Author: Rusyda Fauzana

A believer

Rahasia Pintu Surga

Ada 8 pintu surga, salah satunya diperuntukkan bagi orang yang mampu menahan marah dan mau memaafkan. Orang yang masuk pintu surga ini memang spesial, maka pantas Allah memberikan tempat mulia untuk mereka. Bagaimana dengan saya? Apakah saya akan dipanggil dari pintu tersebut dan melangkah ke dalamnya? Sungguh ini perkara sulit. Saya baru menyadarinya sekarang. Iya, kau akan tahu bagaimana sulitnya suatu hal hingga kau diuji dengan hal tersebut. Saya bukan orang yang gampang marah dengan melepaskan emosi berapi-api. Saya terbiasa diam atau paling tidak jika sudah cukup kesal akan bersuara ya mungkin semacam debat. Tapi, tetap saja ini adalah refleksi marah sebenarnya walaupun bukan dengan kata-kata keras dan kasar.

Kontrol emosi memang sangat penting apa pun keadaannya. Siapa sih yang tidak pernah kesal? Saya mungkin tak sering diberi ujian yang memancing kemarahan ini. Tapi saat menghadapinya, saya jadi berpikir memang sulit ternyata ujian emosi ini. Bisa jadi kau tak marah dan melupakan, tapi hatimu tidak mau memaafkan. Forgotten but not forgiven. Atau bisa jadi memaafkan tapi tak melupakan, forgiven but not forgotten, artinya masih ada yang belum selesai di dalam hatimu. Baru terasa kenapa ujian ini berbuah surga.

Semakin kita dewasa dan bertambahnya umur, maka akan semakin banyak masalah yang akan kita hadapi. Ini karena kita telah menjadi individu mandiri yang eksistensinya sudah diakui masyarakat dan lingkungan kita. Kita sudah dipandang sebagai manusia seutuhnya karena tidak lagi diberi label anak kecil, anak muda atau masih bau kencur. Tanggung jawab ada pada pundak kita pribadi. Dan ini akan semakin kompleks jika seseorang menikah. Membawa nama dua orang sekaligus untuk citra diri di masyarakat. Di sini saya belajar untuk selalu mindful. Sadar dan peka dengan keberadaan diri dan lingkungan.

Jika kita berbuat sesuka hati, maka akan seperti apa kita membangun konsep diri di hadapan diri sendiri dan orang lain? Identitas apa yang kita ingin orang lain memandangnya? Kita yang menentukan identitas dan citra diri di hadapan orang lain. Maka, menjadi diri sendiri adalah sangat penting. Menjadi pribadi yang kita sendiri menghargainya dan kita pun mencintainya, begitu pun orang lain memandangnya.

Apakah kau pernah membenci diri sendiri? Itu tandanya ada konsep diri yang tak kau sukai dalam dirimu. Saya sesekali membenci diri saya dalam keadaan tertentu. Kondisi itu sesuatu yang tidak ideal yang saya dapati dalam diri saya. Masing-masing kita memiliki konsep diri ideal dan standarnya pasti berbeda, bergantung pada apa yang kita pandang baik dan buruk serta benar dan salah. Jika kita melanggarnya pasti akan timbul ketidaksukaan yang berujung pada rasa bersalah, penyesalan, atau benci pada diri sendiri. Apakah reaksi dalam diri kita ini baik? Saya pikir ini baik, sebagai bentuk kepekaan dari kita terhadap apa-apa yang kita yakini. Nah, yang tak peka mungkin bisa dipertanyakan seperti apa konsep dirinya.

Kembali lagi ke pintu surga tadi. Sungguh Allah Maha Tahu apa-apa yang sulit dan penuh rintangan sebagai ujian hambanya. Lagi-lagi hidup itu memang lahan ujian. Tak hidup namanya jika tak ada ujian. Ini cara Allah menilai kualitas diri kita. Dan bagi saya, ujian adalah bentuk refleksi diri. Saya menulis ini untuk pengingat diri lagi. Kesalahan bisa dilakukan oleh diri kita sendiri dan/atau orang lain. Hal yang utama adalah bagaimana menyikapinya. Kita tak selalu ditakdirkan bertemu orang-orang baik dalam kehidupan kita. Bahkan, bisa jadi kitalah sosok yang buruk dan menjadi ujian bagi orang lain atas kelalaian dan kesalahan diri kita.

Untuk itu, sangat penting selalu introspeksi diri, belajar dari setiap masalah, dan bersiap-siaga pada ujian-ujian berikutnya. Terkadang, pelajaran dan ujian itu diberikan berkali-kali hingga manusia sampai pada tingkat kesadaran sempurna. Bahkan ada pula yang tak sadar-sadar dan tak belajar hingga berkubang dalam permasalahan yang sama seumur hidup. Nauzubillahi minzalik. Irhamna ya Allah. Nastaghfirullahal ‘azhim.

Advertisements

Toxic People, Good Friends, and Drama

Lagi-lagi saya dapat pengalaman gak penting. Tapi gimana memang ini kenyataan. Kok rasanya pengen escape atau cepat-cepat kuliah lagi. Tampaknya jalan hidup kita memang gak selalu manis. Ada aja orang yang iri atau merasa repot dengan eksistensi kita. Inilah karakter toxic people. Dan sekarang saya pun jadi paham bahwa tidak semua orang bisa kita percayai. Seringnya orang-orang yang bermanis muka malah menusuk sangat dalam sekali dengan tiba-tiba. Kadang saya tercengang. Sepertinya ini untuk kedua kalinya saya mengalami ketercengangan yang hampir sama.

