Uncategorized

Drama is Life

Drama itu selalu menarik. Gak ada drama pasti datar-datar saja. Itulah sebabnya dalam cerita fiksi unsur drama punya peranan penting memainkan emosi pembacanya. Begitu juga dengan film. Bahkan hidup pun gak lepas dari drama. Saya tidak terlalu sering nonton film, tapi suka beberapa genre film. Yang paling saya suka adalah film bergenre drama dan sejarah. Itu terasa sekali hidup ceritanya.

Kali ini ada yang berbeda. Adik saya tiba-tiba mengajak saya nonton film Avengers, tipikal film action fantasi. Saya tak terlalu suka fiksi fantasi, tapi karena diajak ya sudah ikut aja. Rupanya Avengers Infinity War cukup menarik perhatian saya. Kenapa? Karena ceritanya jadi mendadak drama. Kisah Thanos dan putri angkatnya Gamora cukup mengusik emosi. Walaupun saya melihat drama cinta ayah-anak ini penuh kepalsuan. Thanos rela menukar Gamora dengan sebuah infinity stone. Yang menarik adalah syarat yang harus dipenuhi Thanos. Dia diminta untuk mengorban nyawa orang yang paling dicintainya untuk ditukar dengan batu itu. Tentu saja Gamora tersenyum sinis karena dia tahu Thanos tak pernah punya cinta dalam dirinya, bahkan untuk Gamora putri angkatnya. Tapi, apa yang terjadi? Tiba-tiba Thanos menangis dan dan memperlihatkan rasa cinta yang dimilikinya. Untuk siapa? Ternyata cintanya adalah Gamora. Aneh memang. Kok bisa-bisanya cinta tulus ditukar dengan batu yang menjadi obsesi buta. Lebih aneh lagi ketika rasa cinta Thanos yang terlihat tak mencintai itu berhasil ditukar dengan infinity stone. Is it love when you sacrifice it for another precious love?

Ah, tapi kemudian saya sadar. Bukankah cinta punya tingkatan dan kadar. Bahkan, Nabi Ibrahim rela mengorbankan anaknya Nabi Ismail untuk dikorbankan pada Allah. Ada cinta di atas cinta. Bukannya tak cinta pada Ismail, tapi cinta pada Allah menempati tingkat tertinggi bagi Nabi Ibrahim. Ok, Thanos. Now I got it. Akan tetapi, di akhir cerita justru Thanos mengalami kegalauan setelah berhasil mendapatkan seluruh infinity stones. Perasaannya terusik setelah apa yang dilakukannya pada Gamora. Sebuah ilusi muncul dalam pandangannya seolah Gamora kecil mempertanyakan apakah yang sudah dicapai Thanos adalah kebahagiaan dan kepuasan tertinggi baginya. Thanos merenung. Yaaaak, this is the drama! Kalau gak gini gak akan seru yang namanya kehidupan. Mendadak baper melihat Thanos di akhir film Avengers Infinity War ini. Tampaknya masih akan ada sekuelnya. Tapi saya gak terlalu ngebet nonton. Udah ketebak aja sih ceritanya. Pasti Thanos mau mengembalikan kehidupan Gamora. Cinta itu kekuatannya luar biasa saudara-saudara haha, jika tak membutakan ya meluluhkan. ๐Ÿ˜„

Jadi, jika hidupnya banyak drama dan ujian bersyukurlah akan ada sekuel baru dalam hidupmu yang akan terjadi. Apa jadinya jika datar-datar saja. Semangat tak ada, perjuangan tak ada, apalagi cita-cita. Semua rutinitas membosankan. Kau tak punya sesuatu yang berharga untuk dihebohkan. Maka, jangan baper dikasih ujian sama Allah. Kalau tak begitu, mana kau tahu cintamu sebesar apa pada Allah. Ya kan? Allah ingin menunjukkan apa yang lebih kau pilih dalam hidup ini sebagai prioritas. Biar kita tau diri sebesar apa cinta kita pada Allah.

Advertisements

What da fake!

