Month: June 2018

Sudut Pandang Nikmat dan Syukur

Apa yang diterima manusia adalah efek dari apa yang diperbuatnya. Kebaikan-kebaikan akan berbalas kebaikan dari Allah sedangkan kemungkaran akan berbalas dengan hal-hal yang juga buruk dan menyengsarakan sebagai akibat dari ulah yang diperbuatnya.

Kadangkala bahkan seringkali kebanyakan orang lebih menghargai balasan kebaikan dari hal yang kasat mata dan menguntungkan secara materi. Padahal, bisa jadi kebaikan yang diberi Allah adalah berupa nikmat semakin dekat dan taat kepada-Nya, dan keburukan dari Allah bisa datang dengan semakin dijauhkan diri kita dari Allah dan terlena dengan materi yang memperdaya akibat kemungkaran yang kita lakukan. Kesalahan besar dari cara pandang kita yang seringkali salah adalah hanya menganggap balasan kebaikan itu dari sisi materi dan kesenangan semata, padahal bisa saja kesenangan itu justru menjauhkan dari Allah.

Allah mengatakan setiap kebaikan yang dilakukan manusia adalah untuk dirinya, demikian juga setiap keburukan akan kembali ke manusia itu lagi.

Ada ayat dalam Al Quran yang membuat saya merasa malu di hadapan Allah. Bentuk sindiran yang sangat menohok bagi manusia. Kita sering lupa ini, mungkin karena kebanyakan manusia memang suka lupa bersyukur. Sudah diberi nikmat oleh Allah malah dibalas dengan lalai dan ingkar terhadap Allah, apalagi dengan seenaknya berbuat mungkar dan maksiat. Terkadang manusia benar-benar emang tak tahu diri.

“Dan apabila Kami berikan nikmat kepada manusia, dia berpaling dan menjauhkan diri (dengan sombong); tetapi apabila ditimpa malapetaka maka dia banyak berdoa.” (QS. Fussilat 41: Ayat 51)

Seringkali kita ingat dan taat pada Allah di saat-saat sulit, sedangkan di saat-saat senang dan lapang kita berpaling dengan lalai terhadap Allah. Kelalaian itu banyak sekali, mulai dari lalai beribadah, merasa paling hebat dan menguasai segalanya, berbuat maksiat dengan gampangnya, hingga menutup mata dari semua aturan-aturan yang dilanggar, seolah Allah tidak melihat dan diri tidak akan dihisab. Ya Rabb, jauhkan kami dari semua keburukan perbuatan.

Allah itu Maha Pemurah, Maha Penyayang dan, dan Maha Pemberi kelapangan. Pernahkah mengalami saat-saat sulit dan merasa buntu dan tak ada jalan keluar? Namun setelah berserah diri dan berdoa pada Allah, jalan dan kelapangan dibukakan oleh Allah. Bukankah pertolongan Allah itu sangat dekat? Kita yang sering pesimis, berputus asa dari kuasa Allah, merasa dunia akan berakhir, padahal ada Allah tempat bersandar dan bergantung. Berputus asa berarti meniadakan dan mengerdilkan kuasa Allah.

Setelah diberikan kemudahan dari Allah seringkali manusia lupa diri. Lupa bersyukur dan merasa dirinyalah yang telah mengusahakan apa yang dia dapat, peran serta Allah dilupakan hingga dia menjadi lalai dan tidak taat pada Allah. Setiap kemungkaran dan kemaksiatan itu akan membawa keburukan bagi hidup. Hidup menjadi tidak berkah, tidak tenang, banyak masalah, banyak yang dikhawatirkan, dan merasa beban hidup begitu besar. Kenapa? Karena Allah tidak ridha. Karena lupa untuk taat dan bersyukur pada pada Allah.

Apapun yang kita lakukan Allah harus selalu dilibatkan, karena Allah Maha Berkuasa dan Dia-lah tempat kita bergantung. Agar diri menjadi tenang dan ikhlas. Jadi ketentuan apapun yang diberi Allah setelah ikhtiar, itulah yang terbaik. Kemampuan untuk menerima ketetapan Allah itulah namanya tawakkal. Jika masih saja ngotot dan keras kepala tak mau menerima qadha Allah, maka bisa jadi kita belum bertawakkal atau berserah diri dengan ikhlas pada Allah.

Setiap memohon sesuatu pada Allah, kita juga harus senantiasa memohon keridhaan-Nya. Bisa saja Allah tak ridha dan apa yang kita minta tak dikabulkan dan diberikan jalan. Untuk itu kita harus yakin bahwa Allah lebih tahu yang terbaik untuk kita.

