Month: August 2018

Fa aina tadzhabun?

Where will you go? Being an adult is something, but it has many things that make you worried. I’m amid of intersection.

I try to pamper myself that everything is just fine and will be alright. I keep thinking positively and enjoy my life. But, still I can’t bear it. I am scared to face life. I’m thinking about my future life, about my after life. If I keep being like this. What will I be? What will I gain? Will there any help when I go through that alone? Do I need companions for my life? Surely, I envy with people who have devoted children who can be treasure for their life. They will help their parents in after life. So, what do I have? I only have myself to stand for me. I know my deeds are not enogh. My only hope is Allah’ blessing for me. Yes, in the end I only need Allah’s help.

This world is not always kind. I can draw my self from bad people, but how long I can do that? Fighting alone. Lately, it’s hard for me to deal with people. Different perspective has different argument and goal. I can tolerate people for some reasons but I can be intolerant for other reasons. Not all people can handle you. Why should they handle you? We just need to respect each other. This is our attitude problem in social life. We cannot place things right. Losing consideration for dignity and respect.

When I meet people, the one thing I especially want to know about them is: are they authoritarian or egalitarian? This is the important thing. I’m an egalitarian person. So, sometimes I can’t get along with authoritarian persons. I can’t be handled as they want. I have my own perspective and try to respect others for what they have. It also goes for friendship and relationship. I will be with someone who has respect for others. That’s why make friends and relations are a little bit hard. I think becoming just an acquaintance is enough for me. Social life is inevitable. You can’t hide and run from that. I just want to say that finding the people who are typically you is not easy. Taking a distance is good but escaping from reality is impossible. Is this what millenials face now? I just realize that I’m a millenial who is surrounded by baby boomers and gen X people. Ah, why my problem getting worse than I thought before? Not all millenials are open minded, sometimes they imitate their older companions and becoming the same. I scrutinize my social life too close. Perhaps, I need to take a vacation and leave them a moment.

Advertisements

Wrong Story? Make A Plot Twist!

Ah, ternyata sudah menjelang akhir Agustus saja. Suatu hal penting yang harus disadari bahwa kesempatan saja tidak cukup karena takdir itu ikut menentukan. Rencana-rencanamu menguap setelah takdir menggagalkannya. Mungkin maksudnya: ini bukan waktunya atau jangan lakukan itu atau ada hal lain yang lebih menarik atau kau harus melalui ini dulu dan mungkin ada atau-atau lain yang tak kuketahui. Bahkan takdir pun menyimpan pertanyaan yang belum sempat dijawab. Mungkin nanti.

Lalu apa? Berencanalah. Bangun mimpi-mimpi yang ada di kepalamu. Kemudian lihat ke mana takdir membawamu. Karena hidup seperti sekotak coklat, kau tak tahu apa yang akan kau dapat. Begitu kata Forrest Gump. Jadi lakukan saja, percaya saja bahwa akan ada perubahan cerita dari kisah hidup yang mungkin kau anggap kurang menyenangkan saat ini.

If you found yourself in a wrong story, then make a plot twist. Membuat plot twist atau keluar dari cerita yang tak kau inginkan itu butuh waktu. Jangan kira seperti plot twist di kehidupan fiksi yang bisa seenaknya berubah kisah. Tapi, itu mungkin saja terjadi. Apa yang tak mungkin bagi Allah? Manusia punya kehendak begitu juga Allah. Jika kehendakmu dikabulkan Allah, maka pengalaman baru akan menantimu. Lihatlah, berapa banyak orang memulai pengalaman baru dengan mengubah pemikirannya dan kemudian membuat keputusan. Akan tetapi apa yang kau inginkan dan diberi jalan oleh Allah belum tentu semua baik, maka dari itu perhatikanlah apakah langkah yang kau ambil diridhai Allah atau tidak agar tak salah tempat lagi nanti. Mungkin selama ini aku terlalu takut dan berhati-hati mengambil langkah-langkah baru. Bahkan sudah dalam kondisi yang tidak kuinginkan masih berusaha untuk bertahan berharap ada perbaikan, padahal justru semakin menumpulkan dan memperburuk keadaan. Rabb, tolong kuatkan aku untuk melangkah dan memiliki cita-cita yang lebih tinggi.