Ini sangat lucu. Apa itu? Manusia suka sekali menipu dirinya. Semua orang tahu ini dan bisa jadi sering melakukannya. Di luar sana banyak orang memasang topengnya saat berhadapan dengan orang lain. Topeng ini suatu yang membahayakan. Membahayakan diri sendiri dan orang lain. Pagi ini saya tergelitik untuk membahas ini karena menemukan fakta yang cukup membuat miris di lingkungan sekitar saya. Ini menyedihkan karena kita melihat orang-orang yang memakai topeng adalah orang-orang yang tak mampu menerima keadaan dirinya sendiri. Saat topeng itu lepas justru menjadi hal yang menyakitkan bagi orang-orang di sekitarnya. Yah, begitulah. Menyebalkan memang orang sepeti ini, tapi sayangnya mereka ada, adaaaa gitu loh. Ah, people… Kenapa sih orang suka memperumit hidup seperti ini dengan topengnya? ๐Ÿ˜‘

Tulisan ini akan saya lanjutkan nanti, harus berangkat ke kampus sekarang. Nitip topik seru dulu.

Ada Apa dengan Malam?

Kau tahu bagaimana menjadi kuat? Saat orang-orang membiarkanmu berjuang sendiri, dan kau masih punya semangat untuk melangkah tanpa ragu. Karena kau tahu, yang kau butuhkan adalah pertolongan Allah lewat orang-orang ikhlas. Apa kau tahu jika kau benar-benar kuat? Saat kau tak meminta lebih atas apa yg diberikan manusia padamu dan meminta Allah yang mencukupinya. Kau memang benar-benar kuat saat orang-orang memamerkan kebahagiaan mereka dan kau tak merasa sedih dan iri sedikitpun karena kau tahu bagian mereka bukan bagianmu, begitu juga bagianmu bukan bagian mereka.

Kau tahu siapa yang menetapkan itu? Allah Yang Maha Besar, Maha Memberi kecukupan dan Maha Menyayangi. Belum tentu apa yang diberi Allah untuk orang lain akan membuatmu bahagia. Allah hanya menyuruhmu untuk bersyukur atas apa yang kau punya dan ada waktunya bagianmu akan tiba sesuai yang diinginkan Allah. Bisa jadi kehidupan yang kau harapkan dari yang dipunyai orang lain bukan sesuatu yang kau butuhkan. Bukan berarti kau tak boleh meminta pada Allah. Tapi tentunya Allah akan beri sesuatu yang terbaik untukmu. Kau percaya kan Allah Maha Melihat dan Mendengar harapan-harapan di dalam dadamu? Jadi, tetaplah bahagia dan bersyukur.

Saya selalu datang ke rumah kedua ini, ya ke blog ini untuk merefleksi diri. Tempat ini semacam sanctuary untuk saya. Tempat nyaman untuk melepas semua yang terasa. Tempat menemukan diri saya kembali, dan tempat untuk membangun kekuatan diri. Bahkan mungkin tempat pelarian dari kusut dan riuhnya dunia. Ternyata masih ada rumah lain untuk bersinggah. Di sini saya bisa berbincang lebih lama dengan diri sendiri. Sepertiga malam belum cukuprasanya untuk diri dan Rabb saya. Ah, kenapa tiba-tiba jadi sedih begini. Kok airmata sampai merembes hingga ke kelopak mata. Mungkin karena apa yang saya rasakan malam ini.

Jika saya pulang dari kampus selepas maghrib, selalu ada perasaan ganjil yang menyergap saat saya berdiri menunggu kendaraan umum untuk pulang. Saya seperti berdiri di tempat asing melihat malam semakin kelam. Melihat mobil-mobil melintas, perasaan asing itu semakin asing. Saya merasa asing. Malam bukanlah waktu yang tepat untuk saya. Orang-orang yang warungnya saya jadikan tempat berteduh ketika hujan selalu bertanya kenapa saya sendiri. Ah, mereka tak tahu. Jika keluarga saya ada di kota ini tentu saya tidak akan sendiri malam-malam begini. Ternyata, kita butuh kehadiran keluarga di kota ini.

