Narasi Kontemplasi

Bersiaga untuk Akhirat

Saya sangat terpesona dengan orang-orang yang mampu memetakan arah hidupnya dengan persiapan segala rupa untuk kehidupan akhirat mereka dan tetap menyeimbangkan dengan kehidupan dunia. Karena ada juga orang-orang yang berorientasi akhirat tapi justru lupa memperbaiki urusan-urusan dunia demi akhiratnya. Ya, ada memang orang-orang yang menganggap urusan kehidupan dunia tak ada sangkut pautnya dengan akhirat karena adanya kesalahpahaman dalam memahami bekal akhirat.

Saya awalnya kurang paham apa maksudnya sibuk urusan akhirat hingga lupa dengan urusan dunia yang mengantarkan pada kebaikan akhirat. Saya mulai memahaminya setelah melihat fakta dan berdiskusi dengan orang-orang di sekililing saya, terutama orangtua saya yang sering memberikan contoh-contoh baik kepada saya.

Kehidupan kita ini tak hanya hubungan antara diri kita dengan sang Khaliq, tapi juga hubungan kita dengan manusia dan makhluk hidup lainnya. Ibadah seperti shalat, shaum, serta haji adalah ibadah yang langsung berhubungan secara vertikal dengan Allah. Akan tetapi ada ibadah dengan model horizontal tapi tetap akan berakhir pada pahala dari Allah, contohnya zakat, infak, wakaf, sedekah, hadiah, qurban, membangun akhlak dan adab yang baik, tolong-menolong, berlaku adil, amanah. Bahkan, kepedulian kita pada lingkungan hidup untuk kelestarian alam juga adalah ladang pahala.

Mengejar akhirat bukan hanya sibuk memperbaiki shalat, puasa, haji, tapi juga juga memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia. Bahkan, infak dan sedekah tidak sekadar fokus pada infak pada masjid, anak yatim, dan kaum dhuafa, tetapi juga bagaimana kita mudah dalam berbagi dengan keluarga dekat, tetangga, istri, suami dan anak. Orangtua saya pernah bercerita tentang orang-orang yang sibuk dengan infak dan wakaf ke masjid, tapi justru mereka membiarkan anak-anak dan keluarga dekatnya terlantar. Justru ini malah mendatangkan kemurkaan Allah karena mengabaikan sesuatu yang seharusnya menjadi tanggungannya.

Sesungguhnya peluang untuk memanen pahala itu sangat luas, kita yang sering mempersempitnya. Sekadar berbagi hadiah kepada keluarga, tetangga, atau teman itu termasuk pahala. Berbagi senyuman saja sudah pahala.

Memahami arti berbagi itu memang sampai sedetail itu. Namun, semuanya harus diniatkan karena Allah. Banyak orang sibuk membangun kebahagiaan keluarga dengan harta tapi malah menggelincirkannya menjadi pemuja dunia. Ini menjadikannya sibuk mengejar harta dunia dan lupa mengingat Allah. Sungguh rizki itu datangnya dari Allah. Maka hak-Nya untuk menambah dan mengambilnya. Betapa sangat berkahnya harta itu saat dikeluarkan untuk mendapat ridha Allah. Saya teringat bagaimana para sahabat Rasulullah yang dengan mudahnya membagikan hartanya tanpa takut kehilangan dan kekurangan karena mereka tahu semua itu akan kembali kepada mereka di akhirat kelak. Terlebih lagi, orang-orang yang gemar berinfak akan Allah tambah hartanya lebih dari yang dia berikan. Artinya, bertambah dan berkurangnya harta itu kehendak Allah. Apa yang harus dirisaukan? Jika hari ini kita kekurangan, besok Allah akan cukupkan. Maka kenapa harus tamak menimbun harta hingga tak mendatangkan manfaat? Kecuali untuk ditabung untuk keperluan-keperluan bermanfaat.

Banyak kisah orang-orang yang Allah mudahkan urusan mereka tanpa mereka harus susah payah menguras semua tenaga, waktu, dan pikirannya untuk mendapatkan harta. Ada orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allah untuk pergi berhaji padahal tabungan pun dia tak punya. Begitu juga saat ingin berqurban, Allah lapangkan rizkinya. Semua terjadi tiba-tiba tanpa disangka-sangka karena niatnya ikhlas untuk Allah.

Dari sini saya semakin merasa lebih tenang. Allah Maha Mencukupi rizki hamba-hamba-Nya. Kita cukup berikhtiar mencari nafkah dan meniatkan harta yang diberi Allah itu dikeluarkan untuk sesuatu yang mendatangkan manfaat akhirat atau manfaat dunia dan akhirat. Allah itu kekayaan-Nya seluas bumi dan langit. Sangat mudah bagi-Nya memberi. Lantas, kenapa sulit sekali bagi kita berbagi. Bukankah semua itu datang dari-Nya? Hal inilah yang membuat saya selalu optimis untuk meminta kemudahan rizki dari Allah. Semua datang dan pergi termasuk rizki. Maka berlapang-lapang sajalah dalam hidup, insya Allah akan dicukupkan Allah.

Sibuk dengan urusan harta namun tidak disibukkan untuk tujuan akhirat imbasnya adalah menjadi rakus kepada harta dan depresi saat ditangguhkan pemberiannya oleh Allah. Beginilah dunia itu memperdaya. Harta menjadi sesuatu yang membuat manusia kehilangan kewarasan. Inilah ujian harta bagi manusia. Maka, wajarlah dalam mencari harta dan wajar pula dalam mengeluarkannya. Karena sesungguhnya akhirat itulah yang semakin dekat, dunia ini perlahan sedang kita tinggalkan.

Tulisan ini terinspirasi dari semangat orang-orang dalam berqurban. Niat mereka untuk berbagi di dunia dan mencapai kebahagiaan akhirat. Mereka sedang membangun kehidupannya yang baik di akhirat. Mereka orang-orang yang berpikir visioner jauh ke depan. Masya Allah. Ustadz Abdul Somad mengingatkan bahwa qurban adalah bentuk syukur atas rizki dan karunia yang diberikan oleh Allah kepada kita. Ya benar sekali. Allah tak meminta semua harta yang diberikannya pada kita tapi hanya menyisihkan sebagian bahkan bisa jadi kurang dari itu untuk berbagi kepada orang lain.

Advertisements

Tentang Pernikahan

Saat ini tiba-tiba saya jadi mempertanyakan kembali sesuatu yang saya masih berusaha untuk memahaminya, yaitu tentang pernikahan. Sebenarnya bagaimana orang-orang memandang pernikahan itu? Suatu ritual kehidupankah? Pernikahan itu apa maknanya? Pernikahan itu apa hanya untuk membebaskan dirimu dari tekanan dan tuntutan masyarakat agar tak lagi menjadi lajang? Apa orang yang menikah mengerti kenapa mereka menikah dan tujuan mereka menikah?

