Narasi Kontemplasi

Ilmu dan Perjalanan


Hidup adalah perjalanan. Terkadang memang tidak selalu kita tahu aturan mainnya hingga mesti terjatuh dulu baru menyadari kesalahan. Bisa juga kita melaluinya dengan seperangkat pengetahuan yg memandu hingga kesalahan-kesalahan bisa teratasi. Namun, bagaimanapun, hidup akan selalu memberikan ujian dan permasalahan baru dan kita tak tahu rumusnya. Kita meraba-raba, menerka-nerka, menimbang-nimbang, bahkan bisa jadi memakai suatu stategi tertentu untuk menjalaninya, akan tetap saja itu adalah sebuah ujian yang baru. Maka, bisa dipastikan ada kesalahan-kesalahan yang dilakukan. Atau bisa juga manusia diberi permasalahan yang sama tetapi tak mampu atau lupa mengidentifikasinya hingga mengulangi kesalahan yang sama karena tidak berhati-hati. Semata-mata semua itu karena manusia sangat sedikit ilmunya dan sering mengikuti kehendaknya saja. Tidak tahu mana yang baik dan buruk untuk dirinya, kadang tahu tapi memaksakan kehendak. Saat menyadari kesalahan barulah dia mengerti.

Manusia akan selalu diuji dengan sesuatu yang sering membuatnya terkecoh dan terlalaikan. Dia akan diuji dengan sesuatu yang terlalu disukainya atau hal-hal yang tak disukainya. Seberapa tangguh manusia dalam menjalani dan menyelesaikan masalahnya, maka di situlah keberhasilannya dalam menjalani hidup. Itulah mungkin yang dinamakan tingkatan ujian dan orang-orang yang berhasil akan naik derajat ke yang lebih tinggi di sisi Allah Swt. Jika dia masih gagal, maka ujian yang sama akan terus menghadangnya sampai dia melewatinya. Subhanallah.

“Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapai (derajat itu) dengan amal-amal kebaikannya, maka Allah akan menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu.” (H.R. Athabrani)

Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya lemah dia diuji dengan itu (ringan) dan bila imannya kuat dia akan diuji sesuai dengan itu (keras). Seseorang akan diuji terus menerus sehingga dia berjalan di muka bumi ini bersih dari dosa-dosanya” (H.R. Bukhari)

Islam sudah memberi sekumpulan aturan sebagai panduan. Apa pun ujian dan permasalahannya akan dapat diselesaikan asal selalu merujuk pada aturan tersebut. Seringkali, manusia lupa untuk menguasai atau mengabaikan aturan-aturan tersebut hingga membiarkan hasrat dan keinginan yang menguasai. Maka wajar terjadi kesalahan yang tak bisa dielakkan. Ya, mengabaikan aturan adalah kesalahan paling sering dilakukan. Tapi yang paling fatal adalah tidak mempelajari aturan. Maka saat kesalahan terjadi dia tak sadar jika itu adalah sebuah kesalahan. Ini cukup mengerikan jika kita tak tahu kesalahan kita. Artinya, tidak akan ada kesadaran untuk memperbaiki diri karena apa yang dilakukannya masih dianggap benar, dia hanya menganggap kurang beruntung saja.

Sampai di sini, yang ingin saya katakan adalah sangat penting sekali untuk berilmu sebelum beramal. Penting untuk mengetahui aturan-aturan dalam menjalani kehidupan. Dengan demikian kita akan terhindar dari kesalahan. Jika kita salah akan segera beristighfar dan memperbaikinya.

Bagi seorang muslim penting baginya untuk mengkaji aturan dalan Al Quran dan hadis sebagai sumber utama aturan. Kita bisa memperdalamnya lagi dalam kajian qiyas dan ijtihad, serta ijma’ atau kesepakatan para ulama.

Dalam Islam, menuntut ilmu adalah wajib. Ilmu yang utama adalah ilmu Islam yang akan menjadi landasan dan panduan dalam kehidupan. Ilmu-ilmu untuk urusan dunia pun tak lepas dari perhatian dalam Islam agar manusia mengetahui cara memfasilitasi dan memenuhi kehidupannya dengan baik. Maka dari itu, mari kita semakin bersemangat dalam menuntut ilmu, terutama ilmu Islam. 😊

Photo credit here

Release it, content it!


Tuhan mengujimu sampai kau benar-benar tangguh. Hingga yang tersisa adalah penyerahan dirimu pada-Nya seutuhnya. Lalu,  kenapa masih berusaha mengambil alih semua urusan seolah kau mampu mengendalikannya sekehendakmu? Berhentilah. Serahkanlah dan lepaskanlah. Itu lebih baik bagimu. Karena dirimupun seutuhnya adalah milik-Nya.

Berhentilah mengkhawatirkan segala sesuatu, kecuali amalmu pada-Nya. Berhentilah memaksakan sesuatu yang kau tak tahu baik buruknya. Berhentilah memikirkan sesuatu yang tak membawa peningkatan derajatmu di hadapan Tuhanmu. Berhentilah membuat dirimu berlelah-lelah untuk sesuatu yang tak bermakna bahkan sia-sia.

Allah dekat, lebih dekat dari urat nadimu. Dia menggenggam hati dan jiwamu. Kemana kau akan pergi? Kemana akan lari? Ah, jahat sekali saat kau berpaling dan mencari pertolongan selain dari-Nya. Kau membiarkan dirimu terlunta-lunta mencari pertolongan lain. Akhirnya, tercabik-cabik hilang arah.

Sudah cukup menyibukkan diri dengan pikiran dan kehendakmu sendiri. Lepaskanlah dan serahkan pada Allah. Kau akan terbebas, ternaungi, terampuni, dan terberkahi. Kau akan dicintai dan ditunjuki.

Lepaskan dan serahkan semua pada Allah.

