Menulis adalah Kehidupan

Hari ini ada berita gembira. Barusan saya diberi tahu kalau kumpulan cerpen saya dan teman penulis lainnya akan terbit dalam waktu dekat ini. Senang sekali menunggu momen ini. Ini cerpen kedua saya yang terbit, sebelumnya terbit sekitar tahun 2012. Sudah lama sekali. Tahun lalu saya dan teman-teman penulis lainnya melahirkan esai yang diterbitkan dalam bentuk e-book. Melihat karyamu lahir dan dibaca orang adalah suatu kebahagiaan tersendiri.

Menulis adalah aktivitas yang menyenangkan. Seharusnya saya benar-benar menekuni ini. Bahkan, ada seorang teman Facebook yang memotivasi saya untuk menulis agar bisa bertemu dengan penulis-penulis lainnya, dan siapa tau itu jodoh saya katanya. Saya hanya tertawa mendengarnya. Ya sih siapa tau. Tapi bukan itu tujuan saya menulis. Jodoh bisa datang dari mana saja, bahkan dari tempat atau situasi yang tidak diduga. Menulis adalah ajang mendokumentasikan pikiran dan menyebarkan kebaikan bagi saya.

Saya menulis apa pun yang saya suka. Dulu waktu masih kuliah S1, saya adalah penggila puisi hingga banyak puisi yang saya tulis. Menulis cerpen kesenangan saya sewaktu SMA, kemudian vakum cukup lama dan berlanjut saat saya kuliah S2. Untuk esai, saya menyenangi analisis tentang politik, agama, budaya, dan sastra. Itulah sebabnya blog adalah sesuatu yang penting bagi saya. Hingga saat ini saya sudah punya empat akun blog, yang tersisa dua, dan yang aktif cuma WordPress. Blog tumblr sudah terabaikan sekian lama. Tapi entahlah kenapa sekarang tulisan saya lebih banyak curhatan. Saya tampak seperti pribadi yang melankolis dan kesepian.

Banyak hal yang bisa saya lakukan, tapi tak saya seriusi. Saya kurang fokus sepertinya. Dalam hal apa pun, saya butuh teman dalam berkarya. Seperti kumpulan cerpen dan antalogi esai yang sudah terbit adalah contoh bagaimana saya termotivasi oleh lingkungan. Saya tampak kesepian sekali akhir-akhir ini. Sejak kepindahan ke Padang dari Jakarta tahun 2013 lalu, saya benar-benar kehilangan teman-teman terbaik saya. Walaupun masih saling kontak hingga sekarang, tetap saja kebersamaan dengan mereka sangat saya rindukan. Itulah sebabnya, saya berniat untuk kuliah lagi untuk membunuh kegundahan dan ketidakdinamisan hidup yang saya alami sekarang. Ini benar-benar membuat galau. Saya tak rela meninggalkan kedua orangtua yang selalu saya rindukan dan sayangi, tetapi juga tak mau terjebak pada lingkungan sosial saya yang monoton. Bagaimanapun, tampaknya saya memang harus sekolah lagi.

Tentang menulis, saya akan menekuninya lagi. Mungkin menulis fiksi adalah pilihan menarik saat ini. Pengalaman hidup tahun lalu sangat menginspirasi untuk saya dituliskan. Sebuah pelajaran berharga untuk diri saya bahwa kita tak selalu hidup dalam alur yang kita inginkan. Terkadang ada jalan yang membawa kita pada pemahaman tentang hidup yang lebih mendalam. Seolah sebuah pertanyaan besar yang ditujukan pada diri saya. Apa makna kehidupan bagi saya dan kehidupan seperti apa yang sesungguhnya saya inginkan. Bagaimanapun, pertarungan tahun lalu adalah sebuah kemenangan untuk diri saya dalam mempertahankan dan memperlihatkan prinsip hidup saya. Walaupun harus berkuras airmata dan kepedihan hati. Ini bukan hanya masalah cinta tapi identitas diri dan pilihan hidup.

Kisah hidup kita adalah sebuah buku yang akan dibacakan nanti di akhirat. Bahkan hidup kita sendiri adalah sebuah narasi yang akan dibukukan kelak.

