Mitos dan Cara Kita Memahami Dunia

Mau ngelanjutin cerita sebelumnya jadi gak selera hahaha. Apa pentingnya bahas si The Mask. Udah kayak mak lambe aja nanti. Bahas yang lain yuk!

Mari ngomongin mitos aja. Sebenarnya saya udah capek dan ngantuk karena kurang tidur setelah ngurusin berkas naik pangkat, tapi entah kenapa malah pengen bahas ini. Nah, mitos adalah sesuatu hal baik itu benda, tanda, fenomena, dan kisah yang tidak terbukti kebenarannya. Hanya saja mitos ini sudah mengakar dalam kehidupan manusia. Dari jaman batu hingga sekarang mitos selalu tumbuh di berbagai belahan masyarakat dunia. Bahkan, masyarakat Yunani yang dianggap pendorong lahirnya Renaissance malah hidup dengan pikiran-pikiran khayalan semacam mitos. Mereka merekayasa cerita para dewa-dewa dengan kisah khayalan dan menjadikannya sebagai pesan moral bagi masyarakatnya. Banyak kisah dewa-dewanya yang menjadi pelajaran kehidupan mereka. Misalnya kisah tentang Narsiscus yang hobi memandang keindahan wajahnya di air danau hingga membuatnya terlena hingga terjatuh dan tenggelam ke danau. Atau cerita tentang Medusa, wanita cantik yang karena kesombongannya dikutuk memiliki rambut ular. Atau kisah cinta Orpheus dan Euridike yg di sana mensyaratkan Orpheus agar tidak menengok ke belakang saat menjemput Euridike ke dunia kematian. Ya begitulah, sangat khayali sekali kisah-kisahnya. Namun di balik itu, nama-nama dewa ini ternyata banyak menjadi inspirasi untuk pemakaian istilah-istilah di zaman modern seperti penggunaan kata narsis, hedon, echo dll. Ini kisah dari bumi Eropa. Bagaimana pula mitos dari Timur? Mari kita ulas berikutnya.

Tak berbeda dengan di Eropa, masyarakat Timur khususnya Indonesia juga memiliki kebiasaan yang sama. Mereka membangun karakter masyarakat lewat cerita (narasi) dengan memasukkan pesan-pesan moral. Sangat benar sekali jika cerita atau bernarasi adalah cara terbaik dalam menyampaikan pesan. Di Timur, cerita-cerita rakyat juga banyak dibumbui mitos. Khayalan-khayalan yang pada akhirnya tumbuh menjadi kepercayaan masyarakat, seperti kisah Sangkuriang dengan tangkuban perahu, Malin Kundang yang dikutuk jadi batu dalam keadaan bersujud, Bandung Bondowoso dengan kisah pembangunan candinya dll. Kisah-kisah ini mengandung pesan moral di dalamnya agar manusia belajar dari kesalahan, jika tidak maka akan mengalami ketidakberuntungan seperti yang dikisahkan. Ada kesamaan kan antara kita dengan masyarakat Yunani? Dan budaya berkisah ini hidup di seluruh belahan bumi ini.

Secara umum, manusia suka berkisah dan menyampaikan pesan moral melalui kisah. Mungkin ini pula yang menjadi alasan kenapa Allah memberikan pesan moral pada umat manusia melalui kisah para Nabi dengan umat mereka. Kisah lebih gampang dipahami dan masuk ke hati. Akan tetapi Al Quran tentu berbeda kisahnya dengan legenda atau mitologi yang dibuat manusia. Kita bicara antara fakta dan fiksi.

Lalu apa selanjutnya? Jadi poin lainnya adalah mitos-mitos yang berkembang ini justru mengandung kebohongan. Walaupun di sisi lain mitos hidup di masyarakat kita sebagai bentuk ajaran nenek moyang dalam menyampaikan nilai moral. Contohnya mitos menggunting kuku malam-malam bisa diterkam harimau, padahal mungkin maksudnya agar jangan sampai melukai jari tangan karena zaman dulu orang belum punya penerangan seperti saat ini. Atau ada pula yang mengatakan anak perempuan jangan duduk di pintu biar tidak susah jodoh, padahal maksudnya agar jangan menghalangi orang lewat. Ada pula ibu hamil gak boleh ini itu nanti anak jadi begini begitu. Mungkin pesannya adalah agar nanti si anak tidak dibahayakan oleh perilaku si ibu atau tidak meniru hal-hal yang buruk di kemudian hari. Kita terbiasa dididik dengan kebohongan atau istilah sekarang yang populer adalah hoax. Dari zaman dulu hingga sekarang apakah itu untuk kebaikan atau keburukan, manusia sudah sudah terbiasa menyebarkan hoax. Sekarang ini hoax berkembang dengan tujuan untuk memanipulasi, mempengaruhi, dan menipu pikiran orang atau membodohi orang. Sampai saat ini pula ternyata banyak masyarakat senang mendengar dan menyebarkan hoax yang bertebaran di manapun, khususnya media sosial. Apa mungkin karena pengaruh bagaimana mereka dibesarkan oleh mitos?

Bahkan, di zaman di mana dunia sudah secanggih ini banyak muncul mitos dengan versi berbeda untuk mengacaukan pikiran orang lain seperti pembahasan bumi datar dan bumi bulat yang tak berkesudahan, isu global warming dan vaksin yang kontroversial, serta mitos terorisme yang penuh kebohongan.

Jadi asal usul saya menulis tentang miyos adalah tadi pagi saya membaca berita yang memperlihatkan awan di kota Padang seperti tersibak oleh angin berkekuatan besar hingga membentuk sebuah corong atau sorotan. Ada yang bilang itu adalah awan penanda gempa besar. Maka segeralah saya googling tentang awan gempa. Rupanya banyak juga ulasannya. Ada bantahan ada persetujuan. Nah, kalau sudah begini kita dihadapkan pada mitos yang membutuhkan penjelasan ilmiah dan harus kuat pembuktiannya. Jadi, pahamkan maksud saya membahas seputar mitos ini? Ya semacam berita yang menyimpangkan pikiran tapi hidup dengan akur di kehidupan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s