Author: Rusyda Fauzana

A believer

Bersiaga untuk Akhirat

Saya sangat terpesona dengan orang-orang yang mampu memetakan arah hidupnya dengan persiapan segala rupa untuk kehidupan akhirat mereka dan tetap menyeimbangkan dengan kehidupan dunia. Karena ada juga orang-orang yang berorientasi akhirat tapi justru lupa memperbaiki urusan-urusan dunia demi akhiratnya. Ya, ada memang orang-orang yang menganggap urusan kehidupan dunia tak ada sangkut pautnya dengan akhirat karena adanya kesalahpahaman dalam memahami bekal akhirat.

Saya awalnya kurang paham apa maksudnya sibuk urusan akhirat hingga lupa dengan urusan dunia yang mengantarkan pada kebaikan akhirat. Saya mulai memahaminya setelah melihat fakta dan berdiskusi dengan orang-orang di sekililing saya, terutama orangtua saya yang sering memberikan contoh-contoh baik kepada saya.

Kehidupan kita ini tak hanya hubungan antara diri kita dengan sang Khaliq, tapi juga hubungan kita dengan manusia dan makhluk hidup lainnya. Ibadah seperti shalat, shaum, serta haji adalah ibadah yang langsung berhubungan secara vertikal dengan Allah. Akan tetapi ada ibadah dengan model horizontal tapi tetap akan berakhir pada pahala dari Allah, contohnya zakat, infak, wakaf, sedekah, hadiah, qurban, membangun akhlak dan adab yang baik, tolong-menolong, berlaku adil, amanah. Bahkan, kepedulian kita pada lingkungan hidup untuk kelestarian alam juga adalah ladang pahala.

Mengejar akhirat bukan hanya sibuk memperbaiki shalat, puasa, haji, tapi juga juga memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia. Bahkan, infak dan sedekah tidak sekadar fokus pada infak pada masjid, anak yatim, dan kaum dhuafa, tetapi juga bagaimana kita mudah dalam berbagi dengan keluarga dekat, tetangga, istri, suami dan anak. Orangtua saya pernah bercerita tentang orang-orang yang sibuk dengan infak dan wakaf ke masjid, tapi justru mereka membiarkan anak-anak dan keluarga dekatnya terlantar. Justru ini malah mendatangkan kemurkaan Allah karena mengabaikan sesuatu yang seharusnya menjadi tanggungannya.

Sesungguhnya peluang untuk memanen pahala itu sangat luas, kita yang sering mempersempitnya. Sekadar berbagi hadiah kepada keluarga, tetangga, atau teman itu termasuk pahala. Berbagi senyuman saja sudah pahala.

Memahami arti berbagi itu memang sampai sedetail itu. Namun, semuanya harus diniatkan karena Allah. Banyak orang sibuk membangun kebahagiaan keluarga dengan harta tapi malah menggelincirkannya menjadi pemuja dunia. Ini menjadikannya sibuk mengejar harta dunia dan lupa mengingat Allah. Sungguh rizki itu datangnya dari Allah. Maka hak-Nya untuk menambah dan mengambilnya. Betapa sangat berkahnya harta itu saat dikeluarkan untuk mendapat ridha Allah. Saya teringat bagaimana para sahabat Rasulullah yang dengan mudahnya membagikan hartanya tanpa takut kehilangan dan kekurangan karena mereka tahu semua itu akan kembali kepada mereka di akhirat kelak. Terlebih lagi, orang-orang yang gemar berinfak akan Allah tambah hartanya lebih dari yang dia berikan. Artinya, bertambah dan berkurangnya harta itu kehendak Allah. Apa yang harus dirisaukan? Jika hari ini kita kekurangan, besok Allah akan cukupkan. Maka kenapa harus tamak menimbun harta hingga tak mendatangkan manfaat? Kecuali untuk ditabung untuk keperluan-keperluan bermanfaat.

Banyak kisah orang-orang yang Allah mudahkan urusan mereka tanpa mereka harus susah payah menguras semua tenaga, waktu, dan pikirannya untuk mendapatkan harta. Ada orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allah untuk pergi berhaji padahal tabungan pun dia tak punya. Begitu juga saat ingin berqurban, Allah lapangkan rizkinya. Semua terjadi tiba-tiba tanpa disangka-sangka karena niatnya ikhlas untuk Allah.

Dari sini saya semakin merasa lebih tenang. Allah Maha Mencukupi rizki hamba-hamba-Nya. Kita cukup berikhtiar mencari nafkah dan meniatkan harta yang diberi Allah itu dikeluarkan untuk sesuatu yang mendatangkan manfaat akhirat atau manfaat dunia dan akhirat. Allah itu kekayaan-Nya seluas bumi dan langit. Sangat mudah bagi-Nya memberi. Lantas, kenapa sulit sekali bagi kita berbagi. Bukankah semua itu datang dari-Nya? Hal inilah yang membuat saya selalu optimis untuk meminta kemudahan rizki dari Allah. Semua datang dan pergi termasuk rizki. Maka berlapang-lapang sajalah dalam hidup, insya Allah akan dicukupkan Allah.

Sibuk dengan urusan harta namun tidak disibukkan untuk tujuan akhirat imbasnya adalah menjadi rakus kepada harta dan depresi saat ditangguhkan pemberiannya oleh Allah. Beginilah dunia itu memperdaya. Harta menjadi sesuatu yang membuat manusia kehilangan kewarasan. Inilah ujian harta bagi manusia. Maka, wajarlah dalam mencari harta dan wajar pula dalam mengeluarkannya. Karena sesungguhnya akhirat itulah yang semakin dekat, dunia ini perlahan sedang kita tinggalkan.

Tulisan ini terinspirasi dari semangat orang-orang dalam berqurban. Niat mereka untuk berbagi di dunia dan mencapai kebahagiaan akhirat. Mereka sedang membangun kehidupannya yang baik di akhirat. Mereka orang-orang yang berpikir visioner jauh ke depan. Masya Allah. Ustadz Abdul Somad mengingatkan bahwa qurban adalah bentuk syukur atas rizki dan karunia yang diberikan oleh Allah kepada kita. Ya benar sekali. Allah tak meminta semua harta yang diberikannya pada kita tapi hanya menyisihkan sebagian bahkan bisa jadi kurang dari itu untuk berbagi kepada orang lain.