Advertisements

Politik Emosi

Jelang Pilplres 2019 makin ramai perang isu. Semua bisa dijadikan bahan diskusi, perdebatan, bahkan untuk kampanye politis, entah untuk menyerang atau membangun citra. Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis masalah politik dan isu-isu kekinian, seringnya malah curhat di blog ini. Padahal, di medsos mah diskusinya politik melulu. Ini yang namanya dramaturgi kehidupan. Manusia dalam keadaan tertentu selalu memiliki front stage dan backstage-nya. Front stage saya adalah di kehidupa publik, termasuk di media sosial. Sedangkan backstage saya adalah ruang pribadi bersama orang-orang terdekat saya, termasuk blog ini. Kenapa blog juga? Karena saya tak punya banyak followers di blog ini, kecuali kalau ada yang stalking ya. Itu di luar pengetahuan saya. Masa iya ada yang stalking? Jika ada, bahaya ini. Jadi kelihatan sisi melankolisnya, padahal image saya adalah mandiri, strong, dan antilebay (haha…bawaannya curcol mulu di sini).

Ok, kembali ke isu trending di tahun politik ini. Bisa kita pastikan ketegangan dan polarisasi opini mulai mencuat setelah terjadinya kasus pencalonan Ahok di Pilkada Jakarta tahun 2016 lalu. Isu penolakan terhadap Ahok semakin memuncak gara-gara rekaman pernyataannya yang menyinggung surah Al Maidah 51, yang dianggap umat Islam bentuk pelecehan. Dalam hal ini saya setuju itu bentuk pelecehan. Bagaimanapun ayat itu adalah firman Allah yang menjadi landasan beriman, berpikir, dan berperilaku umat Islam. Larangan memilih pemimpin nonmuslim itu sangat jelas dan terang, bukan untuk dinegosiasikan. Jadi, ini bagi saya bukan urusan kepentingan politik tapi keimanan.

Dari hal-hal yang bersifat SARA ini kita bisa memahami bahwa dalam lingkup masyarakat plural, sangat riskan membenturkan hal-hal yang dianggap sakral. Sekarang isu berbau SARA ini terus bergulir, seolah tak belajar dari pengalaman. Akhir-akhir, ini publik kembali dibuat heboh oleh puisi Sukmawati Soekarnoputri yang membenturkan cadar dengan konde, azan dengan kidung. Siapa yang tak meradang dibanding-bandingkan begini? Perbandingan yang dibuat malah komparatif (better than) pula. Ini yang jadi pangkal konflik. Kalau bahasanya Al Quran “lakum dinukum waliyadin” aja lah.

Isu puisi ini sampai membuat masyarakat turun ke jalan menuntut Sukmawati dan bahkan melayangkan surat tuntutan hukum kepada pelaku. Isu ini seakan sedikit meredam saat Sukmawati meminta maaf kepada umat Islam. Tapi ya yang namanya maaf tidak selalu menyelesaikan masalah. Nah, tiap orang harus peka untuk urusan SARA ini, apalagi politisi. Sampai-sampai PDIP merasa terancam dengan perilaku Sukmawati yang notabene adalah saudara kandung Megawati. Bisa panjang cerita jika gara-gara ini elektabilitas partainya menurun. Sukmawati juga adalah seorang politisi dari partai PNI Marhaenisme, jadi posisinya dirinya cukup sulit sebenarnya terjerat dalam kasus ini. Maka, wahai politisi berhati-hatilah dengan omonganmu karena imbasnya adalah kepercayaan publik.

Bagaimanapun, kasus pelecehan agama ini tak lepas dari kepentingan politik. Jika umat Islam bergerak karena alasan keimanan, maka ada kelompok lain yang berupaya mengambil kesempatan untuk memberikan dukungan pada umat dengan memperlihatkan keberpihakan mereka. Ya mau bagaimana, pada akhirnya ini tidak dapat dihindari. Preferensi politik seseorang pasti juga dipengaruhi oleh sisi sosial kultural termasuk agama.

