Self Talk

The Years of Being Mediocre

I’m excited to a new journey. You know, sometimes God puts you in a circumstance to shift you to another. I should thank Allah for what I have now. He prepared a condition for me to change my mind and to change my life. It’s a blessing in disguise. Alhamdulillah. Now, I have to study hard and learn harder. These steps probably were not in vain. They took me to bittersweet experiences in viewing this world. Maturity is a process not a given. Some people may advise you and warn you, but the real understanding is when you face it yourself.

I asked myself, “Do you regret something?” For many mistakes I always regret them. But, for life experience I should not regret the condition. It’s all coming back to me in the end. I made a decision, then I had to be responsible to it. God only sees how I respond to the circumstance. This is the lesson I should realize. Good or bad depends on how we consider and manage it.

In life, God gave us choices. We have right to choose our own way. He just reminds us to always stay in the right track, in His way. It’s simple, but the reality is complicated. I’m so thankful for what He has given me until now. Thank you Allah, for not abandoning me, thank you for not leaving me. It is me who is afraid to leave and forget You. I’m not your perfect creature. I’m flawed in many ways. Thank you, for still loving me and giving me chance to change my mind.

O Fattaah, The Opener of all portals. I beg you for a new and blessed one. Eventhough I still have reasons to stay but they fade away slowly. They burnt me useless. I lost my vision. I’m no longer someone whom I recognize. It causes me to be dull. I can’t accept to be dumb and lose the meaning of virtue. Yes, once I ever tried to not give a look at what I did. I became an uncaring person. This is the worst thing in my life. Please, I don’t want to risk my life for being mediocre in front You. I’m not a bootlicker who begs for a slice of bread. I’m not that person. Save me from that kind of person. Forgive me and help me. Take me out of it.

I know everything won’t always be easy. I ask You for something which gives me blessing and grace. You’re The Exalter, The Giver of Honor. Please, take me to the right path and place.

Allahumma anzilni munzalan mubarakan wa anta khairul mundziliin. (Al Mukminun:29)

Advertisements

Fa aina tadzhabun?

Where will you go? Being an adult is something, but it has many things that make you worried. I’m amid of intersection.

I try to pamper myself that everything is just fine and will be alright. I keep thinking positively and enjoy my life. But, still I can’t bear it. I am scared to face life. I’m thinking about my future life, about my after life. If I keep being like this. What will I be? What will I gain? Will there any help when I go through that alone? Do I need companions for my life? Surely, I envy with people who have devoted children who can be treasure for their life. They will help their parents in after life. So, what do I have? I only have myself to stand for me. I know my deeds are not enogh. My only hope is Allah’ blessing for me. Yes, in the end I only need Allah’s help.

This world is not always kind. I can draw my self from bad people, but how long I can do that? Fighting alone. Lately, it’s hard for me to deal with people. Different perspective has different argument and goal. I can tolerate people for some reasons but I can be intolerant for other reasons. Not all people can handle you. Why should they handle you? We just need to respect each other. This is our attitude problem in social life. We cannot place things right. Losing consideration for dignity and respect.

When I meet people, the one thing I especially want to know about them is: are they authoritarian or egalitarian? This is the important thing. I’m an egalitarian person. So, sometimes I can’t get along with authoritarian persons. I can’t be handled as they want. I have my own perspective and try to respect others for what they have. It also goes for friendship and relationship. I will be with someone who has respect for others. That’s why make friends and relations are a little bit hard. I think becoming just an acquaintance is enough for me. Social life is inevitable. You can’t hide and run from that. I just want to say that finding the people who are typically you is not easy. Taking a distance is good but escaping from reality is impossible. Is this what millenials face now? I just realize that I’m a millenial who is surrounded by baby boomers and gen X people. Ah, why my problem getting worse than I thought before? Not all millenials are open minded, sometimes they imitate their older companions and becoming the same. I scrutinize my social life too close. Perhaps, I need to take a vacation and leave them a moment.

Wrong Story? Make A Plot Twist!