Advertisements

Tentang Pernikahan

Saat ini tiba-tiba saya jadi mempertanyakan kembali sesuatu yang saya masih berusaha untuk memahaminya, yaitu tentang pernikahan. Sebenarnya bagaimana orang-orang memandang pernikahan itu? Suatu ritual kehidupankah? Pernikahan itu apa maknanya? Pernikahan itu apa hanya untuk membebaskan dirimu dari tekanan dan tuntutan masyarakat agar tak lagi menjadi lajang? Apa orang yang menikah mengerti kenapa mereka menikah dan tujuan mereka menikah?

Setelah saya amati, kebanyakan orang menikah hanya menjalankan kebiasaan yang sudah-sudah. Semacam mengikuti tahapan kehidupan mulai dari lahir, sekolah, bekerja, menikah, punya anak, dan mati. Ya sekadar menjalankan ritual hidup. Mungkin benar kata teman saya. Saya belum punya cukup alasan untuk segera menikah. Jika hanya alasan kebutuhan seksual, semua orang juga butuh itu. Tapi apa hanya itu alasannya? Jika menikah hanya untuk seks, setelah kau bosan maka kau akan mencari pemuasan dari yang lain. Jika menikah artinya sekadar berbagi rumah bersama. Maka apakah akan ada gairah dan kegembiraan?

Jika menikah hanya untuk memiliki keturunan, kehadiran pasangan tidak akan berarti bagimu saat sudah ada anak yang kau harapkan. Atau jika kau tak mendapatkan anak, kau akan meninggalkan pasanganmu dan mencari lagi yang lain.

Jika menikah hanya untuk perubahan status. Maka, kau akan tetap kesepian dan tak bahagia karena tujuanmu bukan ketenangan dan kebahagiaan. Jika menikah karena ingin mendapatkan pasangan yang cantik atau ganteng, bukankah pada akhirnya itu akan pupus juga? Jika menikah karena ingin mendapatkan pasangan yang memiliki perkerjaan mapan, maka saat dia kekurangan kau akan mempertanyakan lagi arti dirinya bagimu.

Pernikahan itu sebenarnya direncanakan atau dipasrahkan? Teman saya mengatakan saya harus pasrahkan diri untuk menikah. Jika saat ini saya harus pasrah untuk menikah lalu apa artinya pernikahan itu? Itu sama dengan melakukan sesuatu hal yang tidak dipahami. Atau sesuatu yang tidak direncanakan tujuannya. Mungkin saya yang memang belum paham arti pasrah ini.

Ada teman saya yang bilang, jangan pilih-pilih lah. Terima saja yang di depan mata. Hah? Serius? Kamu itu akan menyerahkan dirimu pada seorang laki-laki tapi tidak memastikan orangnya bagaimana. Apa dia akan bertanggung jawab terhadap dirimu dalam memimpin, melindungi, menafkahi, mendidik, dan berbagi segala hal? Apa kau yakin dia adalah seseorang yang akan mau memahami dirimu, cara berpikirmu, harapan-harapanmu? Apa dia seseorang yang bisa membangun hubungan mutual respect yang saling menghargai dan menghormati? Nanti bagaimana jika dia memperlakukanmu semena-mena seolah kau tak punya harga diri? Apa dia seseorang yang bisa kau jadikan teman seperjuanganmu dalam kehidupan dunia dan akhirat?

Kadang saya bingung dengan orang yang menikah. Teman saya sudah menikah tapi dia masih mencari teman untuk berbagi, masih merasa kesepian. Di mana kesalahan itu terjadi? Sepertinya saya mulai merasa galau dengan definisi pernikahan bagi kebanyakan orang. Banyak kasus orang menikah, kemudian bercerai, mencari perempuan/laki-laki lain, atau berpoligami. Saya tak paham lagi dengan makna saling menyayangi dan menghargai. Jika begitu, pernikahan itu tak lebih dari surat kontrak saja.

Saya pernah dijodohkan atau dipertemukan dengan beberapa orang untuk tujuan menikah. Semua itu tak pernah berhasil. Kenapa? Karena saya merasa asing dan tak nyaman dengan orang-orang baru yang tak saya kenal. Menjadikan seseorang sebagai teman akrab saja butuh waktu untuk meyakinkan diri, apalagi orang baru yang akan dijadikan teman hidup. Dalam kesempatan lain, ada orang-orang yang sudah saya percaya ternyata mereka justru membuat kepercayaan saya menjadi hilang karena perilakunya. Ah, berurusan dengan manusia memang tak gampang, apalagi menjadikannya bagian dari hidupmu. Waah, pernikahan itu lama-lama menjadi suatu yang asing bagi saya. Mempercayakan dirimu kepada orang lain itu berat. Kau tak tahu akan diperlakukan dan diposisikan seperti apa oleh mereka pada akhirnya. Kata-kata saya ini menunjukkan saya masih sulit mempercayai seseorang.

Akan tetapi, kemudian saya tersadar. Allah itu mengikuti prasangka hamba-Nya. Saya harus mulai membangun pikiran positif dalam diri saya terkait pernikahan. Saya ingin menikah dengan tujuan utama untuk menyempurnakan agama dan ketaatan saya pada Allah. Saya ingin menikah agar keimanan saya menjadi lebih baik, ibadah saya kepada Allah menjadi dimudahkan dan diridhai, urusan kehidupan saya akan dipermudah Allah karena adanya sosok pengganti mahram saya sebagai penjaga saya. Saya ingin seorang sahabat seperjuangan dalam kehidupan dunia menuju akhirat. Ini niat saya dalam menikah. Jika tak menemukan ini maka tak perlu memaksakan diri untuk menikah. Ada Allah yang Maha Menjaga.