Setelah saya amati, kebanyakan orang menikah hanya menjalankan kebiasaan yang sudah-sudah. Semacam mengikuti tahapan kehidupan mulai dari lahir, sekolah, bekerja, menikah, punya anak, dan mati. Ya sekadar menjalankan ritual hidup. Mungkin benar kata teman saya. Saya belum punya cukup alasan untuk segera menikah. Jika hanya alasan kebutuhan seksual, semua orang juga butuh itu. Tapi apa hanya itu alasannya? Jika menikah hanya untuk seks, setelah kau bosan maka kau akan mencari pemuasan dari yang lain. Jika menikah artinya sekadar berbagi rumah bersama. Maka apakah akan ada gairah dan kegembiraan?

Jika menikah hanya untuk memiliki keturunan, kehadiran pasangan tidak akan berarti bagimu saat sudah ada anak yang kau harapkan. Atau jika kau tak mendapatkan anak, kau akan meninggalkan pasanganmu dan mencari lagi yang lain.

Jika menikah hanya untuk perubahan status. Maka, kau akan tetap kesepian dan tak bahagia karena tujuanmu bukan ketenangan dan kebahagiaan. Jika menikah karena ingin mendapatkan pasangan yang cantik atau ganteng, bukankah pada akhirnya itu akan pupus juga? Jika menikah karena ingin mendapatkan pasangan yang memiliki perkerjaan mapan, maka saat dia kekurangan kau akan mempertanyakan lagi arti dirinya bagimu.

Pernikahan itu sebenarnya direncanakan atau dipasrahkan? Teman saya mengatakan saya harus pasrahkan diri untuk menikah. Jika saat ini saya harus pasrah untuk menikah lalu apa artinya pernikahan itu? Itu sama dengan melakukan sesuatu hal yang tidak dipahami. Atau sesuatu yang tidak direncanakan tujuannya. Mungkin saya yang memang belum paham arti pasrah ini.

Ada teman saya yang bilang, jangan pilih-pilih lah. Terima saja yang di depan mata. Hah? Serius? Kamu itu akan menyerahkan dirimu pada seorang laki-laki tapi tidak memastikan orangnya bagaimana. Apa dia akan bertanggung jawab terhadap dirimu dalam memimpin, melindungi, menafkahi, mendidik, dan berbagi segala hal? Apa kau yakin dia adalah seseorang yang akan mau memahami dirimu, cara berpikirmu, harapan-harapanmu? Apa dia seseorang yang bisa membangun hubungan mutual respect yang saling menghargai dan menghormati? Nanti bagaimana jika dia memperlakukanmu semena-mena seolah kau tak punya harga diri? Apa dia seseorang yang bisa kau jadikan teman seperjuanganmu dalam kehidupan dunia dan akhirat?

Kadang saya bingung dengan orang yang menikah. Teman saya sudah menikah tapi dia masih mencari teman untuk berbagi, masih merasa kesepian. Di mana kesalahan itu terjadi? Sepertinya saya mulai merasa galau dengan definisi pernikahan bagi kebanyakan orang. Banyak kasus orang menikah, kemudian bercerai, mencari perempuan/laki-laki lain, atau berpoligami. Saya tak paham lagi dengan makna saling menyayangi dan menghargai. Jika begitu, pernikahan itu tak lebih dari surat kontrak saja.

Saya pernah dijodohkan atau dipertemukan dengan beberapa orang untuk tujuan menikah. Semua itu tak pernah berhasil. Kenapa? Karena saya merasa asing dan tak nyaman dengan orang-orang baru yang tak saya kenal. Menjadikan seseorang sebagai teman akrab saja butuh waktu untuk meyakinkan diri, apalagi orang baru yang akan dijadikan teman hidup. Dalam kesempatan lain, ada orang-orang yang sudah saya percaya ternyata mereka justru membuat kepercayaan saya menjadi hilang karena perilakunya. Ah, berurusan dengan manusia memang tak gampang, apalagi menjadikannya bagian dari hidupmu. Waah, pernikahan itu lama-lama menjadi suatu yang asing bagi saya. Mempercayakan dirimu kepada orang lain itu berat. Kau tak tahu akan diperlakukan dan diposisikan seperti apa oleh mereka pada akhirnya. Kata-kata saya ini menunjukkan saya masih sulit mempercayai seseorang.

Akan tetapi, kemudian saya tersadar. Allah itu mengikuti prasangka hamba-Nya. Saya harus mulai membangun pikiran positif dalam diri saya terkait pernikahan. Saya ingin menikah dengan tujuan utama untuk menyempurnakan agama dan ketaatan saya pada Allah. Saya ingin menikah agar keimanan saya menjadi lebih baik, ibadah saya kepada Allah menjadi dimudahkan dan diridhai, urusan kehidupan saya akan dipermudah Allah karena adanya sosok pengganti mahram saya sebagai penjaga saya. Saya ingin seorang sahabat seperjuangan dalam kehidupan dunia menuju akhirat. Ini niat saya dalam menikah. Jika tak menemukan ini maka tak perlu memaksakan diri untuk menikah. Ada Allah yang Maha Menjaga.

Meluruskan kembali sesuatu yang sudah tercemari oleh realitas-realitas buruk tentang pernikahan yang saya lihat dari orang lain memang sulit. Saya takut jika pemikiran saya yang begitu sinis dengan fakta pernikahan orang lain akan membuat saya menjadi orang yang kehilangan objektivitas dalam memandang sesuatu yang sifatnya kasuistik. Cukuplah berbaik sangka pada Allah akan hal-hal baik yang sudah dijadikan-Nya syariat.

Kata-kata yang Melemahkan Iman

Ada sesuatu yang bisa merusak keimanan. Berawal dari membandingkan dan mendengarkan pernyataan-pernyataan yang membuat rendah diri atau tidak percaya diri.

Membandingkan kesalihan diri orang lain dengan diri kita. Melihat saat orang lain yang dipandang lebih shalih mendapatkan semua yang diinginkannya dalam doa-doanya. Kemudian melihat kepada diri sendiri. Diri ini masih berusaha untuk shalih, berupaya membangun keshalihan diri, ingin belajar lebih baik. Kemudian datang sebuah pernyataan yang mematahkan niat-niat baik yang sudah terpupuk. Membuat diri tak punya arti dan kehilangan harapan. Sesorang berkata, bagaimana doa-doamu akan terkabul, kamu saja shalatnya masih belum khusyuk, amalan kamu masih pas-pasan. Belum lagi dosa juga masih numpuk. Wajar aja keinginanmu susah terkabul. Deg! Kok ini bener-bener bikin down ya.

Saya yang memang masih banyak kurang amal ini merasa rendah diri dan berprasangka buruk seketika pada diri sendiri. Jadi doa-doaku dan upayaku untuk taat selama ini sia-sia? Apakah aku hanya melakukan hal sia-sia? Tak didengar dan dilihat Allah? Berarti tak ada bedanya aku melakukan amalan itu dengan tidak melakukannya jika Allah tetap tak peduli. Apa Allah benar-benar menutup pendengaran dan rahmat-Nya pada orang-orang yang belum sempurna amalannya?

Menjadi khusyuk, menjadi taat, menjadi percaya akan janji Allah itu butuh usaha. Kenapa usaha-usaha untuk menjadi baik itu dipatahkan oleh pernyataan yang mengerdilkan dan membuat diri menjadi semakin terpuruk?

