Uncategorized

Aku yang Sok Tahu dan Keras Kepala

Hidupmu sebuah teka-teki bukan? Tuhan berbuat sekehendak-Nya. Kau tak tahu apa maksud rencana-rencana yang dibuat untukmu. Kau tak tahu dari sekian banyak doa yang kau pinta, Allah memilih doa mana yang mau dikabulkan-Nya. Artinya Allah selalu mendengar permintaanmu, tapi Dia punya hak dan kuasa mana yang akan diberikan-Nya. Jadi, jangan berhenti berdoa. Bisa jadi di antara doa-doa itu akan ada yang dikabulkan dan menghangatkan hatimu. Dan kau tak tahu alasan di balik kehendak Tuhan. Kau hanya bisa menerima. Ah, kau itu tak ada apa-apanya. Maka terima saja apa yang diberikan-Nya. Rahasia kehidupan itu tak akan pernah kau tahu selamanya.

Tidak usah memaksakan diri. Jika Allah tak sudi kau mau apa? Menggugat-Nya? Kau pikir kau siapa? Kau terlalu banyak memilih. Kau sudah diberi tapi tak kau ambil. Kenapa begitu sombong?

Tuhanku, maafkan aku jika menolak sesuatu yang datang padaku dan aku belum ridha dengan hal itu. Maafkan aku yang tidak bisa memaksa diriku. Maafkan aku jika masih terus meminta kepada-Mu dan masih saja memilih. Maafkan aku yang tak selalu bisa menerima ini. Maafkan aku yang tak tahu apa-apa ini. Jika aku memaksakan diri, sama artinya aku menyakiti diriku. Tuhanku, bolehkan aku memilih? Memilih sesuatu yang tidak akan menjadi penyesalan bagiku. Jika pilihan itu salah, ingatkan aku untuk berhenti dan jauhkan aku dari hal itu.

Aku selalu meminta yang baik-baik kepada-Mu. Aku tak akan meminta keburukan pada-Mu karena aku takut Kau akan mengabulkan dan menjadikannya kutukan bagiku. Apa dari banyak permintaanku ada yang tidak sepadan dengan keadaan diriku? Apa aku terlalu muluk-muluk? Kira-kira untuk manusia semacam diriku apa yang pantas aku dapatkan? Ah, aku kadang memang tak mengukur diri. Gara-gara ini aku malu meminta lagi pada-Mu. Mungkin aku lupa berkaca.

Aku memang tak tahu berterima kasih, sering lupa bersyukur. Sering banyak alasan. Terlalu sering memainkan akalku. Hatiku pun kadang terlalu kuperturutkan. Maafkan aku yang hanya debu beterbangan ini ya Allah. Keagungan-Mu meliputi segala sesuatu. Manusia mulia seperti Rasulullah Muhammad dan sahabat-sahabatnya saja begitu takut dan merendah pada-Mu. Apalah aku yang tak ada arti ini? Aku memang harus diajari lagi tentang adab kepada-Mu, Rabbku. Aku ini terlalu banyak tingkah dan keras kepala. Maafkan aku. Padahal ruh kehidupanku ada di tangan-Mu. Jika kau cabut itu, selesailah diriku. Sekali lagi, tolong ajari aku untuk memiliki adab yang terbaik di hadapan-Mu. Jangan biarkan aku yang remah-remah ini bersikap congkak dan sok tahu. Tolong ajarkan aku ilmu adab itu, Rabbku.

Advertisements

Gambar Sempurna dan Sesuatu Apa Adanya

Libur kali ini saya banyak menonton film. Fiksi memang terkadang dibutuhkan untuk melihat gambaran kehidupan orang lain. Film-film yang diangkat dari kisah nyata dan otobiografi seringkali menyentuh sangat dalam. Dari situ saya mengambil pelajaran bagaimana orang-orang menjalani hidup secara lebih privat. Seringkali dalam kehidupan nyata, kita melihat sesuatu yang telah direkonstruksi orang-orang untuk diperlihatkan pada publik. Semua terkadang rekayasa, pencitraan tentang hidup. Semua orang ingin menampilkan hidupnya yang bahagia seperti yang biasa kita lihat di akun instagram. Sungguh, saya secara pribadi tak butuh tampilan sempurna itu.

Ah, saya katakan pada diri saya sendiri lebih baik kau membaca dan menonton film dibanding melihat drama manusia di akun media sosialnya yang menipu. Kau tak akan mampu secara dalam memahami apa yang diperjuangkan dan yang membuatnya terpuruk. Atau apa yang dia tutupi hingga harus berpura-pura dan memakai topeng dalam hidupnya.