Meluruskan kembali sesuatu yang sudah tercemari oleh realitas-realitas buruk tentang pernikahan yang saya lihat dari orang lain memang sulit. Saya takut jika pemikiran saya yang begitu sinis dengan fakta pernikahan orang lain akan membuat saya menjadi orang yang kehilangan objektivitas dalam memandang sesuatu yang sifatnya kasuistik. Cukuplah berbaik sangka pada Allah akan hal-hal baik yang sudah dijadikan-Nya syariat.

Aku yang Sok Tahu dan Keras Kepala

Hidupmu sebuah teka-teki bukan? Tuhan berbuat sekehendak-Nya. Kau tak tahu apa maksud rencana-rencana yang dibuat untukmu. Kau tak tahu dari sekian banyak doa yang kau pinta, Allah memilih doa mana yang mau dikabulkan-Nya. Artinya Allah selalu mendengar permintaanmu, tapi Dia punya hak dan kuasa mana yang akan diberikan-Nya. Jadi, jangan berhenti berdoa. Bisa jadi di antara doa-doa itu akan ada yang dikabulkan dan menghangatkan hatimu. Dan kau tak tahu alasan di balik kehendak Tuhan. Kau hanya bisa menerima. Ah, kau itu tak ada apa-apanya. Maka terima saja apa yang diberikan-Nya. Rahasia kehidupan itu tak akan pernah kau tahu selamanya.

Tidak usah memaksakan diri. Jika Allah tak sudi kau mau apa? Menggugat-Nya? Kau pikir kau siapa? Kau terlalu banyak memilih. Kau sudah diberi tapi tak kau ambil. Kenapa begitu sombong?

Tuhanku, maafkan aku jika menolak sesuatu yang datang padaku dan aku belum ridha dengan hal itu. Maafkan aku yang tidak bisa memaksa diriku. Maafkan aku jika masih terus meminta kepada-Mu dan masih saja memilih. Maafkan aku yang tak selalu bisa menerima ini. Maafkan aku yang tak tahu apa-apa ini. Jika aku memaksakan diri, sama artinya aku menyakiti diriku. Tuhanku, bolehkan aku memilih? Memilih sesuatu yang tidak akan menjadi penyesalan bagiku. Jika pilihan itu salah, ingatkan aku untuk berhenti dan jauhkan aku dari hal itu.

Aku selalu meminta yang baik-baik kepada-Mu. Aku tak akan meminta keburukan pada-Mu karena aku takut Kau akan mengabulkan dan menjadikannya kutukan bagiku. Apa dari banyak permintaanku ada yang tidak sepadan dengan keadaan diriku? Apa aku terlalu muluk-muluk? Kira-kira untuk manusia semacam diriku apa yang pantas aku dapatkan? Ah, aku kadang memang tak mengukur diri. Gara-gara ini aku malu meminta lagi pada-Mu. Mungkin aku lupa berkaca.

Aku memang tak tahu berterima kasih, sering lupa bersyukur. Sering banyak alasan. Terlalu sering memainkan akalku. Hatiku pun kadang terlalu kuperturutkan. Maafkan aku yang hanya debu beterbangan ini ya Allah. Keagungan-Mu meliputi segala sesuatu. Manusia mulia seperti Rasulullah Muhammad dan sahabat-sahabatnya saja begitu takut dan merendah pada-Mu. Apalah aku yang tak ada arti ini? Aku memang harus diajari lagi tentang adab kepada-Mu, Rabbku. Aku ini terlalu banyak tingkah dan keras kepala. Maafkan aku. Padahal ruh kehidupanku ada di tangan-Mu. Jika kau cabut itu, selesailah diriku. Sekali lagi, tolong ajari aku untuk memiliki adab yang terbaik di hadapan-Mu. Jangan biarkan aku yang remah-remah ini bersikap congkak dan sok tahu. Tolong ajarkan aku ilmu adab itu, Rabbku.

Gambar Sempurna dan Sesuatu Apa Adanya

Libur kali ini saya banyak menonton film. Fiksi memang terkadang dibutuhkan untuk melihat gambaran kehidupan orang lain. Film-film yang diangkat dari kisah nyata dan otobiografi seringkali menyentuh sangat dalam. Dari situ saya mengambil pelajaran bagaimana orang-orang menjalani hidup secara lebih privat. Seringkali dalam kehidupan nyata, kita melihat sesuatu yang telah direkonstruksi orang-orang untuk diperlihatkan pada publik. Semua terkadang rekayasa, pencitraan tentang hidup. Semua orang ingin menampilkan hidupnya yang bahagia seperti yang biasa kita lihat di akun instagram. Sungguh, saya secara pribadi tak butuh tampilan sempurna itu.

Ah, saya katakan pada diri saya sendiri lebih baik kau membaca dan menonton film dibanding melihat drama manusia di akun media sosialnya yang menipu. Kau tak akan mampu secara dalam memahami apa yang diperjuangkan dan yang membuatnya terpuruk. Atau apa yang dia tutupi hingga harus berpura-pura dan memakai topeng dalam hidupnya.

Mau mencitrakan diri sebagai orang bahagia, populer, disanjung-sanjung dengan citra diri yang palsu. Sungguh, sekali lagi saya muak dan tak butuh itu. Lebih menarik membaca buah pikiran seseorang dan ide-idenya dalam memandang kehidupan. Pemikiran yang menginspirasi lebih berharga daripada foto-foto palsu yang bisa direkayasa sedemikian rupa. Kau tak perlu berfoto dan tampak bahagia dengan menunjukkannya pada orang lain. Bahkan lucunya, saya ikut-ikutan melakukan hal yang sama di akun instagram sendiri. Dokumentasi diri pribadi dan orang-orang terdekat yang sebenarnya tidak memberi manfaat untuk orang lain. Kau ingin orang lain melihatmu bahagia, berkecukupan, bisa jalan-jalan dan selalu tersenyum dalam tiap jepretan? Kenapa kau ingin orang lain untuk tahu? Apa itu akan memberi sesuatu bagi mereka? Justru yang muncul bisa jadi kesedihan bagi mereka karena tidak mendapatkan apa yang kau dapatkan. Yang kau tampilkan hanya yang baik-baik saja, seolah kau tak punya kekurangan. Mungkin sudah saatnya kau berhenti memberi potret diri yang dibingkai penuh senyum itu. Saat kau sedih dan gagal, kau tak pernah memotret dirimu untuk dibagikan. Karena kau takut itu akan menjadi cela bagimu. Sudahlah, jangan ikuti kepura-puraan manusia. Maka carilah cara lain untuk belajar melihat kehidupan. Dengarkan kisah-kisah orang berjuang dalam kehidupannya. Berceritalah tentang sesuatu yang bermanfaat, berbagi pemikiran, dan pengalaman. Itu lebih berharga untuk hidup orang lain. Dan bukankah itu juga yang kau butuhkan dalam hidupmu? Bagaimana hidup dengan baik dan benar.