Ok, baiklah. Inti dari membuat rencana dan keputusan adalah: pertama, lihat lagi apakah yang kau lakukan diridhai Allah. Kedua, kau harus yakinkan dulu dirimu, jangan sampai membuat keputusan yang tak kau yakini. Ternyata bagian kedua selalu hal yang paling berat bagiku (ini tak melulu masalah pernikahan). Artinya, harus belajar nekat yang rasional dan waras. Ok, ganbatte kudasai! Make a move! 😊

Bersiaga untuk Akhirat

Saya sangat terpesona dengan orang-orang yang mampu memetakan arah hidupnya dengan persiapan segala rupa untuk kehidupan akhirat mereka dan tetap menyeimbangkan dengan kehidupan dunia. Karena ada juga orang-orang yang berorientasi akhirat tapi justru lupa memperbaiki urusan-urusan dunia demi akhiratnya. Ya, ada memang orang-orang yang menganggap urusan kehidupan dunia tak ada sangkut pautnya dengan akhirat karena adanya kesalahpahaman dalam memahami bekal akhirat.

Saya awalnya kurang paham apa maksudnya sibuk urusan akhirat hingga lupa dengan urusan dunia yang mengantarkan pada kebaikan akhirat. Saya mulai memahaminya setelah melihat fakta dan berdiskusi dengan orang-orang di sekililing saya, terutama orangtua saya yang sering memberikan contoh-contoh baik kepada saya.

Kehidupan kita ini tak hanya hubungan antara diri kita dengan sang Khaliq, tapi juga hubungan kita dengan manusia dan makhluk hidup lainnya. Ibadah seperti shalat, shaum, serta haji adalah ibadah yang langsung berhubungan secara vertikal dengan Allah. Akan tetapi ada ibadah dengan model horizontal tapi tetap akan berakhir pada pahala dari Allah, contohnya zakat, infak, wakaf, sedekah, hadiah, qurban, membangun akhlak dan adab yang baik, tolong-menolong, berlaku adil, amanah. Bahkan, kepedulian kita pada lingkungan hidup untuk kelestarian alam juga adalah ladang pahala.

Mengejar akhirat bukan hanya sibuk memperbaiki shalat, puasa, haji, tapi juga juga memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia. Bahkan, infak dan sedekah tidak sekadar fokus pada infak pada masjid, anak yatim, dan kaum dhuafa, tetapi juga bagaimana kita mudah dalam berbagi dengan keluarga dekat, tetangga, istri, suami dan anak. Orangtua saya pernah bercerita tentang orang-orang yang sibuk dengan infak dan wakaf ke masjid, tapi justru mereka membiarkan anak-anak dan keluarga dekatnya terlantar. Justru ini malah mendatangkan kemurkaan Allah karena mengabaikan sesuatu yang seharusnya menjadi tanggungannya.

Sesungguhnya peluang untuk memanen pahala itu sangat luas, kita yang sering mempersempitnya. Sekadar berbagi hadiah kepada keluarga, tetangga, atau teman itu termasuk pahala. Berbagi senyuman saja sudah pahala.

Memahami arti berbagi itu memang sampai sedetail itu. Namun, semuanya harus diniatkan karena Allah. Banyak orang sibuk membangun kebahagiaan keluarga dengan harta tapi malah menggelincirkannya menjadi pemuja dunia. Ini menjadikannya sibuk mengejar harta dunia dan lupa mengingat Allah. Sungguh rizki itu datangnya dari Allah. Maka hak-Nya untuk menambah dan mengambilnya. Betapa sangat berkahnya harta itu saat dikeluarkan untuk mendapat ridha Allah. Saya teringat bagaimana para sahabat Rasulullah yang dengan mudahnya membagikan hartanya tanpa takut kehilangan dan kekurangan karena mereka tahu semua itu akan kembali kepada mereka di akhirat kelak. Terlebih lagi, orang-orang yang gemar berinfak akan Allah tambah hartanya lebih dari yang dia berikan. Artinya, bertambah dan berkurangnya harta itu kehendak Allah. Apa yang harus dirisaukan? Jika hari ini kita kekurangan, besok Allah akan cukupkan. Maka kenapa harus tamak menimbun harta hingga tak mendatangkan manfaat? Kecuali untuk ditabung untuk keperluan-keperluan bermanfaat.