Mau mencitrakan diri sebagai orang bahagia, populer, disanjung-sanjung dengan citra diri yang palsu. Sungguh, sekali lagi saya muak dan tak butuh itu. Lebih menarik membaca buah pikiran seseorang dan ide-idenya dalam memandang kehidupan. Pemikiran yang menginspirasi lebih berharga daripada foto-foto palsu yang bisa direkayasa sedemikian rupa. Kau tak perlu berfoto dan tampak bahagia dengan menunjukkannya pada orang lain. Bahkan lucunya, saya ikut-ikutan melakukan hal yang sama di akun instagram sendiri. Dokumentasi diri pribadi dan orang-orang terdekat yang sebenarnya tidak memberi manfaat untuk orang lain. Kau ingin orang lain melihatmu bahagia, berkecukupan, bisa jalan-jalan dan selalu tersenyum dalam tiap jepretan? Kenapa kau ingin orang lain untuk tahu? Apa itu akan memberi sesuatu bagi mereka? Justru yang muncul bisa jadi kesedihan bagi mereka karena tidak mendapatkan apa yang kau dapatkan. Yang kau tampilkan hanya yang baik-baik saja, seolah kau tak punya kekurangan. Mungkin sudah saatnya kau berhenti memberi potret diri yang dibingkai penuh senyum itu. Saat kau sedih dan gagal, kau tak pernah memotret dirimu untuk dibagikan. Karena kau takut itu akan menjadi cela bagimu. Sudahlah, jangan ikuti kepura-puraan manusia. Maka carilah cara lain untuk belajar melihat kehidupan. Dengarkan kisah-kisah orang berjuang dalam kehidupannya. Berceritalah tentang sesuatu yang bermanfaat, berbagi pemikiran, dan pengalaman. Itu lebih berharga untuk hidup orang lain. Dan bukankah itu juga yang kau butuhkan dalam hidupmu? Bagaimana hidup dengan baik dan benar.

Kau mengalami kan terkadang apa yang kau jalani membosankan. Tapi kau juga harus tahu banyak orang juga mengalami hal yang sama. Dan kau juga harus tahu jika ada orang-orang yang terus berusaha untuk mensyukuri setiap apa yang diberikan dan dijalaninya dengan menghargai waktu dan mengisinya dengan hal-hal berharga. Kisah-kisah mereka begitu membuka pikiran dan hati bukan? Itulah kenapa bernarasi begitu sangat menggugah. Selalu ada pesan moralnya. Dan pada akhirnya kau melihat bagaimana orang-orang bertahan hidup dalam kegundahan dan menyelesaikan persoalan hidupnya yang terpelik sekali pun. Mereka orang-orang yang menghargai hidup dan punya visi kehidupan. Berkontemplasilah sering-sering. Bermuhasabahlah. Karena itu baik bagimu dalam menghargai hidup dan orang lain.

Karena fiksi juga bercerita tentang orang-orang yang putus asa tanpa arah, maka lihatlah, seberapa menyedihkan dirimu saat kehilangan harapan? Apa kau mampu bangkit dan tetap tersenyum ataukah terpuruk lebih mengerikan? Semua hal memberi pelajaran. Banyak orang menceritakan kegalauannya dalam fiksi, mereka terus bercerita sampai bosan hingga menemukan jalan untuk menukar arah cerita kepada sesuatu yang baru di luar dugaan. Bukankah hidup juga begitu? Saat kau sudah bosan dengan ketidakjelasanmu, maka kau akan mencari jalan untuk melakukan hal yang baru dan bermakna. Manusia memang begitu. Selalu dinamis dan tak pernah puas. Itulah sebabnya mereka selalu membuat perubahan. Dengan begitulah mereka tetap terus hidup dan bertahan.

Pengabdian

Pengabdian itu butuh pengorbanan. Kau harus memilih kebenaran yang sudah dipegang teguh. Pengabdian berarti kau telah menyerahkan dirimu pada kebenaran yang kau imani. Bebas itu adalah saat kau bisa melakukan segala hal yang sesuai dengan kebenaran yang kau imani. Ada batas yang mengikat. Karena kau tahu, kau bukanlah manusia tanpa tuan yang tersasar di dunia. Kau diciptakan dengan maksud. Maka, tunduklah. Kenapa terkadang kau ingin menjadi seorang pelarian yang melangkah tanpa tahu arah dan menampik jalan-jalan buntu dan membahayakan yang akan kau lalui? Sungguh, tak ada jaminan bagimu saat kau lari dan memilih tersasar tanpa arah. Sesekali kau bisa saja bersalah karena kelalaian dan ketidaktahuanmu. Tapi jangan pernah memilih jalan yang salah dengan kesadaranmu. Sesekali kau mungkin menginginkan sesuatu yang menarik hatimu, tapi apa kau yakin itu akan menyelamatkamu? Tolong, definisikan lagi tentang kebahagiaan dan ketenangan. Ucapkanlah sekali lagi tentang kebenaran yang kau yakini.