Kau mengalami kan terkadang apa yang kau jalani membosankan. Tapi kau juga harus tahu banyak orang juga mengalami hal yang sama. Dan kau juga harus tahu jika ada orang-orang yang terus berusaha untuk mensyukuri setiap apa yang diberikan dan dijalaninya dengan menghargai waktu dan mengisinya dengan hal-hal berharga. Kisah-kisah mereka begitu membuka pikiran dan hati bukan? Itulah kenapa bernarasi begitu sangat menggugah. Selalu ada pesan moralnya. Dan pada akhirnya kau melihat bagaimana orang-orang bertahan hidup dalam kegundahan dan menyelesaikan persoalan hidupnya yang terpelik sekali pun. Mereka orang-orang yang menghargai hidup dan punya visi kehidupan. Berkontemplasilah sering-sering. Bermuhasabahlah. Karena itu baik bagimu dalam menghargai hidup dan orang lain.

Karena fiksi juga bercerita tentang orang-orang yang putus asa tanpa arah, maka lihatlah, seberapa menyedihkan dirimu saat kehilangan harapan? Apa kau mampu bangkit dan tetap tersenyum ataukah terpuruk lebih mengerikan? Semua hal memberi pelajaran. Banyak orang menceritakan kegalauannya dalam fiksi, mereka terus bercerita sampai bosan hingga menemukan jalan untuk menukar arah cerita kepada sesuatu yang baru di luar dugaan. Bukankah hidup juga begitu? Saat kau sudah bosan dengan ketidakjelasanmu, maka kau akan mencari jalan untuk melakukan hal yang baru dan bermakna. Manusia memang begitu. Selalu dinamis dan tak pernah puas. Itulah sebabnya mereka selalu membuat perubahan. Dengan begitulah mereka tetap terus hidup dan bertahan.

Kata-kata yang Melemahkan Iman

Ada sesuatu yang bisa merusak keimanan. Berawal dari membandingkan dan mendengarkan pernyataan-pernyataan yang membuat rendah diri atau tidak percaya diri.

Membandingkan kesalihan diri orang lain dengan diri kita. Melihat saat orang lain yang dipandang lebih shalih mendapatkan semua yang diinginkannya dalam doa-doanya. Kemudian melihat kepada diri sendiri. Diri ini masih berusaha untuk shalih, berupaya membangun keshalihan diri, ingin belajar lebih baik. Kemudian datang sebuah pernyataan yang mematahkan niat-niat baik yang sudah terpupuk. Membuat diri tak punya arti dan kehilangan harapan. Sesorang berkata, bagaimana doa-doamu akan terkabul, kamu saja shalatnya masih belum khusyuk, amalan kamu masih pas-pasan. Belum lagi dosa juga masih numpuk. Wajar aja keinginanmu susah terkabul. Deg! Kok ini bener-bener bikin down ya.

Saya yang memang masih banyak kurang amal ini merasa rendah diri dan berprasangka buruk seketika pada diri sendiri. Jadi doa-doaku dan upayaku untuk taat selama ini sia-sia? Apakah aku hanya melakukan hal sia-sia? Tak didengar dan dilihat Allah? Berarti tak ada bedanya aku melakukan amalan itu dengan tidak melakukannya jika Allah tetap tak peduli. Apa Allah benar-benar menutup pendengaran dan rahmat-Nya pada orang-orang yang belum sempurna amalannya?

Menjadi khusyuk, menjadi taat, menjadi percaya akan janji Allah itu butuh usaha. Kenapa usaha-usaha untuk menjadi baik itu dipatahkan oleh pernyataan yang mengerdilkan dan membuat diri menjadi semakin terpuruk?

Ya Allah, seburuk-buruknya hamba. Engkau masih melihat dan mendengarnya kan saat dia ingin menjadi orang yang shalih dan ingin percaya pada kebesaran dan pertolongan-Mu?

Saya juga masih dalam tahapan memperbaiki diri menjadi lebih baik. Mendengar ucapan-ucapan yang melemahkan itu pun ikut merasa terpuruk. Ya Allah, jika diijabahnya doa-doa dan ketaatan hanya milik orang-orang paling shalih dan paling baik, apa pantas kami terus berharap kepada-Mu? Sedangkan untuk taat ini butuh proses dan kesabaran yang hebat. Dalam proses ini apakah diri kami tak pantas mendapatkan kebaikan-kebaikan dari-Mu?

Seharusnya yang datang kepada kami adalah dorongan untuk terus berbenah diri, semangat untuk selalu taat dan yakin kepada Allah. Bukan kata-kata negatif yang melemahkan jika pintu-pintu kemudahan dan rahmat hanya Engkau beri pada orang yang paling taat.

Seketika hati ini merasa sedih tak terkira. Merasa diri tak berguna. Untuk mencapai sebuah maqam tertinggi sebagai orang shalih itu proses dan perjuangannya luar biasa. Jadi, kalau hanya masih remah-remah begini tak ada artinya, maka harapan siapa yang tidak akan pupus? Seolah kami ini tak didengar dan dilihat Allah. Keinginan untuk berdoa seolah terlemahkan untuk dilakukan karena mengangggap Engkau tak akan mendengar.

Ya Rabb, bagaimanapun keadaanku aku masih berdoa pada-Mu karena aku tak punya tempat berharap selain kepada-Mu. Tak punya tempat meminta dan bergantung selain pada-Mu.