Polarisasi opini menjadi terbagi antara kelompok Islamis vs nasionalis-sekuler. Semakin tajam gesekannya dari hari ke hari. Hingga ada yang khawatir ini bisa menjadi perpecahan. Sekali lagi, perbedaan pandangan politik adalah hal yang tak dapat dihindari. Sekarang yang dibutuhkan adalah bagaimana menampilkan ideologi kedua kutub hingga tampak mana yang unggul dari segi kualitas sistem yang ingin dibangun. Kadang, sisi psikologi berupa emosi memang dapat mengambil simpati bahkan memenangkan, tapi tak cukup untuk mengurusi urusan rakyat, tetap saja dibutuhkan kualitas sistem yang akan dibangun. Maka dari itu, kedua kubu seharusnya bertarung dalam menampilkan kualitas pemikiran dan sistem yang akan dibangun untuk masyarakat. Memenangkan sesuatu dengan memicu konflik psikologis justru tidak membuat diri menjadi unggul hanya sekadar membangun emosi massa saja.

Make A Move

Do you know where I should start? I built something then it fell apart. I need more courage and optimism to rebuild my vision. I want to give up but I don’t want to be defeated. I want to get lost but at the same time I hate weakness and cowardice.

Things must be changable. Once, I played the song O Fortuna by Carmina Burana in the middle of the night. Yes, life is rough and tough. People become desperately depressed. I whined sometimes then stuck on boring situation. I found myself in prison of my own mind. My friend told me to get out of it. My mom and my sister asked me what I really want in life. I’m in the middle of intersection. I’m not looking for wealth, popularity, and pride. I want a meaningful life like becoming pious and grateful creature. It’s satisfying when we can give and share good things to other people. One thing I realize that I need to meet new people and new place. I need to share my vision. My problem is the stagnant environment. I’m surrounded by people who lost their vision in life. They let many precious chances go in vain. This is the matter that will happen when you are working under bad leadership and management. Oh, looks like I’m trying to blame some people. 😄

Yes, I have to take my doctoral degree soon. I have to. It’s a must! 😤

Let’s prepare for new experience! I’m thinking of my proposal. Let’s work it out!

Cinta yang Penuh

Bahkan untuk mencintaiMu ya Rabb, butuh usaha lebih keras. MencintaiMu selalu menuntut bukti kesungguhan. Bukan sekadar mencintai untuk mendapatkan keinginan duniawi semata. Sungguh, aku ingin mencintaiMu tulus bukan karena ada sesuatu yang kupinta dariMu. Cinta ini meminta keikhlasan yang tinggi dan pengakuan diri yang mendalam bahwa memang aku tak bisa hidup tanpaMu.

Ya Rahman ya Rahiim, Allah Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi. Dalam nama indahMu, Engkau adalah pemilik tertinggi cinta. Bagaimana mungkin aku akan menyerahkan cinta yang tak penuh kepadaMu? Justru aku yang tak tau diri jadinya.

Ya Aziz ya Kabiir, keperkasaan dan kebesaranMu melingkupi segalanya. Aku punya apa? Dan masih saja diri ini tak seutuhnya berserah diri kepadaMu. Masih saja taat ini tak sempurna.

Ya Shamad, kepada siapa lagi aku akan bergantung jika tidak kepadaMu? Semua selainMu adalah kefanaan. Hanya Engkau yang kekal, berdiri sendiri, dan meliputi segalanya.

Ya Ghaffur ya ‘Afuw ya Thawwab, aku selalu meminta ampunan dan maaf berkali-kali dan bertobat tak henti-henti. Karena sebanyak apa pun itu, tak akan pernah cukup. Pada akhirnya, RahmatMu lah yang mencukupi dan memenuhi segalanya.

MencintaiMu sangat berat, tapi aku sangat mau. Bahkan tak mengapa jika harus jatuh bangun. Aku ingin sampai pada maqam cinta yang tertinggi itu. Aku ingin sampai pada kesadaran penuh bahwa cara mencintaiMu berbeda dengan mencintai makhlukMu.

Ya Rabbi, masih saja terasa tabir itu. Kenapa jarak kita selalu bergeser jauh dan dekat? Tak pernah tetap saja dalam kedekatan. Hal itu membuatku sadar jika aku harus terus berjuang agar kita dekat. MencintaiMu adalah usaha dan kerja setiap saat, tak cukup sekali atau beberapa kali. CintaMu menuntut segalanya dariku. Kau ingin diriku untukMu. Jika tidak, Kau akan cemburu. Ya Rabb, bukankah cinta hebatMu seharusnya aku syukuri. Siapa yang bisa mencintai diriku sehebat diriMu? Engkau bisa memberi melebihi dari apa yang kuminta dan butuhkan. Bahkan ya Rabbi, ridhoMu adalah yang tertinggi dari segalanya. Bukankah Engkau pencinta sejati itu?

