Month: May 2018

Pengabdian

Pengabdian itu butuh pengorbanan. Kau harus memilih kebenaran yang sudah dipegang teguh. Pengabdian berarti kau telah menyerahkan dirimu pada kebenaran yang kau imani. Bebas itu adalah saat kau bisa melakukan segala hal yang sesuai dengan kebenaran yang kau imani. Ada batas yang mengikat. Karena kau tahu, kau bukanlah manusia tanpa tuan yang tersasar di dunia. Kau diciptakan dengan maksud. Maka, tunduklah. Kenapa terkadang kau ingin menjadi seorang pelarian yang melangkah tanpa tahu arah dan menampik jalan-jalan buntu dan membahayakan yang akan kau lalui? Sungguh, tak ada jaminan bagimu saat kau lari dan memilih tersasar tanpa arah. Sesekali kau bisa saja bersalah karena kelalaian dan ketidaktahuanmu. Tapi jangan pernah memilih jalan yang salah dengan kesadaranmu. Sesekali kau mungkin menginginkan sesuatu yang menarik hatimu, tapi apa kau yakin itu akan menyelamatkamu? Tolong, definisikan lagi tentang kebahagiaan dan ketenangan. Ucapkanlah sekali lagi tentang kebenaran yang kau yakini.

Menurutmu jaminan siapa di dunia ini yang akan menyelamatkanmu? Rayuan-rayuan manusia yang haus kesenangan dan kekuasaan? Nasihat-nasihat para pengecut yang hanya ingin hidup berkecukupan tanpa tahu benar dan salah? Kadang kau mungkin berpikir, kenapa Allah menjadikan indah pada pandangan manusia sesuatu yang membuatnya tergelincir? Ah, itu pertanyaan bodoh sebenarnya. Kau tahu bahwa di sini, di atas dunia ini, kau tidak sekadar dibiarkan menjalani hidup. Dunia ini adalah medan ujian, bukan tempat bersenang-senang dan lepas kendali. Kau lupa dengan firman Allah yang bertanya apa manusia akan dibiarkan mengatakan dia beriman sedang dia tak diuji? Kau lupa ini. Sebenarnya kau tahu, tapi sering lupa.

Kau juga tahu bahwa manusia sangat sering melanggar janjinya, bahkan pada Allah Tuhannya sendiri. Kadang kau takut berjanji karena kau tahu yang membolak-balikan hatimu adalah Allah. Maka, yang terbaik bagimu adalah meminta kepada Allah agar kau di-istiqamahkan dalam jalan yang Dia ridhai. Kau mengucap janji sebagai penjaga Islam, tapi terkadang kamu melanggarnya dengan kelalaianmu. Ya Rabbana, sungguh kenapa janji itu seperti suatu yang membuatmu takut pada akhirnya? Kau takut hanya menjadi pelanggar. Kau berjanji kemudian mengingkari. Bukankah janji adalah sesuatu yang harus hati-hati dan bersungguh-sungguh untuk dilakukan?

Dalam Al Quran ada istilah janji disebutkan dalam beberapa ayat. Istilah itu adalah Mitsaqan (perjanjian) atau Mitsaqan Ghalizhan (perjanjian yang teguh/kuat/berat). Ini disebutkan dalam tiga hal dalam Al Quran yaitu, pertama untuk perjanjian pernikahan (Q.S. An-Nisa ayat 21), kedua untuk perjanjian Allah dan orang-orang Yahudi agar tidak melanggar perintah Allah (An-Nisa ayat 154), dan ketiga untuk perjanjian para Nabi dengan Allah dalam menyampaikan dakwah pada umatnya (Al-Ahzab ayat 7).

Saat kau berjanji pada Allah, maka itu bukanlah hal yang main-main. Jika kau berazzam untuk sebuah janji dakwah, maka kuatkan dirimu dengan segala rintangan. Jika kau berazzam dalam ketaatan maka kuatkan dirimu agar tak gampang berbuat kesalahan. Dan satu hal lagi jika kau berazzam untuk sebuah pernikahan, maka jangan pernah melakukannya karena alasan-alasan sepele dan remeh, lakukan sebagai bentuk janjimu pada Allah untuk mejaga pernikahanmu dalam ketaatan pada Allah.