A profane life

Hidup itu tidak suci. Manusia itu tidak suci. Manusia berbuat dosa setiap detik. Dosa kecil mana yang luput dilakukan dalam sehari? Ada saja kesalahan yang dilakukan, sadar atau tidak sadar. Sekali-kali karena manusia itu bukan makhluk suci. Kita harus tercabik-cabik, berdarah-darah, bahkan seperti ditarik untuk sekadar mengalami dosa. Dosa yang kita perbuat atas kebodohan diri, kelalaian diri, dan ketidaksabaran. Dosa yang menjadi bukti betapa kecil dan lemahnya kita. Apa yang kita banggakan sebagai manusia? Tidak ada! Kita sangat lemah; tak punya kuasa dan kendali; mudah tergelincir dan terkecoh; sedikit sekali ilmu yang dipunya.  

Rahmat Allah-lah yang telah meninggikan derajat manusia, yang membuatnya lepas dari dosa dan kesalahan. Jika bukan karena rahmat Allah, apa yang akan menolong? Tak ada. Maka mintalah selalu ampunan, pertolongan, perlindungan, kasih sayang, dan petunjuk dari Tuhanmu— Allah SWT. Dia-lah satu-satunya tempat meminta, berharap, dan bersandar. Atas kehendak dan kekuatan-Nya semua terlaksana. La haula walaquwwatta illabillahil ‘aliyyil’azhim. 

Allah, we are sinners. Please, forgive us.

Photo credit: here

Kemana Doa-doa Bermuara?

d702f04d86a0c229653b64e746d9fcae

Hari pertama di bulan Maret. Apa kabar? Sudah empat bulan rupanya aku tak pulang ke sini. Bukan tak ada yang akan ditulis tetapi dunia nyata tampaknya lebih menarik untuk “ditulis”.

Empat bulan bukan waktu yang singkat karena ada doa-doa yang selalu dirapalkan dan menunggu untuk dikabulkan. Memang tak selalu doa-doa dijawab secepat itu. Bahkan Allah sepertinya tak selalu berfokus pada apa-apa yang ingin kita capai. Dia ingin melihat kesungguhan dan kesabaran kita untuk tetap berdoa tanpa henti dan ragu serta hanya bersandar pada-Nya. Dengan kata lain, Dia menginginkan kedekatan itu terus berlanjut hingga kita tak lagi berfokus pada capaian-capaian kita tetapi justru menikmati saat-saat bersama-Nya. Bukankah itu sangat syahdu?

Sangat gampang bagi Allah untuk mengabulkan semua permintaan. Terkadang manusia memang egois karena seringkali hanya ingat akan keinginannya tapi lupa pada pemberi nikmat itu setelah didatangkan. Sangat tidak berterima kasih dan bersyukur. Untuk itu, kita memang harus selalu berpikir akan hal-hal mendasar ini, bahwa Allah hanya menginginkan ketaatan dan keterikatan kita pada-Nya.

Allah suka pada hamba-hamba yang selalu meminta kepada-Nya. Itu bukti bahwa manusia memang sangat membutuhkan Tuhannya. Akan tetapi, seberapa besarkah permintaan itu dibanding ketawakalan kita pada-Nya? Tawakkal berarti ikhlas dan mempercayakan semua urusan hanya pada Allah, dan tak ada kekhawatiran sedikitpun akan ketatapan-Nya. Tuhan tak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya. Kenapa ragu dengan keputusan Tuhan? Artinya semua harus disyukuri. Setiap ketetapan pasti ada kebaikan di baliknya. Tuhan tak pernah salah dalam menetapkan sesuatu. Dia lebih memahami qadar akan segala hal.

Percayakan saja semua urusanmu pada Allah. Semakin lama permintaanmu dikabulkan artinya semakin ingin Allah dekat denganmu. Kesulitan-kesulitan dan pengharapan itu bisa jadi jalan menuju dekat dengan Allah. Kelak mungkin kita tak akan lagi mementingkan itu. Tidakkah kau rindu pada-Nya? Sudah sampaikah sebuah hadis qudsi pada kita bahwa saat kita mendekat kepada-Nya sejengkal maka Dia akan lebih dekat sehasta. Saat kita berjalan kepada-Nya, Dia akan berlari menemui kita. Allah akan mengingat kita saat kita mengingat-Nya. Tak cukupkah kebahagiaan itu saat Allah senantiasa mengingat kita dalam dirinya? Bisa jadi itu satu hal yang akan kita dambakan pada akhirnya nanti, saat di akhirat, kita akan berbahagia saat catatan itu dibacakan.

photo credit: estuary photo

Apa Artinya Membaca?

14670847_1001785846616849_8442569675272830306_n

Ah, saya baru benar-benar menyadarinya sekarang. Padahal saya sudah tahu keadaan itu sebelumnya. Mungkin ini sesuatu yang disebut pengabaian dan berujung pada sesuatu yang semakin buruk. Kemampuan membaca. Ya, ini tentang kemampuan membaca mahasiswa saya yang saya abaikan selama ini. Saya sibuk memahamkan mereka berdasarkan pembacaan saya terhadap buku-buku yang saya baca dan permasalahan-permasalahan yang saya analisis sebagai kasus dalam perkuliahan. Beberapa hari yang lalu, saya menemukan fakta yang semakin membuat saya merasa bersalah. Why did I leave them (my students) in that condition? It makes me sad.

Beberapa hari yang lalu, tiga mahasiswa menemui saya. Mereka meminta bantuan untuk menafsirkan pembacaan saya terhadap sebuah buku karena ada dosen yang meminta mereka untuk membuat presentasi dari rujukan sebuah buku. Saya kaget, apakah mereka tak bisa membacanya? Ya, memang saya akui itu adalah buku terjemahan yang mungkin sulit mereka pahami. Rata-rata buku terjemahan memang seperti itu karena konteks bahasa dan persepsi tidak selalu sama, jadinya ketika diterjemahkan banyak hal-hal yang sulit dipahami karena perbedaan padanan konteks dan faktanya. Itulah sebabnya, menurut saya, penting menguasai bahasa asing, agar mampu memahami konteks bahasa tersebut. Ya, ini memang suatu variabel lain yang mempengaruhi kemampuan membaca seseorang. Dan itu mungkin akan butuh waktu. Bagaimanapun, kemampuan membaca sangat penting untuk menghasilkan pemahaman tentang suatu ide atau ilmu. Akhirnya, saya benar-benar terusik dengan kondisi mahasiswa di atas, walaupun pada akhirnya saya membantu mereka “membaca” beberapa bagian buku tersebut.