Entahlah, sejak saya kuliah ke luar pulau dulu justru sendiri bukanlah hal yang asing dan menyedihkan. Sekarang saat saya pulang ke kampung halaman, kesendirian menjadi hal aneh dan tak menyenangkan. Kadang suasana lingkungan dan karakter orang-orangnya bisa mengubah perasaan dan persepsi kita. Di kota ini orang terbiasa dimanjakan pasangannya. Sedangkan di kota besar, bukanlah keanehan melihat perempuan tak ditemani laki-laki. Memang ada baiknya perempuan tak boleh pulang melewati Maghrib. Tak elok dan tak aman rasanya. Pantaslah perasaan saya selalu tak enak kalau sudah kesorean atau pulang di awal malam begini.

Salahkah Godaan?

Apa yang membuat cita-cita menjadi buyar? Karena datangnya godaan-godaan yang melemahkan. Seringkali saya mengalami hal ini, bahkan sekarang muncul hal serupa. Ini yang bikin galau tak jelas. Saya lemah kalau sudah begini. Seperti anak gadis pasrah dipaksa kawin hehe lebay. Cita-cita memang sangat butuh determinasi kuat.

Setiap saya mau melangkah mengambil keputusan besar selalu muncul tawaran-tawaran lain yang bisa mengurungkan niat saya. Haduuh… Ketika hidup menawarkan banyak pilihan, kita seperti dihadang oleh pertanyaan apa prioritasmu?

Kejadian pertama yang saya lalui adalah saat ada tawaran S3 dari dosen pembimbing S2 saya untuk ke Prancis tahun 2011. Saya bersemangat, akan tetapi orangtua saya meminta saya untuk menikah dulu. Ini membuat saya tersenyum nyengir hingga sekarang. Mom and dad, I’m still single until now. Any idea? Kejadian kedua adalah saat saya akan mengikuti tes CPNS dosen tahun 2014, lagi-lagi saya urungkan karena merasa terikat dengan kampus saya sekarang. Look what happened now! No progress. Nah, sekarang saya mau berniat sekolah lagi. Jangan sampai ada yang mengurungkan niat saya lagi. Walaupun, rasa-rasanya mulai bermunculan nih bermacam-macam godaan penghalangnya. Oh Tuhan, kadang memang harus tega ya bikin keputusan besar dan tidak boleh banyak alasan gak jelas. Kuatkan dan permudahlah ya Allah. Aamiin.

Segala Hal Atas Kadarnya

Dunia bagi banyak orang sangat mempesona karena memberikan sifat indah bagi mereka akan hal-hal tersebut. Termasuk bagi saya. Setiap orang punya ujian masing-masing terhadap pesona dunia. Ada orang yang terobsesi dengan uang, jabatan, makanan, pakaian, peliharaan, perhiasan, kecantikan dan ketampanan, kekuasaan, kemewahan, pasangan hidup, anak-anak, seksualitas, bahkan sampai pada hiburan yang memanjakan diri. Begitu banyak godaan dunia. Tiap orang akan menghadapi salah satu dari ini atau bahkan lebih. Mengerikan ya manusia. Ya, manusia memang semengerikan itu. Itu dinamakan nafsu, yang tak dipunyai oleh malaikat.

Saat seseorang mendapatkan dunia yang diinginkannya, tak sedikit orang yang iri padanya. Ya di sinilah masalah itu dimulai. Ada manusia yang selalu merasa tak senang jika ada orang yang diberikan kenikmatan dunia melebihi dirinya. Saat ada orang lain yang usahanya sukses timbul dengki, ada yang lebih cantik darinya malah iri hati. Sampai-sampai ada yang berusaha untuk menghalangi ataupun menghancurkan apa yang diperoleh orang lain. Padahal orang itu tak merugikan dirinya sedikitpun. Aneh ya manusia. Manusia bisa seaneh ini karena mengikuti sifat syaitan. Dulu iblis, nenek moyang syaitan, merasa iri kepada kemuliaan yang diberikan Allah pada Nabi Adam. Rasa iri itu berubah menjadi dengki dan hasad. Di sinilah pangkal mula Adam diperdaya oleh iblis hingga keluar dari surga. Perilaku iblis ini tak jauh beda dengan perilaku manusia yang iri dan berupaya mencelakakan orang-orang yang diberi lebih dari dirinya dalam urusan dunia maupun yang disebut rizki. Untuk apa sih iri dengan ujian kesenangan dunia orang lain? Ujian kesenangan dunia itu berat loh.