Ya shamad, ya Rahman, ya Rahim. Seandainya Engkau tak mau mendengar biarlah harapan-harapan ini terus berkembang dan ketaatan ini terus meningkat menjadi lebih baik. Seandainya diri-Mu tak mendengar biarlah diri ini terus percaya bahwa pada akhirnya Engkau akan mendengar.

Cukup ayat ini yang terus kupercayai dan menyemangatiku ya Rabb.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Aku itu dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

Sudut Pandang Nikmat dan Syukur

Apa yang diterima manusia adalah efek dari apa yang diperbuatnya. Kebaikan-kebaikan akan berbalas kebaikan dari Allah sedangkan kemungkaran akan berbalas dengan hal-hal yang juga buruk dan menyengsarakan sebagai akibat dari ulah yang diperbuatnya.

Kadangkala bahkan seringkali kebanyakan orang lebih menghargai balasan kebaikan dari hal yang kasat mata dan menguntungkan secara materi. Padahal, bisa jadi kebaikan yang diberi Allah adalah berupa nikmat semakin dekat dan taat kepada-Nya, dan keburukan dari Allah bisa datang dengan semakin dijauhkan diri kita dari Allah dan terlena dengan materi yang memperdaya akibat kemungkaran yang kita lakukan. Kesalahan besar dari cara pandang kita yang seringkali salah adalah hanya menganggap balasan kebaikan itu dari sisi materi dan kesenangan semata, padahal bisa saja kesenangan itu justru menjauhkan dari Allah.

Allah mengatakan setiap kebaikan yang dilakukan manusia adalah untuk dirinya, demikian juga setiap keburukan akan kembali ke manusia itu lagi.

Ada ayat dalam Al Quran yang membuat saya merasa malu di hadapan Allah. Bentuk sindiran yang sangat menohok bagi manusia. Kita sering lupa ini, mungkin karena kebanyakan manusia memang suka lupa bersyukur. Sudah diberi nikmat oleh Allah malah dibalas dengan lalai dan ingkar terhadap Allah, apalagi dengan seenaknya berbuat mungkar dan maksiat. Terkadang manusia benar-benar emang tak tahu diri.

“Dan apabila Kami berikan nikmat kepada manusia, dia berpaling dan menjauhkan diri (dengan sombong); tetapi apabila ditimpa malapetaka maka dia banyak berdoa.” (QS. Fussilat 41: Ayat 51)

Seringkali kita ingat dan taat pada Allah di saat-saat sulit, sedangkan di saat-saat senang dan lapang kita berpaling dengan lalai terhadap Allah. Kelalaian itu banyak sekali, mulai dari lalai beribadah, merasa paling hebat dan menguasai segalanya, berbuat maksiat dengan gampangnya, hingga menutup mata dari semua aturan-aturan yang dilanggar, seolah Allah tidak melihat dan diri tidak akan dihisab. Ya Rabb, jauhkan kami dari semua keburukan perbuatan.

Allah itu Maha Pemurah, Maha Penyayang dan, dan Maha Pemberi kelapangan. Pernahkah mengalami saat-saat sulit dan merasa buntu dan tak ada jalan keluar? Namun setelah berserah diri dan berdoa pada Allah, jalan dan kelapangan dibukakan oleh Allah. Bukankah pertolongan Allah itu sangat dekat? Kita yang sering pesimis, berputus asa dari kuasa Allah, merasa dunia akan berakhir, padahal ada Allah tempat bersandar dan bergantung. Berputus asa berarti meniadakan dan mengerdilkan kuasa Allah.

Setelah diberikan kemudahan dari Allah seringkali manusia lupa diri. Lupa bersyukur dan merasa dirinyalah yang telah mengusahakan apa yang dia dapat, peran serta Allah dilupakan hingga dia menjadi lalai dan tidak taat pada Allah. Setiap kemungkaran dan kemaksiatan itu akan membawa keburukan bagi hidup. Hidup menjadi tidak berkah, tidak tenang, banyak masalah, banyak yang dikhawatirkan, dan merasa beban hidup begitu besar. Kenapa? Karena Allah tidak ridha. Karena lupa untuk taat dan bersyukur pada pada Allah.

Apapun yang kita lakukan Allah harus selalu dilibatkan, karena Allah Maha Berkuasa dan Dia-lah tempat kita bergantung. Agar diri menjadi tenang dan ikhlas. Jadi ketentuan apapun yang diberi Allah setelah ikhtiar, itulah yang terbaik. Kemampuan untuk menerima ketetapan Allah itulah namanya tawakkal. Jika masih saja ngotot dan keras kepala tak mau menerima qadha Allah, maka bisa jadi kita belum bertawakkal atau berserah diri dengan ikhlas pada Allah.

Setiap memohon sesuatu pada Allah, kita juga harus senantiasa memohon keridhaan-Nya. Bisa saja Allah tak ridha dan apa yang kita minta tak dikabulkan dan diberikan jalan. Untuk itu kita harus yakin bahwa Allah lebih tahu yang terbaik untuk kita.

Berikhtiar, bertawakkal, dan ikhlas. Itulah kunci bersyukur pada Allah. Atas ketetapan terbaik dari Allah, Allah menyuruh kita untuk menyebut-nyebut nikmat itu dengan banyak bersyukur pada-Nya. Bersyukur tidak hanya dilakukan pada setiap keinginan kita yang dikabulkan Allah, tapi setiap jawaban-jawaban dan jalan-jalan yang tidak kita bayangkan dan kehendaki sebelumnya. Sulit memang, tapi itulah ikhlas. Allah tahu yang terbaik untuk kebaikan diri kita. Allah mengetahui apapun tentang diri kita yang tidak kita ketahui. Masya Allah, betapa Maha Besar Allah.

Allah SWT berfirman:

فَاذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَاشْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 15)

Rahasia Pintu Surga

Ada 8 pintu surga, salah satunya diperuntukkan bagi orang yang mampu menahan marah dan mau memaafkan. Orang yang masuk pintu surga ini memang spesial, maka pantas Allah memberikan tempat mulia untuk mereka. Bagaimana dengan saya? Apakah saya akan dipanggil dari pintu tersebut dan melangkah ke dalamnya? Sungguh ini perkara sulit. Saya baru menyadarinya sekarang. Iya, kau akan tahu bagaimana sulitnya suatu hal hingga kau diuji dengan hal tersebut. Saya bukan orang yang gampang marah dengan melepaskan emosi berapi-api. Saya terbiasa diam atau paling tidak jika sudah cukup kesal akan bersuara ya mungkin semacam debat. Tapi, tetap saja ini adalah refleksi marah sebenarnya walaupun bukan dengan kata-kata keras dan kasar.