Ini mungkin bentuk introspeksi diri juga untuk saya. Tak selalu orang-orang berpikir seperti kita berpikir. Parahnya lagi mungkin ada kalanya kita pernah mengabaikan sesuatu yang ternyata menjadi masalah bagi orang lain. Ah, kok ya rumit begini ya. Benar sekali jika masalah komunikasi adalah pangkal permasalahan yang bisa makin runyam jika dibiarkan berlarut-larut dalam kesalahpahaman. Saya kalau sudah begini suka berpikir untuk menarik diri dari lingkungan sosial. Ah, pengecut sekali! Kadang saya lebih suka menghindari banyak pertikaian dibanding menantangnya. Saya bukan tipe orang yang suka konflik untuk penyelesaian masalah. I’m a pacifist. Tapi kenapa hari ini saya malah terseret ke sana?

Sungguh, hari ini entah apa yang terjadi. Terlalu banyak kekacauan yang tidak diinginkan terjadi. Bahkan, saya merasa sudah tidak nyaman dan berharap bisa segera menjauh. Ya, lebih baik saya kabur kuliah dan menghadapi masalah yang lebih elegan dari urusan keirian antarmanusia yang tak jelas juntrungan. Kalau sudah begini saya lebih suka jadi manusia antisosial. Karena bersosial justru membawa masalah. Hehe, mungkin sifat introvert saya memberi solusi begini. Nggak sih, solusi saya sebenarnya adalah menjauhi orang-orang yang suka bikin rusuh itu alias toxic people. Gak ada solusi lain bagi toxic people selain meninggalkan mereka dan biarkan mereka manggung sendiri di pentasnya.

Saya pernah ngobrol sama teman tentang tak ada gunanya mengurusi urusan orang lain yang di sana tak urusannya dengan urusan kita. Banyak sekali orang sibuk mengurusi orang lain karena iri atau dengki. Ada orang yang berpolemik karena merasa apa yang dilakukannya lebih berat dari orang lain sebelumnya, tapi yang dituntutnya bukan pembuat kebijakan tapi orang sebelumnya yang diberi tugas yang lebih ringan. Bukannya salah tempat? Entahlah. Bingung juga saya dengan hal ini.

Berurusan dengan manusia memang ribet. Apalagi jika manusianya selalu cari perkara dan tak mau memahami. Mungkin masalah saya adalah bertemu dengan orang-orang yang salah saja. Jika bertemu orang yang tepat tentu tak akan jadi masalah semuanya. ๐Ÿ˜Š

Ini saya curhat karena udah saking speechlessnya. Bingung mengeluarkan suara atau uneg-uneg kayak apa. Di bulan puasa pula kejadiannya. Oh, ya Allah. Ujian apalah yang saya dapat hari ini. Semacam ujian keimanan yang bertubi-tubi datang untuk menguji seberapa tangguh saya bisa slow down menghadapi masalah macam ini. Tetap orang waras yang menang. Yang gila selalu kalah. Jadi, jangan gila dong! Tetaplah tenang dan berpikir lurus dan baik. Can I? Hiks, tetap saja saya butuh teman-teman terdekat saya untuk ngobrolin ini. Ya, besok kami sudah berjanji bertemu, tapi janji untuk buka bersama bukan membahas masalah ini. Tapi, tetap saja saya butuh cerita ini ke dia. Bukankah itu fungsi teman? Tempat di mana kau bisa melepaskan drama-drama hidupmu, dan mereka dengan sabarnya mendengar. Ya pokoknya mendengar dan tak menghakimimu, tidak merasa terganggu dengan keluh kesahmu. Itulah teman. Jika dia tak mampu menerima keluh kesah dan drama lebaymu, maka carilah teman lain karena dia tak punya empati pada perasaanmu hehe. Orang galau dan sedih itu yang penting cuma didengar. Urusan solusi mereka akan minta belakangan. Ah, betapa dramanya hidup perempuan ini. ๐Ÿ˜ฅ

Pengabdian

Pengabdian itu butuh pengorbanan. Kau harus memilih kebenaran yang sudah dipegang teguh. Pengabdian berarti kau telah menyerahkan dirimu pada kebenaran yang kau imani. Bebas itu adalah saat kau bisa melakukan segala hal yang sesuai dengan kebenaran yang kau imani. Ada batas yang mengikat. Karena kau tahu, kau bukanlah manusia tanpa tuan yang tersasar di dunia. Kau diciptakan dengan maksud. Maka, tunduklah. Kenapa terkadang kau ingin menjadi seorang pelarian yang melangkah tanpa tahu arah dan menampik jalan-jalan buntu dan membahayakan yang akan kau lalui? Sungguh, tak ada jaminan bagimu saat kau lari dan memilih tersasar tanpa arah. Sesekali kau bisa saja bersalah karena kelalaian dan ketidaktahuanmu. Tapi jangan pernah memilih jalan yang salah dengan kesadaranmu. Sesekali kau mungkin menginginkan sesuatu yang menarik hatimu, tapi apa kau yakin itu akan menyelamatkamu? Tolong, definisikan lagi tentang kebahagiaan dan ketenangan. Ucapkanlah sekali lagi tentang kebenaran yang kau yakini.

Menurutmu jaminan siapa di dunia ini yang akan menyelamatkanmu? Rayuan-rayuan manusia yang haus kesenangan dan kekuasaan? Nasihat-nasihat para pengecut yang hanya ingin hidup berkecukupan tanpa tahu benar dan salah? Kadang kau mungkin berpikir, kenapa Allah menjadikan indah pada pandangan manusia sesuatu yang membuatnya tergelincir? Ah, itu pertanyaan bodoh sebenarnya. Kau tahu bahwa di sini, di atas dunia ini, kau tidak sekadar dibiarkan menjalani hidup. Dunia ini adalah medan ujian, bukan tempat bersenang-senang dan lepas kendali. Kau lupa dengan firman Allah yang bertanya apa manusia akan dibiarkan mengatakan dia beriman sedang dia tak diuji? Kau lupa ini. Sebenarnya kau tahu, tapi sering lupa.