Hasbiyallah… Hasbiyallah. Hasbiyallah wani’malwakiil, ni’malmaula wani’mannashiir.

Create Your Visionary Future

Cara terbaik untuk melepaskan diri dari kondisi stagnan adalah dengan belajar. Belajar bisa dilakukan dengan berbagai cara di antaranya dengan membaca buku, mempelajari aktivitas fisik baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya, melakukan pembicaraan dua arah dengan orang lain, dan melakukan hobi baru yang menyenangkan dan menantang.

Kesemua hal itu membutuhkan kerja otak yang di luar kebiasaan. Otak akan mulai mempelajari sesuatu yang baru dan mengirimkannya sistem saraf agar bisa diterima dan dibiasakan oleh sistem tubuh kita.

Saya jadi berpikir, saat mengalami kegalauan atau tekanan mental justru seseorang membiarkan otaknya bekerja pada satu hal saja yaitu masalah yang menjadi kegalauan tersebut. Justru dengan demikian otak menerima beban yang sangat berat karena tidak adanya kedinamisan dalam aktivitas. Ternyata otak bisa mengalami kelelahan karena tertumpu pada satu hal saja dan sifatnya tidak produktif. Artinya otak selalu ingin bekerja melakukan aktivitas produktif dan positif. Positif di sini maksudnya adalah yang membawa kepada hal-hal visioner dan membangun.

Luar biasa sekali. Saya kadang jadi merasa bersalah sudah membebani otak dengan hal-hal tidak produktif yang membuatnya menjadi kaku, kelelahan, dan buntu. Saya menyadari ini setelah mulai membaca buku baru (bukan buku akademik yang biasa saya baca) yang memberikan pengetahuan baru bagi saya. Saya membeli banyak buku beberapa minggu lalu dengan konten yang variatif. Ada buku puisi Aan Mansyur, Al-Hikam oleh Ibn ‘Athailah, dan Tinta Emas Sejarah Islam. Buku-buku ini mulai saya baca dua hari belakangan. Saya adalah seorang tsundoku, punya hobi koleksi buku dengan motivasi membaca tidak sebanding dengan hasrat membeli buku yang lebih besar. Sebagian besar uang saya dibelanjakan untuk buku (jika tidak beli baju hehe).

Banyak buku yang tersimpan di rak buku belum saya baca hingga tuntas, paling hanya satu hingga dua bab yang saya baca seperti buku Mukaddimah Ibnu Khaldun yang mulai saya baca lagi kemarin. Luar biasa, isinya benar-benar menggugah pikiran saya tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang intelektual muslim. Selama ini karena membaca tidak tuntas jadinya pengetahuan saya tidak utuh dan menyeluruh tentang buku tersebut, hanya membaca yang dirasa dibutuhkan dan menarik saja. Sekarang saya bertekad untuk membuat daftar buku yang akan dibaca sekaligus tenggat waktu selesainya.

Pengetahuan baru ini menyegarkan otak saya dan saya berpikir masalah yang saya hadapi sebenarnya hal sepele dan sudah selesai, saya saja yang suka drama kalau lagi PMS. Apa yang terjadi dalam hidup saya adalah skenario terbaik dari Allah untuk saya. Allah selalu baik pada saya. Seharusnya saya bersyukur atas kesudahan masalah yang ditetapkan Allah untuk saya. Ah, tapi memang masalah hati selalu menyita banyak perhatian manusia (yah mulai lagi…).

Saya punya banyak aktivitas produktif untuk dilakukan sebenarnya yang selama ini saya abaikan. Saya ingin meningkatkan kualitas memasak di dapur yang selama ini saya tekuni, meningkatkan kemampuan berbahasa asing yang tidak mengalami progress (terutama bahasa Arab), menambah hafalan ayat Quran yang gak nambah-nambah, hingga melakukan aktivitas fisik baru yaitu menyetir dan berenang. Sampai sekarang saya kurang termotivasi melakukan dua hal ini, sukanya jadi penumpang aja males bawa mobil. Dan berenang sepertinya hobi baru yang akan menarik dilakukan, tapi mungkin tidak dalam waktu dekat ini (ngeles lagi). 😁

Ok, bukankah banyak yang harus dilakukan dalam hidup untuk menjadi manusia berkualitas, kenapa membiarkan diri larut pada sesuatu yang tidak produktif?