Banyak kisah orang-orang yang Allah mudahkan urusan mereka tanpa mereka harus susah payah menguras semua tenaga, waktu, dan pikirannya untuk mendapatkan harta. Ada orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allah untuk pergi berhaji padahal tabungan pun dia tak punya. Begitu juga saat ingin berqurban, Allah lapangkan rizkinya. Semua terjadi tiba-tiba tanpa disangka-sangka karena niatnya ikhlas untuk Allah.

Dari sini saya semakin merasa lebih tenang. Allah Maha Mencukupi rizki hamba-hamba-Nya. Kita cukup berikhtiar mencari nafkah dan meniatkan harta yang diberi Allah itu dikeluarkan untuk sesuatu yang mendatangkan manfaat akhirat atau manfaat dunia dan akhirat. Allah itu kekayaan-Nya seluas bumi dan langit. Sangat mudah bagi-Nya memberi. Lantas, kenapa sulit sekali bagi kita berbagi. Bukankah semua itu datang dari-Nya? Hal inilah yang membuat saya selalu optimis untuk meminta kemudahan rizki dari Allah. Semua datang dan pergi termasuk rizki. Maka berlapang-lapang sajalah dalam hidup, insya Allah akan dicukupkan Allah.

Sibuk dengan urusan harta namun tidak disibukkan untuk tujuan akhirat imbasnya adalah menjadi rakus kepada harta dan depresi saat ditangguhkan pemberiannya oleh Allah. Beginilah dunia itu memperdaya. Harta menjadi sesuatu yang membuat manusia kehilangan kewarasan. Inilah ujian harta bagi manusia. Maka, wajarlah dalam mencari harta dan wajar pula dalam mengeluarkannya. Karena sesungguhnya akhirat itulah yang semakin dekat, dunia ini perlahan sedang kita tinggalkan.

Tulisan ini terinspirasi dari semangat orang-orang dalam berqurban. Niat mereka untuk berbagi di dunia dan mencapai kebahagiaan akhirat. Mereka sedang membangun kehidupannya yang baik di akhirat. Mereka orang-orang yang berpikir visioner jauh ke depan. Masya Allah. Ustadz Abdul Somad mengingatkan bahwa qurban adalah bentuk syukur atas rizki dan karunia yang diberikan oleh Allah kepada kita. Ya benar sekali. Allah tak meminta semua harta yang diberikannya pada kita tapi hanya menyisihkan sebagian bahkan bisa jadi kurang dari itu untuk berbagi kepada orang lain.

Tentang Pernikahan

Saat ini tiba-tiba saya jadi mempertanyakan kembali sesuatu yang saya masih berusaha untuk memahaminya, yaitu tentang pernikahan. Sebenarnya bagaimana orang-orang memandang pernikahan itu? Suatu ritual kehidupankah? Pernikahan itu apa maknanya? Pernikahan itu apa hanya untuk membebaskan dirimu dari tekanan dan tuntutan masyarakat agar tak lagi menjadi lajang? Apa orang yang menikah mengerti kenapa mereka menikah dan tujuan mereka menikah?

Setelah saya amati, kebanyakan orang menikah hanya menjalankan kebiasaan yang sudah-sudah. Semacam mengikuti tahapan kehidupan mulai dari lahir, sekolah, bekerja, menikah, punya anak, dan mati. Ya sekadar menjalankan ritual hidup. Mungkin benar kata teman saya. Saya belum punya cukup alasan untuk segera menikah. Jika hanya alasan kebutuhan seksual, semua orang juga butuh itu. Tapi apa hanya itu alasannya? Jika menikah hanya untuk seks, setelah kau bosan maka kau akan mencari pemuasan dari yang lain. Jika menikah artinya sekadar berbagi rumah bersama. Maka apakah akan ada gairah dan kegembiraan?

Jika menikah hanya untuk memiliki keturunan, kehadiran pasangan tidak akan berarti bagimu saat sudah ada anak yang kau harapkan. Atau jika kau tak mendapatkan anak, kau akan meninggalkan pasanganmu dan mencari lagi yang lain.

Jika menikah hanya untuk perubahan status. Maka, kau akan tetap kesepian dan tak bahagia karena tujuanmu bukan ketenangan dan kebahagiaan. Jika menikah karena ingin mendapatkan pasangan yang cantik atau ganteng, bukankah pada akhirnya itu akan pupus juga? Jika menikah karena ingin mendapatkan pasangan yang memiliki perkerjaan mapan, maka saat dia kekurangan kau akan mempertanyakan lagi arti dirinya bagimu.