Menurutmu jaminan siapa di dunia ini yang akan menyelamatkanmu? Rayuan-rayuan manusia yang haus kesenangan dan kekuasaan? Nasihat-nasihat para pengecut yang hanya ingin hidup berkecukupan tanpa tahu benar dan salah? Kadang kau mungkin berpikir, kenapa Allah menjadikan indah pada pandangan manusia sesuatu yang membuatnya tergelincir? Ah, itu pertanyaan bodoh sebenarnya. Kau tahu bahwa di sini, di atas dunia ini, kau tidak sekadar dibiarkan menjalani hidup. Dunia ini adalah medan ujian, bukan tempat bersenang-senang dan lepas kendali. Kau lupa dengan firman Allah yang bertanya apa manusia akan dibiarkan mengatakan dia beriman sedang dia tak diuji? Kau lupa ini. Sebenarnya kau tahu, tapi sering lupa.

Kau juga tahu bahwa manusia sangat sering melanggar janjinya, bahkan pada Allah Tuhannya sendiri. Kadang kau takut berjanji karena kau tahu yang membolak-balikan hatimu adalah Allah. Maka, yang terbaik bagimu adalah meminta kepada Allah agar kau di-istiqamahkan dalam jalan yang Dia ridhai. Kau mengucap janji sebagai penjaga Islam, tapi terkadang kamu melanggarnya dengan kelalaianmu. Ya Rabbana, sungguh kenapa janji itu seperti suatu yang membuatmu takut pada akhirnya? Kau takut hanya menjadi pelanggar. Kau berjanji kemudian mengingkari. Bukankah janji adalah sesuatu yang harus hati-hati dan bersungguh-sungguh untuk dilakukan?

Dalam Al Quran ada istilah janji disebutkan dalam beberapa ayat. Istilah itu adalah Mitsaqan (perjanjian) atau Mitsaqan Ghalizhan (perjanjian yang teguh/kuat/berat). Ini disebutkan dalam tiga hal dalam Al Quran yaitu, pertama untuk perjanjian pernikahan (Q.S. An-Nisa ayat 21), kedua untuk perjanjian Allah dan orang-orang Yahudi agar tidak melanggar perintah Allah (An-Nisa ayat 154), dan ketiga untuk perjanjian para Nabi dengan Allah dalam menyampaikan dakwah pada umatnya (Al-Ahzab ayat 7).

Saat kau berjanji pada Allah, maka itu bukanlah hal yang main-main. Jika kau berazzam untuk sebuah janji dakwah, maka kuatkan dirimu dengan segala rintangan. Jika kau berazzam dalam ketaatan maka kuatkan dirimu agar tak gampang berbuat kesalahan. Dan satu hal lagi jika kau berazzam untuk sebuah pernikahan, maka jangan pernah melakukannya karena alasan-alasan sepele dan remeh, lakukan sebagai bentuk janjimu pada Allah untuk mejaga pernikahanmu dalam ketaatan pada Allah.

Allah mengujimu di titik terlemahmu. Dan kau tahu itu. Maka, ingatkan dirimu setiap kali kau akan berubah haluan. Ingatkan dirimu bahwa egomu bukanlah segalanya. Kau hanya seorang hamba di sini yang dititipkan Tuhanmu agar selalu ingat nanti ada waktunya kau akan pulang dan dijemput kembali.

Ittaqullah, haqqatuqatihi!

Apa pun yang terjadi, jangan pernah stres. Ini hal yang selalu saya sugestikan pada diri saya. Pangkal dari kegalauan dan stres adalah karena kita tidak bisa melepaskan dan menerima segala sesuatu apa adanya. Terlalu memikirkan masalah yang sebenarnya dengan memikirkannya tak meringankan beban dan masalah itu. Akhirnya timbul perasaan khawatir, bimbang, takut, sedih, atau segala hal yang memancing keluarnya emosi negatif. Ini sangat tidak baik untuk kesehatan.

Menjadi orang yang ikhlas ternyata cukup membuat hidup kita lebih sehat dan tenang. Baru-baru ini saya menonton video dokter Agus Ali Fauzi di media sosial dari postingan seorang teman. Dokter Agus, dalam acara yang diselenggarakan sebuah perusahaan, membahas tentang hubungan kondisi hati dan jiwa dengan kesehatan. Betapa pentingnya untuk menata hati dan jiwa untuk kehidupan yang bahagia dan sehat. Pendekatan dokter ini banyak mengarah pada spiritualitas Islam. Semua harus diserahkan secara ikhlas pada Allah atau bertawakkal. Percayakan semuanya pada Allah. Berharap dan bergantunglah pada Allah atas segala hal. Seperti kata ustadz Syafiq Riza Basalamah, kita manusia adalah makhluk lemah, maka dari itu dalam diri manusia diciptakan sifat bergantung pada sesuatu yang lebih besar darinya, yaitu Allah pencipta dan pengatur alam semesta.

Terlalu memikirkan sesuatu secara berlebihan tidak ada gunanya jika kemampuan kita terbatas menyelesaikannya. Dan pastinya kita tak bisa mengendalikan semua urusan. Maka dari itu usahakan segala sesuatu sesuai kemampuan diri kita kemudian bertawakkallah, serahkan semuanya pada Allah. Biar Allah yang menyelesaikannya.