Apa yang salah dengan metode pembelajaran kita selama ini? Kita pendidik memberikan tugas membaca pada mahasiswa, tapi jarang sekali mengajari bagaimana cara membaca pada mereka. Mereka disuruh membaca buku teks, jurnal, dan bahkan buku berbahasa asing, tetapi tidak mengevaluasi dan mengoreksi hasil pembacaan mereka. Ini akan membuat mereka lama dan salah dalam memahami. Itulah sebabnya diskusi sangat penting. Seringkali mahasiswa diminta untuk presentasi, kemudian mereka dibiarkan begitu saya, tanpa ada penguraian lebih lanjut dari pendidik. Ini bencana ilmu namanya. Mahasiswa akan pulang dengan pikiran yang bingung dan tidak memahami apa yang telah dia lakukan. Semua menguap begitu saja.

Ini artinya, mendidik adalah masalah bagaimana belajar bersama-sama mereka hingga mereka sampai pada pemahaman tertentu. Jika kita memberikan bacaan pada mereka, maka mereka perlu mengutarakan hasil pembacaan mereka, dan kita perlu mendampingi mereka dengan memberikan hasil pembacaan kita juga. Pada beberapa mata kuliah saya melakukan ini. Saya tahu betapa rendahnya minat baca mahasiswa beserta kemampuan mereka memahami bacaan. Ini yang membuat saya tidak sabar kemudian mengganti metode ini dengan ceramah dan presentasi yang saya lakukan sendiri. Sayangnya, justru ketidaksabaran saya membuat mereka tidak tumbuh sebagaimana mestinya. Tugas membaca saya hilangkan dari rutinitas mereka. What a big mistake I’ve done! Artinya, yang makin sering membaca adalah saya, bukan mereka. Ya, mereka punya pemahaman yang baik dan kritis, tapi tidak terbiasa menggali dari proses belajar sendiri.

Saya teringat akan metode belajar pada sebuah kelompok dakwah yang saya masuki beberapa tahun lalu. Metode belajarnya sangat luar biasa. Dari sinilah saya belajar yang benar dalam membaca dan memahami. Pada metode belajarnya, pengajar akan meminta seorang anggota yang diajarinya membaca satu paragraf dari sebuah buku berbahasa Arab, kemudian menerjemahkannya. Pengajar akan mengoreksi jika ada kesalahan membaca dan penerjemahan. Setelah itu, pengajar akan menjelaskan makna dari kalimat per kalimat pada paragraf yang telah dibaca dengan referensi dari buku-buku pendukung. Artinya, ada proses membaca, mengenali bahasa bacaan, dan menganalisis makna bacaan, dan memperluas dan memperdalam materi. Ini proses belajar yang memberikan hasil luar biasa. Saya berani mengatakan jika hasil didikan seperti ini telah menciptakan orang-orang dengan pemahaman kuat dari proses belajar yang benar dan sistematis. Tentunya hasil tidak akan menyalahi proses.

Ini pembelajaran penting bagi pendidik, terutama saya. Saya suka membaca, saya membaca apa pun dari teks-teks berbahasa Indonesia maupun Inggris, tetapi saya tidak menularkan kebiasaan ini pada mahasiswa saya. Ketidaksabaran saya membuat saya mendidik mereka secara instan dan tidak mengakar proses belajarnya. Ke depannya harus ada kelas membaca agar tradisi membaca menjadi kebiasaan. Bukankah kita sadar bahwa tingkat membaca masyarakat kita sangatlah rendah, jauh dari standar rata-rata. Kita tak punya buku-buku wajib baca di sekolah. Kita punya perpustakaan di sekolah dan universitas, tetapi fungsinya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Perpustakaan kondisinya seperti museum, buku seperti barang antik. Proses menjadi anggota perpustakaan dipersulit, sistem kontrolnya pun sangat tidak efektif. Maka wajarlah jika banyak yang malas ke perpustakaan, banyak buku yang hilang tak kembali, banyak buku yang melapuk, bangku-bangku kosong, tak ada diskusi di ruang-ruang baca. Ini keadaan kita hari ini.

Mungkin situasi yang ideal baru kita temui di toko buku, sebutlah Gramedia. Di sana terlihat orang-orang yang punya minat membaca, punya keinginan untuk memiliki buku, membelinya, membawanya segera pulang, dan melahapnya. Bahkan di Jepang, ada istilah tsundoku orang-orang yang gila membeli dan mengoleksi buku, dan hanya membiarkannya tersusun di rak buku, hingga tidak sempat membacanya. Istilah ini tidak ada sinonimnya pada bahasa lain. Artinya istilah ini muncul dari gaya hidup masyarakat. Bahasa muncul dari gaya hidup dan mempengaruhi persepsi. What about us? Kita masih jauh dari hal itu. Semoga akan ada perubahan dalam sistem pendidikan kita, termasuk metode pembelajaran kita.

Ketika Mahasiswa Saya Bertanya

idea-edited

Hasil akhir dari pendidikan adalah mencetak generasi yang beriman dan bertaqwa, cerdas secara akademik, memiliki kesadaran akan lingkungan, serta memiliki visi untuk membangun peradaban menjadi lebih baik. Setidaknya itu yang ingin saya capai sebagai seorang pendidik.