Kau juga tahu bahwa manusia sangat sering melanggar janjinya, bahkan pada Allah Tuhannya sendiri. Kadang kau takut berjanji karena kau tahu yang membolak-balikan hatimu adalah Allah. Maka, yang terbaik bagimu adalah meminta kepada Allah agar kau di-istiqamahkan dalam jalan yang Dia ridhai. Kau mengucap janji sebagai penjaga Islam, tapi terkadang kamu melanggarnya dengan kelalaianmu. Ya Rabbana, sungguh kenapa janji itu seperti suatu yang membuatmu takut pada akhirnya? Kau takut hanya menjadi pelanggar. Kau berjanji kemudian mengingkari. Bukankah janji adalah sesuatu yang harus hati-hati dan bersungguh-sungguh untuk dilakukan?

Dalam Al Quran ada istilah janji disebutkan dalam beberapa ayat. Istilah itu adalah Mitsaqan (perjanjian) atau Mitsaqan Ghalizhan (perjanjian yang teguh/kuat/berat). Ini disebutkan dalam tiga hal dalam Al Quran yaitu, pertama untuk perjanjian pernikahan (Q.S. An-Nisa ayat 21), kedua untuk perjanjian Allah dan orang-orang Yahudi agar tidak melanggar perintah Allah (An-Nisa ayat 154), dan ketiga untuk perjanjian para Nabi dengan Allah dalam menyampaikan dakwah pada umatnya (Al-Ahzab ayat 7).

Saat kau berjanji pada Allah, maka itu bukanlah hal yang main-main. Jika kau berazzam untuk sebuah janji dakwah, maka kuatkan dirimu dengan segala rintangan. Jika kau berazzam dalam ketaatan maka kuatkan dirimu agar tak gampang berbuat kesalahan. Dan satu hal lagi jika kau berazzam untuk sebuah pernikahan, maka jangan pernah melakukannya karena alasan-alasan sepele dan remeh, lakukan sebagai bentuk janjimu pada Allah untuk mejaga pernikahanmu dalam ketaatan pada Allah.

Allah mengujimu di titik terlemahmu. Dan kau tahu itu. Maka, ingatkan dirimu setiap kali kau akan berubah haluan. Ingatkan dirimu bahwa egomu bukanlah segalanya. Kau hanya seorang hamba di sini yang dititipkan Tuhanmu agar selalu ingat nanti ada waktunya kau akan pulang dan dijemput kembali.

Ittaqullah, haqqatuqatihi!

Apa pun yang terjadi, jangan pernah stres. Ini hal yang selalu saya sugestikan pada diri saya. Pangkal dari kegalauan dan stres adalah karena kita tidak bisa melepaskan dan menerima segala sesuatu apa adanya. Terlalu memikirkan masalah yang sebenarnya dengan memikirkannya tak meringankan beban dan masalah itu. Akhirnya timbul perasaan khawatir, bimbang, takut, sedih, atau segala hal yang memancing keluarnya emosi negatif. Ini sangat tidak baik untuk kesehatan.

Menjadi orang yang ikhlas ternyata cukup membuat hidup kita lebih sehat dan tenang. Baru-baru ini saya menonton video dokter Agus Ali Fauzi di media sosial dari postingan seorang teman. Dokter Agus, dalam acara yang diselenggarakan sebuah perusahaan, membahas tentang hubungan kondisi hati dan jiwa dengan kesehatan. Betapa pentingnya untuk menata hati dan jiwa untuk kehidupan yang bahagia dan sehat. Pendekatan dokter ini banyak mengarah pada spiritualitas Islam. Semua harus diserahkan secara ikhlas pada Allah atau bertawakkal. Percayakan semuanya pada Allah. Berharap dan bergantunglah pada Allah atas segala hal. Seperti kata ustadz Syafiq Riza Basalamah, kita manusia adalah makhluk lemah, maka dari itu dalam diri manusia diciptakan sifat bergantung pada sesuatu yang lebih besar darinya, yaitu Allah pencipta dan pengatur alam semesta.

Terlalu memikirkan sesuatu secara berlebihan tidak ada gunanya jika kemampuan kita terbatas menyelesaikannya. Dan pastinya kita tak bisa mengendalikan semua urusan. Maka dari itu usahakan segala sesuatu sesuai kemampuan diri kita kemudian bertawakkallah, serahkan semuanya pada Allah. Biar Allah yang menyelesaikannya.

Kita seringkali terlalu berlebihan memikirkan sesuatu yang sebenarnya belum terjadi. Khawatir tidak sesuai rencana, khawatir dengan kesulitan-kesulitan yang akan muncul. Kebanyakan berpikir malah akhirnya lupa dan lambat dalam beraksi dan berikhtiar. Asumsi-asumsi negatif yang memunculkan tekanan tersebut justru semakin melemahkan kerja otak dan anggota tubuh kita dalam bertindak.

Pikirkan sesuatu sesuai dengan kapasitas kemampuan dan kuasa diri kita. Tak ada gunanya memikirkan sesuatu yang tak bisa atau belum bisa dilakukan. Fokus pada apa yang ada di hadapan dan kerjakan dengan maksimal. Buang hal-hal tak penting yang memperlambat kerja atau usaha.

Itulah sebabnya, dalam Islam seseorang dilarang berlebihan larut dalam emosinya. Dilarang bersedih berlarut-larut, meratapi sesuatu yang tak ada manfaatnya. Karena semuanya adalah hasutan setan. Ada doa khusus yang diajarkan Rasulullah saat kegalauan ini muncul.