Ya Allah, seburuk-buruknya hamba. Engkau masih melihat dan mendengarnya kan saat dia ingin menjadi orang yang shalih dan ingin percaya pada kebesaran dan pertolongan-Mu?

Saya juga masih dalam tahapan memperbaiki diri menjadi lebih baik. Mendengar ucapan-ucapan yang melemahkan itu pun ikut merasa terpuruk. Ya Allah, jika diijabahnya doa-doa dan ketaatan hanya milik orang-orang paling shalih dan paling baik, apa pantas kami terus berharap kepada-Mu? Sedangkan untuk taat ini butuh proses dan kesabaran yang hebat. Dalam proses ini apakah diri kami tak pantas mendapatkan kebaikan-kebaikan dari-Mu?

Seharusnya yang datang kepada kami adalah dorongan untuk terus berbenah diri, semangat untuk selalu taat dan yakin kepada Allah. Bukan kata-kata negatif yang melemahkan jika pintu-pintu kemudahan dan rahmat hanya Engkau beri pada orang yang paling taat.

Seketika hati ini merasa sedih tak terkira. Merasa diri tak berguna. Untuk mencapai sebuah maqam tertinggi sebagai orang shalih itu proses dan perjuangannya luar biasa. Jadi, kalau hanya masih remah-remah begini tak ada artinya, maka harapan siapa yang tidak akan pupus? Seolah kami ini tak didengar dan dilihat Allah. Keinginan untuk berdoa seolah terlemahkan untuk dilakukan karena mengangggap Engkau tak akan mendengar.

Ya Rabb, bagaimanapun keadaanku aku masih berdoa pada-Mu karena aku tak punya tempat berharap selain kepada-Mu. Tak punya tempat meminta dan bergantung selain pada-Mu.

Ya shamad, ya Rahman, ya Rahim. Seandainya Engkau tak mau mendengar biarlah harapan-harapan ini terus berkembang dan ketaatan ini terus meningkat menjadi lebih baik. Seandainya diri-Mu tak mendengar biarlah diri ini terus percaya bahwa pada akhirnya Engkau akan mendengar.

Cukup ayat ini yang terus kupercayai dan menyemangatiku ya Rabb.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Aku itu dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

Sudut Pandang Nikmat dan Syukur

Apa yang diterima manusia adalah efek dari apa yang diperbuatnya. Kebaikan-kebaikan akan berbalas kebaikan dari Allah sedangkan kemungkaran akan berbalas dengan hal-hal yang juga buruk dan menyengsarakan sebagai akibat dari ulah yang diperbuatnya.

Kadangkala bahkan seringkali kebanyakan orang lebih menghargai balasan kebaikan dari hal yang kasat mata dan menguntungkan secara materi. Padahal, bisa jadi kebaikan yang diberi Allah adalah berupa nikmat semakin dekat dan taat kepada-Nya, dan keburukan dari Allah bisa datang dengan semakin dijauhkan diri kita dari Allah dan terlena dengan materi yang memperdaya akibat kemungkaran yang kita lakukan. Kesalahan besar dari cara pandang kita yang seringkali salah adalah hanya menganggap balasan kebaikan itu dari sisi materi dan kesenangan semata, padahal bisa saja kesenangan itu justru menjauhkan dari Allah.

Allah mengatakan setiap kebaikan yang dilakukan manusia adalah untuk dirinya, demikian juga setiap keburukan akan kembali ke manusia itu lagi.

Ada ayat dalam Al Quran yang membuat saya merasa malu di hadapan Allah. Bentuk sindiran yang sangat menohok bagi manusia. Kita sering lupa ini, mungkin karena kebanyakan manusia memang suka lupa bersyukur. Sudah diberi nikmat oleh Allah malah dibalas dengan lalai dan ingkar terhadap Allah, apalagi dengan seenaknya berbuat mungkar dan maksiat. Terkadang manusia benar-benar emang tak tahu diri.

“Dan apabila Kami berikan nikmat kepada manusia, dia berpaling dan menjauhkan diri (dengan sombong); tetapi apabila ditimpa malapetaka maka dia banyak berdoa.” (QS. Fussilat 41: Ayat 51)

Seringkali kita ingat dan taat pada Allah di saat-saat sulit, sedangkan di saat-saat senang dan lapang kita berpaling dengan lalai terhadap Allah. Kelalaian itu banyak sekali, mulai dari lalai beribadah, merasa paling hebat dan menguasai segalanya, berbuat maksiat dengan gampangnya, hingga menutup mata dari semua aturan-aturan yang dilanggar, seolah Allah tidak melihat dan diri tidak akan dihisab. Ya Rabb, jauhkan kami dari semua keburukan perbuatan.

Allah itu Maha Pemurah, Maha Penyayang dan, dan Maha Pemberi kelapangan. Pernahkah mengalami saat-saat sulit dan merasa buntu dan tak ada jalan keluar? Namun setelah berserah diri dan berdoa pada Allah, jalan dan kelapangan dibukakan oleh Allah. Bukankah pertolongan Allah itu sangat dekat? Kita yang sering pesimis, berputus asa dari kuasa Allah, merasa dunia akan berakhir, padahal ada Allah tempat bersandar dan bergantung. Berputus asa berarti meniadakan dan mengerdilkan kuasa Allah.

Setelah diberikan kemudahan dari Allah seringkali manusia lupa diri. Lupa bersyukur dan merasa dirinyalah yang telah mengusahakan apa yang dia dapat, peran serta Allah dilupakan hingga dia menjadi lalai dan tidak taat pada Allah. Setiap kemungkaran dan kemaksiatan itu akan membawa keburukan bagi hidup. Hidup menjadi tidak berkah, tidak tenang, banyak masalah, banyak yang dikhawatirkan, dan merasa beban hidup begitu besar. Kenapa? Karena Allah tidak ridha. Karena lupa untuk taat dan bersyukur pada pada Allah.

Apapun yang kita lakukan Allah harus selalu dilibatkan, karena Allah Maha Berkuasa dan Dia-lah tempat kita bergantung. Agar diri menjadi tenang dan ikhlas. Jadi ketentuan apapun yang diberi Allah setelah ikhtiar, itulah yang terbaik. Kemampuan untuk menerima ketetapan Allah itulah namanya tawakkal. Jika masih saja ngotot dan keras kepala tak mau menerima qadha Allah, maka bisa jadi kita belum bertawakkal atau berserah diri dengan ikhlas pada Allah.

Setiap memohon sesuatu pada Allah, kita juga harus senantiasa memohon keridhaan-Nya. Bisa saja Allah tak ridha dan apa yang kita minta tak dikabulkan dan diberikan jalan. Untuk itu kita harus yakin bahwa Allah lebih tahu yang terbaik untuk kita.