Dalam tiap perkuliahan saya selalu meminta pendapat mahasiswa tentang berbagai hal, seperti isu-isu yang sedang tren saat itu, persepsi mereka tentang berbagai masalah sosial yang berkaitan dengan perkuliahan, serta solusi mereka dalam menyelesaikan masalah-masalah yang saya ajukan. Menurut saya, brainstorming sangat penting bagi perkembangan pemikiran mereka. Tujuan saya tidak lain adalah untuk mengukur kepekaan mereka terhadap lingkungan serta menuntut kepedulian serta kekritisan mereka menganalisis permasalahan. Kenapa saya melakukan itu? Sederhana saja, karena dalam hidup kita memang akan selalu dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan dan permasalahan-permasalahan yang datang silih berganti. Otak kita tidak akan pernah berhenti berpikir tentang ini hingga mati.

Di awal memang terasa berat bagi mahasiswa saya. Mereka seperti hilang ide, tidak tahu harus memberikan solusi dan opini apa. Bahkan ada yang sampai menguap-nguap segala karena hampir hilang akal (hehe…lebay). Saya berasumsi jika orang-orang yang tidak memiliki pemikiran dan solusi tentang sesuatu hal biasanya orang yang malas atau tidak terbiasa berpikir, kurang peka dengan lingkungan, jika ada masalah cenderung mengabaikan bukan menyelesaikan. Maka dari itu, ini adalah semacam simulasi atau latihan yang saya terapkan pada mereka. Setelah setengah semester berjalan, hasilnya lumayan terlihat. Mereka tidak lagi menjadi cuek, ngobrol sana-sini, dan menganggap kuliah hanya rutinitas membosankan.

Bagi saya pribadi, mendidik itu tidak gampang. Banyak yang harus diubah dari mahasiswa saya mulai dari etika, kedisiplinan, tradisi akademik, serta visi hidup mereka–paling tidak menjadi manusia baik dan bermanfaat bagi orang lain. Terkadang saya kurang sabar dan sedikit keras dengan meminta mereka berpikir seperti saya berpikir, meminta mereka lebih fokus dan serius dalam berpikir. Bahkan tak jarang ceramah kuliah berubah menjadi ceramah seorang ibu kepada anak, dan bisa seperti eksekutor hukuman saat mereka memperlihatkan sikap tidak baik dan melanggar komitmen kuliah. Ini juga yang terkadang membuat mereka terkaget-kaget dengan perubahan sikap saya yang kalem menjadi sedikit “ganas”.

Namun demikian, saya tak pernah berteriak, berkata-kata kasar, dan marah di depan mereka, hanya omongan yang agak sarkastik saja, dan bikin wow. Kata teman saya, cara ini yang membuat dia merasa tertampar tanpa dipukul. Itu sakiiit. Contohnya: “Kamu tidak perlu isi KRS dan masuk kelas saya kalau memang tidak ingin belajar, semua berawal dari niat.” “Saya lari-lari ke kampus sampai kelas agar tidak melebihi batas telat, kamu kok bisa-bisanya minta agar jumlah ketidakhadiranmu dikurangi karena sering telat?” “Hal-hal dangkal seharusnya tidak perlu dibahas dan dipertanyakan lagi, lebih baik pertanyaannya yang bisa dianalisis dan dikaitkan ke fakta-fakta lain.” Itu semua disampaikan sambil ngomong kalem loh. Semoga tidak ada yang tersinggung. 🙂

Bagaimanapun, mereka harus menjadi orang-orang yang kuat pemikiran dan baik perilakunya. Efek dari apa yang saya lakukan memang tidak sederhana. Pada akhirnya, keingintahuan dan kekritisan mereka membuat saya harus dihadang berbagai pertanyaan dan sanggahan dari mereka. What a life! Ini akhirnya mengajari saya untuk selalu sabar dan sadar dalam memberikan argumentasi logis dan menjauhi logical fallacies. Mereka tak boleh dibodohi dengan opini bohong dan logika yang salah. Sikap merasa paling benar, merendahkan, dan sok hebat itu berbahaya. Ini yang sangat saya takutkan. Saya mewanti-wanti mahasiswa agar jangan sampai bersikap demikian.

Pernah mahasiswa saya bertanya apa pendapat saya tentang memilih pemimpin nonmuslim. Saya ada di pihak mana dan apakah salah jika memihak? Ketika saya menjelaskan karakter budaya masyarakat, mereka selalu menanyakan karakter saya seperti apa, identitas apa yang saya pilih dan prioritaskan. Mereka bisa bertanya sampai sejauh itu. Itu tidak mudah menjawabnya karena harus memberikan keadilan berpikir. Saya selalu mengatakan, tiap orang berhak dengan pilihan-pilihannya. Pilihan-pilihan itu tentu didasari oleh pemikiran, ideologi, atau identitas yang mereka utamakan. Manusia dengan banyak identitas yang dimilikinya tentu memiliki satu identitas yang ditonjolkannya yang bisa dipengaruhi oleh agama, etnis, aliran politik, ideologi ekonomi, kewarganegaraan, dll.

Dari sekian banyak identitas itu, saya mempertanyakan kekonsistenan mereka dalam menjaga identitas yang mereka prioritaskan. Kita tidak bisa mengatakan identitas kita adalah seorang muslim jika pemikiran, perilaku dan cara berpakaian kita jauh dari nilai-nilai keislaman. Identitas itu membutuhkan  pertanggungjawaban. Benar jika identitas ada yang sifatnya permanen dan ada yang tidak permanen (bisa diubah). Sesuatu yang sifatnya permanen adalah bawaan lahir seperti jenis kelamin dan ras, sedangkan nilai-nilai yang dianut bersifat dinamis dan sangat mungkin berubah. Di sinilah dituntut kesadaran manusia terhadap dirinya, mencari jati dirinya.

Tampaknya saya memang terpengaruh dengan aliran filsafat eksistensialisme. Ini yang mengajari saya menjadi manusia yang mengada (efek kuliah Critical Theory di Sastra). Dalam hal ini, saya hanya mengambil konsepnya saja, karena seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa manusia itu nilai-nilai yang diadopsinya bersifat dinamis, akan ada perkembangan pemikiran, perubahan, dan penambahan karena proses belajar yang membuat mereka menganut nilai-nilai baru, mengasimilasikannya, ataupun mengintegrasikannya. Kita hari ini tidak sama dengan yang dulu dan hari esok. Semoga apa yang kita yakini dan pilih adalah hal yang lebih baik yang akan mengarahkan dan mengembalikan kita kepada jalan yang diridhai Allah.