Kemarin teman saya bercerita di media sosial tentang kisah orangtuanya, tepatnya ibunya. Ibunya dulu mendapat kelimpahan rizki dengan berkembangnya ternak sapi dan kebun. Walaupun pencapaian ibunya adalah usaha sendiri dan juga kemudahan rizki dari Allah, ternyata ada tetangga yang iri dan dengki dengan apa yang beliau dapatkan. Hingga ibunya dibuat tak berdaya dengan sakit yang berkepanjangan, setelah diobati ke sana ke mari tak sembuh-sembuh ternyata kena santet oleh tetangganya. Betapa mengerikannya. Di zaman yang sudah modern ini dan manusia sudah dianggap beriman pada Tuhan, tetap saja banyak orang yang memilih jalan kesyirikan (menyekutukan Allah). Mereka meminta bantuan pada setan atau jin untuk menghancurkan manusia lain karena kebencian dan rasa iri. Sampai akhirnya, semua harta ibu teman saya tadi habis untuk pengobatan dan mereka pindah diajak Bapaknya merantau ke Papua mencari kehidupan baru. Kepindahan dan habisnya harta mereka ternyata menghentikan santet tadi. Lihatlah bagaimana manusia begitu sangat jahatnya pada manusia lain sampai pada taraf menzalimi sedemikian rupa.

Praktik syirik serupa santet ini masih berkembang di masyarakat kita. Orang-orang masih banyak yang menjadi pemuja setan padahal mereka mengatakan beriman pada Tuhan. Orang-orang ini adalah mereka yang tak mensyukuri hidupnya dan tidak bahagia dengan apa yang mereka punya. Mereka orang-orang terburuk yang ada di dunia ini. Padahal, seharusnya orang yang beriman paham bahwa rizki itu Allah yang memberi dan mengatur. Manusia bisa berusaha mencari rizki tapi tetap Allah yang menetapkan berapa banyak yang akan diberi. Mau bilang Allah tak adil? Justru dengan mengatakan Allah tak adil, manusia itu sudah sampai pada taraf menduakan Allah. Apakah yang lebih dicintainya adalah harta dan kemilau dunia ataukah Allah? Allah tak pernah memandang harta dan kesenangan dunia sebagai bentuk keberhasilan dan keberuntungan manusia. Allah cuma melihat dan memuji ketundukan dan ketaatan manusia pada-Nya. Lihatkan, perbedaan pandangan antara Allah dan kebanyakan manusia di muka bumi ini? Semakin cinta manusia pada dunia, Allah tahu mereka akan semakin lupa diri hingga lupa pada Allah. Inilah yang menjadi kebencian dan kemurkaan Allah pada manusia. Karena pada akhirnya Tuhan mereka berganti menjadi harta, kekuasaan, jabatan, kecantikan, dan semua kesenangan.

Bukannya Allah tak mau manusia mendapatkan kesenangan. Justru Allah akan menambah kenikmatan itu saat manusia semakin dekat, taat, dan bersyukur kepada Allah. Nah, di sinilah poinnya. Bagaimanapun harta itu ditambah oleh Allah, jika orang itu tidak gila harta, maka harta itu hanyalah suatu yang biasa dan tidak memperdaya bagi orang-orang yang bertaqwa. Mereka justru memanfaatkan harta atau kekuasaannya untuk kebaikan manusia lain. Mereka berinfak tak kenal jumlah, sebagaimana sahabat Usman bin Affan menginfakkan hartanya yang banyak di jalan Allah. Mereka mengganggap harta itu hanya titipan dan akan berarti jika dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia. Sungguh orang seperti inilah yang dicintai Allah. Mereka yang tetap taat walaupun dalam curahan rizki yang banyak. Dan tak banyak orang seperti ini. Yang ada malah semakin diberi harta dan rizki, semakin kikir dan menghamburkannya untuk hal-hal tak berguna. Maka, untuk apa menumpuk harta jika harta yang sedikit saja belum bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. Allah tahu, jika semakin diberi manusia malah semakin menjauh dari-Nya. Bukankah seharusnya kita puas dengan apa yang sudah mencukupi? Kenapa terobsesi meminta lebih? Apa yang mau dicapai? Jika untuk menambah infaq dan ketaatan tentu sangat baik, tapi jika hanya untuk menambah kesombongan apa gunanya?