Anas bin Malik radhiyallahu โ€˜anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam biasa membaca doโ€™a:

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู‘ูู‰ ุฃูŽุนููˆุฐู ุจููƒูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุฌู’ุฒู ูˆูŽุงู„ู’ูƒูŽุณูŽู„ู ูˆูŽุงู„ู’ุฌูุจู’ู†ู ูˆูŽุงู„ู’ู‡ูŽุฑูŽู…ู ูˆูŽุงู„ู’ุจูุฎู’ู„ู ูˆูŽุฃูŽุนููˆุฐู ุจููƒูŽ ู…ูู†ู’ ุนูŽุฐูŽุงุจู ุงู„ู’ู‚ูŽุจู’ุฑู ูˆูŽู…ูู†ู’ ููุชู’ู†ูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽุญู’ูŠูŽุง ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽู…ูŽุงุชู

โ€œAllahumma inni aโ€™udzu bika minal โ€˜ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa aโ€™udzu bika min โ€˜adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat. (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).โ€ (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)

Dalam riwayat lain juga disampaikan sebagai berikut:

โ€œ Dari Anas bin Malik : Aku melayani Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam saat beliau singgah dan aku selalu mendengar beliau banyak berdoโ€™a: โ€œAllahumma Inni Aโ€™uudzu Bika Minal โ€˜Ajzi Wal Kasali Wal Bukhli Wal Jubni Wa Dhalaโ€™i ad-Daini Wa Ghalabatir Rijaalโ€ (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari (sifat) gelisah, sedih, lemah, malas, kikir, pengecut, terlilit hutang dan dari kekuasaan โ€œ ( HR Bukhari )

Allah juga menggambarkan bagaimana sifat wali-wali Allah yang bisa kita teladani.

ุฃูŽู„ุง ุฅูู†ูŽู‘ ุฃูŽูˆู’ู„ููŠูŽุงุก ุงู„ู„ู‘ู‡ู ู„ุงูŽ ุฎูŽูˆู’ููŒ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ุงูŽ ู‡ูู…ู’ ูŠูŽุญู’ุฒูŽู†ููˆู†ูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุงู’ ูˆูŽูƒูŽุงู†ููˆุงู’ ูŠูŽุชูŽู‘ู‚ููˆู†ูŽ

โ€œ Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. โ€œ ( Qs Yunus : 62-63 )

Akhirul kalam, hasbiyallah wani’mal wakiil, ni’mal maula wani’mannashir. Bagaimanapun, cukup andalkan Allah dalam segala urusan. La hawla wala quwwata illabillahil ‘alaiyyil’azhim.

Tak cukupkah asmaul husna yang menjelaskan tentang kebesaran Allah? Sadarlah bahwa manusia itu lemah, di sinilah Allah ingin memperlihatkan bahwa kita butuh Allah dalam segala keadaan.

Ittaqullah, haqqatuqatihi (bertaqwalah pada Allah dengan sebenar-benar bertaqwa). Cara satu-satunya untuk mendapatkan pertolongan Allah adalah dengan bertaqwa pada-Nya. Taqwa menurut Imam Al Ghazali bermakna takut dan taat pada Allah serta membersihkan diri dari dosa-dosa. Ini kunci dan solusi permasalahan yang ditawarkan Allah pada kita. Mau mencari solusi lain yang justru menambah masalah?

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. (Q.S. al-Thalaq:2-3).

Obrolan Penting!

Halooo!

Adakah yang merindukan saya? Hehe… Sudah lama sekali tak bikin tulisan di sini, bahkan sepatah kata pun tak ada dalam jangka waktu cukup lama dari biasanya.

Ada satu hal yang saya sadari bahwa keluar dari comfort zone membuat saya berani membangun cita-cita. Berani untuk lebih kuat dan mandiri, semakin dikuatkan agar jangan sampai bergantung pada siapa pun kecuali Allah. Orang-orang di sekelilingmu tak selalu mereka baik padamu, bahkan tak semuanya suka dengan harapan-harapanmu, dan mungkin kualitas dirimu. Maka dari itu, saya berusaha untuk selalu percaya diri dalam mengandalkan usaha sendiri ketimbang meminta kemudahan dari orang lain. Karena selama hidup ini, yang pernah saya mintai pertolongan untuk urusan besar hidup saya hanyalah Allah, orangtua, dan adik-adik saya. Selebihnya, saya tak pernah libatkan banyak orang lain.

Keluarga kita paling tahu siapa kita, dan kita juga tahu keluarga kita dari sisi terdalam mereka. Bahkan, untuk urusan pelik sekalipun saya pernah tak melibatkan keluarga karena khawatir memberatkan mereka dan takut mereka juga khawatir dengan diri saya. Setidaknya, saya bisa bertanggung jawab terhadap diri saya sendiri. Loh, kok jadi ngomongin diri dan keluarga ya hehe. Gimana lagi, blog ini memang tempat curhat paling bebas untuk saya. Jika ada yang tersasar ke sini tolong diabaikan saja kisah-kisah saya ini ya. Hidupmu lebih berharga dari sekadar membaca curhatan saya ini hahaha. Kecuali hidupmu tak banyak masalah. Ya silakan saja membaca perspektif saya yang mungkin berbeda dari orang kebanyakan ini.

Jadi, saya tuh mau bahas apa sih sebenarnya? Nah, intinya adalah menghargai diri sendiri sangat penting agar kita bisa menghargai orang lain. Kita tidak akan semena-mena memperlakukan dan memberatkan orang lain. Ini hal yang saling berkait sebenarnya. Inspirasi saya menulis ini gara-gara ada anak muda keturunan Cina yang videonya beredar luas sedang menghina-hina Presiden. Kata-katanya sangat kasar. Walaupun tak suka dengan seseorang bukan berarti kita bisa seenaknya menghina orang sedemikian rupa. Saya juga orang yang sering mengkritik penguasa tapi tidak menghina dan berkata kasar.

Tahu tidak, apa yang terjadi setelah video itu beredar? Aparat keamanan langsung menemui anak muda tersebut dan setelah terlibat pembicaraan dengan keluarganya, aparat menganggap apa yang dilakukannya hanya bercandaan untuk lucu-lucuan. What? How come? Berkat ulah anak tersebut, orangtuanya harus turun tangan dibuat repot. Sampai-sampai si orangtua membuat video permintaan maaf untuk presiden dan seluruh rakyat Indonesia. Lalu masalahnya di mana? Kasus ini pada akhirnya diselesaikan dengan jalan damai. Saya cukup ternganga karena selama ini siapa pun yang berani menghina presiden pasti akan langsung dipenjara, gak ada ampun. Lalu ini kenapa bisa lolos? Asumsi netizen adalah karena dia anak orang kaya, keturunan Cina, dan bapaknya cukong (ini label yang diberi netizen) berpengaruh, serta yang paling penting latar belakang keluarganya pendukung pemerintah. Aparat dan pemerintah jadi lunak dibuatnya.