Berikhtiar, bertawakkal, dan ikhlas. Itulah kunci bersyukur pada Allah. Atas ketetapan terbaik dari Allah, Allah menyuruh kita untuk menyebut-nyebut nikmat itu dengan banyak bersyukur pada-Nya. Bersyukur tidak hanya dilakukan pada setiap keinginan kita yang dikabulkan Allah, tapi setiap jawaban-jawaban dan jalan-jalan yang tidak kita bayangkan dan kehendaki sebelumnya. Sulit memang, tapi itulah ikhlas. Allah tahu yang terbaik untuk kebaikan diri kita. Allah mengetahui apapun tentang diri kita yang tidak kita ketahui. Masya Allah, betapa Maha Besar Allah.

Allah SWT berfirman:

فَاذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَاشْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 15)

Rahasia Pintu Surga

Ada 8 pintu surga, salah satunya diperuntukkan bagi orang yang mampu menahan marah dan mau memaafkan. Orang yang masuk pintu surga ini memang spesial, maka pantas Allah memberikan tempat mulia untuk mereka. Bagaimana dengan saya? Apakah saya akan dipanggil dari pintu tersebut dan melangkah ke dalamnya? Sungguh ini perkara sulit. Saya baru menyadarinya sekarang. Iya, kau akan tahu bagaimana sulitnya suatu hal hingga kau diuji dengan hal tersebut. Saya bukan orang yang gampang marah dengan melepaskan emosi berapi-api. Saya terbiasa diam atau paling tidak jika sudah cukup kesal akan bersuara ya mungkin semacam debat. Tapi, tetap saja ini adalah refleksi marah sebenarnya walaupun bukan dengan kata-kata keras dan kasar.

Kontrol emosi memang sangat penting apa pun keadaannya. Siapa sih yang tidak pernah kesal? Saya mungkin tak sering diberi ujian yang memancing kemarahan ini. Tapi saat menghadapinya, saya jadi berpikir memang sulit ternyata ujian emosi ini. Bisa jadi kau tak marah dan melupakan, tapi hatimu tidak mau memaafkan. Forgotten but not forgiven. Atau bisa jadi memaafkan tapi tak melupakan, forgiven but not forgotten, artinya masih ada yang belum selesai di dalam hatimu. Baru terasa kenapa ujian ini berbuah surga.

Semakin kita dewasa dan bertambahnya umur, maka akan semakin banyak masalah yang akan kita hadapi. Ini karena kita telah menjadi individu mandiri yang eksistensinya sudah diakui masyarakat dan lingkungan kita. Kita sudah dipandang sebagai manusia seutuhnya karena tidak lagi diberi label anak kecil, anak muda atau masih bau kencur. Tanggung jawab ada pada pundak kita pribadi. Dan ini akan semakin kompleks jika seseorang menikah. Membawa nama dua orang sekaligus untuk citra diri di masyarakat. Di sini saya belajar untuk selalu mindful. Sadar dan peka dengan keberadaan diri dan lingkungan.

Jika kita berbuat sesuka hati, maka akan seperti apa kita membangun konsep diri di hadapan diri sendiri dan orang lain? Identitas apa yang kita ingin orang lain memandangnya? Kita yang menentukan identitas dan citra diri di hadapan orang lain. Maka, menjadi diri sendiri adalah sangat penting. Menjadi pribadi yang kita sendiri menghargainya dan kita pun mencintainya, begitu pun orang lain memandangnya.

Apakah kau pernah membenci diri sendiri? Itu tandanya ada konsep diri yang tak kau sukai dalam dirimu. Saya sesekali membenci diri saya dalam keadaan tertentu. Kondisi itu sesuatu yang tidak ideal yang saya dapati dalam diri saya. Masing-masing kita memiliki konsep diri ideal dan standarnya pasti berbeda, bergantung pada apa yang kita pandang baik dan buruk serta benar dan salah. Jika kita melanggarnya pasti akan timbul ketidaksukaan yang berujung pada rasa bersalah, penyesalan, atau benci pada diri sendiri. Apakah reaksi dalam diri kita ini baik? Saya pikir ini baik, sebagai bentuk kepekaan dari kita terhadap apa-apa yang kita yakini. Nah, yang tak peka mungkin bisa dipertanyakan seperti apa konsep dirinya.

Kembali lagi ke pintu surga tadi. Sungguh Allah Maha Tahu apa-apa yang sulit dan penuh rintangan sebagai ujian hambanya. Lagi-lagi hidup itu memang lahan ujian. Tak hidup namanya jika tak ada ujian. Ini cara Allah menilai kualitas diri kita. Dan bagi saya, ujian adalah bentuk refleksi diri. Saya menulis ini untuk pengingat diri lagi. Kesalahan bisa dilakukan oleh diri kita sendiri dan/atau orang lain. Hal yang utama adalah bagaimana menyikapinya. Kita tak selalu ditakdirkan bertemu orang-orang baik dalam kehidupan kita. Bahkan, bisa jadi kitalah sosok yang buruk dan menjadi ujian bagi orang lain atas kelalaian dan kesalahan diri kita.

Untuk itu, sangat penting selalu introspeksi diri, belajar dari setiap masalah, dan bersiap-siaga pada ujian-ujian berikutnya. Terkadang, pelajaran dan ujian itu diberikan berkali-kali hingga manusia sampai pada tingkat kesadaran sempurna. Bahkan ada pula yang tak sadar-sadar dan tak belajar hingga berkubang dalam permasalahan yang sama seumur hidup. Nauzubillahi minzalik. Irhamna ya Allah. Nastaghfirullahal ‘azhim.

Obrolan Penting!

Halooo!

Adakah yang merindukan saya? Hehe… Sudah lama sekali tak bikin tulisan di sini, bahkan sepatah kata pun tak ada dalam jangka waktu cukup lama dari biasanya.

Ada satu hal yang saya sadari bahwa keluar dari comfort zone membuat saya berani membangun cita-cita. Berani untuk lebih kuat dan mandiri, semakin dikuatkan agar jangan sampai bergantung pada siapa pun kecuali Allah. Orang-orang di sekelilingmu tak selalu mereka baik padamu, bahkan tak semuanya suka dengan harapan-harapanmu, dan mungkin kualitas dirimu. Maka dari itu, saya berusaha untuk selalu percaya diri dalam mengandalkan usaha sendiri ketimbang meminta kemudahan dari orang lain. Karena selama hidup ini, yang pernah saya mintai pertolongan untuk urusan besar hidup saya hanyalah Allah, orangtua, dan adik-adik saya. Selebihnya, saya tak pernah libatkan banyak orang lain.

Keluarga kita paling tahu siapa kita, dan kita juga tahu keluarga kita dari sisi terdalam mereka. Bahkan, untuk urusan pelik sekalipun saya pernah tak melibatkan keluarga karena khawatir memberatkan mereka dan takut mereka juga khawatir dengan diri saya. Setidaknya, saya bisa bertanggung jawab terhadap diri saya sendiri. Loh, kok jadi ngomongin diri dan keluarga ya hehe. Gimana lagi, blog ini memang tempat curhat paling bebas untuk saya. Jika ada yang tersasar ke sini tolong diabaikan saja kisah-kisah saya ini ya. Hidupmu lebih berharga dari sekadar membaca curhatan saya ini hahaha. Kecuali hidupmu tak banyak masalah. Ya silakan saja membaca perspektif saya yang mungkin berbeda dari orang kebanyakan ini.