Ah, ternyata sudah menjelang akhir Agustus saja. Suatu hal penting yang harus disadari bahwa kesempatan saja tidak cukup karena takdir itu ikut menentukan. Rencana-rencanamu menguap setelah takdir menggagalkannya. Mungkin maksudnya: ini bukan waktunya atau jangan lakukan itu atau ada hal lain yang lebih menarik atau kau harus melalui ini dulu dan mungkin ada atau-atau lain yang tak kuketahui. Bahkan takdir pun menyimpan pertanyaan yang belum sempat dijawab. Mungkin nanti.

Lalu apa? Berencanalah. Bangun mimpi-mimpi yang ada di kepalamu. Kemudian lihat ke mana takdir membawamu. Karena hidup seperti sekotak coklat, kau tak tahu apa yang akan kau dapat. Begitu kata Forrest Gump. Jadi lakukan saja, percaya saja bahwa akan ada perubahan cerita dari kisah hidup yang mungkin kau anggap kurang menyenangkan saat ini.

If you found yourself in a wrong story, then make a plot twist. Membuat plot twist atau keluar dari cerita yang tak kau inginkan itu butuh waktu. Jangan kira seperti plot twist di kehidupan fiksi yang bisa seenaknya berubah kisah. Tapi, itu mungkin saja terjadi. Apa yang tak mungkin bagi Allah? Manusia punya kehendak begitu juga Allah. Jika kehendakmu dikabulkan Allah, maka pengalaman baru akan menantimu. Lihatlah, berapa banyak orang memulai pengalaman baru dengan mengubah pemikirannya dan kemudian membuat keputusan. Akan tetapi apa yang kau inginkan dan diberi jalan oleh Allah belum tentu semua baik, maka dari itu perhatikanlah apakah langkah yang kau ambil diridhai Allah atau tidak agar tak salah tempat lagi nanti. Mungkin selama ini aku terlalu takut dan berhati-hati mengambil langkah-langkah baru. Bahkan sudah dalam kondisi yang tidak kuinginkan masih berusaha untuk bertahan berharap ada perbaikan, padahal justru semakin menumpulkan dan memperburuk keadaan. Rabb, tolong kuatkan aku untuk melangkah dan memiliki cita-cita yang lebih tinggi.

Ok, baiklah. Inti dari membuat rencana dan keputusan adalah: pertama, lihat lagi apakah yang kau lakukan diridhai Allah. Kedua, kau harus yakinkan dulu dirimu, jangan sampai membuat keputusan yang tak kau yakini. Ternyata bagian kedua selalu hal yang paling berat bagiku (ini tak melulu masalah pernikahan). Artinya, harus belajar nekat yang rasional dan waras. Ok, ganbatte kudasai! Make a move! 😊

Kata-kata yang Melemahkan Iman

Ada sesuatu yang bisa merusak keimanan. Berawal dari membandingkan dan mendengarkan pernyataan-pernyataan yang membuat rendah diri atau tidak percaya diri.

Membandingkan kesalihan diri orang lain dengan diri kita. Melihat saat orang lain yang dipandang lebih shalih mendapatkan semua yang diinginkannya dalam doa-doanya. Kemudian melihat kepada diri sendiri. Diri ini masih berusaha untuk shalih, berupaya membangun keshalihan diri, ingin belajar lebih baik. Kemudian datang sebuah pernyataan yang mematahkan niat-niat baik yang sudah terpupuk. Membuat diri tak punya arti dan kehilangan harapan. Sesorang berkata, bagaimana doa-doamu akan terkabul, kamu saja shalatnya masih belum khusyuk, amalan kamu masih pas-pasan. Belum lagi dosa juga masih numpuk. Wajar aja keinginanmu susah terkabul. Deg! Kok ini bener-bener bikin down ya.

Saya yang memang masih banyak kurang amal ini merasa rendah diri dan berprasangka buruk seketika pada diri sendiri. Jadi doa-doaku dan upayaku untuk taat selama ini sia-sia? Apakah aku hanya melakukan hal sia-sia? Tak didengar dan dilihat Allah? Berarti tak ada bedanya aku melakukan amalan itu dengan tidak melakukannya jika Allah tetap tak peduli. Apa Allah benar-benar menutup pendengaran dan rahmat-Nya pada orang-orang yang belum sempurna amalannya?

