Toxic People, Good Friends, and Drama

Lagi-lagi saya dapat pengalaman gak penting. Tapi gimana memang ini kenyataan. Kok rasanya pengen escape atau cepat-cepat kuliah lagi. Tampaknya jalan hidup kita memang gak selalu manis. Ada aja orang yang iri atau merasa repot dengan eksistensi kita. Inilah karakter toxic people. Dan sekarang saya pun jadi paham bahwa tidak semua orang bisa kita percayai. Seringnya orang-orang yang bermanis muka malah menusuk sangat dalam sekali dengan tiba-tiba. Kadang saya tercengang. Sepertinya ini untuk kedua kalinya saya mengalami ketercengangan yang hampir sama.

Ini mungkin bentuk introspeksi diri juga untuk saya. Tak selalu orang-orang berpikir seperti kita berpikir. Parahnya lagi mungkin ada kalanya kita pernah mengabaikan sesuatu yang ternyata menjadi masalah bagi orang lain. Ah, kok ya rumit begini ya. Benar sekali jika masalah komunikasi adalah pangkal permasalahan yang bisa makin runyam jika dibiarkan berlarut-larut dalam kesalahpahaman. Saya kalau sudah begini suka berpikir untuk menarik diri dari lingkungan sosial. Ah, pengecut sekali! Kadang saya lebih suka menghindari banyak pertikaian dibanding menantangnya. Saya bukan tipe orang yang suka konflik untuk penyelesaian masalah. I’m a pacifist. Tapi kenapa hari ini saya malah terseret ke sana?

Sungguh, hari ini entah apa yang terjadi. Terlalu banyak kekacauan yang tidak diinginkan terjadi. Bahkan, saya merasa sudah tidak nyaman dan berharap bisa segera menjauh. Ya, lebih baik saya kabur kuliah dan menghadapi masalah yang lebih elegan dari urusan keirian antarmanusia yang tak jelas juntrungan. Kalau sudah begini saya lebih suka jadi manusia antisosial. Karena bersosial justru membawa masalah. Hehe, mungkin sifat introvert saya memberi solusi begini. Nggak sih, solusi saya sebenarnya adalah menjauhi orang-orang yang suka bikin rusuh itu alias toxic people. Gak ada solusi lain bagi toxic people selain meninggalkan mereka dan biarkan mereka manggung sendiri di pentasnya.

Saya pernah ngobrol sama teman tentang tak ada gunanya mengurusi urusan orang lain yang di sana tak urusannya dengan urusan kita. Banyak sekali orang sibuk mengurusi orang lain karena iri atau dengki. Ada orang yang berpolemik karena merasa apa yang dilakukannya lebih berat dari orang lain sebelumnya, tapi yang dituntutnya bukan pembuat kebijakan tapi orang sebelumnya yang diberi tugas yang lebih ringan. Bukannya salah tempat? Entahlah. Bingung juga saya dengan hal ini.

Berurusan dengan manusia memang ribet. Apalagi jika manusianya selalu cari perkara dan tak mau memahami. Mungkin masalah saya adalah bertemu dengan orang-orang yang salah saja. Jika bertemu orang yang tepat tentu tak akan jadi masalah semuanya. 😊

Ini saya curhat karena udah saking speechlessnya. Bingung mengeluarkan suara atau uneg-uneg kayak apa. Di bulan puasa pula kejadiannya. Oh, ya Allah. Ujian apalah yang saya dapat hari ini. Semacam ujian keimanan yang bertubi-tubi datang untuk menguji seberapa tangguh saya bisa slow down menghadapi masalah macam ini. Tetap orang waras yang menang. Yang gila selalu kalah. Jadi, jangan gila dong! Tetaplah tenang dan berpikir lurus dan baik. Can I? Hiks, tetap saja saya butuh teman-teman terdekat saya untuk ngobrolin ini. Ya, besok kami sudah berjanji bertemu, tapi janji untuk buka bersama bukan membahas masalah ini. Tapi, tetap saja saya butuh cerita ini ke dia. Bukankah itu fungsi teman? Tempat di mana kau bisa melepaskan drama-drama hidupmu, dan mereka dengan sabarnya mendengar. Ya pokoknya mendengar dan tak menghakimimu, tidak merasa terganggu dengan keluh kesahmu. Itulah teman. Jika dia tak mampu menerima keluh kesah dan drama lebaymu, maka carilah teman lain karena dia tak punya empati pada perasaanmu hehe. Orang galau dan sedih itu yang penting cuma didengar. Urusan solusi mereka akan minta belakangan. Ah, betapa dramanya hidup perempuan ini. πŸ˜₯

Advertisements