Allah mengujimu di titik terlemahmu. Dan kau tahu itu. Maka, ingatkan dirimu setiap kali kau akan berubah haluan. Ingatkan dirimu bahwa egomu bukanlah segalanya. Kau hanya seorang hamba di sini yang dititipkan Tuhanmu agar selalu ingat nanti ada waktunya kau akan pulang dan dijemput kembali.

Advertisements

Ittaqullah, haqqatuqatihi!

Apa pun yang terjadi, jangan pernah stres. Ini hal yang selalu saya sugestikan pada diri saya. Pangkal dari kegalauan dan stres adalah karena kita tidak bisa melepaskan dan menerima segala sesuatu apa adanya. Terlalu memikirkan masalah yang sebenarnya dengan memikirkannya tak meringankan beban dan masalah itu. Akhirnya timbul perasaan khawatir, bimbang, takut, sedih, atau segala hal yang memancing keluarnya emosi negatif. Ini sangat tidak baik untuk kesehatan.

Menjadi orang yang ikhlas ternyata cukup membuat hidup kita lebih sehat dan tenang. Baru-baru ini saya menonton video dokter Agus Ali Fauzi di media sosial dari postingan seorang teman. Dokter Agus, dalam acara yang diselenggarakan sebuah perusahaan, membahas tentang hubungan kondisi hati dan jiwa dengan kesehatan. Betapa pentingnya untuk menata hati dan jiwa untuk kehidupan yang bahagia dan sehat. Pendekatan dokter ini banyak mengarah pada spiritualitas Islam. Semua harus diserahkan secara ikhlas pada Allah atau bertawakkal. Percayakan semuanya pada Allah. Berharap dan bergantunglah pada Allah atas segala hal. Seperti kata ustadz Syafiq Riza Basalamah, kita manusia adalah makhluk lemah, maka dari itu dalam diri manusia diciptakan sifat bergantung pada sesuatu yang lebih besar darinya, yaitu Allah pencipta dan pengatur alam semesta.

Terlalu memikirkan sesuatu secara berlebihan tidak ada gunanya jika kemampuan kita terbatas menyelesaikannya. Dan pastinya kita tak bisa mengendalikan semua urusan. Maka dari itu usahakan segala sesuatu sesuai kemampuan diri kita kemudian bertawakkallah, serahkan semuanya pada Allah. Biar Allah yang menyelesaikannya.

Kita seringkali terlalu berlebihan memikirkan sesuatu yang sebenarnya belum terjadi. Khawatir tidak sesuai rencana, khawatir dengan kesulitan-kesulitan yang akan muncul. Kebanyakan berpikir malah akhirnya lupa dan lambat dalam beraksi dan berikhtiar. Asumsi-asumsi negatif yang memunculkan tekanan tersebut justru semakin melemahkan kerja otak dan anggota tubuh kita dalam bertindak.

Pikirkan sesuatu sesuai dengan kapasitas kemampuan dan kuasa diri kita. Tak ada gunanya memikirkan sesuatu yang tak bisa atau belum bisa dilakukan. Fokus pada apa yang ada di hadapan dan kerjakan dengan maksimal. Buang hal-hal tak penting yang memperlambat kerja atau usaha.

Itulah sebabnya, dalam Islam seseorang dilarang berlebihan larut dalam emosinya. Dilarang bersedih berlarut-larut, meratapi sesuatu yang tak ada manfaatnya. Karena semuanya adalah hasutan setan. Ada doa khusus yang diajarkan Rasulullah saat kegalauan ini muncul.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat. (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)

Dalam riwayat lain juga disampaikan sebagai berikut:

“ Dari Anas bin Malik : Aku melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau singgah dan aku selalu mendengar beliau banyak berdo’a: “Allahumma Inni A’uudzu Bika Minal ‘Ajzi Wal Kasali Wal Bukhli Wal Jubni Wa Dhala’i ad-Daini Wa Ghalabatir Rijaal” (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari (sifat) gelisah, sedih, lemah, malas, kikir, pengecut, terlilit hutang dan dari kekuasaan “ ( HR Bukhari )

Allah juga menggambarkan bagaimana sifat wali-wali Allah yang bisa kita teladani.