Menjadi khusyuk, menjadi taat, menjadi percaya akan janji Allah itu butuh usaha. Kenapa usaha-usaha untuk menjadi baik itu dipatahkan oleh pernyataan yang mengerdilkan dan membuat diri menjadi semakin terpuruk?

Ya Allah, seburuk-buruknya hamba. Engkau masih melihat dan mendengarnya kan saat dia ingin menjadi orang yang shalih dan ingin percaya pada kebesaran dan pertolongan-Mu?

Saya juga masih dalam tahapan memperbaiki diri menjadi lebih baik. Mendengar ucapan-ucapan yang melemahkan itu pun ikut merasa terpuruk. Ya Allah, jika diijabahnya doa-doa dan ketaatan hanya milik orang-orang paling shalih dan paling baik, apa pantas kami terus berharap kepada-Mu? Sedangkan untuk taat ini butuh proses dan kesabaran yang hebat. Dalam proses ini apakah diri kami tak pantas mendapatkan kebaikan-kebaikan dari-Mu?

Seharusnya yang datang kepada kami adalah dorongan untuk terus berbenah diri, semangat untuk selalu taat dan yakin kepada Allah. Bukan kata-kata negatif yang melemahkan jika pintu-pintu kemudahan dan rahmat hanya Engkau beri pada orang yang paling taat.

Seketika hati ini merasa sedih tak terkira. Merasa diri tak berguna. Untuk mencapai sebuah maqam tertinggi sebagai orang shalih itu proses dan perjuangannya luar biasa. Jadi, kalau hanya masih remah-remah begini tak ada artinya, maka harapan siapa yang tidak akan pupus? Seolah kami ini tak didengar dan dilihat Allah. Keinginan untuk berdoa seolah terlemahkan untuk dilakukan karena mengangggap Engkau tak akan mendengar.

Ya Rabb, bagaimanapun keadaanku aku masih berdoa pada-Mu karena aku tak punya tempat berharap selain kepada-Mu. Tak punya tempat meminta dan bergantung selain pada-Mu.

Ya shamad, ya Rahman, ya Rahim. Seandainya Engkau tak mau mendengar biarlah harapan-harapan ini terus berkembang dan ketaatan ini terus meningkat menjadi lebih baik. Seandainya diri-Mu tak mendengar biarlah diri ini terus percaya bahwa pada akhirnya Engkau akan mendengar.

Cukup ayat ini yang terus kupercayai dan menyemangatiku ya Rabb.
β€œDan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), β€œAku itu dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

Rahasia Pintu Surga

Ada 8 pintu surga, salah satunya diperuntukkan bagi orang yang mampu menahan marah dan mau memaafkan. Orang yang masuk pintu surga ini memang spesial, maka pantas Allah memberikan tempat mulia untuk mereka. Bagaimana dengan saya? Apakah saya akan dipanggil dari pintu tersebut dan melangkah ke dalamnya? Sungguh ini perkara sulit. Saya baru menyadarinya sekarang. Iya, kau akan tahu bagaimana sulitnya suatu hal hingga kau diuji dengan hal tersebut. Saya bukan orang yang gampang marah dengan melepaskan emosi berapi-api. Saya terbiasa diam atau paling tidak jika sudah cukup kesal akan bersuara ya mungkin semacam debat. Tapi, tetap saja ini adalah refleksi marah sebenarnya walaupun bukan dengan kata-kata keras dan kasar.

Kontrol emosi memang sangat penting apa pun keadaannya. Siapa sih yang tidak pernah kesal? Saya mungkin tak sering diberi ujian yang memancing kemarahan ini. Tapi saat menghadapinya, saya jadi berpikir memang sulit ternyata ujian emosi ini. Bisa jadi kau tak marah dan melupakan, tapi hatimu tidak mau memaafkan. Forgotten but not forgiven. Atau bisa jadi memaafkan tapi tak melupakan, forgiven but not forgotten, artinya masih ada yang belum selesai di dalam hatimu. Baru terasa kenapa ujian ini berbuah surga.