Dalam hal ini, kita seharusnya menjadi hamba Allah yang selalu bersyukur dengan rizki yang diberikan-Nya. Perbedaan jumlah rizki yang diberi bukan bentuk pilih kasih Allah pada manusia. Bahkan, rizki itu bisa menjadi ujian yang mencelakakan. Allah tahu berapa kadar rizki yang pantas untuk kita. Tidak salah meminta rizki pada Allah dan mencari rizki dengan giat asalkan niatkan semua karena Allah, untuk mendapatkan keberkahan dari Allah, bukan untuk melalaikan diri hingga jauh dari Allah. Sungguh Allah lebih mengetahui yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya.

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa’ : 32)

Menulis adalah Kehidupan

Hari ini ada berita gembira. Barusan saya diberi tahu kalau kumpulan cerpen saya dan teman penulis lainnya akan terbit dalam waktu dekat ini. Senang sekali menunggu momen ini. Ini cerpen kedua saya yang terbit, sebelumnya terbit sekitar tahun 2012. Sudah lama sekali. Tahun lalu saya dan teman-teman penulis lainnya melahirkan esai yang diterbitkan dalam bentuk e-book. Melihat karyamu lahir dan dibaca orang adalah suatu kebahagiaan tersendiri.

Menulis adalah aktivitas yang menyenangkan. Seharusnya saya benar-benar menekuni ini. Bahkan, ada seorang teman Facebook yang memotivasi saya untuk menulis agar bisa bertemu dengan penulis-penulis lainnya, dan siapa tau itu jodoh saya katanya. Saya hanya tertawa mendengarnya. Ya sih siapa tau. Tapi bukan itu tujuan saya menulis. Jodoh bisa datang dari mana saja, bahkan dari tempat atau situasi yang tidak diduga. Menulis adalah ajang mendokumentasikan pikiran dan menyebarkan kebaikan bagi saya.

Saya menulis apa pun yang saya suka. Dulu waktu masih kuliah S1, saya adalah penggila puisi hingga banyak puisi yang saya tulis. Menulis cerpen kesenangan saya sewaktu SMA, kemudian vakum cukup lama dan berlanjut saat saya kuliah S2. Untuk esai, saya menyenangi analisis tentang politik, agama, budaya, dan sastra. Itulah sebabnya blog adalah sesuatu yang penting bagi saya. Hingga saat ini saya sudah punya empat akun blog, yang tersisa dua, dan yang aktif cuma WordPress. Blog tumblr sudah terabaikan sekian lama. Tapi entahlah kenapa sekarang tulisan saya lebih banyak curhatan. Saya tampak seperti pribadi yang melankolis dan kesepian.

Banyak hal yang bisa saya lakukan, tapi tak saya seriusi. Saya kurang fokus sepertinya. Dalam hal apa pun, saya butuh teman dalam berkarya. Seperti kumpulan cerpen dan antalogi esai yang sudah terbit adalah contoh bagaimana saya termotivasi oleh lingkungan. Saya tampak kesepian sekali akhir-akhir ini. Sejak kepindahan ke Padang dari Jakarta tahun 2013 lalu, saya benar-benar kehilangan teman-teman terbaik saya. Walaupun masih saling kontak hingga sekarang, tetap saja kebersamaan dengan mereka sangat saya rindukan. Itulah sebabnya, saya berniat untuk kuliah lagi untuk membunuh kegundahan dan ketidakdinamisan hidup yang saya alami sekarang. Ini benar-benar membuat galau. Saya tak rela meninggalkan kedua orangtua yang selalu saya rindukan dan sayangi, tetapi juga tak mau terjebak pada lingkungan sosial saya yang monoton. Bagaimanapun, tampaknya saya memang harus sekolah lagi.

Tentang menulis, saya akan menekuninya lagi. Mungkin menulis fiksi adalah pilihan menarik saat ini. Pengalaman hidup tahun lalu sangat menginspirasi untuk saya dituliskan. Sebuah pelajaran berharga untuk diri saya bahwa kita tak selalu hidup dalam alur yang kita inginkan. Terkadang ada jalan yang membawa kita pada pemahaman tentang hidup yang lebih mendalam. Seolah sebuah pertanyaan besar yang ditujukan pada diri saya. Apa makna kehidupan bagi saya dan kehidupan seperti apa yang sesungguhnya saya inginkan. Bagaimanapun, pertarungan tahun lalu adalah sebuah kemenangan untuk diri saya dalam mempertahankan dan memperlihatkan prinsip hidup saya. Walaupun harus berkuras airmata dan kepedihan hati. Ini bukan hanya masalah cinta tapi identitas diri dan pilihan hidup.