Kita seringkali terlalu berlebihan memikirkan sesuatu yang sebenarnya belum terjadi. Khawatir tidak sesuai rencana, khawatir dengan kesulitan-kesulitan yang akan muncul. Kebanyakan berpikir malah akhirnya lupa dan lambat dalam beraksi dan berikhtiar. Asumsi-asumsi negatif yang memunculkan tekanan tersebut justru semakin melemahkan kerja otak dan anggota tubuh kita dalam bertindak.

Pikirkan sesuatu sesuai dengan kapasitas kemampuan dan kuasa diri kita. Tak ada gunanya memikirkan sesuatu yang tak bisa atau belum bisa dilakukan. Fokus pada apa yang ada di hadapan dan kerjakan dengan maksimal. Buang hal-hal tak penting yang memperlambat kerja atau usaha.

Itulah sebabnya, dalam Islam seseorang dilarang berlebihan larut dalam emosinya. Dilarang bersedih berlarut-larut, meratapi sesuatu yang tak ada manfaatnya. Karena semuanya adalah hasutan setan. Ada doa khusus yang diajarkan Rasulullah saat kegalauan ini muncul.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi, wal kasali, wal jubni, wal haromi, wal bukhl. Wa a’udzu bika min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaat. (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)

Dalam riwayat lain juga disampaikan sebagai berikut:

“ Dari Anas bin Malik : Aku melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau singgah dan aku selalu mendengar beliau banyak berdo’a: “Allahumma Inni A’uudzu Bika Minal ‘Ajzi Wal Kasali Wal Bukhli Wal Jubni Wa Dhala’i ad-Daini Wa Ghalabatir Rijaal” (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari (sifat) gelisah, sedih, lemah, malas, kikir, pengecut, terlilit hutang dan dari kekuasaan “ ( HR Bukhari )

Allah juga menggambarkan bagaimana sifat wali-wali Allah yang bisa kita teladani.

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ

“ Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. “ ( Qs Yunus : 62-63 )

Akhirul kalam, hasbiyallah wani’mal wakiil, ni’mal maula wani’mannashir. Bagaimanapun, cukup andalkan Allah dalam segala urusan. La hawla wala quwwata illabillahil ‘alaiyyil’azhim.

Tak cukupkah asmaul husna yang menjelaskan tentang kebesaran Allah? Sadarlah bahwa manusia itu lemah, di sinilah Allah ingin memperlihatkan bahwa kita butuh Allah dalam segala keadaan.

Ittaqullah, haqqatuqatihi (bertaqwalah pada Allah dengan sebenar-benar bertaqwa). Cara satu-satunya untuk mendapatkan pertolongan Allah adalah dengan bertaqwa pada-Nya. Taqwa menurut Imam Al Ghazali bermakna takut dan taat pada Allah serta membersihkan diri dari dosa-dosa. Ini kunci dan solusi permasalahan yang ditawarkan Allah pada kita. Mau mencari solusi lain yang justru menambah masalah?

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. (Q.S. al-Thalaq:2-3).

Drama is Life

Drama itu selalu menarik. Gak ada drama pasti datar-datar saja. Itulah sebabnya dalam cerita fiksi unsur drama punya peranan penting memainkan emosi pembacanya. Begitu juga dengan film. Bahkan hidup pun gak lepas dari drama. Saya tidak terlalu sering nonton film, tapi suka beberapa genre film. Yang paling saya suka adalah film bergenre drama dan sejarah. Itu terasa sekali hidup ceritanya.

Kali ini ada yang berbeda. Adik saya tiba-tiba mengajak saya nonton film Avengers, tipikal film action fantasi. Saya tak terlalu suka fiksi fantasi, tapi karena diajak ya sudah ikut aja. Rupanya Avengers Infinity War cukup menarik perhatian saya. Kenapa? Karena ceritanya jadi mendadak drama. Kisah Thanos dan putri angkatnya Gamora cukup mengusik emosi. Walaupun saya melihat drama cinta ayah-anak ini penuh kepalsuan. Thanos rela menukar Gamora dengan sebuah infinity stone. Yang menarik adalah syarat yang harus dipenuhi Thanos. Dia diminta untuk mengorban nyawa orang yang paling dicintainya untuk ditukar dengan batu itu. Tentu saja Gamora tersenyum sinis karena dia tahu Thanos tak pernah punya cinta dalam dirinya, bahkan untuk Gamora putri angkatnya. Tapi, apa yang terjadi? Tiba-tiba Thanos menangis dan dan memperlihatkan rasa cinta yang dimilikinya. Untuk siapa? Ternyata cintanya adalah Gamora. Aneh memang. Kok bisa-bisanya cinta tulus ditukar dengan batu yang menjadi obsesi buta. Lebih aneh lagi ketika rasa cinta Thanos yang terlihat tak mencintai itu berhasil ditukar dengan infinity stone. Is it love when you sacrifice it for another precious love?