Semakin kita dewasa dan bertambahnya umur, maka akan semakin banyak masalah yang akan kita hadapi. Ini karena kita telah menjadi individu mandiri yang eksistensinya sudah diakui masyarakat dan lingkungan kita. Kita sudah dipandang sebagai manusia seutuhnya karena tidak lagi diberi label anak kecil, anak muda atau masih bau kencur. Tanggung jawab ada pada pundak kita pribadi. Dan ini akan semakin kompleks jika seseorang menikah. Membawa nama dua orang sekaligus untuk citra diri di masyarakat. Di sini saya belajar untuk selalu mindful. Sadar dan peka dengan keberadaan diri dan lingkungan.

Jika kita berbuat sesuka hati, maka akan seperti apa kita membangun konsep diri di hadapan diri sendiri dan orang lain? Identitas apa yang kita ingin orang lain memandangnya? Kita yang menentukan identitas dan citra diri di hadapan orang lain. Maka, menjadi diri sendiri adalah sangat penting. Menjadi pribadi yang kita sendiri menghargainya dan kita pun mencintainya, begitu pun orang lain memandangnya.

Apakah kau pernah membenci diri sendiri? Itu tandanya ada konsep diri yang tak kau sukai dalam dirimu. Saya sesekali membenci diri saya dalam keadaan tertentu. Kondisi itu sesuatu yang tidak ideal yang saya dapati dalam diri saya. Masing-masing kita memiliki konsep diri ideal dan standarnya pasti berbeda, bergantung pada apa yang kita pandang baik dan buruk serta benar dan salah. Jika kita melanggarnya pasti akan timbul ketidaksukaan yang berujung pada rasa bersalah, penyesalan, atau benci pada diri sendiri. Apakah reaksi dalam diri kita ini baik? Saya pikir ini baik, sebagai bentuk kepekaan dari kita terhadap apa-apa yang kita yakini. Nah, yang tak peka mungkin bisa dipertanyakan seperti apa konsep dirinya.

Kembali lagi ke pintu surga tadi. Sungguh Allah Maha Tahu apa-apa yang sulit dan penuh rintangan sebagai ujian hambanya. Lagi-lagi hidup itu memang lahan ujian. Tak hidup namanya jika tak ada ujian. Ini cara Allah menilai kualitas diri kita. Dan bagi saya, ujian adalah bentuk refleksi diri. Saya menulis ini untuk pengingat diri lagi. Kesalahan bisa dilakukan oleh diri kita sendiri dan/atau orang lain. Hal yang utama adalah bagaimana menyikapinya. Kita tak selalu ditakdirkan bertemu orang-orang baik dalam kehidupan kita. Bahkan, bisa jadi kitalah sosok yang buruk dan menjadi ujian bagi orang lain atas kelalaian dan kesalahan diri kita.

Untuk itu, sangat penting selalu introspeksi diri, belajar dari setiap masalah, dan bersiap-siaga pada ujian-ujian berikutnya. Terkadang, pelajaran dan ujian itu diberikan berkali-kali hingga manusia sampai pada tingkat kesadaran sempurna. Bahkan ada pula yang tak sadar-sadar dan tak belajar hingga berkubang dalam permasalahan yang sama seumur hidup. Nauzubillahi minzalik. Irhamna ya Allah. Nastaghfirullahal ‘azhim.

Toxic People, Good Friends, and Drama

Lagi-lagi saya dapat pengalaman gak penting. Tapi gimana memang ini kenyataan. Kok rasanya pengen escape atau cepat-cepat kuliah lagi. Tampaknya jalan hidup kita memang gak selalu manis. Ada aja orang yang iri atau merasa repot dengan eksistensi kita. Inilah karakter toxic people. Dan sekarang saya pun jadi paham bahwa tidak semua orang bisa kita percayai. Seringnya orang-orang yang bermanis muka malah menusuk sangat dalam sekali dengan tiba-tiba. Kadang saya tercengang. Sepertinya ini untuk kedua kalinya saya mengalami ketercengangan yang hampir sama.