Saya merasa perlakuan ini tak adil. Dari kasus yang sudah-sudah, selama ini pengkritik penguasa dengan ujaran kebencian yang dianggap kasar maupun tidak adalah dari kelompok orang-orang anti kebijakan penguasa, berlatar keluarga tidak kaya dan tidak berkuasa, bahkan yang punya nama namun berseberangan dengan pemerintah bisa diciduk. Mereka akan ditindak sesuai keinginan pemerintah yaitu dipenjara dan dipertontonkan di hadapan publik kesalahannya. Selama ini saya dan publik sangat paham bagaimana sikap seperti ini dilakukan pemerintah. Mereka tak mau dihina, tapi giliran yang menghina adalah kalangan pro-pemerintah, malah dibiarkan. Jadi tampaknya yang dilihat pemerintah adalah apakah kita kelompok pendukung mereka atau bukan. Jika bukan, maka siap-siap menerima perlakuan sesuka hati mereka.

Apakah kita mau hidup dengan cara ini? Membanggakan kekayaan dan status sosial, menekan orang lemah, dan membeli siapa yang bisa dibeli. Untuk apa? Untuk menolong diri kita agar urusan kita mulus? Padahal sebenarnya kita sudah merepotkan banyak pihak saat berbuat seperti ini.

Apakah membuat masalah sama dengan membela kebenaran? Tentu ini hal yang berbeda. Menjadi perusak beda dengan menjadi pembaharu. Walaupun pembaharu bagi banyak orang adalah sosok yang mengacaukan status quo dan zona nyaman orang-orang berkuasa. Yang repot adalah orang yang berkuasa, tapi itu perlu dilakukan agar mereka tahu diri dan tidak bermain-main dengan apa yang mereka lakukan karena bisa merugikan banyak orang. Justru sebenarnya yang dibuat repot oleh penguasa zalim adalah rakyatnya sendiri.

Oleh karena itu, menjadi mandiri membuat kita tahu diri, mengukur diri, dan berempati pada kehidupan orang lain yang melalui jalan hidup yang berbeda. Sekali lagi, kita harus menjadi diri sendiri dan berbuat yang terbaik untuk diri kita dan orang lain. Papa saya selalu berpesan agar berhati-hati bersikap. Saya paham ini. Walaupun seringkali saya tak tahan juga bersuara mengkritik kebijakan penguasa yang merugikan. Saya melakukan ini bukan untuk diri saya, tapi agar orang memahami apa kewajiban pemerintah dan apa hak rakyat. Karena selama ini rakyat sudah berbuat banyak dengan menerima apa pun yang diingini pemerintah. Kenapa pemerintah sering lupa akan perannya sebagai pelayan rakyat? Kenapa mereka malah ingin diperlakukan bak raja? Inilah kesalahan awal yang dilakukan penguasa saat menjadikan dirinya raja dan tidak memberikan contoh perilaku baik untuk masyarakat. Padahal pemerintah seharusnya adalah pihak pertama yang menjadi teladan rakyatnya, karena sudah memikul kekuasaan sebagai pengelola dan penggerak arah negara ini.

Drama is Life

Drama itu selalu menarik. Gak ada drama pasti datar-datar saja. Itulah sebabnya dalam cerita fiksi unsur drama punya peranan penting memainkan emosi pembacanya. Begitu juga dengan film. Bahkan hidup pun gak lepas dari drama. Saya tidak terlalu sering nonton film, tapi suka beberapa genre film. Yang paling saya suka adalah film bergenre drama dan sejarah. Itu terasa sekali hidup ceritanya.

Kali ini ada yang berbeda. Adik saya tiba-tiba mengajak saya nonton film Avengers, tipikal film action fantasi. Saya tak terlalu suka fiksi fantasi, tapi karena diajak ya sudah ikut aja. Rupanya Avengers Infinity War cukup menarik perhatian saya. Kenapa? Karena ceritanya jadi mendadak drama. Kisah Thanos dan putri angkatnya Gamora cukup mengusik emosi. Walaupun saya melihat drama cinta ayah-anak ini penuh kepalsuan. Thanos rela menukar Gamora dengan sebuah infinity stone. Yang menarik adalah syarat yang harus dipenuhi Thanos. Dia diminta untuk mengorban nyawa orang yang paling dicintainya untuk ditukar dengan batu itu. Tentu saja Gamora tersenyum sinis karena dia tahu Thanos tak pernah punya cinta dalam dirinya, bahkan untuk Gamora putri angkatnya. Tapi, apa yang terjadi? Tiba-tiba Thanos menangis dan dan memperlihatkan rasa cinta yang dimilikinya. Untuk siapa? Ternyata cintanya adalah Gamora. Aneh memang. Kok bisa-bisanya cinta tulus ditukar dengan batu yang menjadi obsesi buta. Lebih aneh lagi ketika rasa cinta Thanos yang terlihat tak mencintai itu berhasil ditukar dengan infinity stone. Is it love when you sacrifice it for another precious love?