Ah, tapi kemudian saya sadar. Bukankah cinta punya tingkatan dan kadar. Bahkan, Nabi Ibrahim rela mengorbankan anaknya Nabi Ismail untuk dikorbankan pada Allah. Ada cinta di atas cinta. Bukannya tak cinta pada Ismail, tapi cinta pada Allah menempati tingkat tertinggi bagi Nabi Ibrahim. Ok, Thanos. Now I got it. Akan tetapi, di akhir cerita justru Thanos mengalami kegalauan setelah berhasil mendapatkan seluruh infinity stones. Perasaannya terusik setelah apa yang dilakukannya pada Gamora. Sebuah ilusi muncul dalam pandangannya seolah Gamora kecil mempertanyakan apakah yang sudah dicapai Thanos adalah kebahagiaan dan kepuasan tertinggi baginya. Thanos merenung. Yaaaak, this is the drama! Kalau gak gini gak akan seru yang namanya kehidupan. Mendadak baper melihat Thanos di akhir film Avengers Infinity War ini. Tampaknya masih akan ada sekuelnya. Tapi saya gak terlalu ngebet nonton. Udah ketebak aja sih ceritanya. Pasti Thanos mau mengembalikan kehidupan Gamora. Cinta itu kekuatannya luar biasa saudara-saudara haha, jika tak membutakan ya meluluhkan. 😄

Jadi, jika hidupnya banyak drama dan ujian bersyukurlah akan ada sekuel baru dalam hidupmu yang akan terjadi. Apa jadinya jika datar-datar saja. Semangat tak ada, perjuangan tak ada, apalagi cita-cita. Semua rutinitas membosankan. Kau tak punya sesuatu yang berharga untuk dihebohkan. Maka, jangan baper dikasih ujian sama Allah. Kalau tak begitu, mana kau tahu cintamu sebesar apa pada Allah. Ya kan? Allah ingin menunjukkan apa yang lebih kau pilih dalam hidup ini sebagai prioritas. Biar kita tau diri sebesar apa cinta kita pada Allah.

What da fake!

Ini sangat lucu. Apa itu? Manusia suka sekali menipu dirinya. Semua orang tahu ini dan bisa jadi sering melakukannya. Di luar sana banyak orang memasang topengnya saat berhadapan dengan orang lain. Topeng ini suatu yang membahayakan. Membahayakan diri sendiri dan orang lain. Pagi ini saya tergelitik untuk membahas ini karena menemukan fakta yang cukup membuat miris di lingkungan sekitar saya. Ini menyedihkan karena kita melihat orang-orang yang memakai topeng adalah orang-orang yang tak mampu menerima keadaan dirinya sendiri. Saat topeng itu lepas justru menjadi hal yang menyakitkan bagi orang-orang di sekitarnya. Yah, begitulah. Menyebalkan memang orang sepeti ini, tapi sayangnya mereka ada, adaaaa gitu loh. Ah, people… Kenapa sih orang suka memperumit hidup seperti ini dengan topengnya? 😑

Tulisan ini akan saya lanjutkan nanti, harus berangkat ke kampus sekarang. Nitip topik seru dulu.

Ada Apa dengan Malam?

Kau tahu bagaimana menjadi kuat? Saat orang-orang membiarkanmu berjuang sendiri, dan kau masih punya semangat untuk melangkah tanpa ragu. Karena kau tahu, yang kau butuhkan adalah pertolongan Allah lewat orang-orang ikhlas. Apa kau tahu jika kau benar-benar kuat? Saat kau tak meminta lebih atas apa yg diberikan manusia padamu dan meminta Allah yang mencukupinya. Kau memang benar-benar kuat saat orang-orang memamerkan kebahagiaan mereka dan kau tak merasa sedih dan iri sedikitpun karena kau tahu bagian mereka bukan bagianmu, begitu juga bagianmu bukan bagian mereka.

Kau tahu siapa yang menetapkan itu? Allah Yang Maha Besar, Maha Memberi kecukupan dan Maha Menyayangi. Belum tentu apa yang diberi Allah untuk orang lain akan membuatmu bahagia. Allah hanya menyuruhmu untuk bersyukur atas apa yang kau punya dan ada waktunya bagianmu akan tiba sesuai yang diinginkan Allah. Bisa jadi kehidupan yang kau harapkan dari yang dipunyai orang lain bukan sesuatu yang kau butuhkan. Bukan berarti kau tak boleh meminta pada Allah. Tapi tentunya Allah akan beri sesuatu yang terbaik untukmu. Kau percaya kan Allah Maha Melihat dan Mendengar harapan-harapan di dalam dadamu? Jadi, tetaplah bahagia dan bersyukur.

