Allah

Sudut Pandang Nikmat dan Syukur

Apa yang diterima manusia adalah efek dari apa yang diperbuatnya. Kebaikan-kebaikan akan berbalas kebaikan dari Allah sedangkan kemungkaran akan berbalas dengan hal-hal yang juga buruk dan menyengsarakan sebagai akibat dari ulah yang diperbuatnya.

Kadangkala bahkan seringkali kebanyakan orang lebih menghargai balasan kebaikan dari hal yang kasat mata dan menguntungkan secara materi. Padahal, bisa jadi kebaikan yang diberi Allah adalah berupa nikmat semakin dekat dan taat kepada-Nya, dan keburukan dari Allah bisa datang dengan semakin dijauhkan diri kita dari Allah dan terlena dengan materi yang memperdaya akibat kemungkaran yang kita lakukan. Kesalahan besar dari cara pandang kita yang seringkali salah adalah hanya menganggap balasan kebaikan itu dari sisi materi dan kesenangan semata, padahal bisa saja kesenangan itu justru menjauhkan dari Allah.

Allah mengatakan setiap kebaikan yang dilakukan manusia adalah untuk dirinya, demikian juga setiap keburukan akan kembali ke manusia itu lagi.

Ada ayat dalam Al Quran yang membuat saya merasa malu di hadapan Allah. Bentuk sindiran yang sangat menohok bagi manusia. Kita sering lupa ini, mungkin karena kebanyakan manusia memang suka lupa bersyukur. Sudah diberi nikmat oleh Allah malah dibalas dengan lalai dan ingkar terhadap Allah, apalagi dengan seenaknya berbuat mungkar dan maksiat. Terkadang manusia benar-benar emang tak tahu diri.

“Dan apabila Kami berikan nikmat kepada manusia, dia berpaling dan menjauhkan diri (dengan sombong); tetapi apabila ditimpa malapetaka maka dia banyak berdoa.” (QS. Fussilat 41: Ayat 51)

Seringkali kita ingat dan taat pada Allah di saat-saat sulit, sedangkan di saat-saat senang dan lapang kita berpaling dengan lalai terhadap Allah. Kelalaian itu banyak sekali, mulai dari lalai beribadah, merasa paling hebat dan menguasai segalanya, berbuat maksiat dengan gampangnya, hingga menutup mata dari semua aturan-aturan yang dilanggar, seolah Allah tidak melihat dan diri tidak akan dihisab. Ya Rabb, jauhkan kami dari semua keburukan perbuatan.

Allah itu Maha Pemurah, Maha Penyayang dan, dan Maha Pemberi kelapangan. Pernahkah mengalami saat-saat sulit dan merasa buntu dan tak ada jalan keluar? Namun setelah berserah diri dan berdoa pada Allah, jalan dan kelapangan dibukakan oleh Allah. Bukankah pertolongan Allah itu sangat dekat? Kita yang sering pesimis, berputus asa dari kuasa Allah, merasa dunia akan berakhir, padahal ada Allah tempat bersandar dan bergantung. Berputus asa berarti meniadakan dan mengerdilkan kuasa Allah.

Setelah diberikan kemudahan dari Allah seringkali manusia lupa diri. Lupa bersyukur dan merasa dirinyalah yang telah mengusahakan apa yang dia dapat, peran serta Allah dilupakan hingga dia menjadi lalai dan tidak taat pada Allah. Setiap kemungkaran dan kemaksiatan itu akan membawa keburukan bagi hidup. Hidup menjadi tidak berkah, tidak tenang, banyak masalah, banyak yang dikhawatirkan, dan merasa beban hidup begitu besar. Kenapa? Karena Allah tidak ridha. Karena lupa untuk taat dan bersyukur pada pada Allah.

Apapun yang kita lakukan Allah harus selalu dilibatkan, karena Allah Maha Berkuasa dan Dia-lah tempat kita bergantung. Agar diri menjadi tenang dan ikhlas. Jadi ketentuan apapun yang diberi Allah setelah ikhtiar, itulah yang terbaik. Kemampuan untuk menerima ketetapan Allah itulah namanya tawakkal. Jika masih saja ngotot dan keras kepala tak mau menerima qadha Allah, maka bisa jadi kita belum bertawakkal atau berserah diri dengan ikhlas pada Allah.

Setiap memohon sesuatu pada Allah, kita juga harus senantiasa memohon keridhaan-Nya. Bisa saja Allah tak ridha dan apa yang kita minta tak dikabulkan dan diberikan jalan. Untuk itu kita harus yakin bahwa Allah lebih tahu yang terbaik untuk kita.