Kontrol emosi memang sangat penting apa pun keadaannya. Siapa sih yang tidak pernah kesal? Saya mungkin tak sering diberi ujian yang memancing kemarahan ini. Tapi saat menghadapinya, saya jadi berpikir memang sulit ternyata ujian emosi ini. Bisa jadi kau tak marah dan melupakan, tapi hatimu tidak mau memaafkan. Forgotten but not forgiven. Atau bisa jadi memaafkan tapi tak melupakan, forgiven but not forgotten, artinya masih ada yang belum selesai di dalam hatimu. Baru terasa kenapa ujian ini berbuah surga.

Semakin kita dewasa dan bertambahnya umur, maka akan semakin banyak masalah yang akan kita hadapi. Ini karena kita telah menjadi individu mandiri yang eksistensinya sudah diakui masyarakat dan lingkungan kita. Kita sudah dipandang sebagai manusia seutuhnya karena tidak lagi diberi label anak kecil, anak muda atau masih bau kencur. Tanggung jawab ada pada pundak kita pribadi. Dan ini akan semakin kompleks jika seseorang menikah. Membawa nama dua orang sekaligus untuk citra diri di masyarakat. Di sini saya belajar untuk selalu mindful. Sadar dan peka dengan keberadaan diri dan lingkungan.

Jika kita berbuat sesuka hati, maka akan seperti apa kita membangun konsep diri di hadapan diri sendiri dan orang lain? Identitas apa yang kita ingin orang lain memandangnya? Kita yang menentukan identitas dan citra diri di hadapan orang lain. Maka, menjadi diri sendiri adalah sangat penting. Menjadi pribadi yang kita sendiri menghargainya dan kita pun mencintainya, begitu pun orang lain memandangnya.

Apakah kau pernah membenci diri sendiri? Itu tandanya ada konsep diri yang tak kau sukai dalam dirimu. Saya sesekali membenci diri saya dalam keadaan tertentu. Kondisi itu sesuatu yang tidak ideal yang saya dapati dalam diri saya. Masing-masing kita memiliki konsep diri ideal dan standarnya pasti berbeda, bergantung pada apa yang kita pandang baik dan buruk serta benar dan salah. Jika kita melanggarnya pasti akan timbul ketidaksukaan yang berujung pada rasa bersalah, penyesalan, atau benci pada diri sendiri. Apakah reaksi dalam diri kita ini baik? Saya pikir ini baik, sebagai bentuk kepekaan dari kita terhadap apa-apa yang kita yakini. Nah, yang tak peka mungkin bisa dipertanyakan seperti apa konsep dirinya.

Kembali lagi ke pintu surga tadi. Sungguh Allah Maha Tahu apa-apa yang sulit dan penuh rintangan sebagai ujian hambanya. Lagi-lagi hidup itu memang lahan ujian. Tak hidup namanya jika tak ada ujian. Ini cara Allah menilai kualitas diri kita. Dan bagi saya, ujian adalah bentuk refleksi diri. Saya menulis ini untuk pengingat diri lagi. Kesalahan bisa dilakukan oleh diri kita sendiri dan/atau orang lain. Hal yang utama adalah bagaimana menyikapinya. Kita tak selalu ditakdirkan bertemu orang-orang baik dalam kehidupan kita. Bahkan, bisa jadi kitalah sosok yang buruk dan menjadi ujian bagi orang lain atas kelalaian dan kesalahan diri kita.

Untuk itu, sangat penting selalu introspeksi diri, belajar dari setiap masalah, dan bersiap-siaga pada ujian-ujian berikutnya. Terkadang, pelajaran dan ujian itu diberikan berkali-kali hingga manusia sampai pada tingkat kesadaran sempurna. Bahkan ada pula yang tak sadar-sadar dan tak belajar hingga berkubang dalam permasalahan yang sama seumur hidup. Nauzubillahi minzalik. Irhamna ya Allah. Nastaghfirullahal ‘azhim.

Toxic People, Good Friends, and Drama

Lagi-lagi saya dapat pengalaman gak penting. Tapi gimana memang ini kenyataan. Kok rasanya pengen escape atau cepat-cepat kuliah lagi. Tampaknya jalan hidup kita memang gak selalu manis. Ada aja orang yang iri atau merasa repot dengan eksistensi kita. Inilah karakter toxic people. Dan sekarang saya pun jadi paham bahwa tidak semua orang bisa kita percayai. Seringnya orang-orang yang bermanis muka malah menusuk sangat dalam sekali dengan tiba-tiba. Kadang saya tercengang. Sepertinya ini untuk kedua kalinya saya mengalami ketercengangan yang hampir sama.

Ini mungkin bentuk introspeksi diri juga untuk saya. Tak selalu orang-orang berpikir seperti kita berpikir. Parahnya lagi mungkin ada kalanya kita pernah mengabaikan sesuatu yang ternyata menjadi masalah bagi orang lain. Ah, kok ya rumit begini ya. Benar sekali jika masalah komunikasi adalah pangkal permasalahan yang bisa makin runyam jika dibiarkan berlarut-larut dalam kesalahpahaman. Saya kalau sudah begini suka berpikir untuk menarik diri dari lingkungan sosial. Ah, pengecut sekali! Kadang saya lebih suka menghindari banyak pertikaian dibanding menantangnya. Saya bukan tipe orang yang suka konflik untuk penyelesaian masalah. I’m a pacifist. Tapi kenapa hari ini saya malah terseret ke sana?

