Self Talk

Losing Chance?

Mungkin sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi saat cita-cita belum tercapai adalah agar waktu tidak cepat berlalu mendahului, atau masih diberikannya kesempatan yang sama untuk keinginan-keinginan yang sama. Tapi terkadang manusia terlalu terburu-buru. Merasa waktu akan segera habis dan melakukan apa pun agar cita-cita mereka tercapai, tak peduli apa yang didapatkan. Lalu bagaimana jika cita-cita itu tidak tercapai? Ya sudah. Mau apa? Terima saja.

Pertanyaan pentingnya adalah apakah kita akan mengorbankan diri kita untuk sesuatu yang membuat kita tidak bahagia? Konsep bahagia mungkin relatif. Kadang saya pun tak tahu bahagia itu seperti apa, kadang berubah-ubah. Tentunya tiap orang punya standar bahagia yang berbeda. Masalahnya adalah apakah kita akan memaksakan standar bahagia kita pada orang lain yang memiliki standar yang berbeda? Tentu tidak bisa. Memaksakan tidak bisa, mempengaruhi dan mengubah persepsi seseorang mungkin bisa.

Namun seringkali orang memaksakan konsep bahagianya pada orang lain. Bukankah ini akan menyakiti dan membebani orang lain? Ok lah, jika ingin seseorang mencapai kebahagiaan yang diinginkan, tak bisakah manusia memberikan atau menawarkan sumber kebahagiaan yang diinginkan orang tersebut? Jika kita ingin bahagia tentu kita akan mencari sesuatu yang baik-baik dan menyenangkan untuk diri kita. Mungkinkah membahagiakan diri dengan sesuatu yang kita sendiri tidak suka? Maka, jika ingin membahagiakan orang lain, berilah yang terbaik untuk mereka. Jangan sampai kita memberikan sesuatu yang kita sendiri tidak suka jika kita diberikan hal tersebut.

Ukurlah kebahagiaan dirimu, ukur juga kebahagiaan orang lain. Jika ingin memberi, mungkin bisa bertanya dulu apa yang disukai orang tersebut. Jadi pemberianmu akan dihargai dan tidak menyakiti serta membebani orang lain. Jangan mentang-mentang orang lain belum mendapatkan kebahagiaan lantas memberikan apa pun yang dipikir dapat membahagiakannya. Bahkan sembarangan memberikan sesuatu tanpa pertimbangan justru akan berdampak fatal di kemudian hari. Ingat, bahwa manusia adalah makhluk yang unik, mereka berbeda secara individu, jangan perlakukan mereka sama dengan mengabaikan sisi personalnya.

Yang pasti Allah menggenggam segalanya. Dia menetapkan dan memberikan sesuai kehendak-Nya. Jika pada akhirnya, itu sesuatu yang telah ditetapkan apa boleh buat. manusia mau apa?

Advertisements

Release it, content it!


Tuhan mengujimu sampai kau benar-benar tangguh. Hingga yang tersisa adalah penyerahan dirimu pada-Nya seutuhnya. Lalu,  kenapa masih berusaha mengambil alih semua urusan seolah kau mampu mengendalikannya sekehendakmu? Berhentilah. Serahkanlah dan lepaskanlah. Itu lebih baik bagimu. Karena dirimupun seutuhnya adalah milik-Nya.

Berhentilah mengkhawatirkan segala sesuatu, kecuali amalmu pada-Nya. Berhentilah memaksakan sesuatu yang kau tak tahu baik buruknya. Berhentilah memikirkan sesuatu yang tak membawa peningkatan derajatmu di hadapan Tuhanmu. Berhentilah membuat dirimu berlelah-lelah untuk sesuatu yang tak bermakna bahkan sia-sia.

Allah dekat, lebih dekat dari urat nadimu. Dia menggenggam hati dan jiwamu. Kemana kau akan pergi? Kemana akan lari? Ah, jahat sekali saat kau berpaling dan mencari pertolongan selain dari-Nya. Kau membiarkan dirimu terlunta-lunta mencari pertolongan lain. Akhirnya, tercabik-cabik hilang arah.

Sudah cukup menyibukkan diri dengan pikiran dan kehendakmu sendiri. Lepaskanlah dan serahkan pada Allah. Kau akan terbebas, ternaungi, terampuni, dan terberkahi. Kau akan dicintai dan ditunjuki.

Lepaskan dan serahkan semua pada Allah.

The heart story

 

I always talk to my heart every day. I ask questions and give answers. This is my daily activity. I construct my mind and heart every day so that they stay sane and calm. Yes, they should be like that. I hate it when they turn to contradict each other and I have to end tortured.