Berikhtiar, bertawakkal, dan ikhlas. Itulah kunci bersyukur pada Allah. Atas ketetapan terbaik dari Allah, Allah menyuruh kita untuk menyebut-nyebut nikmat itu dengan banyak bersyukur pada-Nya. Bersyukur tidak hanya dilakukan pada setiap keinginan kita yang dikabulkan Allah, tapi setiap jawaban-jawaban dan jalan-jalan yang tidak kita bayangkan dan kehendaki sebelumnya. Sulit memang, tapi itulah ikhlas. Allah tahu yang terbaik untuk kebaikan diri kita. Allah mengetahui apapun tentang diri kita yang tidak kita ketahui. Masya Allah, betapa Maha Besar Allah.

Allah SWT berfirman:

فَاذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَاشْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 15)

Advertisements

Rahasia Pintu Surga

Ada 8 pintu surga, salah satunya diperuntukkan bagi orang yang mampu menahan marah dan mau memaafkan. Orang yang masuk pintu surga ini memang spesial, maka pantas Allah memberikan tempat mulia untuk mereka. Bagaimana dengan saya? Apakah saya akan dipanggil dari pintu tersebut dan melangkah ke dalamnya? Sungguh ini perkara sulit. Saya baru menyadarinya sekarang. Iya, kau akan tahu bagaimana sulitnya suatu hal hingga kau diuji dengan hal tersebut. Saya bukan orang yang gampang marah dengan melepaskan emosi berapi-api. Saya terbiasa diam atau paling tidak jika sudah cukup kesal akan bersuara ya mungkin semacam debat. Tapi, tetap saja ini adalah refleksi marah sebenarnya walaupun bukan dengan kata-kata keras dan kasar.

Kontrol emosi memang sangat penting apa pun keadaannya. Siapa sih yang tidak pernah kesal? Saya mungkin tak sering diberi ujian yang memancing kemarahan ini. Tapi saat menghadapinya, saya jadi berpikir memang sulit ternyata ujian emosi ini. Bisa jadi kau tak marah dan melupakan, tapi hatimu tidak mau memaafkan. Forgotten but not forgiven. Atau bisa jadi memaafkan tapi tak melupakan, forgiven but not forgotten, artinya masih ada yang belum selesai di dalam hatimu. Baru terasa kenapa ujian ini berbuah surga.

Semakin kita dewasa dan bertambahnya umur, maka akan semakin banyak masalah yang akan kita hadapi. Ini karena kita telah menjadi individu mandiri yang eksistensinya sudah diakui masyarakat dan lingkungan kita. Kita sudah dipandang sebagai manusia seutuhnya karena tidak lagi diberi label anak kecil, anak muda atau masih bau kencur. Tanggung jawab ada pada pundak kita pribadi. Dan ini akan semakin kompleks jika seseorang menikah. Membawa nama dua orang sekaligus untuk citra diri di masyarakat. Di sini saya belajar untuk selalu mindful. Sadar dan peka dengan keberadaan diri dan lingkungan.

Jika kita berbuat sesuka hati, maka akan seperti apa kita membangun konsep diri di hadapan diri sendiri dan orang lain? Identitas apa yang kita ingin orang lain memandangnya? Kita yang menentukan identitas dan citra diri di hadapan orang lain. Maka, menjadi diri sendiri adalah sangat penting. Menjadi pribadi yang kita sendiri menghargainya dan kita pun mencintainya, begitu pun orang lain memandangnya.

Apakah kau pernah membenci diri sendiri? Itu tandanya ada konsep diri yang tak kau sukai dalam dirimu. Saya sesekali membenci diri saya dalam keadaan tertentu. Kondisi itu sesuatu yang tidak ideal yang saya dapati dalam diri saya. Masing-masing kita memiliki konsep diri ideal dan standarnya pasti berbeda, bergantung pada apa yang kita pandang baik dan buruk serta benar dan salah. Jika kita melanggarnya pasti akan timbul ketidaksukaan yang berujung pada rasa bersalah, penyesalan, atau benci pada diri sendiri. Apakah reaksi dalam diri kita ini baik? Saya pikir ini baik, sebagai bentuk kepekaan dari kita terhadap apa-apa yang kita yakini. Nah, yang tak peka mungkin bisa dipertanyakan seperti apa konsep dirinya.

Kembali lagi ke pintu surga tadi. Sungguh Allah Maha Tahu apa-apa yang sulit dan penuh rintangan sebagai ujian hambanya. Lagi-lagi hidup itu memang lahan ujian. Tak hidup namanya jika tak ada ujian. Ini cara Allah menilai kualitas diri kita. Dan bagi saya, ujian adalah bentuk refleksi diri. Saya menulis ini untuk pengingat diri lagi. Kesalahan bisa dilakukan oleh diri kita sendiri dan/atau orang lain. Hal yang utama adalah bagaimana menyikapinya. Kita tak selalu ditakdirkan bertemu orang-orang baik dalam kehidupan kita. Bahkan, bisa jadi kitalah sosok yang buruk dan menjadi ujian bagi orang lain atas kelalaian dan kesalahan diri kita.