Dan satu lagi yang harus saya lakukan yaitu hati-hati memilih teman, termasuk calon teman hidup. Salah-salah bisa menumpulkan diri sendiri.

Catatan: patah hati memang sakit, tapi lebih sakit lagi kalau sampai salah mencintai. Biarlah kita pergi meninggalkannya dan dia pergi dengan orang lain, asal kita tidak menjadi korban jangka panjangnya dalam pernikahan. Jangan galau! Yak, baper lagi, coy!) 😆

For Those Who Are Battling

img_20180328_0229442019223316.jpg

Source: https://youtu.be/EPJSkSn7rt0

Jika tulisan-tulisan di sini adalah bagian dari terapi, maka itu belumlah cukup. Untuk tetap menjadi waras, kau memang harus melakukan banyak hal. Berjuang untuk tidak terkalahkan oleh kecamuk pikiran sendiri. Ya, pada akhirnya pikiran kita bisa mengalahkan diri kita sendiri. Dia bisa menjadi kawan dan lawan dalam waktu bersamaan. Bukankah ia sesuatu yang lebih membahayakan daripada musuh di depan mata yang bisa kau kenali?

Dalam dirimu ada monster kecil yang bisa berubah menjadi besar jika tak mampu kau kendalikan. Dia bisa mengaum bahkan menerkammu. Untuk itu, adakalanya kau harus melawan dirimu sendiri. Monster itu ada dalam setiap diri manusia. Bukankah Rasulullah sudah menyebut ini dalam sebuah riwayat berikut:

Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya” (Hadits shahih diriwayatkan oleh ibnu Najjar dari Abu Dzarr).

Adakah manusia yang aman dari dirinya sendiri? Tak ada. Jika ada yang mengatakan demikian, sungguh dia telah berbohong.

Sebagaimana yang diungkapkan di atas, menulis ini hanya sebagian kecil usaha untum terus menjadi waras dan tidak melampaui batas. Ada banyak hal lain bisa dilakukan yaitu berbicara dengan orang-orang terdekat yang kau percayai. Mereka adalaj penolongmu. Paling tidak bisa mendukungmu, memberikan pandangan alternatif, atau mungkin menyadarkanmu dengan cara yang berbeda. Mereka berharga.

Tetaplah di jalur yang benar, jangan pernah melampaui batas.

I keep myself sane and right. This is my battle.

Siapa yang Menghilang?

Sejauh apa kau mencari ketenangan? Ke manapun kau lari tetap saja kau merasakan hampa.

Sudahlah, hentikan drama-drama tak bermanfaat serupa sinetron dan novel metropop. Cukup cari pemilik hatimu di hamparan sajadah. Shalatlah dan berdoa!

Tak usah kau cari jauh-jauh tempat penenang hatimu, pelepas gundahmu. Karena yang bermasalah adalah hati dan pikiranmu.

Kau meratap seolah kau tak punya siapa-siapa dan merasa sendiri. Katakan padaku siapa sebenarnya yang menghilang? Dirimu ataukah Tuhan? Kau merasa Tuhan menghilang padahal sesungguhnya kau yang menjauhkan diri dari-Nya dan sibuk dengan pikiran dan hatimu. Lalu kau sebut Tuhan tak peduli? Kau yang tak melibatkan Tuhan dalam perbincangan pikiran dan hatimu. Kau ingin melebih-lebihkan kesedihanmu dan berakhir menjadi artis drama tak tertandingi. Apa kau tak malu? Mungkin hanya Tuhan yang tak malu melihatmu.

Sudahlah, tanya pemilik hatimu. Bawa Dia dalam percakapanmu. Kau tahu Dia selalu ada besertamu. Dia melihatmu, mendengarmu, bahkan menyelami irama nadimu. Dia pemilik dirimu. Dan kau pura-pura tak tahu. Ini bentuk kebodohan nyata manusia pada umumnya.

Hamparkan sajadahmu, bicaralah pada Allah. Kau sudah terlalu lelah melarikan diri dan menyakiti dirimu sendiri. Karena sesungguhnya bersamaNya adalah obat bagimu, penawar rasa sakit, pengering luka yang melepuh, pengangkat duri yang menusuk dalam.

Jangan jauh-jauh dari Allah. Kau tahu jika Dia tak pernah pergi dan menghilang. Kau saja yang tak kembali menemui-Nya.