Berikhtiar, bertawakkal, dan ikhlas. Itulah kunci bersyukur pada Allah. Atas ketetapan terbaik dari Allah, Allah menyuruh kita untuk menyebut-nyebut nikmat itu dengan banyak bersyukur pada-Nya. Bersyukur tidak hanya dilakukan pada setiap keinginan kita yang dikabulkan Allah, tapi setiap jawaban-jawaban dan jalan-jalan yang tidak kita bayangkan dan kehendaki sebelumnya. Sulit memang, tapi itulah ikhlas. Allah tahu yang terbaik untuk kebaikan diri kita. Allah mengetahui apapun tentang diri kita yang tidak kita ketahui. Masya Allah, betapa Maha Besar Allah.

Allah SWT berfirman:

فَاذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَاشْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 15)

Advertisements

Keberhasilan yang Menentramkan

Hidup terasa cukup sempurna saat kita memiliki teman-teman terbaik yang selalu hadir dalam keadaan terburuk dan terbaik. Mereka bahagia saat kita bahagia dan mereka hadir membawa semangat dan menenangkan di kala gundah dan sedih. Katakanlah kita hidup di situasi yang berbeda dan menghadapi persoalan berbeda, dan mengalami ketidakwarasan yang berbeda. Namun, kehadiran mereka mampu sebagai penyeimbang dan pembawa kestabilan. Kenapa? Karena kita bersama teman-teman terbaik yang senantiasa saling mengingatkan, menghibur, dan menguatkan. Dia tahu kondisi terburuk kita dan hadir sebagai penyelamat, begitu juga saat kondisi terburuknya kita hadir menemaninya dan meluruskan jika salah.

Sebenarnya apa yang sedang ingin saya bahas? Ini bukan semata soal adanya teman dalam kehidupan kita, tetapi bagaimana teman mampu membantu kita memandang dunia menjadi lebih luas dan dalam. Saya bersyukur diberi teman-teman terbaik yang senantiasa memandu pikiran dan kehidupan saya. Mereka sedikit banyaknya adalah bagian dari diri saya. Begitupun sebaliknya. Ada bagian diri saya di dalam jiwa mereka. Mungkin ini yang namanya soulmates. Belahan jiwa ternyata tak melulu tentang pasangan hidup yang melengkapi tapi juga teman-teman yang separuh diri mereka ada dalam pikiran dan jiwa kita.

Pagi ini saya mendapat nofikasi Whatsapp dari teman saya. Teman yang ada saat kondisi saya terpuruk. Tampaknya kali ini kami bertukar tempat. Saya dalam kewarasan optimal dan dia dalam kegalauan yang hampir menuju ketidakwarasan. Nah kan. Setiap orang akan mengalami ketidakwarasan yang berbeda-beda dalam hidupnya dikarenakan kondisi-kondisi tertentu yang terlalu membuat buyar dan tertekan.

Apakah yang sedang dihadapi teman saya itu? Rupanya dia sedang berusaha memahami kembali makna pencapaian dalam hidup. Apa sih yang dia galaukan? Ternyata dia berpikir ulang tentang arti pernikahan. Wah? Saya awalnya terbingung-bingung dan kaget. Apakah dia menyesal telah menikah? Teman saya menikah tahun lalu atas dasar keputusan mendadak karena dorongan orangtua dan usianya yang genting kian memaksa. Dia menikah dengan seseorang yang tidak masuk kriteria idamannya tapi masih bisa dia terima. Paling tidak, laki-laki yang dia nikahi shalih dan mampu menjadi pemimpin baginya. Saya dulu cukup kaget mendengar keputusannya, bahkan memastikan apa dia sadar melakukan itu dan siap menerima konsekuansinya. Seakan tak percaya dia akan membuat keputusan secepat dan senekat itu. Tapi mau bagaimana, itu sudah pilihannya. Setelah menikah apa dia bahagia? Apakah suaminya baik? Sebenarnya dia cukup bahagia dengan suami yang menyayanginya dan siap menghadapinya dengan penuh kesabaran.