Jadi, saya tuh mau bahas apa sih sebenarnya? Nah, intinya adalah menghargai diri sendiri sangat penting agar kita bisa menghargai orang lain. Kita tidak akan semena-mena memperlakukan dan memberatkan orang lain. Ini hal yang saling berkait sebenarnya. Inspirasi saya menulis ini gara-gara ada anak muda keturunan Cina yang videonya beredar luas sedang menghina-hina Presiden. Kata-katanya sangat kasar. Walaupun tak suka dengan seseorang bukan berarti kita bisa seenaknya menghina orang sedemikian rupa. Saya juga orang yang sering mengkritik penguasa tapi tidak menghina dan berkata kasar.

Tahu tidak, apa yang terjadi setelah video itu beredar? Aparat keamanan langsung menemui anak muda tersebut dan setelah terlibat pembicaraan dengan keluarganya, aparat menganggap apa yang dilakukannya hanya bercandaan untuk lucu-lucuan. What? How come? Berkat ulah anak tersebut, orangtuanya harus turun tangan dibuat repot. Sampai-sampai si orangtua membuat video permintaan maaf untuk presiden dan seluruh rakyat Indonesia. Lalu masalahnya di mana? Kasus ini pada akhirnya diselesaikan dengan jalan damai. Saya cukup ternganga karena selama ini siapa pun yang berani menghina presiden pasti akan langsung dipenjara, gak ada ampun. Lalu ini kenapa bisa lolos? Asumsi netizen adalah karena dia anak orang kaya, keturunan Cina, dan bapaknya cukong (ini label yang diberi netizen) berpengaruh, serta yang paling penting latar belakang keluarganya pendukung pemerintah. Aparat dan pemerintah jadi lunak dibuatnya.

Saya merasa perlakuan ini tak adil. Dari kasus yang sudah-sudah, selama ini pengkritik penguasa dengan ujaran kebencian yang dianggap kasar maupun tidak adalah dari kelompok orang-orang anti kebijakan penguasa, berlatar keluarga tidak kaya dan tidak berkuasa, bahkan yang punya nama namun berseberangan dengan pemerintah bisa diciduk. Mereka akan ditindak sesuai keinginan pemerintah yaitu dipenjara dan dipertontonkan di hadapan publik kesalahannya. Selama ini saya dan publik sangat paham bagaimana sikap seperti ini dilakukan pemerintah. Mereka tak mau dihina, tapi giliran yang menghina adalah kalangan pro-pemerintah, malah dibiarkan. Jadi tampaknya yang dilihat pemerintah adalah apakah kita kelompok pendukung mereka atau bukan. Jika bukan, maka siap-siap menerima perlakuan sesuka hati mereka.

Apakah kita mau hidup dengan cara ini? Membanggakan kekayaan dan status sosial, menekan orang lemah, dan membeli siapa yang bisa dibeli. Untuk apa? Untuk menolong diri kita agar urusan kita mulus? Padahal sebenarnya kita sudah merepotkan banyak pihak saat berbuat seperti ini.

Apakah membuat masalah sama dengan membela kebenaran? Tentu ini hal yang berbeda. Menjadi perusak beda dengan menjadi pembaharu. Walaupun pembaharu bagi banyak orang adalah sosok yang mengacaukan status quo dan zona nyaman orang-orang berkuasa. Yang repot adalah orang yang berkuasa, tapi itu perlu dilakukan agar mereka tahu diri dan tidak bermain-main dengan apa yang mereka lakukan karena bisa merugikan banyak orang. Justru sebenarnya yang dibuat repot oleh penguasa zalim adalah rakyatnya sendiri.

Oleh karena itu, menjadi mandiri membuat kita tahu diri, mengukur diri, dan berempati pada kehidupan orang lain yang melalui jalan hidup yang berbeda. Sekali lagi, kita harus menjadi diri sendiri dan berbuat yang terbaik untuk diri kita dan orang lain. Papa saya selalu berpesan agar berhati-hati bersikap. Saya paham ini. Walaupun seringkali saya tak tahan juga bersuara mengkritik kebijakan penguasa yang merugikan. Saya melakukan ini bukan untuk diri saya, tapi agar orang memahami apa kewajiban pemerintah dan apa hak rakyat. Karena selama ini rakyat sudah berbuat banyak dengan menerima apa pun yang diingini pemerintah. Kenapa pemerintah sering lupa akan perannya sebagai pelayan rakyat? Kenapa mereka malah ingin diperlakukan bak raja? Inilah kesalahan awal yang dilakukan penguasa saat menjadikan dirinya raja dan tidak memberikan contoh perilaku baik untuk masyarakat. Padahal pemerintah seharusnya adalah pihak pertama yang menjadi teladan rakyatnya, karena sudah memikul kekuasaan sebagai pengelola dan penggerak arah negara ini.

Pejuang Tidak Menyerah

Apa yang paling mudah dalam hidup ini? Yang paling mudah adalah menyerah. Perangmu adalah saat kau berusaha untuk tidak menyerah.

Tuhanku, Engkau mengirimku ke dunia ini untuk berjuang kan? Pejuang itu tak pernah menyerah kan Rabbku? Aku memang tak pernah mengatakan menyerah. Aku hanya khawatir aku akan menyerah. Aku memang butuh banyak dilatih lagi untuk kuat. Aku juga tahu jika tak semua latihan yang Kau beri mampu kulewatkan dengan baik dan membuatku kuat. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah latihan hidup. Aku menulis kitab hidupku seperti ini. Apa ini menarik bagiMu? Mungkin jika dijual di toko buku tak akan laku. Bukankah semua orang menyukai sosok pahlawan dan pejuang? Tak ada yang suka pecundang dan orang yang tak tahan banting. Jadi plot twist seperti apa yang harus kubuat untuk sebuah buku yang baik dan menarik?

Aku selalu membenci versi diriku yang tidak ideal. Aku membenci sesuatu yang bertentangan. Mungkin aku harus berhenti menjadi perfeksionis dan menerima kelemahan dan kekurangan. Tapi saat melihat orang lain bisa berjuang lebih kuat bukankah sebuah kebodohan bersikap pasrah? Artinya aku bisa berjuang lebih kuat juga seperti mereka yang tak kenal lelah. Paling tidak, aku bisa menuliskan kisah luar biasa untuk diriku sendiri dan kupersembahkan dengan bangga di hadapan Rabbku. Bukuku akan dibacakan nanti di hari akhir kelak. Sudah sampai di mana aku berjuang menuliskan kisah terbaik yang akan berakhir baik?

Aku selalu menyukai kisah happy ending. Setiap cerita pendek yang kubuat selalu berakhir bahagia karena itulah harapanku untuk setiap kisah, termasuk kisah kehidupan sendiri. Apa pun yang kita lakukan, lakukanlah dengan baik untuk sesuatu yang baik. Intinya di sini adalah kebaikan bukan capaian yang diberi tepuk tangan atau puja puji manusia, tapi untu mendapat ridha Allah. Bukankah semua capaian dan puja puji bisa direkayasa? Orang-orang bisa berpura-pura dengan hidup mereka dengan keberhasilan semu. Tapi bukan itu tujuanku. Mungkin karena orangtuaku tak pernah mengajariku untuk bermuka dua dan menipu diri sendiri.