Ah, tapi kemudian saya sadar. Bukankah cinta punya tingkatan dan kadar. Bahkan, Nabi Ibrahim rela mengorbankan anaknya Nabi Ismail untuk dikorbankan pada Allah. Ada cinta di atas cinta. Bukannya tak cinta pada Ismail, tapi cinta pada Allah menempati tingkat tertinggi bagi Nabi Ibrahim. Ok, Thanos. Now I got it. Akan tetapi, di akhir cerita justru Thanos mengalami kegalauan setelah berhasil mendapatkan seluruh infinity stones. Perasaannya terusik setelah apa yang dilakukannya pada Gamora. Sebuah ilusi muncul dalam pandangannya seolah Gamora kecil mempertanyakan apakah yang sudah dicapai Thanos adalah kebahagiaan dan kepuasan tertinggi baginya. Thanos merenung. Yaaaak, this is the drama! Kalau gak gini gak akan seru yang namanya kehidupan. Mendadak baper melihat Thanos di akhir film Avengers Infinity War ini. Tampaknya masih akan ada sekuelnya. Tapi saya gak terlalu ngebet nonton. Udah ketebak aja sih ceritanya. Pasti Thanos mau mengembalikan kehidupan Gamora. Cinta itu kekuatannya luar biasa saudara-saudara haha, jika tak membutakan ya meluluhkan. ๐Ÿ˜„

Jadi, jika hidupnya banyak drama dan ujian bersyukurlah akan ada sekuel baru dalam hidupmu yang akan terjadi. Apa jadinya jika datar-datar saja. Semangat tak ada, perjuangan tak ada, apalagi cita-cita. Semua rutinitas membosankan. Kau tak punya sesuatu yang berharga untuk dihebohkan. Maka, jangan baper dikasih ujian sama Allah. Kalau tak begitu, mana kau tahu cintamu sebesar apa pada Allah. Ya kan? Allah ingin menunjukkan apa yang lebih kau pilih dalam hidup ini sebagai prioritas. Biar kita tau diri sebesar apa cinta kita pada Allah.

Pejuang Tidak Menyerah

Apa yang paling mudah dalam hidup ini? Yang paling mudah adalah menyerah. Perangmu adalah saat kau berusaha untuk tidak menyerah.

Tuhanku, Engkau mengirimku ke dunia ini untuk berjuang kan? Pejuang itu tak pernah menyerah kan Rabbku? Aku memang tak pernah mengatakan menyerah. Aku hanya khawatir aku akan menyerah. Aku memang butuh banyak dilatih lagi untuk kuat. Aku juga tahu jika tak semua latihan yang Kau beri mampu kulewatkan dengan baik dan membuatku kuat. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah latihan hidup. Aku menulis kitab hidupku seperti ini. Apa ini menarik bagiMu? Mungkin jika dijual di toko buku tak akan laku. Bukankah semua orang menyukai sosok pahlawan dan pejuang? Tak ada yang suka pecundang dan orang yang tak tahan banting. Jadi plot twist seperti apa yang harus kubuat untuk sebuah buku yang baik dan menarik?

Aku selalu membenci versi diriku yang tidak ideal. Aku membenci sesuatu yang bertentangan. Mungkin aku harus berhenti menjadi perfeksionis dan menerima kelemahan dan kekurangan. Tapi saat melihat orang lain bisa berjuang lebih kuat bukankah sebuah kebodohan bersikap pasrah? Artinya aku bisa berjuang lebih kuat juga seperti mereka yang tak kenal lelah. Paling tidak, aku bisa menuliskan kisah luar biasa untuk diriku sendiri dan kupersembahkan dengan bangga di hadapan Rabbku. Bukuku akan dibacakan nanti di hari akhir kelak. Sudah sampai di mana aku berjuang menuliskan kisah terbaik yang akan berakhir baik?

Aku selalu menyukai kisah happy ending. Setiap cerita pendek yang kubuat selalu berakhir bahagia karena itulah harapanku untuk setiap kisah, termasuk kisah kehidupan sendiri. Apa pun yang kita lakukan, lakukanlah dengan baik untuk sesuatu yang baik. Intinya di sini adalah kebaikan bukan capaian yang diberi tepuk tangan atau puja puji manusia, tapi untu mendapat ridha Allah. Bukankah semua capaian dan puja puji bisa direkayasa? Orang-orang bisa berpura-pura dengan hidup mereka dengan keberhasilan semu. Tapi bukan itu tujuanku. Mungkin karena orangtuaku tak pernah mengajariku untuk bermuka dua dan menipu diri sendiri.

Apa lagi yang membuatku bersedih? Aku hanya merasa kurang tangguh dibanding para pejuang yang ikhlas dan tak kenal lelah. Kemarin aku bercerita dengan seorang teman. Bukan teman yang terlalu dekat tapi dia sungguh luar biasa. Kami bercerita bagaimana menghadapi karakter masyarakat yang secara moral dan etika kurang baik, dan sulitnya lagi mereka ada bersama-sama kita dalam sebuah kelompok/organisasi. Ya, karena karakter mereka adalah cerminan masyarakat kita, begitu kata temanku ini.

Temanku berkata tetaplah dengan prinsipmu, tetaplah kuat, dan jangan mudah dilemahkan oleh kata-kata negatif mereka. Jika kita salah akui kesalahan dan perbaiki. Aku cukup tergugah dengan caranya bersikap. Ini bukan sekadar kata-kata karena dia memang menjalankannya. Aku tahu itu berat.

Sekali aku pernah berhadapan dengan seseorang yang sangat sinis, selalu iri dan mencari-cari kesalahan diriku. Dia seperti mendapat kemenangan ketika dapat menyalahkanku dengan kekuranganku. Orang seperti itu pernah membuatku menarik diri bahkan hingga keluar dari sebuah organisasi. Aku merasa tidak nyaman dan berbaur bersama orang seperti itu hanya akan merusak diriku. Ya, aku memilih menghindar dan yang paling menyedihkan aku keluar dari kelompok, aku tampak sudah menyerah dengan keadaan. Aku melakukan ini karena tidak rela dan tidak mau mencederai diri lebih dalam lagi bersama toxic people.