Kisah hidup kita adalah sebuah buku yang akan dibacakan nanti di akhirat. Bahkan hidup kita sendiri adalah sebuah narasi yang akan dibukukan kelak.

Politik Emosi

Jelang Pilplres 2019 makin ramai perang isu. Semua bisa dijadikan bahan diskusi, perdebatan, bahkan untuk kampanye politis, entah untuk menyerang atau membangun citra. Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis masalah politik dan isu-isu kekinian, seringnya malah curhat di blog ini. Padahal, di medsos mah diskusinya politik melulu. Ini yang namanya dramaturgi kehidupan. Manusia dalam keadaan tertentu selalu memiliki front stage dan backstage-nya. Front stage saya adalah di kehidupa publik, termasuk di media sosial. Sedangkan backstage saya adalah ruang pribadi bersama orang-orang terdekat saya, termasuk blog ini. Kenapa blog juga? Karena saya tak punya banyak followers di blog ini, kecuali kalau ada yang stalking ya. Itu di luar pengetahuan saya. Masa iya ada yang stalking? Jika ada, bahaya ini. Jadi kelihatan sisi melankolisnya, padahal image saya adalah mandiri, strong, dan antilebay (haha…bawaannya curcol mulu di sini).

Ok, kembali ke isu trending di tahun politik ini. Bisa kita pastikan ketegangan dan polarisasi opini mulai mencuat setelah terjadinya kasus pencalonan Ahok di Pilkada Jakarta tahun 2016 lalu. Isu penolakan terhadap Ahok semakin memuncak gara-gara rekaman pernyataannya yang menyinggung surah Al Maidah 51, yang dianggap umat Islam bentuk pelecehan. Dalam hal ini saya setuju itu bentuk pelecehan. Bagaimanapun ayat itu adalah firman Allah yang menjadi landasan beriman, berpikir, dan berperilaku umat Islam. Larangan memilih pemimpin nonmuslim itu sangat jelas dan terang, bukan untuk dinegosiasikan. Jadi, ini bagi saya bukan urusan kepentingan politik tapi keimanan.

Dari hal-hal yang bersifat SARA ini kita bisa memahami bahwa dalam lingkup masyarakat plural, sangat riskan membenturkan hal-hal yang dianggap sakral. Sekarang isu berbau SARA ini terus bergulir, seolah tak belajar dari pengalaman. Akhir-akhir, ini publik kembali dibuat heboh oleh puisi Sukmawati Soekarnoputri yang membenturkan cadar dengan konde, azan dengan kidung. Siapa yang tak meradang dibanding-bandingkan begini? Perbandingan yang dibuat malah komparatif (better than) pula. Ini yang jadi pangkal konflik. Kalau bahasanya Al Quran “lakum dinukum waliyadin” aja lah.

Isu puisi ini sampai membuat masyarakat turun ke jalan menuntut Sukmawati dan bahkan melayangkan surat tuntutan hukum kepada pelaku. Isu ini seakan sedikit meredam saat Sukmawati meminta maaf kepada umat Islam. Tapi ya yang namanya maaf tidak selalu menyelesaikan masalah. Nah, tiap orang harus peka untuk urusan SARA ini, apalagi politisi. Sampai-sampai PDIP merasa terancam dengan perilaku Sukmawati yang notabene adalah saudara kandung Megawati. Bisa panjang cerita jika gara-gara ini elektabilitas partainya menurun. Sukmawati juga adalah seorang politisi dari partai PNI Marhaenisme, jadi posisinya dirinya cukup sulit sebenarnya terjerat dalam kasus ini. Maka, wahai politisi berhati-hatilah dengan omonganmu karena imbasnya adalah kepercayaan publik.