Apa lagi yang membuatku bersedih? Aku hanya merasa kurang tangguh dibanding para pejuang yang ikhlas dan tak kenal lelah. Kemarin aku bercerita dengan seorang teman. Bukan teman yang terlalu dekat tapi dia sungguh luar biasa. Kami bercerita bagaimana menghadapi karakter masyarakat yang secara moral dan etika kurang baik, dan sulitnya lagi mereka ada bersama-sama kita dalam sebuah kelompok/organisasi. Ya, karena karakter mereka adalah cerminan masyarakat kita, begitu kata temanku ini.

Temanku berkata tetaplah dengan prinsipmu, tetaplah kuat, dan jangan mudah dilemahkan oleh kata-kata negatif mereka. Jika kita salah akui kesalahan dan perbaiki. Aku cukup tergugah dengan caranya bersikap. Ini bukan sekadar kata-kata karena dia memang menjalankannya. Aku tahu itu berat.

Sekali aku pernah berhadapan dengan seseorang yang sangat sinis, selalu iri dan mencari-cari kesalahan diriku. Dia seperti mendapat kemenangan ketika dapat menyalahkanku dengan kekuranganku. Orang seperti itu pernah membuatku menarik diri bahkan hingga keluar dari sebuah organisasi. Aku merasa tidak nyaman dan berbaur bersama orang seperti itu hanya akan merusak diriku. Ya, aku memilih menghindar dan yang paling menyedihkan aku keluar dari kelompok, aku tampak sudah menyerah dengan keadaan. Aku melakukan ini karena tidak rela dan tidak mau mencederai diri lebih dalam lagi bersama toxic people.

Lalu bagaimana reaksi temanku ini? Dia juga mengalami hal yang sama, tapi dia lebih kuat dariku. Dia mencoba bertahan, tetap berjuang dengan visi dan misi organisasi dan mengabaikan orang-orang yang mencoba melemahkannya. Dia begitu kuat. Dia bisa menutup telinganya dari tuduhan-tuduhan dan ketidaksukaan beberapa orang yang iri terhadap perjuangannya. Dia mampu sekuat itu menghadapi karakter manusia-manusia yang secara langsung melemahkannya. Di sinilah aku berpikir, temanku ini adalah contoh terbaik untukku dalam perjuangan. Dia masih kuat tegak berdiri. Dia bukannya tidak merasa terpuruk dan dibuat tak berarti, tapi tekad dan niat baiknyalah yang membuatnya bertahan. Bukankah tujuan kita untuk kebaikan Rusyda, untuk ridha Allah? Kenapa harus kalah? Begitu katanya.

Di sini aku terpana. Dia benar-benar seorang pejuang. Dan aku masih saja dengan egoku tak mampu bersabar menghadapi tekanan-tekanan yang melemahkan. Temanku berpesan, jika aku berjuang pastikan aku siap menghadapi hal-hal terburuk dan mampu mengabaikan hal-hal yang tidak bermanfaat. Ah, betapa keras dan teguhnya.

Mitos dan Cara Kita Memahami Dunia

Mau ngelanjutin cerita sebelumnya jadi gak selera hahaha. Apa pentingnya bahas si The Mask. Udah kayak mak lambe aja nanti. Bahas yang lain yuk!

Mari ngomongin mitos aja. Sebenarnya saya udah capek dan ngantuk karena kurang tidur setelah ngurusin berkas naik pangkat, tapi entah kenapa malah pengen bahas ini. Nah, mitos adalah sesuatu hal baik itu benda, tanda, fenomena, dan kisah yang tidak terbukti kebenarannya. Hanya saja mitos ini sudah mengakar dalam kehidupan manusia. Dari jaman batu hingga sekarang mitos selalu tumbuh di berbagai belahan masyarakat dunia. Bahkan, masyarakat Yunani yang dianggap pendorong lahirnya Renaissance malah hidup dengan pikiran-pikiran khayalan semacam mitos. Mereka merekayasa cerita para dewa-dewa dengan kisah khayalan dan menjadikannya sebagai pesan moral bagi masyarakatnya. Banyak kisah dewa-dewanya yang menjadi pelajaran kehidupan mereka. Misalnya kisah tentang Narsiscus yang hobi memandang keindahan wajahnya di air danau hingga membuatnya terlena hingga terjatuh dan tenggelam ke danau. Atau cerita tentang Medusa, wanita cantik yang karena kesombongannya dikutuk memiliki rambut ular. Atau kisah cinta Orpheus dan Euridike yg di sana mensyaratkan Orpheus agar tidak menengok ke belakang saat menjemput Euridike ke dunia kematian. Ya begitulah, sangat khayali sekali kisah-kisahnya. Namun di balik itu, nama-nama dewa ini ternyata banyak menjadi inspirasi untuk pemakaian istilah-istilah di zaman modern seperti penggunaan kata narsis, hedon, echo dll. Ini kisah dari bumi Eropa. Bagaimana pula mitos dari Timur? Mari kita ulas berikutnya.

Tak berbeda dengan di Eropa, masyarakat Timur khususnya Indonesia juga memiliki kebiasaan yang sama. Mereka membangun karakter masyarakat lewat cerita (narasi) dengan memasukkan pesan-pesan moral. Sangat benar sekali jika cerita atau bernarasi adalah cara terbaik dalam menyampaikan pesan. Di Timur, cerita-cerita rakyat juga banyak dibumbui mitos. Khayalan-khayalan yang pada akhirnya tumbuh menjadi kepercayaan masyarakat, seperti kisah Sangkuriang dengan tangkuban perahu, Malin Kundang yang dikutuk jadi batu dalam keadaan bersujud, Bandung Bondowoso dengan kisah pembangunan candinya dll. Kisah-kisah ini mengandung pesan moral di dalamnya agar manusia belajar dari kesalahan, jika tidak maka akan mengalami ketidakberuntungan seperti yang dikisahkan. Ada kesamaan kan antara kita dengan masyarakat Yunani? Dan budaya berkisah ini hidup di seluruh belahan bumi ini.

Secara umum, manusia suka berkisah dan menyampaikan pesan moral melalui kisah. Mungkin ini pula yang menjadi alasan kenapa Allah memberikan pesan moral pada umat manusia melalui kisah para Nabi dengan umat mereka. Kisah lebih gampang dipahami dan masuk ke hati. Akan tetapi Al Quran tentu berbeda kisahnya dengan legenda atau mitologi yang dibuat manusia. Kita bicara antara fakta dan fiksi.