Pic credit: http://www.click4assistance.co.uk/dyn/blogs/idea-edited.gif

Don’t Be Hasty

hastiness

Adakah yang lebih berat daripada perang melawan diri sendiri? Ketidakmampuan mengelola emosi dan keinginan adalah hal terberat saat kita secara dramatis menganggap itu suatu hal yang harus dipenuhi–dilaksanakan sekarang juga. Melelahkan harus menahan diri dan mengontrol pikiran sendiri. Benar rupanya jika rasionalitas tidak bisa sejalan dengan perasaan/emosi. Mereka berada di jalur sel saraf yang berbeda. Tak bisa disatukan, kecuali kita mengambil jeda sejenak. Jeda ini berarti menunggu, masuk ke ruang kosong, kemudian mempertemukan isi pikiran dan hati yang berseteru. Kita akan menemukan makna saat kita memberi waktu, saat tidak terburu-buru.

Dalam kajian Psikologi, kita mengenal kecerdasan emosi untuk pengelolaan emosi. Kecerdasan emosi berarti melibatkan kemampuan berkomunikasi dengan diri sendiri. Membiarkan pikiran dan perasaan kita bercakap-cakap, menimbang-nimbang berbagai hal, kemudian memutuskan. Ini lebih sulit daripada berkomunikasi dengan orang lain. Artinya, penyelesaian masalah di atas tak cukup diselesaikan dengan komunikasi intrapersonal, tapi membutuhkan komunikasi antarpersonal. Kita memberikan kesempatan pada orang lain untuk mendekonstruksi pikiran dan perasaan kita.

Selain itu, cara untuk melepaskan masalah di atas adalah dengan menangis. Ini cara sederhana yang ampuh. Setelah menangis biasanya pikiran dan perasaan akan lebih rileks. Sel-sel otak disegarkan kembali. Kita pun lebih waras dari keadaan sebelumnya. Ini memang selalu ada hubungannya dengan kajian Neurologi dan Psikologi. Sayangnya, saya kurang mendalami kedua ilmu itu sehingga proses ilmiahnya tidak tergambar secara jelas dalam tulisan ini.

Cara lain yang juga ampuh adalah beribadah. Spiritualitas sangat membantu menenangkan. Hubungan antara manusia dengan Tuhannya menembus batas-batas dan memberikan efek psikologis yang positif. Banyak mengingat Allah dengan beristighfar (memohon ampun pada Allah) dan memperbanyak dan memperpanjang doa terbukti mampu mengangkat beban pikiran dan perasaan. Ketika semuanya dikembalikan pada Allah, bukankah tak ada yang perlu dikhawatirkan? Karena semua berjalan atas kehendak Allah. Jikapun ada keingingan tidak terwujud, kita bisa ikhlas menerima.

Cara lain yang saya terapkan untuk mengelola emosi adalah dengan mengkonsumsi minuman berkafein. Ini cukup membantu memberikan sensasi menenangkan mood yang turun naik. Walaupun ini sifatnya sementara, tak ada salahnya juga dicoba. Tapi, saya tidak berani berlebihan mengonsumsi kafein khawatir memberikan efek kesehatan yang buruk.

Apa pun itu, kita harus selalu beri waktu. Sikap impulsif dan terburu-buru membuat masalah menjadi semakin runyam dan kita tak lebih dari orang mabuk yang berusaha memutuskan perkara. Jika kita sampai melakukannya, maka bersiaplah dengan masalah baru yang lebih buruk lagi. Jika pernah melakukan kesalahan itu, maka masuk ke lubang yang sama adalah kebodohan besar. Be sane!

I’m on my way to be sane right now. This short writing helps me a lot. 🙂

Photo credit: https://id.pinterest.com/pin/77687162294354456/

Menghitung Kesedihan dan Kebahagiaan

post-notes-corkboard-smiley-sad-cartoon-face-expression-happiness-versus-depression-concept-two-stuck-message-45726191

Setiap kali pulang ke rumah setelah aktivitas di luar, saya selalu berusaha mengingat apa saja kesedihan yang saya alami, berapa banyak kebahagiaan yang didapat, serta apa saja hal-hal menyebalkan yang merusak hari itu. Selain itu, yang terpenting adalah mengingat apa saja hal-hal yang harus saya syukuri dan renungkan.

Kebahagiaan yang besar ternyata bisa menghilangkan kekesalan dan kesedihan yang sedikit. Kesedihan yang banyak juga bisa menghapus kebahagiaan yang sedikit. Pernah suatu kali saya bertemu di bis dengan orang yang masuk ke dalam daftar orang paling menyebalkan yang pernah saya temui. Malam itu juga, semua kebahagiaan yang saya dapatkan dari pagi hingga sore hari hilang tak berbekas gara-gara di pengujung sore bertemu orang tersebut. Bagaimana tak menyebalkan jika dia yang posisinya adalah orang asing mencampuri privasi hidup saya dengan menanyakan secara detail tentang diri saya, pekerjaan saya, dan penghasilan saya. Hey, who do you think you are, man? Bahkan sampai-sampai menasihati dan menghakimi hidup saya yang dia tak tahu apa-apa sedikitpun. Kesalahan saya adalah terlibat pembicaraan dengannya. Akhirnya, saya simpulkan bahwa tak perlu meladeni setiap ajakan berkomunikasi jika lawan bicara tidak memiliki etika berkomunikasi. Mendiamkannya adalah yang terbaik daripada sampai pada sebuah komunikasi yang tidak efektif. Nah, itulah contoh betapa sebuah hal yang sangat menyebalkan bisa merusak kebahagiaan. Ini hanya bukti bahwa ada loh orang-orang sok tahu tapi tidak tahu harus berbuat apa dalam hidupnya kemudian berusaha mencampuri hidup orang lain. Orang-orang seperti itu sangat butuh pertolongan karena hidupnya menyedihkan.