Pernikahan itu sebenarnya direncanakan atau dipasrahkan? Teman saya mengatakan saya harus pasrahkan diri untuk menikah. Jika saat ini saya harus pasrah untuk menikah lalu apa artinya pernikahan itu? Itu sama dengan melakukan sesuatu hal yang tidak dipahami. Atau sesuatu yang tidak direncanakan tujuannya. Mungkin saya yang memang belum paham arti pasrah ini.

Ada teman saya yang bilang, jangan pilih-pilih lah. Terima saja yang di depan mata. Hah? Serius? Kamu itu akan menyerahkan dirimu pada seorang laki-laki tapi tidak memastikan orangnya bagaimana. Apa dia akan bertanggung jawab terhadap dirimu dalam memimpin, melindungi, menafkahi, mendidik, dan berbagi segala hal? Apa kau yakin dia adalah seseorang yang akan mau memahami dirimu, cara berpikirmu, harapan-harapanmu? Apa dia seseorang yang bisa membangun hubungan mutual respect yang saling menghargai dan menghormati? Nanti bagaimana jika dia memperlakukanmu semena-mena seolah kau tak punya harga diri? Apa dia seseorang yang bisa kau jadikan teman seperjuanganmu dalam kehidupan dunia dan akhirat?

Kadang saya bingung dengan orang yang menikah. Teman saya sudah menikah tapi dia masih mencari teman untuk berbagi, masih merasa kesepian. Di mana kesalahan itu terjadi? Sepertinya saya mulai merasa galau dengan definisi pernikahan bagi kebanyakan orang. Banyak kasus orang menikah, kemudian bercerai, mencari perempuan/laki-laki lain, atau berpoligami. Saya tak paham lagi dengan makna saling menyayangi dan menghargai. Jika begitu, pernikahan itu tak lebih dari surat kontrak saja.

Saya pernah dijodohkan atau dipertemukan dengan beberapa orang untuk tujuan menikah. Semua itu tak pernah berhasil. Kenapa? Karena saya merasa asing dan tak nyaman dengan orang-orang baru yang tak saya kenal. Menjadikan seseorang sebagai teman akrab saja butuh waktu untuk meyakinkan diri, apalagi orang baru yang akan dijadikan teman hidup. Dalam kesempatan lain, ada orang-orang yang sudah saya percaya ternyata mereka justru membuat kepercayaan saya menjadi hilang karena perilakunya. Ah, berurusan dengan manusia memang tak gampang, apalagi menjadikannya bagian dari hidupmu. Waah, pernikahan itu lama-lama menjadi suatu yang asing bagi saya. Mempercayakan dirimu kepada orang lain itu berat. Kau tak tahu akan diperlakukan dan diposisikan seperti apa oleh mereka pada akhirnya. Kata-kata saya ini menunjukkan saya masih sulit mempercayai seseorang.

Akan tetapi, kemudian saya tersadar. Allah itu mengikuti prasangka hamba-Nya. Saya harus mulai membangun pikiran positif dalam diri saya terkait pernikahan. Saya ingin menikah dengan tujuan utama untuk menyempurnakan agama dan ketaatan saya pada Allah. Saya ingin menikah agar keimanan saya menjadi lebih baik, ibadah saya kepada Allah menjadi dimudahkan dan diridhai, urusan kehidupan saya akan dipermudah Allah karena adanya sosok pengganti mahram saya sebagai penjaga saya. Saya ingin seorang sahabat seperjuangan dalam kehidupan dunia menuju akhirat. Ini niat saya dalam menikah. Jika tak menemukan ini maka tak perlu memaksakan diri untuk menikah. Ada Allah yang Maha Menjaga.

Meluruskan kembali sesuatu yang sudah tercemari oleh realitas-realitas buruk tentang pernikahan yang saya lihat dari orang lain memang sulit. Saya takut jika pemikiran saya yang begitu sinis dengan fakta pernikahan orang lain akan membuat saya menjadi orang yang kehilangan objektivitas dalam memandang sesuatu yang sifatnya kasuistik. Cukuplah berbaik sangka pada Allah akan hal-hal baik yang sudah dijadikan-Nya syariat.