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ

“ Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. “ ( Qs Yunus : 62-63 )

Akhirul kalam, hasbiyallah wani’mal wakiil, ni’mal maula wani’mannashir. Bagaimanapun, cukup andalkan Allah dalam segala urusan. La hawla wala quwwata illabillahil ‘alaiyyil’azhim.

Tak cukupkah asmaul husna yang menjelaskan tentang kebesaran Allah? Sadarlah bahwa manusia itu lemah, di sinilah Allah ingin memperlihatkan bahwa kita butuh Allah dalam segala keadaan.

Ittaqullah, haqqatuqatihi (bertaqwalah pada Allah dengan sebenar-benar bertaqwa). Cara satu-satunya untuk mendapatkan pertolongan Allah adalah dengan bertaqwa pada-Nya. Taqwa menurut Imam Al Ghazali bermakna takut dan taat pada Allah serta membersihkan diri dari dosa-dosa. Ini kunci dan solusi permasalahan yang ditawarkan Allah pada kita. Mau mencari solusi lain yang justru menambah masalah?

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. (Q.S. al-Thalaq:2-3).

Obrolan Penting!

Halooo!

Adakah yang merindukan saya? Hehe… Sudah lama sekali tak bikin tulisan di sini, bahkan sepatah kata pun tak ada dalam jangka waktu cukup lama dari biasanya.

Ada satu hal yang saya sadari bahwa keluar dari comfort zone membuat saya berani membangun cita-cita. Berani untuk lebih kuat dan mandiri, semakin dikuatkan agar jangan sampai bergantung pada siapa pun kecuali Allah. Orang-orang di sekelilingmu tak selalu mereka baik padamu, bahkan tak semuanya suka dengan harapan-harapanmu, dan mungkin kualitas dirimu. Maka dari itu, saya berusaha untuk selalu percaya diri dalam mengandalkan usaha sendiri ketimbang meminta kemudahan dari orang lain. Karena selama hidup ini, yang pernah saya mintai pertolongan untuk urusan besar hidup saya hanyalah Allah, orangtua, dan adik-adik saya. Selebihnya, saya tak pernah libatkan banyak orang lain.

Keluarga kita paling tahu siapa kita, dan kita juga tahu keluarga kita dari sisi terdalam mereka. Bahkan, untuk urusan pelik sekalipun saya pernah tak melibatkan keluarga karena khawatir memberatkan mereka dan takut mereka juga khawatir dengan diri saya. Setidaknya, saya bisa bertanggung jawab terhadap diri saya sendiri. Loh, kok jadi ngomongin diri dan keluarga ya hehe. Gimana lagi, blog ini memang tempat curhat paling bebas untuk saya. Jika ada yang tersasar ke sini tolong diabaikan saja kisah-kisah saya ini ya. Hidupmu lebih berharga dari sekadar membaca curhatan saya ini hahaha. Kecuali hidupmu tak banyak masalah. Ya silakan saja membaca perspektif saya yang mungkin berbeda dari orang kebanyakan ini.

Jadi, saya tuh mau bahas apa sih sebenarnya? Nah, intinya adalah menghargai diri sendiri sangat penting agar kita bisa menghargai orang lain. Kita tidak akan semena-mena memperlakukan dan memberatkan orang lain. Ini hal yang saling berkait sebenarnya. Inspirasi saya menulis ini gara-gara ada anak muda keturunan Cina yang videonya beredar luas sedang menghina-hina Presiden. Kata-katanya sangat kasar. Walaupun tak suka dengan seseorang bukan berarti kita bisa seenaknya menghina orang sedemikian rupa. Saya juga orang yang sering mengkritik penguasa tapi tidak menghina dan berkata kasar.