Sungguh, hari ini entah apa yang terjadi. Terlalu banyak kekacauan yang tidak diinginkan terjadi. Bahkan, saya merasa sudah tidak nyaman dan berharap bisa segera menjauh. Ya, lebih baik saya kabur kuliah dan menghadapi masalah yang lebih elegan dari urusan keirian antarmanusia yang tak jelas juntrungan. Kalau sudah begini saya lebih suka jadi manusia antisosial. Karena bersosial justru membawa masalah. Hehe, mungkin sifat introvert saya memberi solusi begini. Nggak sih, solusi saya sebenarnya adalah menjauhi orang-orang yang suka bikin rusuh itu alias toxic people. Gak ada solusi lain bagi toxic people selain meninggalkan mereka dan biarkan mereka manggung sendiri di pentasnya.

Saya pernah ngobrol sama teman tentang tak ada gunanya mengurusi urusan orang lain yang di sana tak urusannya dengan urusan kita. Banyak sekali orang sibuk mengurusi orang lain karena iri atau dengki. Ada orang yang berpolemik karena merasa apa yang dilakukannya lebih berat dari orang lain sebelumnya, tapi yang dituntutnya bukan pembuat kebijakan tapi orang sebelumnya yang diberi tugas yang lebih ringan. Bukannya salah tempat? Entahlah. Bingung juga saya dengan hal ini.

Berurusan dengan manusia memang ribet. Apalagi jika manusianya selalu cari perkara dan tak mau memahami. Mungkin masalah saya adalah bertemu dengan orang-orang yang salah saja. Jika bertemu orang yang tepat tentu tak akan jadi masalah semuanya. 😊

Ini saya curhat karena udah saking speechlessnya. Bingung mengeluarkan suara atau uneg-uneg kayak apa. Di bulan puasa pula kejadiannya. Oh, ya Allah. Ujian apalah yang saya dapat hari ini. Semacam ujian keimanan yang bertubi-tubi datang untuk menguji seberapa tangguh saya bisa slow down menghadapi masalah macam ini. Tetap orang waras yang menang. Yang gila selalu kalah. Jadi, jangan gila dong! Tetaplah tenang dan berpikir lurus dan baik. Can I? Hiks, tetap saja saya butuh teman-teman terdekat saya untuk ngobrolin ini. Ya, besok kami sudah berjanji bertemu, tapi janji untuk buka bersama bukan membahas masalah ini. Tapi, tetap saja saya butuh cerita ini ke dia. Bukankah itu fungsi teman? Tempat di mana kau bisa melepaskan drama-drama hidupmu, dan mereka dengan sabarnya mendengar. Ya pokoknya mendengar dan tak menghakimimu, tidak merasa terganggu dengan keluh kesahmu. Itulah teman. Jika dia tak mampu menerima keluh kesah dan drama lebaymu, maka carilah teman lain karena dia tak punya empati pada perasaanmu hehe. Orang galau dan sedih itu yang penting cuma didengar. Urusan solusi mereka akan minta belakangan. Ah, betapa dramanya hidup perempuan ini. 😥

Pengabdian

Pengabdian itu butuh pengorbanan. Kau harus memilih kebenaran yang sudah dipegang teguh. Pengabdian berarti kau telah menyerahkan dirimu pada kebenaran yang kau imani. Bebas itu adalah saat kau bisa melakukan segala hal yang sesuai dengan kebenaran yang kau imani. Ada batas yang mengikat. Karena kau tahu, kau bukanlah manusia tanpa tuan yang tersasar di dunia. Kau diciptakan dengan maksud. Maka, tunduklah. Kenapa terkadang kau ingin menjadi seorang pelarian yang melangkah tanpa tahu arah dan menampik jalan-jalan buntu dan membahayakan yang akan kau lalui? Sungguh, tak ada jaminan bagimu saat kau lari dan memilih tersasar tanpa arah. Sesekali kau bisa saja bersalah karena kelalaian dan ketidaktahuanmu. Tapi jangan pernah memilih jalan yang salah dengan kesadaranmu. Sesekali kau mungkin menginginkan sesuatu yang menarik hatimu, tapi apa kau yakin itu akan menyelamatkamu? Tolong, definisikan lagi tentang kebahagiaan dan ketenangan. Ucapkanlah sekali lagi tentang kebenaran yang kau yakini.

Menurutmu jaminan siapa di dunia ini yang akan menyelamatkanmu? Rayuan-rayuan manusia yang haus kesenangan dan kekuasaan? Nasihat-nasihat para pengecut yang hanya ingin hidup berkecukupan tanpa tahu benar dan salah? Kadang kau mungkin berpikir, kenapa Allah menjadikan indah pada pandangan manusia sesuatu yang membuatnya tergelincir? Ah, itu pertanyaan bodoh sebenarnya. Kau tahu bahwa di sini, di atas dunia ini, kau tidak sekadar dibiarkan menjalani hidup. Dunia ini adalah medan ujian, bukan tempat bersenang-senang dan lepas kendali. Kau lupa dengan firman Allah yang bertanya apa manusia akan dibiarkan mengatakan dia beriman sedang dia tak diuji? Kau lupa ini. Sebenarnya kau tahu, tapi sering lupa.

Kau juga tahu bahwa manusia sangat sering melanggar janjinya, bahkan pada Allah Tuhannya sendiri. Kadang kau takut berjanji karena kau tahu yang membolak-balikan hatimu adalah Allah. Maka, yang terbaik bagimu adalah meminta kepada Allah agar kau di-istiqamahkan dalam jalan yang Dia ridhai. Kau mengucap janji sebagai penjaga Islam, tapi terkadang kamu melanggarnya dengan kelalaianmu. Ya Rabbana, sungguh kenapa janji itu seperti suatu yang membuatmu takut pada akhirnya? Kau takut hanya menjadi pelanggar. Kau berjanji kemudian mengingkari. Bukankah janji adalah sesuatu yang harus hati-hati dan bersungguh-sungguh untuk dilakukan?

Dalam Al Quran ada istilah janji disebutkan dalam beberapa ayat. Istilah itu adalah Mitsaqan (perjanjian) atau Mitsaqan Ghalizhan (perjanjian yang teguh/kuat/berat). Ini disebutkan dalam tiga hal dalam Al Quran yaitu, pertama untuk perjanjian pernikahan (Q.S. An-Nisa ayat 21), kedua untuk perjanjian Allah dan orang-orang Yahudi agar tidak melanggar perintah Allah (An-Nisa ayat 154), dan ketiga untuk perjanjian para Nabi dengan Allah dalam menyampaikan dakwah pada umatnya (Al-Ahzab ayat 7).