Mengingat kesedihan, seharusnya muncul pertanyaan apakah yang sedang kita rasakan adalah keputusasaan, kelemahan atau rasa tidak bersyukur? Jika ketiga hal itu yang meliputi pikiran maka tak ada pilihan lain selain kesedihan yang muncul. Jadi, jika kesedihan datang, pikirkanlah ketiga hal itu, kita sedang dalam keadaan bagaimana sebenarnya. Setidaknya, saya sering berhasil mengidentifikasi kondisi saya kemudian menata kembali pikiran secara rasional setelah merefleksi diri. Sangat mengkhawatirkan jika dalam kesedihan ternyata kita justru sedang mengingkari rahmat Allah yang banyak dengan merasa diri tidak bahagia dan banyak kekurangan. Atau merasa putus asa padahal belum sepenuhnya berusaha. Malaikat mungkin akan sinis melihatnya. Jadi, tak baik baper berlama-lama. Jika pada faktanya ada orang-orang yang dilebihkan oleh Allah dari berbagai hal yang menyenangkan di dunia, bukan berarti Tuhan tidak adil, karena itu bukan ukuran Allah dalam memandang seseorang.

Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya. (Quran surah Al Isra ayat 21)

Lihat, betapa filosofisnya Allah mengajak kita berpikir mendalam memahami makna hidup. Bukankah yang diinginkan-Nya seberapa taat kita kepada-Nya. Secara esensi, ketaatan itu dimaknai sebagai kebahagiaan.

Pada faktanya, kebahagiaan itu sangat banyak dibandingkan kesedihan. Bahagia dengan apa yang dimiliki. Perlu diperhatikan, untuk hal ini kita harus membedakan antara pasrah dengan keadaan dan optimis melangkah ke depan. Jika ada sesuatu yang memang tak membawa perbaikan dan kemajuan, bukan berarti kita harus tinggal lama berada dalam ketidakmenentuan. Diri kita terlalu berharga untuk disia-siakan oleh keadaan yang tidak mendukung dengan baik. Jika punya kekuatan dan keyakinan bahwa keadaan akan berubah maka bertahanlah, jika tidak maka tinggalkan. Beri waktu untuk berkontemplasi dan mencari ruang baru.

Mengapa saya menulis tentang ini? Tujuan awal saya adalah untuk melepaskan beban psikologi, karena menulis adalah salah satu caranya. Saya menulis manajemen emosi ini untuk diri pribadi, kalau-kalau di kemudian hari saya lupa saat mengalami masalah psikologi. Kadang pikiran yang stabil dan tenang dapat dikacaukan oleh situasi insidental yang membuat proses berpikir menjadi terburu-buru dan tidak terarah. Beri waktu untuk berpikir secara bijak di ruangan yang tenang dan nyaman, jauh dari keriuhan. Tuhan selalu dekat di tempat-tempat seperti itu, kecuali jika pikiran memang tidak tertuju pada Tuhan maka apa daya, di tempat yang eksklusif sekalipun keputusasaan tak akan habis-habisnya.

Saya mengimani Allah, itulah sebabnya semua hal selalu kembali ke sana. Dari tidak ada, saya menjadi ada, hingga nanti akan kembali kepada ketidakadaan. Itu sudah cukup menjelaskan tentang siapa saya. Artinya, keyakinan ini yang membentuk diri saya dan cara saya mengelola hidup.

Dunia ini terlalu riuh. Tak semua harus dituruti. Kita perlu mengambil ruas jalan sendiri untuk memahami esensi diri. Seperti kata sebuah kutipan yang sangat membekas bagi saya: Follow your heart, but take your brain with you. Tuhan sangat tahu kenapa memberi bekal akal pada kita.

The Lone Ranger itu tidak ada, hanya nama film saja

 

the_lone_ranger_movie-wide

Saat sendiri, kita sering merasa tidak berdaya padahal banyak orang di sekitar kita. Apalagi keadaannya adalah saat Anda sendirian dalam berjuang. Anda tak punya orang-orang di sekeliling Anda yang memiliki cita-cita sama dan pemikiran yang bisa dibagi bersama. Mereka hanya mendengar tapi tidak mengulurkan tangan dan ide. Ya, Anda semacam The Lone Ranger.

Mengubah keadaan tak bisa sendiri. Kita perlu mengumpulkan kekuatan untuk melakukannya. Sedihnya adalah saat Anda ingin menyatukan kekuatan, ada orang-orang yang terlihat ogah-ogahan. Itu hanya membebani dan tak perlu dilakukan karena secara materi tidak menguntungkan, mungkin begitu pikir mereka. Apa Anda sedih melihat situasi itu? Dengan kondisi seperti itu, tampaknya keadaan tidak akan berubah.

Saya harus mengatakan bahwa keadaan di atas sering mendorong seseorang untuk keluar dari lingkungan itu dan mencari yang baru. Jalan pintasnya memang demikian. Sampai kapan akan menunggu? Toh, kekuasaan saja tak punya, apalagi orang yang berkuasa tidak memiliki visi yang sama. Dorongan untuk pergi semakin menjadi-jadi.

Saya jadi teringat pada seorang teman. Entahlah, saya tidak tahu apa masih harus menyebutnya sebagai teman karena pertemanan kami tidak semulus yang diharapkan. Lepas dari itu, dia pernah berkata bahwa kondisi di atas sangat mustahil bisa diubah dengan tangan satu atau dua orang yang tak punya kekuatan. Itu karena semesta sistemnya tidak menghendaki perubahan itu sendiri. Seperti kata teman saya yang lain, mengubah sistem dari dalam itu sangatlah sulit, makanya dibutuhkan orang-orang baru dari luar untuk menggantinya. Hanya saja, ini bukan sistem sosial, tapi sebuah lembaga profit yang melayani kepentingan publik dengan struktur yang telah ditetapkan dari atas secara terpimpin bukan dimusyawarahkan apalagi voting. Ini tentu tidak setara jika dibandingkan.