Untuk itu, sangat penting selalu introspeksi diri, belajar dari setiap masalah, dan bersiap-siaga pada ujian-ujian berikutnya. Terkadang, pelajaran dan ujian itu diberikan berkali-kali hingga manusia sampai pada tingkat kesadaran sempurna. Bahkan ada pula yang tak sadar-sadar dan tak belajar hingga berkubang dalam permasalahan yang sama seumur hidup. Nauzubillahi minzalik. Irhamna ya Allah. Nastaghfirullahal ‘azhim.

Toxic People, Good Friends, and Drama

Lagi-lagi saya dapat pengalaman gak penting. Tapi gimana memang ini kenyataan. Kok rasanya pengen escape atau cepat-cepat kuliah lagi. Tampaknya jalan hidup kita memang gak selalu manis. Ada aja orang yang iri atau merasa repot dengan eksistensi kita. Inilah karakter toxic people. Dan sekarang saya pun jadi paham bahwa tidak semua orang bisa kita percayai. Seringnya orang-orang yang bermanis muka malah menusuk sangat dalam sekali dengan tiba-tiba. Kadang saya tercengang. Sepertinya ini untuk kedua kalinya saya mengalami ketercengangan yang hampir sama.

Ini mungkin bentuk introspeksi diri juga untuk saya. Tak selalu orang-orang berpikir seperti kita berpikir. Parahnya lagi mungkin ada kalanya kita pernah mengabaikan sesuatu yang ternyata menjadi masalah bagi orang lain. Ah, kok ya rumit begini ya. Benar sekali jika masalah komunikasi adalah pangkal permasalahan yang bisa makin runyam jika dibiarkan berlarut-larut dalam kesalahpahaman. Saya kalau sudah begini suka berpikir untuk menarik diri dari lingkungan sosial. Ah, pengecut sekali! Kadang saya lebih suka menghindari banyak pertikaian dibanding menantangnya. Saya bukan tipe orang yang suka konflik untuk penyelesaian masalah. I’m a pacifist. Tapi kenapa hari ini saya malah terseret ke sana?

Sungguh, hari ini entah apa yang terjadi. Terlalu banyak kekacauan yang tidak diinginkan terjadi. Bahkan, saya merasa sudah tidak nyaman dan berharap bisa segera menjauh. Ya, lebih baik saya kabur kuliah dan menghadapi masalah yang lebih elegan dari urusan keirian antarmanusia yang tak jelas juntrungan. Kalau sudah begini saya lebih suka jadi manusia antisosial. Karena bersosial justru membawa masalah. Hehe, mungkin sifat introvert saya memberi solusi begini. Nggak sih, solusi saya sebenarnya adalah menjauhi orang-orang yang suka bikin rusuh itu alias toxic people. Gak ada solusi lain bagi toxic people selain meninggalkan mereka dan biarkan mereka manggung sendiri di pentasnya.

Saya pernah ngobrol sama teman tentang tak ada gunanya mengurusi urusan orang lain yang di sana tak urusannya dengan urusan kita. Banyak sekali orang sibuk mengurusi orang lain karena iri atau dengki. Ada orang yang berpolemik karena merasa apa yang dilakukannya lebih berat dari orang lain sebelumnya, tapi yang dituntutnya bukan pembuat kebijakan tapi orang sebelumnya yang diberi tugas yang lebih ringan. Bukannya salah tempat? Entahlah. Bingung juga saya dengan hal ini.

Berurusan dengan manusia memang ribet. Apalagi jika manusianya selalu cari perkara dan tak mau memahami. Mungkin masalah saya adalah bertemu dengan orang-orang yang salah saja. Jika bertemu orang yang tepat tentu tak akan jadi masalah semuanya. 😊

Ini saya curhat karena udah saking speechlessnya. Bingung mengeluarkan suara atau uneg-uneg kayak apa. Di bulan puasa pula kejadiannya. Oh, ya Allah. Ujian apalah yang saya dapat hari ini. Semacam ujian keimanan yang bertubi-tubi datang untuk menguji seberapa tangguh saya bisa slow down menghadapi masalah macam ini. Tetap orang waras yang menang. Yang gila selalu kalah. Jadi, jangan gila dong! Tetaplah tenang dan berpikir lurus dan baik. Can I? Hiks, tetap saja saya butuh teman-teman terdekat saya untuk ngobrolin ini. Ya, besok kami sudah berjanji bertemu, tapi janji untuk buka bersama bukan membahas masalah ini. Tapi, tetap saja saya butuh cerita ini ke dia. Bukankah itu fungsi teman? Tempat di mana kau bisa melepaskan drama-drama hidupmu, dan mereka dengan sabarnya mendengar. Ya pokoknya mendengar dan tak menghakimimu, tidak merasa terganggu dengan keluh kesahmu. Itulah teman. Jika dia tak mampu menerima keluh kesah dan drama lebaymu, maka carilah teman lain karena dia tak punya empati pada perasaanmu hehe. Orang galau dan sedih itu yang penting cuma didengar. Urusan solusi mereka akan minta belakangan. Ah, betapa dramanya hidup perempuan ini. 😥