Menghapus Kesedihan

Kau pernah tahu tentang orang-orang yang berusaha menghapus kesedihannya dengan menghamburkan uang?

Dia pergi ke sudut kafe mahal meminta pesanan pada pelayan. Kemudian makan dan minum menelan airmatanya.

Sedikit kesedihan itu menguap digantikan lezatnya makanan dan nikmatnya minuman.

Selepas membayar tagihan dan berjalan pulang. Dia kembali ke kamarnya yang membawa aroma kesedihan yang sama.

Orang-orang yang menghapus kesedihan dengan menghamburkan uang.

I got a bad score

Untuk menilai diri, kita harus melalui sebuah ujian. Kita sudah biasa dengan ujian mulai dari SD sampai ke bangku perkuliahan. Nilai atau skor yang dihasilkan adalah kualitas diri kita, dengan catatan tes tidak dilakukan dengan kecurangan.

Ujian dilakukan setelah kita melaksanakan serangkaian pembelajaran. Ujian memang tidak memandang kita siap atau tidak karena waktunya telah ditentukan. Artinya, dalam keadaan apa pun kita harus terus mempersiapkan diri, apalagi saat jadwalnya sudah diumumkan. Berlatih adalah cara jitu untuk lulus ujian dan mendapat nilai terbaik, dengan melatih diri mengerjakan berbagai soal untuk meningkatkan penguasaan pengetahuan yang telah dipelajari. Latihan yang sedikit akan berakibat kurang tangkasnya kita menjawab soal. Seringkali menyebabkan kita jadi kewalahan, buntu, dan senewen.

Sebelum ujian, tidak ada salahnya memprediksi skor untuk diri kita sendiri. Skor yang rendah di beberapa bagian bidang akan memetakan di mana kelemahan kita. Itulah yang harus diperbaiki. Sebagaimana skor yang saya dapatkan untuk tes IELTS beberapa waktu lalu. Tak disangka justru nilai terendah saya dapatkan pada bagian Writing. Saya cuma dapat poin 4.5 selebihnya memuaskan. Saya cukup kaget. Kok bisa? Padahal selama ini listening yg membuat saya khawatir.

Kenapa hasil tes saya pada Writing sangat rendah? Ternyata setelah saya sadari, selama ini saya mengabaikan latihan Writing. Saya merasa sudah yakin akan bisa mempertahan skill Writing yang saya punya. Faktanya malah meleset. Skill yang tak pernah diasah akan berkarat. Ia akan menumpul dan tidak berkembang. Apalagi untuk tes IELTS yang topik Writing-nya tak bisa diprediksi. Saya sudah meremehkan sesuatu tanpa sadar. Jujur, saya cukup malas berlatih mengerjakan latihan Writing sebelum mengikuti tes. Saya berpikir, dengan membaca cara menulis yang baik dan benar sudah cukup. Ah, betapa salahnya. Itulah sebabnya membaca instruksi dan cara pengerjaan tidak sama dengan mempraktikkannya.

Baiklah, hasil Writing ini cukup membuat saya terguncang. Saya kok jadi bodoh banget. Kok menurun sekali kualitasnya. Saya tak henti-henti merutuk diri. Ah, bagaimanapun penyesalan tidak akan mengubah keadaan. Yang saya butuhkan sekarang adalah mulai berlatih Writing sesuai teknik yang benar. Menambah pengetahuan dengan bacaan yang memperkaya uraian tulisan.

Pelajaran yang bisa saya ambil adalah boleh saja merutuk, kecewa dan menyesal. Tapi bukan itu poin dari kegagalan dalam sebuah tes/ujian. Hasil hanyalah penanda kualitas dan pencapaian kita. Poin utamanya adalah perbaiki segera kekurangan dan berlatihlah dengan sungguh-sungguh agar tangkas dalam menghadapi ujian. Mampu membaca soal ujian dan mampu menyelesaikannya dengan baik sesuai teknik pengerjaannya.

Kasus di atas adalah sesuatu yang bisa menjadi percontohan bagi berbagai tes atau ujian yang dihadapi, tak terkecuali ujian hidup (eaaa…).

Mari mulai berlatih dari sekarang. Jangan lupa menilai diri sendiri melalui prediksi latihan-latihan yang kita lalukan. 😊