Saya selalu datang ke rumah kedua ini, ya ke blog ini untuk merefleksi diri. Tempat ini semacam sanctuary untuk saya. Tempat nyaman untuk melepas semua yang terasa. Tempat menemukan diri saya kembali, dan tempat untuk membangun kekuatan diri. Bahkan mungkin tempat pelarian dari kusut dan riuhnya dunia. Ternyata masih ada rumah lain untuk bersinggah. Di sini saya bisa berbincang lebih lama dengan diri sendiri. Sepertiga malam belum cukuprasanya untuk diri dan Rabb saya. Ah, kenapa tiba-tiba jadi sedih begini. Kok airmata sampai merembes hingga ke kelopak mata. Mungkin karena apa yang saya rasakan malam ini.

Jika saya pulang dari kampus selepas maghrib, selalu ada perasaan ganjil yang menyergap saat saya berdiri menunggu kendaraan umum untuk pulang. Saya seperti berdiri di tempat asing melihat malam semakin kelam. Melihat mobil-mobil melintas, perasaan asing itu semakin asing. Saya merasa asing. Malam bukanlah waktu yang tepat untuk saya. Orang-orang yang warungnya saya jadikan tempat berteduh ketika hujan selalu bertanya kenapa saya sendiri. Ah, mereka tak tahu. Jika keluarga saya ada di kota ini tentu saya tidak akan sendiri malam-malam begini. Ternyata, kita butuh kehadiran keluarga di kota ini.

Entahlah, sejak saya kuliah ke luar pulau dulu justru sendiri bukanlah hal yang asing dan menyedihkan. Sekarang saat saya pulang ke kampung halaman, kesendirian menjadi hal aneh dan tak menyenangkan. Kadang suasana lingkungan dan karakter orang-orangnya bisa mengubah perasaan dan persepsi kita. Di kota ini orang terbiasa dimanjakan pasangannya. Sedangkan di kota besar, bukanlah keanehan melihat perempuan tak ditemani laki-laki. Memang ada baiknya perempuan tak boleh pulang melewati Maghrib. Tak elok dan tak aman rasanya. Pantaslah perasaan saya selalu tak enak kalau sudah kesorean atau pulang di awal malam begini.

Salahkah Godaan?

Apa yang membuat cita-cita menjadi buyar? Karena datangnya godaan-godaan yang melemahkan. Seringkali saya mengalami hal ini, bahkan sekarang muncul hal serupa. Ini yang bikin galau tak jelas. Saya lemah kalau sudah begini. Seperti anak gadis pasrah dipaksa kawin hehe lebay. Cita-cita memang sangat butuh determinasi kuat.

Setiap saya mau melangkah mengambil keputusan besar selalu muncul tawaran-tawaran lain yang bisa mengurungkan niat saya. Haduuh… Ketika hidup menawarkan banyak pilihan, kita seperti dihadang oleh pertanyaan apa prioritasmu?

Kejadian pertama yang saya lalui adalah saat ada tawaran S3 dari dosen pembimbing S2 saya untuk ke Prancis tahun 2011. Saya bersemangat, akan tetapi orangtua saya meminta saya untuk menikah dulu. Ini membuat saya tersenyum nyengir hingga sekarang. Mom and dad, I’m still single until now. Any idea? Kejadian kedua adalah saat saya akan mengikuti tes CPNS dosen tahun 2014, lagi-lagi saya urungkan karena merasa terikat dengan kampus saya sekarang. Look what happened now! No progress. Nah, sekarang saya mau berniat sekolah lagi. Jangan sampai ada yang mengurungkan niat saya lagi. Walaupun, rasa-rasanya mulai bermunculan nih bermacam-macam godaan penghalangnya. Oh Tuhan, kadang memang harus tega ya bikin keputusan besar dan tidak boleh banyak alasan gak jelas. Kuatkan dan permudahlah ya Allah. Aamiin.

Segala Hal Atas Kadarnya

Dunia bagi banyak orang sangat mempesona karena memberikan sifat indah bagi mereka akan hal-hal tersebut. Termasuk bagi saya. Setiap orang punya ujian masing-masing terhadap pesona dunia. Ada orang yang terobsesi dengan uang, jabatan, makanan, pakaian, peliharaan, perhiasan, kecantikan dan ketampanan, kekuasaan, kemewahan, pasangan hidup, anak-anak, seksualitas, bahkan sampai pada hiburan yang memanjakan diri. Begitu banyak godaan dunia. Tiap orang akan menghadapi salah satu dari ini atau bahkan lebih. Mengerikan ya manusia. Ya, manusia memang semengerikan itu. Itu dinamakan nafsu, yang tak dipunyai oleh malaikat.