Lalu apa selanjutnya? Jadi poin lainnya adalah mitos-mitos yang berkembang ini justru mengandung kebohongan. Walaupun di sisi lain mitos hidup di masyarakat kita sebagai bentuk ajaran nenek moyang dalam menyampaikan nilai moral. Contohnya mitos menggunting kuku malam-malam bisa diterkam harimau, padahal mungkin maksudnya agar jangan sampai melukai jari tangan karena zaman dulu orang belum punya penerangan seperti saat ini. Atau ada pula yang mengatakan anak perempuan jangan duduk di pintu biar tidak susah jodoh, padahal maksudnya agar jangan menghalangi orang lewat. Ada pula ibu hamil gak boleh ini itu nanti anak jadi begini begitu. Mungkin pesannya adalah agar nanti si anak tidak dibahayakan oleh perilaku si ibu atau tidak meniru hal-hal yang buruk di kemudian hari. Kita terbiasa dididik dengan kebohongan atau istilah sekarang yang populer adalah hoax. Dari zaman dulu hingga sekarang apakah itu untuk kebaikan atau keburukan, manusia sudah sudah terbiasa menyebarkan hoax. Sekarang ini hoax berkembang dengan tujuan untuk memanipulasi, mempengaruhi, dan menipu pikiran orang atau membodohi orang. Sampai saat ini pula ternyata banyak masyarakat senang mendengar dan menyebarkan hoax yang bertebaran di manapun, khususnya media sosial. Apa mungkin karena pengaruh bagaimana mereka dibesarkan oleh mitos?

Bahkan, di zaman di mana dunia sudah secanggih ini banyak muncul mitos dengan versi berbeda untuk mengacaukan pikiran orang lain seperti pembahasan bumi datar dan bumi bulat yang tak berkesudahan, isu global warming dan vaksin yang kontroversial, serta mitos terorisme yang penuh kebohongan.

Jadi asal usul saya menulis tentang miyos adalah tadi pagi saya membaca berita yang memperlihatkan awan di kota Padang seperti tersibak oleh angin berkekuatan besar hingga membentuk sebuah corong atau sorotan. Ada yang bilang itu adalah awan penanda gempa besar. Maka segeralah saya googling tentang awan gempa. Rupanya banyak juga ulasannya. Ada bantahan ada persetujuan. Nah, kalau sudah begini kita dihadapkan pada mitos yang membutuhkan penjelasan ilmiah dan harus kuat pembuktiannya. Jadi, pahamkan maksud saya membahas seputar mitos ini? Ya semacam berita yang menyimpangkan pikiran tapi hidup dengan akur di kehidupan kita.

Keberhasilan yang Menentramkan

Hidup terasa cukup sempurna saat kita memiliki teman-teman terbaik yang selalu hadir dalam keadaan terburuk dan terbaik. Mereka bahagia saat kita bahagia dan mereka hadir membawa semangat dan menenangkan di kala gundah dan sedih. Katakanlah kita hidup di situasi yang berbeda dan menghadapi persoalan berbeda, dan mengalami ketidakwarasan yang berbeda. Namun, kehadiran mereka mampu sebagai penyeimbang dan pembawa kestabilan. Kenapa? Karena kita bersama teman-teman terbaik yang senantiasa saling mengingatkan, menghibur, dan menguatkan. Dia tahu kondisi terburuk kita dan hadir sebagai penyelamat, begitu juga saat kondisi terburuknya kita hadir menemaninya dan meluruskan jika salah.

Sebenarnya apa yang sedang ingin saya bahas? Ini bukan semata soal adanya teman dalam kehidupan kita, tetapi bagaimana teman mampu membantu kita memandang dunia menjadi lebih luas dan dalam. Saya bersyukur diberi teman-teman terbaik yang senantiasa memandu pikiran dan kehidupan saya. Mereka sedikit banyaknya adalah bagian dari diri saya. Begitupun sebaliknya. Ada bagian diri saya di dalam jiwa mereka. Mungkin ini yang namanya soulmates. Belahan jiwa ternyata tak melulu tentang pasangan hidup yang melengkapi tapi juga teman-teman yang separuh diri mereka ada dalam pikiran dan jiwa kita.

Pagi ini saya mendapat nofikasi Whatsapp dari teman saya. Teman yang ada saat kondisi saya terpuruk. Tampaknya kali ini kami bertukar tempat. Saya dalam kewarasan optimal dan dia dalam kegalauan yang hampir menuju ketidakwarasan. Nah kan. Setiap orang akan mengalami ketidakwarasan yang berbeda-beda dalam hidupnya dikarenakan kondisi-kondisi tertentu yang terlalu membuat buyar dan tertekan.

Apakah yang sedang dihadapi teman saya itu? Rupanya dia sedang berusaha memahami kembali makna pencapaian dalam hidup. Apa sih yang dia galaukan? Ternyata dia berpikir ulang tentang arti pernikahan. Wah? Saya awalnya terbingung-bingung dan kaget. Apakah dia menyesal telah menikah? Teman saya menikah tahun lalu atas dasar keputusan mendadak karena dorongan orangtua dan usianya yang genting kian memaksa. Dia menikah dengan seseorang yang tidak masuk kriteria idamannya tapi masih bisa dia terima. Paling tidak, laki-laki yang dia nikahi shalih dan mampu menjadi pemimpin baginya. Saya dulu cukup kaget mendengar keputusannya, bahkan memastikan apa dia sadar melakukan itu dan siap menerima konsekuansinya. Seakan tak percaya dia akan membuat keputusan secepat dan senekat itu. Tapi mau bagaimana, itu sudah pilihannya. Setelah menikah apa dia bahagia? Apakah suaminya baik? Sebenarnya dia cukup bahagia dengan suami yang menyayanginya dan siap menghadapinya dengan penuh kesabaran.

Lalu di mana masalahnya? Nah, itu dia. Dia merasa tidak puas dengan hidup yang dijalaninya. Setelah menikah dia berhenti bekerja dan pulang ke kampung halamannya. Sekarang sudah memiliki bayi dan harus tinggal di rumah mengasuh setiap waktu. Apa lagi yang membuat tidak puas? Saya bertanya-tanya. Bukankah bagi banyak orang pernikahan adalah salah satu keberhasilan hidup? Apalagi punya anak. Sedangkan saya masih belum bisa meraih itu. Terkadang hidup memang aneh. Saya merenungi kesendirian saya sedangkan teman saya meratapi pernikahannya.

Akhirnya saya memahami bahwa apa yang dikatakan banyak orang sebagai keberhasilan belum tentu sebuah keberhasilan. Dan saya yang dikatakan belum berhasil belum tentu begitu. Teman saya justru iri dengan keadaan saya yang masih lajang, bisa berkarir, melakukan banyak hal yang saya sukai. Ya seperti menikmati hidup mungkin tepatnya. Padahal, dia tidak tahu apa yang saya rasakan. Bagaimana saya merasa kesepian dan merasa ada yang kurang. Dan saya juga ternyata baru tahu apa yang dia rasakan saat kegundahan melandanya. Ternyata pernikahan bukan bukti keberhasilan seseorang dalam hidup. Bahkan, ada teman saya yang lain dan sudah menikah menyarankan agar saya tidak perlu ngotot terburu-buru untuk menikah apalagi salah pilih pasangan. Jika waktunya tiba maka ia akan tiba juga katanya. Sebelum itu datang lebih baik optimalkan potensi diri untuk melakukan banyak hal yang positif seperti belajar, berkarya, dan mengeksplorasi hal yang kita suka dan tekuni.