My heart keeps searching its mate. Sometimes my radar can find and feel it. After that, I feel afraid. I’m afraid I was wrong and expect too much. Then, I will try to pamper my heart that I shouldn’t be too hasty. I ask God to guide my heart since I don’t know what it really wants and needs. Sometimes I cried many nights to convince my self not to hurry and hope God will tie my heart to its real mate. Yes, sometimes I found it, but then I was wrong. I found it again, and feel afraid and hesitate. I’m a little coward who try to deny my feeling and afraid to be dumped. I’m not that strong woman, right? Haha. This is stupid and random. What I did in the end is to calm my self and not to hurry. I’m afraid I was wrong and if it’s just me who feel and want it. Again, I ask God to guide my heart and let my self be calm. I keep searching and hoping. I don’t know when I have to stop.

You know, I’m not good in telling a story about heart and feeling. I don’t have many vocabularies about it. Because the thing I know is only the word “love”. *I’m a romantic badass! 😄

Sorry.  This story is real but I don’t know why I write it like a trash. 😅

Don’t Be Hasty

hastiness

Adakah yang lebih berat daripada perang melawan diri sendiri? Ketidakmampuan mengelola emosi dan keinginan adalah hal terberat saat kita secara dramatis menganggap itu suatu hal yang harus dipenuhi–dilaksanakan sekarang juga. Melelahkan harus menahan diri dan mengontrol pikiran sendiri. Benar rupanya jika rasionalitas tidak bisa sejalan dengan perasaan/emosi. Mereka berada di jalur sel saraf yang berbeda. Tak bisa disatukan, kecuali kita mengambil jeda sejenak. Jeda ini berarti menunggu, masuk ke ruang kosong, kemudian mempertemukan isi pikiran dan hati yang berseteru. Kita akan menemukan makna saat kita memberi waktu, saat tidak terburu-buru.

Dalam kajian Psikologi, kita mengenal kecerdasan emosi untuk pengelolaan emosi. Kecerdasan emosi berarti melibatkan kemampuan berkomunikasi dengan diri sendiri. Membiarkan pikiran dan perasaan kita bercakap-cakap, menimbang-nimbang berbagai hal, kemudian memutuskan. Ini lebih sulit daripada berkomunikasi dengan orang lain. Artinya, penyelesaian masalah di atas tak cukup diselesaikan dengan komunikasi intrapersonal, tapi membutuhkan komunikasi antarpersonal. Kita memberikan kesempatan pada orang lain untuk mendekonstruksi pikiran dan perasaan kita.

Selain itu, cara untuk melepaskan masalah di atas adalah dengan menangis. Ini cara sederhana yang ampuh. Setelah menangis biasanya pikiran dan perasaan akan lebih rileks. Sel-sel otak disegarkan kembali. Kita pun lebih waras dari keadaan sebelumnya. Ini memang selalu ada hubungannya dengan kajian Neurologi dan Psikologi. Sayangnya, saya kurang mendalami kedua ilmu itu sehingga proses ilmiahnya tidak tergambar secara jelas dalam tulisan ini.

Cara lain yang juga ampuh adalah beribadah. Spiritualitas sangat membantu menenangkan. Hubungan antara manusia dengan Tuhannya menembus batas-batas dan memberikan efek psikologis yang positif. Banyak mengingat Allah dengan beristighfar (memohon ampun pada Allah) dan memperbanyak dan memperpanjang doa terbukti mampu mengangkat beban pikiran dan perasaan. Ketika semuanya dikembalikan pada Allah, bukankah tak ada yang perlu dikhawatirkan? Karena semua berjalan atas kehendak Allah. Jikapun ada keingingan tidak terwujud, kita bisa ikhlas menerima.

Cara lain yang saya terapkan untuk mengelola emosi adalah dengan mengkonsumsi minuman berkafein. Ini cukup membantu memberikan sensasi menenangkan mood yang turun naik. Walaupun ini sifatnya sementara, tak ada salahnya juga dicoba. Tapi, saya tidak berani berlebihan mengonsumsi kafein khawatir memberikan efek kesehatan yang buruk.

Apa pun itu, kita harus selalu beri waktu. Sikap impulsif dan terburu-buru membuat masalah menjadi semakin runyam dan kita tak lebih dari orang mabuk yang berusaha memutuskan perkara. Jika kita sampai melakukannya, maka bersiaplah dengan masalah baru yang lebih buruk lagi. Jika pernah melakukan kesalahan itu, maka masuk ke lubang yang sama adalah kebodohan besar. Be sane!

I’m on my way to be sane right now. This short writing helps me a lot. 🙂

Photo credit: https://id.pinterest.com/pin/77687162294354456/