Saat seseorang mendapatkan dunia yang diinginkannya, tak sedikit orang yang iri padanya. Ya di sinilah masalah itu dimulai. Ada manusia yang selalu merasa tak senang jika ada orang yang diberikan kenikmatan dunia melebihi dirinya. Saat ada orang lain yang usahanya sukses timbul dengki, ada yang lebih cantik darinya malah iri hati. Sampai-sampai ada yang berusaha untuk menghalangi ataupun menghancurkan apa yang diperoleh orang lain. Padahal orang itu tak merugikan dirinya sedikitpun. Aneh ya manusia. Manusia bisa seaneh ini karena mengikuti sifat syaitan. Dulu iblis, nenek moyang syaitan, merasa iri kepada kemuliaan yang diberikan Allah pada Nabi Adam. Rasa iri itu berubah menjadi dengki dan hasad. Di sinilah pangkal mula Adam diperdaya oleh iblis hingga keluar dari surga. Perilaku iblis ini tak jauh beda dengan perilaku manusia yang iri dan berupaya mencelakakan orang-orang yang diberi lebih dari dirinya dalam urusan dunia maupun yang disebut rizki. Untuk apa sih iri dengan ujian kesenangan dunia orang lain? Ujian kesenangan dunia itu berat loh.

Kemarin teman saya bercerita di media sosial tentang kisah orangtuanya, tepatnya ibunya. Ibunya dulu mendapat kelimpahan rizki dengan berkembangnya ternak sapi dan kebun. Walaupun pencapaian ibunya adalah usaha sendiri dan juga kemudahan rizki dari Allah, ternyata ada tetangga yang iri dan dengki dengan apa yang beliau dapatkan. Hingga ibunya dibuat tak berdaya dengan sakit yang berkepanjangan, setelah diobati ke sana ke mari tak sembuh-sembuh ternyata kena santet oleh tetangganya. Betapa mengerikannya. Di zaman yang sudah modern ini dan manusia sudah dianggap beriman pada Tuhan, tetap saja banyak orang yang memilih jalan kesyirikan (menyekutukan Allah). Mereka meminta bantuan pada setan atau jin untuk menghancurkan manusia lain karena kebencian dan rasa iri. Sampai akhirnya, semua harta ibu teman saya tadi habis untuk pengobatan dan mereka pindah diajak Bapaknya merantau ke Papua mencari kehidupan baru. Kepindahan dan habisnya harta mereka ternyata menghentikan santet tadi. Lihatlah bagaimana manusia begitu sangat jahatnya pada manusia lain sampai pada taraf menzalimi sedemikian rupa.

Praktik syirik serupa santet ini masih berkembang di masyarakat kita. Orang-orang masih banyak yang menjadi pemuja setan padahal mereka mengatakan beriman pada Tuhan. Orang-orang ini adalah mereka yang tak mensyukuri hidupnya dan tidak bahagia dengan apa yang mereka punya. Mereka orang-orang terburuk yang ada di dunia ini. Padahal, seharusnya orang yang beriman paham bahwa rizki itu Allah yang memberi dan mengatur. Manusia bisa berusaha mencari rizki tapi tetap Allah yang menetapkan berapa banyak yang akan diberi. Mau bilang Allah tak adil? Justru dengan mengatakan Allah tak adil, manusia itu sudah sampai pada taraf menduakan Allah. Apakah yang lebih dicintainya adalah harta dan kemilau dunia ataukah Allah? Allah tak pernah memandang harta dan kesenangan dunia sebagai bentuk keberhasilan dan keberuntungan manusia. Allah cuma melihat dan memuji ketundukan dan ketaatan manusia pada-Nya. Lihatkan, perbedaan pandangan antara Allah dan kebanyakan manusia di muka bumi ini? Semakin cinta manusia pada dunia, Allah tahu mereka akan semakin lupa diri hingga lupa pada Allah. Inilah yang menjadi kebencian dan kemurkaan Allah pada manusia. Karena pada akhirnya Tuhan mereka berganti menjadi harta, kekuasaan, jabatan, kecantikan, dan semua kesenangan.

Bukannya Allah tak mau manusia mendapatkan kesenangan. Justru Allah akan menambah kenikmatan itu saat manusia semakin dekat, taat, dan bersyukur kepada Allah. Nah, di sinilah poinnya. Bagaimanapun harta itu ditambah oleh Allah, jika orang itu tidak gila harta, maka harta itu hanyalah suatu yang biasa dan tidak memperdaya bagi orang-orang yang bertaqwa. Mereka justru memanfaatkan harta atau kekuasaannya untuk kebaikan manusia lain. Mereka berinfak tak kenal jumlah, sebagaimana sahabat Usman bin Affan menginfakkan hartanya yang banyak di jalan Allah. Mereka mengganggap harta itu hanya titipan dan akan berarti jika dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia. Sungguh orang seperti inilah yang dicintai Allah. Mereka yang tetap taat walaupun dalam curahan rizki yang banyak. Dan tak banyak orang seperti ini. Yang ada malah semakin diberi harta dan rizki, semakin kikir dan menghamburkannya untuk hal-hal tak berguna. Maka, untuk apa menumpuk harta jika harta yang sedikit saja belum bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. Allah tahu, jika semakin diberi manusia malah semakin menjauh dari-Nya. Bukankah seharusnya kita puas dengan apa yang sudah mencukupi? Kenapa terobsesi meminta lebih? Apa yang mau dicapai? Jika untuk menambah infaq dan ketaatan tentu sangat baik, tapi jika hanya untuk menambah kesombongan apa gunanya?