Ini mungkin bentuk introspeksi diri juga untuk saya. Tak selalu orang-orang berpikir seperti kita berpikir. Parahnya lagi mungkin ada kalanya kita pernah mengabaikan sesuatu yang ternyata menjadi masalah bagi orang lain. Ah, kok ya rumit begini ya. Benar sekali jika masalah komunikasi adalah pangkal permasalahan yang bisa makin runyam jika dibiarkan berlarut-larut dalam kesalahpahaman. Saya kalau sudah begini suka berpikir untuk menarik diri dari lingkungan sosial. Ah, pengecut sekali! Kadang saya lebih suka menghindari banyak pertikaian dibanding menantangnya. Saya bukan tipe orang yang suka konflik untuk penyelesaian masalah. I’m a pacifist. Tapi kenapa hari ini saya malah terseret ke sana?

Sungguh, hari ini entah apa yang terjadi. Terlalu banyak kekacauan yang tidak diinginkan terjadi. Bahkan, saya merasa sudah tidak nyaman dan berharap bisa segera menjauh. Ya, lebih baik saya kabur kuliah dan menghadapi masalah yang lebih elegan dari urusan keirian antarmanusia yang tak jelas juntrungan. Kalau sudah begini saya lebih suka jadi manusia antisosial. Karena bersosial justru membawa masalah. Hehe, mungkin sifat introvert saya memberi solusi begini. Nggak sih, solusi saya sebenarnya adalah menjauhi orang-orang yang suka bikin rusuh itu alias toxic people. Gak ada solusi lain bagi toxic people selain meninggalkan mereka dan biarkan mereka manggung sendiri di pentasnya.

Saya pernah ngobrol sama teman tentang tak ada gunanya mengurusi urusan orang lain yang di sana tak urusannya dengan urusan kita. Banyak sekali orang sibuk mengurusi orang lain karena iri atau dengki. Ada orang yang berpolemik karena merasa apa yang dilakukannya lebih berat dari orang lain sebelumnya, tapi yang dituntutnya bukan pembuat kebijakan tapi orang sebelumnya yang diberi tugas yang lebih ringan. Bukannya salah tempat? Entahlah. Bingung juga saya dengan hal ini.

Berurusan dengan manusia memang ribet. Apalagi jika manusianya selalu cari perkara dan tak mau memahami. Mungkin masalah saya adalah bertemu dengan orang-orang yang salah saja. Jika bertemu orang yang tepat tentu tak akan jadi masalah semuanya. 😊

Ini saya curhat karena udah saking speechlessnya. Bingung mengeluarkan suara atau uneg-uneg kayak apa. Di bulan puasa pula kejadiannya. Oh, ya Allah. Ujian apalah yang saya dapat hari ini. Semacam ujian keimanan yang bertubi-tubi datang untuk menguji seberapa tangguh saya bisa slow down menghadapi masalah macam ini. Tetap orang waras yang menang. Yang gila selalu kalah. Jadi, jangan gila dong! Tetaplah tenang dan berpikir lurus dan baik. Can I? Hiks, tetap saja saya butuh teman-teman terdekat saya untuk ngobrolin ini. Ya, besok kami sudah berjanji bertemu, tapi janji untuk buka bersama bukan membahas masalah ini. Tapi, tetap saja saya butuh cerita ini ke dia. Bukankah itu fungsi teman? Tempat di mana kau bisa melepaskan drama-drama hidupmu, dan mereka dengan sabarnya mendengar. Ya pokoknya mendengar dan tak menghakimimu, tidak merasa terganggu dengan keluh kesahmu. Itulah teman. Jika dia tak mampu menerima keluh kesah dan drama lebaymu, maka carilah teman lain karena dia tak punya empati pada perasaanmu hehe. Orang galau dan sedih itu yang penting cuma didengar. Urusan solusi mereka akan minta belakangan. Ah, betapa dramanya hidup perempuan ini. πŸ˜₯

Menulis adalah Kehidupan

Hari ini ada berita gembira. Barusan saya diberi tahu kalau kumpulan cerpen saya dan teman penulis lainnya akan terbit dalam waktu dekat ini. Senang sekali menunggu momen ini. Ini cerpen kedua saya yang terbit, sebelumnya terbit sekitar tahun 2012. Sudah lama sekali. Tahun lalu saya dan teman-teman penulis lainnya melahirkan esai yang diterbitkan dalam bentuk e-book. Melihat karyamu lahir dan dibaca orang adalah suatu kebahagiaan tersendiri.

