Self Talk

Release it, content it!


Tuhan mengujimu sampai kau benar-benar tangguh. Hingga yang tersisa adalah penyerahan dirimu pada-Nya seutuhnya. Lalu,  kenapa masih berusaha mengambil alih semua urusan seolah kau mampu mengendalikannya sekehendakmu? Berhentilah. Serahkanlah dan lepaskanlah. Itu lebih baik bagimu. Karena dirimupun seutuhnya adalah milik-Nya.

Berhentilah mengkhawatirkan segala sesuatu, kecuali amalmu pada-Nya. Berhentilah memaksakan sesuatu yang kau tak tahu baik buruknya. Berhentilah memikirkan sesuatu yang tak membawa peningkatan derajatmu di hadapan Tuhanmu. Berhentilah membuat dirimu berlelah-lelah untuk sesuatu yang tak bermakna bahkan sia-sia.

Allah dekat, lebih dekat dari urat nadimu. Dia menggenggam hati dan jiwamu. Kemana kau akan pergi? Kemana akan lari? Ah, jahat sekali saat kau berpaling dan mencari pertolongan selain dari-Nya. Kau membiarkan dirimu terlunta-lunta mencari pertolongan lain. Akhirnya, tercabik-cabik hilang arah.

Sudah cukup menyibukkan diri dengan pikiran dan kehendakmu sendiri. Lepaskanlah dan serahkan pada Allah. Kau akan terbebas, ternaungi, terampuni, dan terberkahi. Kau akan dicintai dan ditunjuki.

Lepaskan dan serahkan semua pada Allah.

The heart story

 

I always talk to my heart every day. I ask questions and give answers. This is my daily activity. I construct my mind and heart every day so that they stay sane and calm. Yes, they should be like that. I hate it when they turn to contradict each other and I have to end tortured.

My heart keeps searching its mate. Sometimes my radar can find and feel it. After that, I feel afraid. I’m afraid I was wrong and expect too much. Then, I will try to pamper my heart that I shouldn’t be too hasty. I ask God to guide my heart since I don’t know what it really wants and needs. Sometimes I cried many nights to convince my self not to hurry and hope God will tie my heart to its real mate. Yes, sometimes I found it, but then I was wrong. I found it again, and feel afraid and hesitate. I’m a little coward who try to deny my feeling and afraid to be dumped. I’m not that strong woman, right? Haha. This is stupid and random. What I did in the end is to calm my self and not to hurry. I’m afraid I was wrong and if it’s just me who feel and want it. Again, I ask God to guide my heart and let my self be calm. I keep searching and hoping. I don’t know when I have to stop.

You know, I’m not good in telling a story about heart and feeling. I don’t have many vocabularies about it. Because the thing I know is only the word “love”. *I’m a romantic badass! 😄

Sorry.  This story is real but I don’t know why I write it like a trash. 😅

Don’t Be Hasty

hastiness

Adakah yang lebih berat daripada perang melawan diri sendiri? Ketidakmampuan mengelola emosi dan keinginan adalah hal terberat saat kita secara dramatis menganggap itu suatu hal yang harus dipenuhi–dilaksanakan sekarang juga. Melelahkan harus menahan diri dan mengontrol pikiran sendiri. Benar rupanya jika rasionalitas tidak bisa sejalan dengan perasaan/emosi. Mereka berada di jalur sel saraf yang berbeda. Tak bisa disatukan, kecuali kita mengambil jeda sejenak. Jeda ini berarti menunggu, masuk ke ruang kosong, kemudian mempertemukan isi pikiran dan hati yang berseteru. Kita akan menemukan makna saat kita memberi waktu, saat tidak terburu-buru.

Dalam kajian Psikologi, kita mengenal kecerdasan emosi untuk pengelolaan emosi. Kecerdasan emosi berarti melibatkan kemampuan berkomunikasi dengan diri sendiri. Membiarkan pikiran dan perasaan kita bercakap-cakap, menimbang-nimbang berbagai hal, kemudian memutuskan. Ini lebih sulit daripada berkomunikasi dengan orang lain. Artinya, penyelesaian masalah di atas tak cukup diselesaikan dengan komunikasi intrapersonal, tapi membutuhkan komunikasi antarpersonal. Kita memberikan kesempatan pada orang lain untuk mendekonstruksi pikiran dan perasaan kita.

Selain itu, cara untuk melepaskan masalah di atas adalah dengan menangis. Ini cara sederhana yang ampuh. Setelah menangis biasanya pikiran dan perasaan akan lebih rileks. Sel-sel otak disegarkan kembali. Kita pun lebih waras dari keadaan sebelumnya. Ini memang selalu ada hubungannya dengan kajian Neurologi dan Psikologi. Sayangnya, saya kurang mendalami kedua ilmu itu sehingga proses ilmiahnya tidak tergambar secara jelas dalam tulisan ini.

Cara lain yang juga ampuh adalah beribadah. Spiritualitas sangat membantu menenangkan. Hubungan antara manusia dengan Tuhannya menembus batas-batas dan memberikan efek psikologis yang positif. Banyak mengingat Allah dengan beristighfar (memohon ampun pada Allah) dan memperbanyak dan memperpanjang doa terbukti mampu mengangkat beban pikiran dan perasaan. Ketika semuanya dikembalikan pada Allah, bukankah tak ada yang perlu dikhawatirkan? Karena semua berjalan atas kehendak Allah. Jikapun ada keingingan tidak terwujud, kita bisa ikhlas menerima.

Cara lain yang saya terapkan untuk mengelola emosi adalah dengan mengkonsumsi minuman berkafein. Ini cukup membantu memberikan sensasi menenangkan mood yang turun naik. Walaupun ini sifatnya sementara, tak ada salahnya juga dicoba. Tapi, saya tidak berani berlebihan mengonsumsi kafein khawatir memberikan efek kesehatan yang buruk.

Apa pun itu, kita harus selalu beri waktu. Sikap impulsif dan terburu-buru membuat masalah menjadi semakin runyam dan kita tak lebih dari orang mabuk yang berusaha memutuskan perkara. Jika kita sampai melakukannya, maka bersiaplah dengan masalah baru yang lebih buruk lagi. Jika pernah melakukan kesalahan itu, maka masuk ke lubang yang sama adalah kebodohan besar. Be sane!

I’m on my way to be sane right now. This short writing helps me a lot. 🙂

Photo credit: https://id.pinterest.com/pin/77687162294354456/