudah lama sekali. Tahun lalu saya dan teman-teman penulis lainnya melahirkan esai yang diterbitkan dalam bentuk e-book. Melihat karyamu lahir dan dibaca orang adalah suatu kebahagiaan tersendiri.

Menulis adalah aktivitas yang menyenangkan. Seharusnya saya benar-benar menekuni ini. Bahkan, ada seorang teman Facebook yang memotivasi saya untuk menulis agar bisa bertemu dengan penulis-penulis lainnya, dan siapa tau itu jodoh saya katanya. Saya hanya tertawa mendengarnya. Ya sih siapa tau. Tapi bukan itu tujuan saya menulis. Jodoh bisa datang dari mana saja, bahkan dari tempat atau situasi yang tidak diduga. Menulis adalah ajang mendokumentasikan pikiran dan menyebarkan kebaikan bagi saya.

Saya menulis apa pun yang saya suka. Dulu waktu masih kuliah S1, saya adalah penggila puisi hingga banyak puisi yang saya tulis. Menulis cerpen kesenangan saya sewaktu SMA, kemudian vakum cukup lama dan berlanjut saat saya kuliah S2. Untuk esai, saya menyenangi analisis tentang politik, agama, budaya, dan sastra. Itulah sebabnya blog adalah sesuatu yang penting bagi saya. Hingga saat ini saya sudah punya empat akun blog, yang tersisa dua, dan yang aktif cuma WordPress. Blog tumblr sudah terabaikan sekian lama. Tapi entahlah kenapa sekarang tulisan saya lebih banyak curhatan. Saya tampak seperti pribadi yang melankolis dan kesepian.

Banyak hal yang bisa saya lakukan, tapi tak saya seriusi. Saya kurang fokus sepertinya. Dalam hal apa pun, saya butuh teman dalam berkarya. Seperti kumpulan cerpen dan antalogi esai yang sudah terbit adalah contoh bagaimana saya termotivasi oleh lingkungan. Saya tampak kesepian sekali akhir-akhir ini. Sejak kepindahan ke Padang dari Jakarta tahun 2013 lalu, saya benar-benar kehilangan teman-teman terbaik saya. Walaupun masih saling kontak hingga sekarang, tetap saja kebersamaan dengan mereka sangat saya rindukan. Itulah sebabnya, saya berniat untuk kuliah lagi untuk membunuh kegundahan dan ketidakdinamisan hidup yang saya alami sekarang. Ini benar-benar membuat galau. Saya tak rela meninggalkan kedua orangtua yang selalu saya rindukan dan sayangi, tetapi juga tak mau terjebak pada lingkungan sosial saya yang monoton. Bagaimanapun, tampaknya saya memang harus sekolah lagi.

Tentang menulis, saya akan menekuninya lagi. Mungkin menulis fiksi adalah pilihan menarik saat ini. Pengalaman hidup tahun lalu sangat menginspirasi untuk saya dituliskan. Sebuah pelajaran berharga untuk diri saya bahwa kita tak selalu hidup dalam alur yang kita inginkan. Terkadang ada jalan yang membawa kita pada pemahaman tentang hidup yang lebih mendalam. Seolah sebuah pertanyaan besar yang ditujukan pada diri saya. Apa makna kehidupan bagi saya dan kehidupan seperti apa yang sesungguhnya saya inginkan. Bagaimanapun, pertarungan tahun lalu adalah sebuah kemenangan untuk diri saya dalam mempertahankan dan memperlihatkan prinsip hidup saya. Walaupun harus berkuras airmata dan kepedihan hati. Ini bukan hanya masalah cinta tapi identitas diri dan pilihan hidup.

Kisah hidup kita adalah sebuah buku yang akan dibacakan nanti di akhirat. Bahkan hidup kita sendiri adalah sebuah narasi yang akan dibukukan kelak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s