Menulis adalah aktivitas yang menyenangkan. Seharusnya saya benar-benar menekuni ini. Bahkan, ada seorang teman Facebook yang memotivasi saya untuk menulis agar bisa bertemu dengan penulis-penulis lainnya, dan siapa tau itu jodoh saya katanya. Saya hanya tertawa mendengarnya. Ya sih siapa tau. Tapi bukan itu tujuan saya menulis. Jodoh bisa datang dari mana saja, bahkan dari tempat atau situasi yang tidak diduga. Menulis adalah ajang mendokumentasikan pikiran dan menyebarkan kebaikan bagi saya.

Saya menulis apa pun yang saya suka. Dulu waktu masih kuliah S1, saya adalah penggila puisi hingga banyak puisi yang saya tulis. Menulis cerpen kesenangan saya sewaktu SMA, kemudian vakum cukup lama dan berlanjut saat saya kuliah S2. Untuk esai, saya menyenangi analisis tentang politik, agama, budaya, dan sastra. Itulah sebabnya blog adalah sesuatu yang penting bagi saya. Hingga saat ini saya sudah punya empat akun blog, yang tersisa dua, dan yang aktif cuma WordPress. Blog tumblr sudah terabaikan sekian lama. Tapi entahlah kenapa sekarang tulisan saya lebih banyak curhatan. Saya tampak seperti pribadi yang melankolis dan kesepian.

Banyak hal yang bisa saya lakukan, tapi tak saya seriusi. Saya kurang fokus sepertinya. Dalam hal apa pun, saya butuh teman dalam berkarya. Seperti kumpulan cerpen dan antalogi esai yang sudah terbit adalah contoh bagaimana saya termotivasi oleh lingkungan. Saya tampak kesepian sekali akhir-akhir ini. Sejak kepindahan ke Padang dari Jakarta tahun 2013 lalu, saya benar-benar kehilangan teman-teman terbaik saya. Walaupun masih saling kontak hingga sekarang, tetap saja kebersamaan dengan mereka sangat saya rindukan. Itulah sebabnya, saya berniat untuk kuliah lagi untuk membunuh kegundahan dan ketidakdinamisan hidup yang saya alami sekarang. Ini benar-benar membuat galau. Saya tak rela meninggalkan kedua orangtua yang selalu saya rindukan dan sayangi, tetapi juga tak mau terjebak pada lingkungan sosial saya yang monoton. Bagaimanapun, tampaknya saya memang harus sekolah lagi.

Tentang menulis, saya akan menekuninya lagi. Mungkin menulis fiksi adalah pilihan menarik saat ini. Pengalaman hidup tahun lalu sangat menginspirasi untuk saya dituliskan. Sebuah pelajaran berharga untuk diri saya bahwa kita tak selalu hidup dalam alur yang kita inginkan. Terkadang ada jalan yang membawa kita pada pemahaman tentang hidup yang lebih mendalam. Seolah sebuah pertanyaan besar yang ditujukan pada diri saya. Apa makna kehidupan bagi saya dan kehidupan seperti apa yang sesungguhnya saya inginkan. Bagaimanapun, pertarungan tahun lalu adalah sebuah kemenangan untuk diri saya dalam mempertahankan dan memperlihatkan prinsip hidup saya. Walaupun harus berkuras airmata dan kepedihan hati. Ini bukan hanya masalah cinta tapi identitas diri dan pilihan hidup.

Kisah hidup kita adalah sebuah buku yang akan dibacakan nanti di akhirat. Bahkan hidup kita sendiri adalah sebuah narasi yang akan dibukukan kelak.

Make A Move

Do you know where I should start? I built something then it fell apart. I need more courage and optimism to rebuild my vision. I want to give up but I don’t want to be defeated. I want to get lost but at the same time I hate weakness and cowardice.