Tahu tidak, apa yang terjadi setelah video itu beredar? Aparat keamanan langsung menemui anak muda tersebut dan setelah terlibat pembicaraan dengan keluarganya, aparat menganggap apa yang dilakukannya hanya bercandaan untuk lucu-lucuan. What? How come? Berkat ulah anak tersebut, orangtuanya harus turun tangan dibuat repot. Sampai-sampai si orangtua membuat video permintaan maaf untuk presiden dan seluruh rakyat Indonesia. Lalu masalahnya di mana? Kasus ini pada akhirnya diselesaikan dengan jalan damai. Saya cukup ternganga karena selama ini siapa pun yang berani menghina presiden pasti akan langsung dipenjara, gak ada ampun. Lalu ini kenapa bisa lolos? Asumsi netizen adalah karena dia anak orang kaya, keturunan Cina, dan bapaknya cukong (ini label yang diberi netizen) berpengaruh, serta yang paling penting latar belakang keluarganya pendukung pemerintah. Aparat dan pemerintah jadi lunak dibuatnya.

Saya merasa perlakuan ini tak adil. Dari kasus yang sudah-sudah, selama ini pengkritik penguasa dengan ujaran kebencian yang dianggap kasar maupun tidak adalah dari kelompok orang-orang anti kebijakan penguasa, berlatar keluarga tidak kaya dan tidak berkuasa, bahkan yang punya nama namun berseberangan dengan pemerintah bisa diciduk. Mereka akan ditindak sesuai keinginan pemerintah yaitu dipenjara dan dipertontonkan di hadapan publik kesalahannya. Selama ini saya dan publik sangat paham bagaimana sikap seperti ini dilakukan pemerintah. Mereka tak mau dihina, tapi giliran yang menghina adalah kalangan pro-pemerintah, malah dibiarkan. Jadi tampaknya yang dilihat pemerintah adalah apakah kita kelompok pendukung mereka atau bukan. Jika bukan, maka siap-siap menerima perlakuan sesuka hati mereka.

Apakah kita mau hidup dengan cara ini? Membanggakan kekayaan dan status sosial, menekan orang lemah, dan membeli siapa yang bisa dibeli. Untuk apa? Untuk menolong diri kita agar urusan kita mulus? Padahal sebenarnya kita sudah merepotkan banyak pihak saat berbuat seperti ini.

Apakah membuat masalah sama dengan membela kebenaran? Tentu ini hal yang berbeda. Menjadi perusak beda dengan menjadi pembaharu. Walaupun pembaharu bagi banyak orang adalah sosok yang mengacaukan status quo dan zona nyaman orang-orang berkuasa. Yang repot adalah orang yang berkuasa, tapi itu perlu dilakukan agar mereka tahu diri dan tidak bermain-main dengan apa yang mereka lakukan karena bisa merugikan banyak orang. Justru sebenarnya yang dibuat repot oleh penguasa zalim adalah rakyatnya sendiri.

Oleh karena itu, menjadi mandiri membuat kita tahu diri, mengukur diri, dan berempati pada kehidupan orang lain yang melalui jalan hidup yang berbeda. Sekali lagi, kita harus menjadi diri sendiri dan berbuat yang terbaik untuk diri kita dan orang lain. Papa saya selalu berpesan agar berhati-hati bersikap. Saya paham ini. Walaupun seringkali saya tak tahan juga bersuara mengkritik kebijakan penguasa yang merugikan. Saya melakukan ini bukan untuk diri saya, tapi agar orang memahami apa kewajiban pemerintah dan apa hak rakyat. Karena selama ini rakyat sudah berbuat banyak dengan menerima apa pun yang diingini pemerintah. Kenapa pemerintah sering lupa akan perannya sebagai pelayan rakyat? Kenapa mereka malah ingin diperlakukan bak raja? Inilah kesalahan awal yang dilakukan penguasa saat menjadikan dirinya raja dan tidak memberikan contoh perilaku baik untuk masyarakat. Padahal pemerintah seharusnya adalah pihak pertama yang menjadi teladan rakyatnya, karena sudah memikul kekuasaan sebagai pengelola dan penggerak arah negara ini.