Bagaimanapun, kasus pelecehan agama ini tak lepas dari kepentingan politik. Jika umat Islam bergerak karena alasan keimanan, maka ada kelompok lain yang berupaya mengambil kesempatan untuk memberikan dukungan pada umat dengan memperlihatkan keberpihakan mereka. Ya mau bagaimana, pada akhirnya ini tidak dapat dihindari. Preferensi politik seseorang pasti juga dipengaruhi oleh sisi sosial kultural termasuk agama.

Polarisasi opini menjadi terbagi antara kelompok Islamis vs nasionalis-sekuler. Semakin tajam gesekannya dari hari ke hari. Hingga ada yang khawatir ini bisa menjadi perpecahan. Sekali lagi, perbedaan pandangan politik adalah hal yang tak dapat dihindari. Sekarang yang dibutuhkan adalah bagaimana menampilkan ideologi kedua kutub hingga tampak mana yang unggul dari segi kualitas sistem yang ingin dibangun. Kadang, sisi psikologi berupa emosi memang dapat mengambil simpati bahkan memenangkan, tapi tak cukup untuk mengurusi urusan rakyat, tetap saja dibutuhkan kualitas sistem yang akan dibangun. Maka dari itu, kedua kubu seharusnya bertarung dalam menampilkan kualitas pemikiran dan sistem yang akan dibangun untuk masyarakat. Memenangkan sesuatu dengan memicu konflik psikologis justru tidak membuat diri menjadi unggul hanya sekadar membangun emosi massa saja.

Make A Move

Do you know where I should start? I built something then it fell apart. I need more courage and optimism to rebuild my vision. I want to give up but I don’t want to be defeated. I want to get lost but at the same time I hate weakness and cowardice.

Things must be changable. Once, I played the song O Fortuna by Carmina Burana in the middle of the night. Yes, life is rough and tough. People become desperately depressed. I whined sometimes then stuck on boring situation. I found myself in prison of my own mind. My friend told me to get out of it. My mom and my sister asked me what I really want in life. I’m in the middle of intersection. I’m not looking for wealth, popularity, and pride. I want a meaningful life like becoming pious and grateful creature. It’s satisfying when we can give and share good things to other people. One thing I realize that I need to meet new people and new place. I need to share my vision. My problem is the stagnant environment. I’m surrounded by people who lost their vision in life. They let many precious chances go in vain. This is the matter that will happen when you are working under bad leadership and management. Oh, looks like I’m trying to blame some people. ๐Ÿ˜„

Yes, I have to take my doctoral degree soon. I have to. It’s a must! ๐Ÿ˜ค

Let’s prepare for new experience! I’m thinking of my proposal. Let’s work it out!

Tentang Kita

Hidup pun bukan tentang menjalaninya sendiri tp berbagi pengalaman yang mengantarkan kita pada siapa kita. Kita tidak tumbuh sendiri. Kita adalah apa-apa yang kita bagi bersama orang lain. Akan tetapi pada akhirnya kita akan menanggungnya sendiri.

Hidupmu adalah tentang dengan siapa kau bagi selama ini. Adakalanya kehidupanmu kau bagi dengan orang-orang yang salah. Mereka akan menjadi pelajaran bagimu. Terkadang kita tak bisa menolak dengan siapa kita berbagi kehidupan. Lingkungan yang melingkupi adalah kumpulan manusia yang tidak bisa kita pilih satu per satu untuk bersinggungan dengan diri kita.

Kita harus tahu jika ini bukan surga yang di sana tidak ada hal sia-sia terjadi, di mana tak akan ada orang yang datang untuk mencelakaimu, membencimu, atau menghancurkanmu. Ini dunia fana, kumpulan manusia dengan segala tabiatnya.

Kita adalah dengan siapa kita bergaul dan dengan siapa kita menghabiskan hidup. Kita adalah irisan diri dari diri-diri yang berbaur dengan kita.

Satu hal yang mungkin bisa kita lakukan untuk perubahan yaitu masuk ke lingkungan baru yang akan menyumbangkan konsep diri yang baru.

Kita adalah dengan siapa kita berteman dan menghabiskan waktu berbagi pikiran dan perilaku.

Rasulullah SAW bersabda:

โ€œSeseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.โ€ (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Allah berfirman dalam Al Quran:

“Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku), sungguh dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika (Al-Qur’an) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia.”
(QS. Al-Furqan 25: ayat 28-29)