Things must be changable. Once, I played the song O Fortuna by Carmina Burana in the middle of the night. Yes, life is rough and tough. People become desperately depressed. I whined sometimes then stuck on boring situation. I found myself in prison of my own mind. My friend told me to get out of it. My mom and my sister asked me what I really want in life. I’m in the middle of intersection. I’m not looking for wealth, popularity, and pride. I want a meaningful life like becoming pious and grateful creature. It’s satisfying when we can give and share good things to other people. One thing I realize that I need to meet new people and new place. I need to share my vision. My problem is the stagnant environment. I’m surrounded by people who lost their vision in life. They let many precious chances go in vain. This is the matter that will happen when you are working under bad leadership and management. Oh, looks like I’m trying to blame some people. πŸ˜„

Yes, I have to take my doctoral degree soon. I have to. It’s a must! 😀

Let’s prepare for new experience! I’m thinking of my proposal. Let’s work it out!

Cinta yang Penuh

Bahkan untuk mencintaiMu ya Rabb, butuh usaha lebih keras. MencintaiMu selalu menuntut bukti kesungguhan. Bukan sekadar mencintai untuk mendapatkan keinginan duniawi semata. Sungguh, aku ingin mencintaiMu tulus bukan karena ada sesuatu yang kupinta dariMu. Cinta ini meminta keikhlasan yang tinggi dan pengakuan diri yang mendalam bahwa memang aku tak bisa hidup tanpaMu.

Ya Rahman ya Rahiim, Allah Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi. Dalam nama indahMu, Engkau adalah pemilik tertinggi cinta. Bagaimana mungkin aku akan menyerahkan cinta yang tak penuh kepadaMu? Justru aku yang tak tau diri jadinya.

Ya Aziz ya Kabiir, keperkasaan dan kebesaranMu melingkupi segalanya. Aku punya apa? Dan masih saja diri ini tak seutuhnya berserah diri kepadaMu. Masih saja taat ini tak sempurna.

Ya Shamad, kepada siapa lagi aku akan bergantung jika tidak kepadaMu? Semua selainMu adalah kefanaan. Hanya Engkau yang kekal, berdiri sendiri, dan meliputi segalanya.

Ya Ghaffur ya ‘Afuw ya Thawwab, aku selalu meminta ampunan dan maaf berkali-kali dan bertobat tak henti-henti. Karena sebanyak apa pun itu, tak akan pernah cukup. Pada akhirnya, RahmatMu lah yang mencukupi dan memenuhi segalanya.

MencintaiMu sangat berat, tapi aku sangat mau. Bahkan tak mengapa jika harus jatuh bangun. Aku ingin sampai pada maqam cinta yang tertinggi itu. Aku ingin sampai pada kesadaran penuh bahwa cara mencintaiMu berbeda dengan mencintai makhlukMu.

Ya Rabbi, masih saja terasa tabir itu. Kenapa jarak kita selalu bergeser jauh dan dekat? Tak pernah tetap saja dalam kedekatan. Hal itu membuatku sadar jika aku harus terus berjuang agar kita dekat. MencintaiMu adalah usaha dan kerja setiap saat, tak cukup sekali atau beberapa kali. CintaMu menuntut segalanya dariku. Kau ingin diriku untukMu. Jika tidak, Kau akan cemburu. Ya Rabb, bukankah cinta hebatMu seharusnya aku syukuri. Siapa yang bisa mencintai diriku sehebat diriMu? Engkau bisa memberi melebihi dari apa yang kuminta dan butuhkan. Bahkan ya Rabbi, ridhoMu adalah yang tertinggi dari segalanya. Bukankah Engkau pencinta sejati itu?

Hasbiyallah… Hasbiyallah. Hasbiyallah wani’malwakiil, ni’malmaula wani’mannashiir.

Create Your Visionary Future

Cara terbaik untuk melepaskan diri dari kondisi stagnan adalah dengan belajar. Belajar bisa dilakukan dengan berbagai cara di antaranya dengan membaca buku, mempelajari aktivitas fisik baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya, melakukan pembicaraan dua arah dengan orang lain, dan melakukan hobi baru yang menyenangkan dan menantang.

Kesemua hal itu membutuhkan kerja otak yang di luar kebiasaan. Otak akan mulai mempelajari sesuatu yang baru dan mengirimkannya sistem saraf agar bisa diterima dan dibiasakan oleh sistem tubuh kita.