Lalu apa sih sebenarnya keberhasilan itu? Kenapa makna keberhasilan jadi tidak pasti? Tulisan ini terinspirasi dari kajian Shubuh ustadz Abdul Somad tadi pagi tentang sukses hakiki. Kita mungkin sudah tahu, tapi sering lupa. Sukses yang sebenarnya yaitu senantiasa berada di jalan kebenaran yang diperintahkan Allah. Saya mencoba mengaitkan makna itu dengan kasus yang dialami teman saya, termasuk kasus saya sendiri. Saya menemukan makna keberhasilan dengan bahasa yang berbeda. Keberhasilan adalah saat kita ikhlas menerima apa yang diberikan Allah untuk kita. Menyukuri apa yang ada di hadapan kita. Makna keberhasilan bukan memiliki kekayaan berlimpah, punya paras cantik dan ganteng, menikah, punya anak, punya karir hebat, dan jabatan tinggi. Kenapa? Karena orang-orang yang memiliki hal tersebut masih saja tidak bahagia dengan apa yang mereka dapat. Bagaimana dengan orang yang hidup pas-pasan tapi bahagia? Atau tidak menikah dan punya anak tapi bahagia? Ternyata inti dari semua kebahagiaan yang berbanding lurus dengan keberhasilan itu adalah rasa syukur. Penerimaan atas keadaan yang ada dengan ikhlas. Bukankah setelah itu tak ada lagi kegalauan dan kekhawatiran? Saya berpikir, Allah pasti ingin membawa kita pada pemahaman ini. Berhasil berarti bersyukur atas apa yang Allah beri. Tetap berusaha memperbaiki diri dan melakukan yang terbaik untuk perubahan kehidupan di dunia dan akhirat yang diridhai Allah. Keberhasilan itu standarnya Allah yang menentukan. Apakah itu? Taqwa. Orang-orang bertaqwalah yang dikatakan Allah orang beruntung, sukses, dan berhasil. Bukan yang lainnya. Rasanya hidup lebih berarti dengan memaknai berhasil berdasarkan standar Allah ini.

”Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al A’raf: 69).

”Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al Maidah: 35).

“Maka adapun orang yang bertobat dan beriman, serta mengerjakan kebajikan, maka mudah-mudahan dia termasuk orang yang beruntung.” (Al-Qashas 67)

Masih banyak ayat-ayat yang membahas definisi dan contoh menjadi sukses/beruntung. Sungguh pandangan Allah lebih menentramkan untuk hidup kita daripada mengikuti pandangan manusia kebanyakan. Karena Allah lebih tahu apa yang harus dipentingkan dan yang terbaik untuk diri kita. Jadi, syukuri apa yang ada dalam diri kita dan terus berdoa meminta kebaikan.

Menulis adalah Kehidupan

Hari ini ada berita gembira. Barusan saya diberi tahu kalau kumpulan cerpen saya dan teman penulis lainnya akan terbit dalam waktu dekat ini. Senang sekali menunggu momen ini. Ini cerpen kedua saya yang terbit, sebelumnya terbit sekitar tahun 2012. Sudah lama sekali. Tahun lalu saya dan teman-teman penulis lainnya melahirkan esai yang diterbitkan dalam bentuk e-book. Melihat karyamu lahir dan dibaca orang adalah suatu kebahagiaan tersendiri.

Menulis adalah aktivitas yang menyenangkan. Seharusnya saya benar-benar menekuni ini. Bahkan, ada seorang teman Facebook yang memotivasi saya untuk menulis agar bisa bertemu dengan penulis-penulis lainnya, dan siapa tau itu jodoh saya katanya. Saya hanya tertawa mendengarnya. Ya sih siapa tau. Tapi bukan itu tujuan saya menulis. Jodoh bisa datang dari mana saja, bahkan dari tempat atau situasi yang tidak diduga. Menulis adalah ajang mendokumentasikan pikiran dan menyebarkan kebaikan bagi saya.

Saya menulis apa pun yang saya suka. Dulu waktu masih kuliah S1, saya adalah penggila puisi hingga banyak puisi yang saya tulis. Menulis cerpen kesenangan saya sewaktu SMA, kemudian vakum cukup lama dan berlanjut saat saya kuliah S2. Untuk esai, saya menyenangi analisis tentang politik, agama, budaya, dan sastra. Itulah sebabnya blog adalah sesuatu yang penting bagi saya. Hingga saat ini saya sudah punya empat akun blog, yang tersisa dua, dan yang aktif cuma WordPress. Blog tumblr sudah terabaikan sekian lama. Tapi entahlah kenapa sekarang tulisan saya lebih banyak curhatan. Saya tampak seperti pribadi yang melankolis dan kesepian.

Banyak hal yang bisa saya lakukan, tapi tak saya seriusi. Saya kurang fokus sepertinya. Dalam hal apa pun, saya butuh teman dalam berkarya. Seperti kumpulan cerpen dan antalogi esai yang sudah terbit adalah contoh bagaimana saya termotivasi oleh lingkungan. Saya tampak kesepian sekali akhir-akhir ini. Sejak kepindahan ke Padang dari Jakarta tahun 2013 lalu, saya benar-benar kehilangan teman-teman terbaik saya. Walaupun masih saling kontak hingga sekarang, tetap saja kebersamaan dengan mereka sangat saya rindukan. Itulah sebabnya, saya berniat untuk kuliah lagi untuk membunuh kegundahan dan ketidakdinamisan hidup yang saya alami sekarang. Ini benar-benar membuat galau. Saya tak rela meninggalkan kedua orangtua yang selalu saya rindukan dan sayangi, tetapi juga tak mau terjebak pada lingkungan sosial saya yang monoton. Bagaimanapun, tampaknya saya memang harus sekolah lagi.

Tentang menulis, saya akan menekuninya lagi. Mungkin menulis fiksi adalah pilihan menarik saat ini. Pengalaman hidup tahun lalu sangat menginspirasi untuk saya dituliskan. Sebuah pelajaran berharga untuk diri saya bahwa kita tak selalu hidup dalam alur yang kita inginkan. Terkadang ada jalan yang membawa kita pada pemahaman tentang hidup yang lebih mendalam. Seolah sebuah pertanyaan besar yang ditujukan pada diri saya. Apa makna kehidupan bagi saya dan kehidupan seperti apa yang sesungguhnya saya inginkan. Bagaimanapun, pertarungan tahun lalu adalah sebuah kemenangan untuk diri saya dalam mempertahankan dan memperlihatkan prinsip hidup saya. Walaupun harus berkuras airmata dan kepedihan hati. Ini bukan hanya masalah cinta tapi identitas diri dan pilihan hidup.

Kisah hidup kita adalah sebuah buku yang akan dibacakan nanti di akhirat. Bahkan hidup kita sendiri adalah sebuah narasi yang akan dibukukan kelak.