Saya dalam kondisi ini justru teringat pada dokter Kang Mo Yeon, salah seorang tokoh utama dalam serial drama Descendants of The Sun. Dia pernah berkata pada Captain Yoo Si Jin, jika Si Jin tidak datang pastilah dia telah lari meninggalkan medan bencana. Waktu itu gempa bumi melanda sebuah wilayah dan menelan banyak korban. Dia berpikir demikian karena merasa sendiri, tak ada yang menguatkan dan memegang erat tangannya untuk bergerak bersama sebelum Si Jin datang. Saya hanya balik berpikir, kenapa harus memilih di posisi dokter Kang Mo Yeon bukan Captain Yoo Si Jin? Menjadi Yoo Si Jin sungguh berat. Dia mungkin memang terlahir menjadi The Lone Ranger, ah tapi dia tidak sendiri juga karena memiliki tim solid seperti Alpha Team. Jadi, The Lone Ranger itu siapa? Tak ada. Mungkin Batman atau Soe Hok Gie? Ah, cedih…

Saat ini, saya hanya ingin merenung dan berpikir lebih jernih dan bijak. Mungkin saya ini hanya sedang lebay. Kalaupun jejeritan orang hanya akan mendengar, tapi tidak menolong. Ah, tambah desperate saja. Jika saya tetap tinggal, apakah saya kian hari kian melemah kemudian menjadi bagian dari arus utama yang akhirnya melepaskan cita-cita untuk mengubah keadaan? Saya akan beri tahu seiring berjalannya waktu. Seiring semakin kencangnya badai otak yang menyerang.

Menulis seperti George Orwell

George-Orwell-Quotes-Thinking

Apakah Anda pernah ingin menjadi penulis? Ketika memulai sebuah tulisan apa yang melatarbelakangi Anda membuatnya? Untuk pemula, sepertinya belum membuat target yang jelas dalam tulisannya, mungkin baru dalam rangka mengasah keterampilan menulis. Ada yang memulainya dengan menulis resensi, membuat puisi, menulis surat pembaca, atau sekadar berbagi pengalaman di blog, atau yang paling mudah adalah membuat status yang cukup panjang di media sosial.

Penulis yang benar-benar serius akan menjadikannya sebuah rutinitas dengan capaian yang jelas. Pada umumnya, orang menulis dilatarbelakangi oleh empat tujuan berikut ini, sebagaimana disimpulkan George Orwell-seorang penulis brilian kenamaan Inggris-dalam esai politiknya “Why I Write“:

  1. Sheer egoism

Banyak orang menulis karena ingin dikenang oleh sejarah, ingin dikenal dan diakui keilmuan dan kepintarannya. Pramoedya Ananta Toer tampaknya sepakat dengan alasan menulis karena hasrat egoisme ini. Dia pernah berkata dalam Rumah Kaca, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Memang tak bisa dipungkiri, alasan ini penggerak terbesar orang menulis. Tapi setidaknya, mereka berbagi kecerdasan dan ilmu yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Hanya saja, tentu tak cukup hanya ingin diakui dan dikenang, tentu dipertanyakan juga arah tulisan-tulisannya. Karena sekali-kali, penulis yang benar-benar menulis tidak pernah menulis sesuatu yang tidak memiliki maksud.

2. Aesthetic enthusiasm

Sebagian orang menulis karena ingin berbagi hal-hal yang mereka anggap indah atau bermakna estetik. Kenapa orang menulis puisi dan prosa? Salah satunya adalah karena alasan seni ini. Mereka mengerti bagaimana membahasakan keindahan hingga pembaca ikut bahagia dan menikmatinya.

Saya dulu sangat suka menulis puisi. Waktu masih kuliah, saya menempel puisi-puisi itu di styrofoam catatan dan timetable untuk diri sendiri. Teman-teman saya membacanya dan mereka menyukainya. Akhirnya saya jadi tergerak untuk membaginya di mading kampus dan majalah agar orang ikut merasakan apa yang saya tulis. Ketika ada yang bilang, “kok kamu bisa sih nemu diksi kayak gini?” Dibilang seperti itu saja saya sudah senang sekali.

Begitu juga dengan karya prosa seperti novel yang kata-katanya sangat memerhatikan prosodi (rima dan pola bunyi). Tak jarang pembacanya menemukan makna yang lebih mendalam dan indah untuk diimajinasikan dan rasakan. Artinya, betapa pentingnya unsur estetika ini mendorong seseorang dalam menulis.

3. Historical Impulse

Orang-orang terkadang menulis karena dorongan ingin mengompilasikan atau mendokumentasikan hal-hal penting yang pernah terjadi di era mereka untuk keperluan generasi mendatang. Mereka ingin mewariskan apa yang dimiliki peradaban masa itu untuk dipelajari, dikenang, atau dipertimbangkan pada peradaban manusia selanjutnya.

Kita sangat berterima kasih pada orang-orang yang telah menuliskan peristiwa sejarah di masa lampau, atau menuliskan tradisi-tradisi budaya etnis yang berkembang dulu. Tulisan-tulisan dengan latar belakang penulisan seperti ini bisa juga berupa temuan-temuan penting dalam ilmu pengetahuan. Dari sana kita belajar dan menghargai apa-apa yang telah dilalui manusia dalam hidupnya. Itu semua menjadi bekal dan pembelajaran di masa mendatang. Seperti kata Orwell dalam 1984, “He who controls the past controls the future. He who controls the present controls the past.” Bagaimana ini terjadi? Salah satunya adalah karena pengaruh tulisan.

Saat ini, banyak orang berusaha menuliskan nilai-nilai budaya mereka agar terus dapat dipelajari dan diwariskan. Dulu, ketika masyarakat masih belum memahami arti penting dokumentasi budaya dan sejarah, mereka berasumsi bahwa menyebarkan pesan lewat bahasa ujar akan menyelamatkan yang nilai-nilai budaya. Ternyata, tidak sesederhana itu.