Saya jadi berpikir, saat mengalami kegalauan atau tekanan mental justru seseorang membiarkan otaknya bekerja pada satu hal saja yaitu masalah yang menjadi kegalauan tersebut. Justru dengan demikian otak menerima beban yang sangat berat karena tidak adanya kedinamisan dalam aktivitas. Ternyata otak bisa mengalami kelelahan karena tertumpu pada satu hal saja dan sifatnya tidak produktif. Artinya otak selalu ingin bekerja melakukan aktivitas produktif dan positif. Positif di sini maksudnya adalah yang membawa kepada hal-hal visioner dan membangun.

Luar biasa sekali. Saya kadang jadi merasa bersalah sudah membebani otak dengan hal-hal tidak produktif yang membuatnya menjadi kaku, kelelahan, dan buntu. Saya menyadari ini setelah mulai membaca buku baru (bukan buku akademik yang biasa saya baca) yang memberikan pengetahuan baru bagi saya. Saya membeli banyak buku beberapa minggu lalu dengan konten yang variatif. Ada buku puisi Aan Mansyur, Al-Hikam oleh Ibn ‘Athailah, dan Tinta Emas Sejarah Islam. Buku-buku ini mulai saya baca dua hari belakangan. Saya adalah seorang tsundoku, punya hobi koleksi buku dengan motivasi membaca tidak sebanding dengan hasrat membeli buku yang lebih besar. Sebagian besar uang saya dibelanjakan untuk buku (jika tidak beli baju hehe).

Banyak buku yang tersimpan di rak buku belum saya baca hingga tuntas, paling hanya satu hingga dua bab yang saya baca seperti buku Mukaddimah Ibnu Khaldun yang mulai saya baca lagi kemarin. Luar biasa, isinya benar-benar menggugah pikiran saya tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang intelektual muslim. Selama ini karena membaca tidak tuntas jadinya pengetahuan saya tidak utuh dan menyeluruh tentang buku tersebut, hanya membaca yang dirasa dibutuhkan dan menarik saja. Sekarang saya bertekad untuk membuat daftar buku yang akan dibaca sekaligus tenggat waktu selesainya.

Pengetahuan baru ini menyegarkan otak saya dan saya berpikir masalah yang saya hadapi sebenarnya hal sepele dan sudah selesai, saya saja yang suka drama kalau lagi PMS. Apa yang terjadi dalam hidup saya adalah skenario terbaik dari Allah untuk saya. Allah selalu baik pada saya. Seharusnya saya bersyukur atas kesudahan masalah yang ditetapkan Allah untuk saya. Ah, tapi memang masalah hati selalu menyita banyak perhatian manusia (yah mulai lagi…).

Saya punya banyak aktivitas produktif untuk dilakukan sebenarnya yang selama ini saya abaikan. Saya ingin meningkatkan kualitas memasak di dapur yang selama ini saya tekuni, meningkatkan kemampuan berbahasa asing yang tidak mengalami progress (terutama bahasa Arab), menambah hafalan ayat Quran yang gak nambah-nambah, hingga melakukan aktivitas fisik baru yaitu menyetir dan berenang. Sampai sekarang saya kurang termotivasi melakukan dua hal ini, sukanya jadi penumpang aja males bawa mobil. Dan berenang sepertinya hobi baru yang akan menarik dilakukan, tapi mungkin tidak dalam waktu dekat ini (ngeles lagi). 😁

Ok, bukankah banyak yang harus dilakukan dalam hidup untuk menjadi manusia berkualitas, kenapa membiarkan diri larut pada sesuatu yang tidak produktif?

Dan satu lagi yang harus saya lakukan yaitu hati-hati memilih teman, termasuk calon teman hidup. Salah-salah bisa menumpulkan diri sendiri.

Catatan: patah hati memang sakit, tapi lebih sakit lagi kalau sampai salah mencintai. Biarlah kita pergi meninggalkannya dan dia pergi dengan orang lain, asal kita tidak menjadi korban jangka panjangnya dalam pernikahan. Jangan galau! Yak, baper lagi, coy!) πŸ˜†