Lalu bagaimana reaksi temanku ini? Dia juga mengalami hal yang sama, tapi dia lebih kuat dariku. Dia mencoba bertahan, tetap berjuang dengan visi dan misi organisasi dan mengabaikan orang-orang yang mencoba melemahkannya. Dia begitu kuat. Dia bisa menutup telinganya dari tuduhan-tuduhan dan ketidaksukaan beberapa orang yang iri terhadap perjuangannya. Dia mampu sekuat itu menghadapi karakter manusia-manusia yang secara langsung melemahkannya. Di sinilah aku berpikir, temanku ini adalah contoh terbaik untukku dalam perjuangan. Dia masih kuat tegak berdiri. Dia bukannya tidak merasa terpuruk dan dibuat tak berarti, tapi tekad dan niat baiknyalah yang membuatnya bertahan. Bukankah tujuan kita untuk kebaikan Rusyda, untuk ridha Allah? Kenapa harus kalah? Begitu katanya.

Di sini aku terpana. Dia benar-benar seorang pejuang. Dan aku masih saja dengan egoku tak mampu bersabar menghadapi tekanan-tekanan yang melemahkan. Temanku berpesan, jika aku berjuang pastikan aku siap menghadapi hal-hal terburuk dan mampu mengabaikan hal-hal yang tidak bermanfaat. Ah, betapa keras dan teguhnya.

Mitos dan Cara Kita Memahami Dunia

Mau ngelanjutin cerita sebelumnya jadi gak selera hahaha. Apa pentingnya bahas si The Mask. Udah kayak mak lambe aja nanti. Bahas yang lain yuk!

Mari ngomongin mitos aja. Sebenarnya saya udah capek dan ngantuk karena kurang tidur setelah ngurusin berkas naik pangkat, tapi entah kenapa malah pengen bahas ini. Nah, mitos adalah sesuatu hal baik itu benda, tanda, fenomena, dan kisah yang tidak terbukti kebenarannya. Hanya saja mitos ini sudah mengakar dalam kehidupan manusia. Dari jaman batu hingga sekarang mitos selalu tumbuh di berbagai belahan masyarakat dunia. Bahkan, masyarakat Yunani yang dianggap pendorong lahirnya Renaissance malah hidup dengan pikiran-pikiran khayalan semacam mitos. Mereka merekayasa cerita para dewa-dewa dengan kisah khayalan dan menjadikannya sebagai pesan moral bagi masyarakatnya. Banyak kisah dewa-dewanya yang menjadi pelajaran kehidupan mereka. Misalnya kisah tentang Narsiscus yang hobi memandang keindahan wajahnya di air danau hingga membuatnya terlena hingga terjatuh dan tenggelam ke danau. Atau cerita tentang Medusa, wanita cantik yang karena kesombongannya dikutuk memiliki rambut ular. Atau kisah cinta Orpheus dan Euridike yg di sana mensyaratkan Orpheus agar tidak menengok ke belakang saat menjemput Euridike ke dunia kematian. Ya begitulah, sangat khayali sekali kisah-kisahnya. Namun di balik itu, nama-nama dewa ini ternyata banyak menjadi inspirasi untuk pemakaian istilah-istilah di zaman modern seperti penggunaan kata narsis, hedon, echo dll. Ini kisah dari bumi Eropa. Bagaimana pula mitos dari Timur? Mari kita ulas berikutnya.

Tak berbeda dengan di Eropa, masyarakat Timur khususnya Indonesia juga memiliki kebiasaan yang sama. Mereka membangun karakter masyarakat lewat cerita (narasi) dengan memasukkan pesan-pesan moral. Sangat benar sekali jika cerita atau bernarasi adalah cara terbaik dalam menyampaikan pesan. Di Timur, cerita-cerita rakyat juga banyak dibumbui mitos. Khayalan-khayalan yang pada akhirnya tumbuh menjadi kepercayaan masyarakat, seperti kisah Sangkuriang dengan tangkuban perahu, Malin Kundang yang dikutuk jadi batu dalam keadaan bersujud, Bandung Bondowoso dengan kisah pembangunan candinya dll. Kisah-kisah ini mengandung pesan moral di dalamnya agar manusia belajar dari kesalahan, jika tidak maka akan mengalami ketidakberuntungan seperti yang dikisahkan. Ada kesamaan kan antara kita dengan masyarakat Yunani? Dan budaya berkisah ini hidup di seluruh belahan bumi ini.

Secara umum, manusia suka berkisah dan menyampaikan pesan moral melalui kisah. Mungkin ini pula yang menjadi alasan kenapa Allah memberikan pesan moral pada umat manusia melalui kisah para Nabi dengan umat mereka. Kisah lebih gampang dipahami dan masuk ke hati. Akan tetapi Al Quran tentu berbeda kisahnya dengan legenda atau mitologi yang dibuat manusia. Kita bicara antara fakta dan fiksi.

Lalu apa selanjutnya? Jadi poin lainnya adalah mitos-mitos yang berkembang ini justru mengandung kebohongan. Walaupun di sisi lain mitos hidup di masyarakat kita sebagai bentuk ajaran nenek moyang dalam menyampaikan nilai moral. Contohnya mitos menggunting kuku malam-malam bisa diterkam harimau, padahal mungkin maksudnya agar jangan sampai melukai jari tangan karena zaman dulu orang belum punya penerangan seperti saat ini. Atau ada pula yang mengatakan anak perempuan jangan duduk di pintu biar tidak susah jodoh, padahal maksudnya agar jangan menghalangi orang lewat. Ada pula ibu hamil gak boleh ini itu nanti anak jadi begini begitu. Mungkin pesannya adalah agar nanti si anak tidak dibahayakan oleh perilaku si ibu atau tidak meniru hal-hal yang buruk di kemudian hari. Kita terbiasa dididik dengan kebohongan atau istilah sekarang yang populer adalah hoax. Dari zaman dulu hingga sekarang apakah itu untuk kebaikan atau keburukan, manusia sudah sudah terbiasa menyebarkan hoax. Sekarang ini hoax berkembang dengan tujuan untuk memanipulasi, mempengaruhi, dan menipu pikiran orang atau membodohi orang. Sampai saat ini pula ternyata banyak masyarakat senang mendengar dan menyebarkan hoax yang bertebaran di manapun, khususnya media sosial. Apa mungkin karena pengaruh bagaimana mereka dibesarkan oleh mitos?

