Ittaqullah, haqqatuqatihi!

Apa pun yang terjadi, jangan pernah stres. Ini hal yang selalu saya sugestikan pada diri saya. Pangkal dari kegalauan dan stres adalah karena kita tidak bisa melepaskan dan menerima segala sesuatu apa adanya. Terlalu memikirkan masalah yang sebenarnya dengan memikirkannya tak meringankan beban dan masalah itu. Akhirnya timbul perasaan khawatir, bimbang, takut, sedih, atau segala hal yang memancing keluarnya emosi negatif. Ini sangat tidak baik untuk kesehatan.

Menjadi orang yang ikhlas ternyata cukup membuat hidup kita lebih sehat dan tenang. Baru-baru ini saya menonton video dokter Agus Ali Fauzi di media sosial dari postingan seorang teman. Dokter Agus, dalam acara yang diselenggarakan sebuah perusahaan, membahas tentang hubungan kondisi hati dan jiwa dengan kesehatan. Betapa pentingnya untuk menata hati dan jiwa untuk kehidupan yang bahagia dan sehat. Pendekatan dokter ini banyak mengarah pada spiritualitas Islam. Semua harus diserahkan secara ikhlas pada Allah atau bertawakkal. Percayakan semuanya pada Allah. Berharap dan bergantunglah pada Allah atas segala hal. Seperti kata ustadz Syafiq Riza Basalamah, kita manusia adalah makhluk lemah, maka dari itu dalam diri manusia diciptakan sifat bergantung pada sesuatu yang lebih besar darinya, yaitu Allah pencipta dan pengatur alam semesta.

Terlalu memikirkan sesuatu secara berlebihan tidak ada gunanya jika kemampuan kita terbatas menyelesaikannya. Dan pastinya kita tak bisa mengendalikan semua urusan. Maka dari itu usahakan segala sesuatu sesuai kemampuan diri kita kemudian bertawakkallah, serahkan semuanya pada Allah. Biar Allah yang menyelesaikannya.

Kita seringkali terlalu berlebihan memikirkan sesuatu yang sebenarnya belum terjadi. Khawatir tidak sesuai rencana, khawatir dengan kesulitan-kesulitan yang akan muncul. Kebanyakan berpikir malah akhirnya lupa dan lambat dalam beraksi dan berikhtiar. Asumsi-asumsi negatif yang memunculkan tekanan tersebut justru semakin melemahkan kerja otak dan anggota tubuh kita dalam bertindak.

Pikirkan sesuatu sesuai dengan kapasitas kemampuan dan kuasa diri kita. Tak ada gunanya memikirkan sesuatu yang tak bisa atau belum bisa dilakukan. Fokus pada apa yang ada di hadapan dan kerjakan dengan maksimal. Buang hal-hal tak penting yang memperlambat kerja atau usaha.

Itulah sebabnya, dalam Islam seseorang dilarang berlebihan larut dalam emosinya. Dilarang bersedih berlarut-larut, meratapi sesuatu yang tak ada manfaatnya. Karena semuanya adalah hasutan setan. Ada doa khusus yang diajarkan Rasulullah saat kegalauan ini muncul.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat. (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)

Dalam riwayat lain juga disampaikan sebagai berikut:

“ Dari Anas bin Malik : Aku melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau singgah dan aku selalu mendengar beliau banyak berdo’a: “Allahumma Inni A’uudzu Bika Minal ‘Ajzi Wal Kasali Wal Bukhli Wal Jubni Wa Dhala’i ad-Daini Wa Ghalabatir Rijaal” (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari (sifat) gelisah, sedih, lemah, malas, kikir, pengecut, terlilit hutang dan dari kekuasaan “ ( HR Bukhari )

Allah juga menggambarkan bagaimana sifat wali-wali Allah yang bisa kita teladani.

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ

“ Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. “ ( Qs Yunus : 62-63 )

Akhirul kalam, hasbiyallah wani’mal wakiil, ni’mal maula wani’mannashir. Bagaimanapun, cukup andalkan Allah dalam segala urusan. La hawla wala quwwata illabillahil ‘alaiyyil’azhim.

Tak cukupkah asmaul husna yang menjelaskan tentang kebesaran Allah? Sadarlah bahwa manusia itu lemah, di sinilah Allah ingin memperlihatkan bahwa kita butuh Allah dalam segala keadaan.

Ittaqullah, haqqatuqatihi (bertaqwalah pada Allah dengan sebenar-benar bertaqwa). Cara satu-satunya untuk mendapatkan pertolongan Allah adalah dengan bertaqwa pada-Nya. Taqwa menurut Imam Al Ghazali bermakna takut dan taat pada Allah serta membersihkan diri dari dosa-dosa. Ini kunci dan solusi permasalahan yang ditawarkan Allah pada kita. Mau mencari solusi lain yang justru menambah masalah?

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. (Q.S. al-Thalaq:2-3).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s