Sahabat Rasulullah dulu berinisiatif untuk menuliskan teks Al Quran agar dapat diwariskan ke generasi berikutnya, walaupun jumlah penghapal Al Quran waktu itu sangat banyak sekali. Mereka mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan akan muncul di kemudian hari pada generasi mereka. Sekarang, umat Islam telah menikmati hasil tulisan tersebut yang berbentuk salinan teks dari bahasa ujar.

Saat ini, banyak nilai-nilai budaya hilang karena tidak dituliskan, apalagi jika suatu masyarakat tidak mengenal aksara tulis karena mereka hanya berkomunikasi lewat bahasa ujar. Mereka tidak mengenal asal-usul sesuatu dengan jelas, sejarah yang mereka dengar tidak akurat dan sulit dijadikan sebagai bukti.

4. Political Purpose

Orwell sangat sadar jika poin keempat ini adalah terpenting. Dia mengakui jika tiga hal pertama juga adalah tujuannya dalam menulis. Akan tetapi, yang keempat adalah tujuan utamanya. Bagaimanapun, tulisan seseorang pastilah memiliki kecenderungan pada suatu arus atau ideologi. Teknik beropini dan mengarahkan pesan sesuai maksud benar-benar dirancang agar sampai pada pembaca. Paling tidak, seseorang pasti akan menuliskan sesuatu yang menjadi kecenderungan dirinya. Dia tahu mana yang harus dituliskan dan mana yang tidak. Mengerti apa yang mesti ditonjolkan dan mana yang disamarkan. Terlebih lagi, para penulis dengan alasan politis paling memahami bagaimana merancang opini yang mereka giring dalam sebuah tulisan akan dapat membawa perubahan bagi masyarakat, dan tentunya sesuai dengan padangan politiknya.

Bisakah kita menuntut bahwa sebuah tulisan haruslah netral? Tentunya ini hal yang sangat sulit sekali, kecuali jika itu berhubungan dengan sains murni di mana dalam sebuah penelitian data-data diujikan sesuai standar kevalidan yang objektif. Fakta dan data berdiri sendiri, tidak bercampur dengan asumsi subjektif penelitinya.

Sedangkan pada tulisan-tulisan ilmu sosial termasuk penelitian sosial sekalipun, hasil temuan dan analisisnya bergantung pada persepsi penulisnya, ke mana ingin diarahkan. Maka subjektifitas penulis sangat kentara di sini. Begitu juga, ketika membaca buku populer, novel, atau opini di media massa subjektifitasnya dapat ditangkap dengan jelas. Di sinilah George Orwell bermain dalam tulisan-tulisannya.

Orwell sendiri memulai tulisan pertamanya berupa puisi saat masih duduk di sekolah dasar, ketika berumur sekitar 6 tahun. Hal yang menarik adalah sewaktu kecil dia sudah bertekad untuk menjadi penulis. Dia menulis apa pun peristiwa yang dia lalui dan amati ketika remaja.

Tampaknya ada benarnya jika kebanyakan penulis adalah seorang introvert. Orwell remaja adalah seorang introvert yang tidak populer di antara teman-temannya, sehingga dia punya banyak waktu untuk menuliskan perasaan-perasaan dan pikiran-pikirannya. Sewaktu duduk di jenjang perkuliahan, dia sering menulis dan mengirimkannya ke koran, bahkan dia pernah diminta untuk menjadi editor di majalah kampusnya.

Orwell baru serius menulis pada umur 30 tahun dengan diselesaikannya novel pertamanya The Burmese Days. Seiring dengan kehidupan Orwell yang mengalami perubahan, maka hal itu juga membawa pengaruh pada tulisan-tulisannya. Orwell yang pernah ditempatkan ke beberapa wilayah kolonisasi Inggris oleh pemerintah Inggris menjadi memahami bagaimana jahatnya kolonialisme dan imperialisme. Inilah yang mendorongnya untuk mendalami ideologi politik.

Latar belakangnya bekerja di bagian kepolisian Inggris di Burma dan India cukup membuatnya melihat ketidakadilan. Maka, dalam novel-novelnya dia selalu mengusung kritik terhadap isu kolonialisme dan totalitarianisme. Dalam novel Animal Farm dan 1984, Orwell mengkritik sistem ideologi Komunis a la Soviet yang menjurus pada totalitarian. Dia berusaha mempromosikan pemikiran sosialisnya yang egaliter dan adil. Walaupun, pada kondisi tertentu juga mengalami keabsurdan.

Apakah Orwell tak pernah mengalami kendala dalam menulis? Pastinya. Setiap orang pasti pernah mengalami hari-hari buruk dan hal-hal sulit dalam hidupnya. Novel Orwell pernah dianggap oleh salah seorang kritikus terlalu menjurus kepada jurnalisme, tidak enak dibaca dan kehilangan sisi estetikanya. Walaupun di sana dituliskan fakta-fakta dan data-data yang mungkin ingin diketahui orang banyak. Novel tetaplah novel, estetika sangat penting. Karena itulah Orwell pernah berkata, “What I have most wanted to do throughout the past ten years is to make political writing into an art”. Menulis dengan tujuan politis namun tetap membawa estetika. Itulah yang diinginkan pembaca. Apa pun yang Anda tulis, jangan lupakan estetikanya.

Pernahkah Anda membaca tulisan tentang politik tapi enak dan ringan dibaca? Saya terkagum-kagum pada orang-orang yang mampu menyederhanakan bahasa mereka yang rumit sehingga dapat dipahami oleh orang awam dengan sangat baik. Contoh tulisan politik yang sederhana tapi estetis itu saya temui ketika membaca buku Emha Ainun Najib seri Markesot, serta beberapa opini di surat kabar nasional, sebutlah Kompas dan Republika. Jika ingin mengungkap banyak data, maka beritalah yang tepat medianya, bukan sebuah tulisan opini atau esai. Opini dan esai “seharusnya” menjadi lahan untuk membingkai opini dan mempersuasi pembaca dengan argumentasi yang logis dan estetis. Orwell sudah membuktikannya. Betapa berpengaruh Animal Farm dan 1984-nya.