Drama is Life

Drama itu selalu menarik. Gak ada drama pasti datar-datar saja. Itulah sebabnya dalam cerita fiksi unsur drama punya peranan penting memainkan emosi pembacanya. Begitu juga dengan film. Bahkan hidup pun gak lepas dari drama. Saya tidak terlalu sering nonton film, tapi suka beberapa genre film. Yang paling saya suka adalah film bergenre drama dan sejarah. Itu terasa sekali hidup ceritanya.

Kali ini ada yang berbeda. Adik saya tiba-tiba mengajak saya nonton film Avengers, tipikal film action fantasi. Saya tak terlalu suka fiksi fantasi, tapi karena diajak ya sudah ikut aja. Rupanya Avengers Infinity War cukup menarik perhatian saya. Kenapa? Karena ceritanya jadi mendadak drama. Kisah Thanos dan putri angkatnya Gamora cukup mengusik emosi. Walaupun saya melihat drama cinta ayah-anak ini penuh kepalsuan. Thanos rela menukar Gamora dengan sebuah infinity stone. Yang menarik adalah syarat yang harus dipenuhi Thanos. Dia diminta untuk mengorban nyawa orang yang paling dicintainya untuk ditukar dengan batu itu. Tentu saja Gamora tersenyum sinis karena dia tahu Thanos tak pernah punya cinta dalam dirinya, bahkan untuk Gamora putri angkatnya. Tapi, apa yang terjadi? Tiba-tiba Thanos menangis dan dan memperlihatkan rasa cinta yang dimilikinya. Untuk siapa? Ternyata cintanya adalah Gamora. Aneh memang. Kok bisa-bisanya cinta tulus ditukar dengan batu yang menjadi obsesi buta. Lebih aneh lagi ketika rasa cinta Thanos yang terlihat tak mencintai itu berhasil ditukar dengan infinity stone. Is it love when you sacrifice it for another precious love?

Ah, tapi kemudian saya sadar. Bukankah cinta punya tingkatan dan kadar. Bahkan, Nabi Ibrahim rela mengorbankan anaknya Nabi Ismail untuk dikorbankan pada Allah. Ada cinta di atas cinta. Bukannya tak cinta pada Ismail, tapi cinta pada Allah menempati tingkat tertinggi bagi Nabi Ibrahim. Ok, Thanos. Now I got it. Akan tetapi, di akhir cerita justru Thanos mengalami kegalauan setelah berhasil mendapatkan seluruh infinity stones. Perasaannya terusik setelah apa yang dilakukannya pada Gamora. Sebuah ilusi muncul dalam pandangannya seolah Gamora kecil mempertanyakan apakah yang sudah dicapai Thanos adalah kebahagiaan dan kepuasan tertinggi baginya. Thanos merenung. Yaaaak, this is the drama! Kalau gak gini gak akan seru yang namanya kehidupan. Mendadak baper melihat Thanos di akhir film Avengers Infinity War ini. Tampaknya masih akan ada sekuelnya. Tapi saya gak terlalu ngebet nonton. Udah ketebak aja sih ceritanya. Pasti Thanos mau mengembalikan kehidupan Gamora. Cinta itu kekuatannya luar biasa saudara-saudara haha, jika tak membutakan ya meluluhkan. 😄

Jadi, jika hidupnya banyak drama dan ujian bersyukurlah akan ada sekuel baru dalam hidupmu yang akan terjadi. Apa jadinya jika datar-datar saja. Semangat tak ada, perjuangan tak ada, apalagi cita-cita. Semua rutinitas membosankan. Kau tak punya sesuatu yang berharga untuk dihebohkan. Maka, jangan baper dikasih ujian sama Allah. Kalau tak begitu, mana kau tahu cintamu sebesar apa pada Allah. Ya kan? Allah ingin menunjukkan apa yang lebih kau pilih dalam hidup ini sebagai prioritas. Biar kita tau diri sebesar apa cinta kita pada Allah.