Saat kau berjanji pada Allah, maka itu bukanlah hal yang main-main. Jika kau berazzam untuk sebuah janji dakwah, maka kuatkan dirimu dengan segala rintangan. Jika kau berazzam dalam ketaatan maka kuatkan dirimu agar tak gampang berbuat kesalahan. Dan satu hal lagi jika kau berazzam untuk sebuah pernikahan, maka jangan pernah melakukannya karena alasan-alasan sepele dan remeh, lakukan sebagai bentuk janjimu pada Allah untuk mejaga pernikahanmu dalam ketaatan pada Allah.

Allah mengujimu di titik terlemahmu. Dan kau tahu itu. Maka, ingatkan dirimu setiap kali kau akan berubah haluan. Ingatkan dirimu bahwa egomu bukanlah segalanya. Kau hanya seorang hamba di sini yang dititipkan Tuhanmu agar selalu ingat nanti ada waktunya kau akan pulang dan dijemput kembali.

Ittaqullah, haqqatuqatihi!

Apa pun yang terjadi, jangan pernah stres. Ini hal yang selalu saya sugestikan pada diri saya. Pangkal dari kegalauan dan stres adalah karena kita tidak bisa melepaskan dan menerima segala sesuatu apa adanya. Terlalu memikirkan masalah yang sebenarnya dengan memikirkannya tak meringankan beban dan masalah itu. Akhirnya timbul perasaan khawatir, bimbang, takut, sedih, atau segala hal yang memancing keluarnya emosi negatif. Ini sangat tidak baik untuk kesehatan.

Menjadi orang yang ikhlas ternyata cukup membuat hidup kita lebih sehat dan tenang. Baru-baru ini saya menonton video dokter Agus Ali Fauzi di media sosial dari postingan seorang teman. Dokter Agus, dalam acara yang diselenggarakan sebuah perusahaan, membahas tentang hubungan kondisi hati dan jiwa dengan kesehatan. Betapa pentingnya untuk menata hati dan jiwa untuk kehidupan yang bahagia dan sehat. Pendekatan dokter ini banyak mengarah pada spiritualitas Islam. Semua harus diserahkan secara ikhlas pada Allah atau bertawakkal. Percayakan semuanya pada Allah. Berharap dan bergantunglah pada Allah atas segala hal. Seperti kata ustadz Syafiq Riza Basalamah, kita manusia adalah makhluk lemah, maka dari itu dalam diri manusia diciptakan sifat bergantung pada sesuatu yang lebih besar darinya, yaitu Allah pencipta dan pengatur alam semesta.

Terlalu memikirkan sesuatu secara berlebihan tidak ada gunanya jika kemampuan kita terbatas menyelesaikannya. Dan pastinya kita tak bisa mengendalikan semua urusan. Maka dari itu usahakan segala sesuatu sesuai kemampuan diri kita kemudian bertawakkallah, serahkan semuanya pada Allah. Biar Allah yang menyelesaikannya.

Kita seringkali terlalu berlebihan memikirkan sesuatu yang sebenarnya belum terjadi. Khawatir tidak sesuai rencana, khawatir dengan kesulitan-kesulitan yang akan muncul. Kebanyakan berpikir malah akhirnya lupa dan lambat dalam beraksi dan berikhtiar. Asumsi-asumsi negatif yang memunculkan tekanan tersebut justru semakin melemahkan kerja otak dan anggota tubuh kita dalam bertindak.

Pikirkan sesuatu sesuai dengan kapasitas kemampuan dan kuasa diri kita. Tak ada gunanya memikirkan sesuatu yang tak bisa atau belum bisa dilakukan. Fokus pada apa yang ada di hadapan dan kerjakan dengan maksimal. Buang hal-hal tak penting yang memperlambat kerja atau usaha.

Itulah sebabnya, dalam Islam seseorang dilarang berlebihan larut dalam emosinya. Dilarang bersedih berlarut-larut, meratapi sesuatu yang tak ada manfaatnya. Karena semuanya adalah hasutan setan. Ada doa khusus yang diajarkan Rasulullah saat kegalauan ini muncul.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat. (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)

Dalam riwayat lain juga disampaikan sebagai berikut:

“ Dari Anas bin Malik : Aku melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau singgah dan aku selalu mendengar beliau banyak berdo’a: “Allahumma Inni A’uudzu Bika Minal ‘Ajzi Wal Kasali Wal Bukhli Wal Jubni Wa Dhala’i ad-Daini Wa Ghalabatir Rijaal” (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari (sifat) gelisah, sedih, lemah, malas, kikir, pengecut, terlilit hutang dan dari kekuasaan “ ( HR Bukhari )

Allah juga menggambarkan bagaimana sifat wali-wali Allah yang bisa kita teladani.

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ

“ Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. “ ( Qs Yunus : 62-63 )

Akhirul kalam, hasbiyallah wani’mal wakiil, ni’mal maula wani’mannashir. Bagaimanapun, cukup andalkan Allah dalam segala urusan. La hawla wala quwwata illabillahil ‘alaiyyil’azhim.

Tak cukupkah asmaul husna yang menjelaskan tentang kebesaran Allah? Sadarlah bahwa manusia itu lemah, di sinilah Allah ingin memperlihatkan bahwa kita butuh Allah dalam segala keadaan.

Ittaqullah, haqqatuqatihi (bertaqwalah pada Allah dengan sebenar-benar bertaqwa). Cara satu-satunya untuk mendapatkan pertolongan Allah adalah dengan bertaqwa pada-Nya. Taqwa menurut Imam Al Ghazali bermakna takut dan taat pada Allah serta membersihkan diri dari dosa-dosa. Ini kunci dan solusi permasalahan yang ditawarkan Allah pada kita. Mau mencari solusi lain yang justru menambah masalah?

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. (Q.S. al-Thalaq:2-3).