Dalam hal ini, kita seharusnya menjadi hamba Allah yang selalu bersyukur dengan rizki yang diberikan-Nya. Perbedaan jumlah rizki yang diberi bukan bentuk pilih kasih Allah pada manusia. Bahkan, rizki itu bisa menjadi ujian yang mencelakakan. Allah tahu berapa kadar rizki yang pantas untuk kita. Tidak salah meminta rizki pada Allah dan mencari rizki dengan giat asalkan niatkan semua karena Allah, untuk mendapatkan keberkahan dari Allah, bukan untuk melalaikan diri hingga jauh dari Allah. Sungguh Allah lebih mengetahui yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya.

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa’ : 32)

Menulis adalah Kehidupan

Hari ini ada berita gembira. Barusan saya diberi tahu kalau kumpulan cerpen saya dan teman penulis lainnya akan terbit dalam waktu dekat ini. Senang sekali menunggu momen ini. Ini cerpen kedua saya yang terbit, sebelumnya terbit sekitar tahun 2012. Sudah lama sekali. Tahun lalu saya dan teman-teman penulis lainnya melahirkan esai yang diterbitkan dalam bentuk e-book. Melihat karyamu lahir dan dibaca orang adalah suatu kebahagiaan tersendiri.

Menulis adalah aktivitas yang menyenangkan. Seharusnya saya benar-benar menekuni ini. Bahkan, ada seorang teman Facebook yang memotivasi saya untuk menulis agar bisa bertemu dengan penulis-penulis lainnya, dan siapa tau itu jodoh saya katanya. Saya hanya tertawa mendengarnya. Ya sih siapa tau. Tapi bukan itu tujuan saya menulis. Jodoh bisa datang dari mana saja, bahkan dari tempat atau situasi yang tidak diduga. Menulis adalah ajang mendokumentasikan pikiran dan menyebarkan kebaikan bagi saya.

Saya menulis apa pun yang saya suka. Dulu waktu masih kuliah S1, saya adalah penggila puisi hingga banyak puisi yang saya tulis. Menulis cerpen kesenangan saya sewaktu SMA, kemudian vakum cukup lama dan berlanjut saat saya kuliah S2. Untuk esai, saya menyenangi analisis tentang politik, agama, budaya, dan sastra. Itulah sebabnya blog adalah sesuatu yang penting bagi saya. Hingga saat ini saya sudah punya empat akun blog, yang tersisa dua, dan yang aktif cuma WordPress. Blog tumblr sudah terabaikan sekian lama. Tapi entahlah kenapa sekarang tulisan saya lebih banyak curhatan. Saya tampak seperti pribadi yang melankolis dan kesepian.

Banyak hal yang bisa saya lakukan, tapi tak saya seriusi. Saya kurang fokus sepertinya. Dalam hal apa pun, saya butuh teman dalam berkarya. Seperti kumpulan cerpen dan antalogi esai yang sudah terbit adalah contoh bagaimana saya termotivasi oleh lingkungan. Saya tampak kesepian sekali akhir-akhir ini. Sejak kepindahan ke Padang dari Jakarta tahun 2013 lalu, saya benar-benar kehilangan teman-teman terbaik saya. Walaupun masih saling kontak hingga sekarang, tetap saja kebersamaan dengan mereka sangat saya rindukan. Itulah sebabnya, saya berniat untuk kuliah lagi untuk membunuh kegundahan dan ketidakdinamisan hidup yang saya alami sekarang. Ini benar-benar membuat galau. Saya tak rela meninggalkan kedua orangtua yang selalu saya rindukan dan sayangi, tetapi juga tak mau terjebak pada lingkungan sosial saya yang monoton. Bagaimanapun, tampaknya saya memang harus sekolah lagi.

Tentang menulis, saya akan menekuninya lagi. Mungkin menulis fiksi adalah pilihan menarik saat ini. Pengalaman hidup tahun lalu sangat menginspirasi untuk saya dituliskan. Sebuah pelajaran berharga untuk diri saya bahwa kita tak selalu hidup dalam alur yang kita inginkan. Terkadang ada jalan yang membawa kita pada pemahaman tentang hidup yang lebih mendalam. Seolah sebuah pertanyaan besar yang ditujukan pada diri saya. Apa makna kehidupan bagi saya dan kehidupan seperti apa yang sesungguhnya saya inginkan. Bagaimanapun, pertarungan tahun lalu adalah sebuah kemenangan untuk diri saya dalam mempertahankan dan memperlihatkan prinsip hidup saya. Walaupun harus berkuras airmata dan kepedihan hati. Ini bukan hanya masalah cinta tapi identitas diri dan pilihan hidup.

Kisah hidup kita adalah sebuah buku yang akan dibacakan nanti di akhirat. Bahkan hidup kita sendiri adalah sebuah narasi yang akan dibukukan kelak.