Bahkan, di zaman di mana dunia sudah secanggih ini banyak muncul mitos dengan versi berbeda untuk mengacaukan pikiran orang lain seperti pembahasan bumi datar dan bumi bulat yang tak berkesudahan, isu global warming dan vaksin yang kontroversial, serta mitos terorisme yang penuh kebohongan.

Jadi asal usul saya menulis tentang miyos adalah tadi pagi saya membaca berita yang memperlihatkan awan di kota Padang seperti tersibak oleh angin berkekuatan besar hingga membentuk sebuah corong atau sorotan. Ada yang bilang itu adalah awan penanda gempa besar. Maka segeralah saya googling tentang awan gempa. Rupanya banyak juga ulasannya. Ada bantahan ada persetujuan. Nah, kalau sudah begini kita dihadapkan pada mitos yang membutuhkan penjelasan ilmiah dan harus kuat pembuktiannya. Jadi, pahamkan maksud saya membahas seputar mitos ini? Ya semacam berita yang menyimpangkan pikiran tapi hidup dengan akur di kehidupan kita.

What da fake!

Ini sangat lucu. Apa itu? Manusia suka sekali menipu dirinya. Semua orang tahu ini dan bisa jadi sering melakukannya. Di luar sana banyak orang memasang topengnya saat berhadapan dengan orang lain. Topeng ini suatu yang membahayakan. Membahayakan diri sendiri dan orang lain. Pagi ini saya tergelitik untuk membahas ini karena menemukan fakta yang cukup membuat miris di lingkungan sekitar saya. Ini menyedihkan karena kita melihat orang-orang yang memakai topeng adalah orang-orang yang tak mampu menerima keadaan dirinya sendiri. Saat topeng itu lepas justru menjadi hal yang menyakitkan bagi orang-orang di sekitarnya. Yah, begitulah. Menyebalkan memang orang sepeti ini, tapi sayangnya mereka ada, adaaaa gitu loh. Ah, people… Kenapa sih orang suka memperumit hidup seperti ini dengan topengnya? ๐Ÿ˜‘

Tulisan ini akan saya lanjutkan nanti, harus berangkat ke kampus sekarang. Nitip topik seru dulu.

Ada Apa dengan Malam?

Kau tahu bagaimana menjadi kuat? Saat orang-orang membiarkanmu berjuang sendiri, dan kau masih punya semangat untuk melangkah tanpa ragu. Karena kau tahu, yang kau butuhkan adalah pertolongan Allah lewat orang-orang ikhlas. Apa kau tahu jika kau benar-benar kuat? Saat kau tak meminta lebih atas apa yg diberikan manusia padamu dan meminta Allah yang mencukupinya. Kau memang benar-benar kuat saat orang-orang memamerkan kebahagiaan mereka dan kau tak merasa sedih dan iri sedikitpun karena kau tahu bagian mereka bukan bagianmu, begitu juga bagianmu bukan bagian mereka.

Kau tahu siapa yang menetapkan itu? Allah Yang Maha Besar, Maha Memberi kecukupan dan Maha Menyayangi. Belum tentu apa yang diberi Allah untuk orang lain akan membuatmu bahagia. Allah hanya menyuruhmu untuk bersyukur atas apa yang kau punya dan ada waktunya bagianmu akan tiba sesuai yang diinginkan Allah. Bisa jadi kehidupan yang kau harapkan dari yang dipunyai orang lain bukan sesuatu yang kau butuhkan. Bukan berarti kau tak boleh meminta pada Allah. Tapi tentunya Allah akan beri sesuatu yang terbaik untukmu. Kau percaya kan Allah Maha Melihat dan Mendengar harapan-harapan di dalam dadamu? Jadi, tetaplah bahagia dan bersyukur.

Saya selalu datang ke rumah kedua ini, ya ke blog ini untuk merefleksi diri. Tempat ini semacam sanctuary untuk saya. Tempat nyaman untuk melepas semua yang terasa. Tempat menemukan diri saya kembali, dan tempat untuk membangun kekuatan diri. Bahkan mungkin tempat pelarian dari kusut dan riuhnya dunia. Ternyata masih ada rumah lain untuk bersinggah. Di sini saya bisa berbincang lebih lama dengan diri sendiri. Sepertiga malam belum cukuprasanya untuk diri dan Rabb saya. Ah, kenapa tiba-tiba jadi sedih begini. Kok airmata sampai merembes hingga ke kelopak mata. Mungkin karena apa yang saya rasakan malam ini.

Jika saya pulang dari kampus selepas maghrib, selalu ada perasaan ganjil yang menyergap saat saya berdiri menunggu kendaraan umum untuk pulang. Saya seperti berdiri di tempat asing melihat malam semakin kelam. Melihat mobil-mobil melintas, perasaan asing itu semakin asing. Saya merasa asing. Malam bukanlah waktu yang tepat untuk saya. Orang-orang yang warungnya saya jadikan tempat berteduh ketika hujan selalu bertanya kenapa saya sendiri. Ah, mereka tak tahu. Jika keluarga saya ada di kota ini tentu saya tidak akan sendiri malam-malam begini. Ternyata, kita butuh kehadiran keluarga di kota ini.

Entahlah, sejak saya kuliah ke luar pulau dulu justru sendiri bukanlah hal yang asing dan menyedihkan. Sekarang saat saya pulang ke kampung halaman, kesendirian menjadi hal aneh dan tak menyenangkan. Kadang suasana lingkungan dan karakter orang-orangnya bisa mengubah perasaan dan persepsi kita. Di kota ini orang terbiasa dimanjakan pasangannya. Sedangkan di kota besar, bukanlah keanehan melihat perempuan tak ditemani laki-laki. Memang ada baiknya perempuan tak boleh pulang melewati Maghrib. Tak elok dan tak aman rasanya. Pantaslah perasaan saya selalu tak enak kalau sudah kesorean atau pulang di awal malam begini.