Lalu di mana masalahnya? Nah, itu dia. Dia merasa tidak puas dengan hidup yang dijalaninya. Setelah menikah dia berhenti bekerja dan pulang ke kampung halamannya. Sekarang sudah memiliki bayi dan harus tinggal di rumah mengasuh setiap waktu. Apa lagi yang membuat tidak puas? Saya bertanya-tanya. Bukankah bagi banyak orang pernikahan adalah salah satu keberhasilan hidup? Apalagi punya anak. Sedangkan saya masih belum bisa meraih itu. Terkadang hidup memang aneh. Saya merenungi kesendirian saya sedangkan teman saya meratapi pernikahannya.

Akhirnya saya memahami bahwa apa yang dikatakan banyak orang sebagai keberhasilan belum tentu sebuah keberhasilan. Dan saya yang dikatakan belum berhasil belum tentu begitu. Teman saya justru iri dengan keadaan saya yang masih lajang, bisa berkarir, melakukan banyak hal yang saya sukai. Ya seperti menikmati hidup mungkin tepatnya. Padahal, dia tidak tahu apa yang saya rasakan. Bagaimana saya merasa kesepian dan merasa ada yang kurang. Dan saya juga ternyata baru tahu apa yang dia rasakan saat kegundahan melandanya. Ternyata pernikahan bukan bukti keberhasilan seseorang dalam hidup. Bahkan, ada teman saya yang lain dan sudah menikah menyarankan agar saya tidak perlu ngotot terburu-buru untuk menikah apalagi salah pilih pasangan. Jika waktunya tiba maka ia akan tiba juga katanya. Sebelum itu datang lebih baik optimalkan potensi diri untuk melakukan banyak hal yang positif seperti belajar, berkarya, dan mengeksplorasi hal yang kita suka dan tekuni.

Lalu apa sih sebenarnya keberhasilan itu? Kenapa makna keberhasilan jadi tidak pasti? Tulisan ini terinspirasi dari kajian Shubuh ustadz Abdul Somad tadi pagi tentang sukses hakiki. Kita mungkin sudah tahu, tapi sering lupa. Sukses yang sebenarnya yaitu senantiasa berada di jalan kebenaran yang diperintahkan Allah. Saya mencoba mengaitkan makna itu dengan kasus yang dialami teman saya, termasuk kasus saya sendiri. Saya menemukan makna keberhasilan dengan bahasa yang berbeda. Keberhasilan adalah saat kita ikhlas menerima apa yang diberikan Allah untuk kita. Menyukuri apa yang ada di hadapan kita. Makna keberhasilan bukan memiliki kekayaan berlimpah, punya paras cantik dan ganteng, menikah, punya anak, punya karir hebat, dan jabatan tinggi. Kenapa? Karena orang-orang yang memiliki hal tersebut masih saja tidak bahagia dengan apa yang mereka dapat. Bagaimana dengan orang yang hidup pas-pasan tapi bahagia? Atau tidak menikah dan punya anak tapi bahagia? Ternyata inti dari semua kebahagiaan yang berbanding lurus dengan keberhasilan itu adalah rasa syukur. Penerimaan atas keadaan yang ada dengan ikhlas. Bukankah setelah itu tak ada lagi kegalauan dan kekhawatiran? Saya berpikir, Allah pasti ingin membawa kita pada pemahaman ini. Berhasil berarti bersyukur atas apa yang Allah beri. Tetap berusaha memperbaiki diri dan melakukan yang terbaik untuk perubahan kehidupan di dunia dan akhirat yang diridhai Allah. Keberhasilan itu standarnya Allah yang menentukan. Apakah itu? Taqwa. Orang-orang bertaqwalah yang dikatakan Allah orang beruntung, sukses, dan berhasil. Bukan yang lainnya. Rasanya hidup lebih berarti dengan memaknai berhasil berdasarkan standar Allah ini.

”Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al A’raf: 69).

”Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al Maidah: 35).

“Maka adapun orang yang bertobat dan beriman, serta mengerjakan kebajikan, maka mudah-mudahan dia termasuk orang yang beruntung.” (Al-Qashas 67)

Masih banyak ayat-ayat yang membahas definisi dan contoh menjadi sukses/beruntung. Sungguh pandangan Allah lebih menentramkan untuk hidup kita daripada mengikuti pandangan manusia kebanyakan. Karena Allah lebih tahu apa yang harus dipentingkan dan yang terbaik untuk diri kita. Jadi, syukuri apa yang ada dalam diri kita dan terus berdoa meminta kebaikan.

Cinta yang Penuh

Bahkan untuk mencintaiMu ya Rabb, butuh usaha lebih keras. MencintaiMu selalu menuntut bukti kesungguhan. Bukan sekadar mencintai untuk mendapatkan keinginan duniawi semata. Sungguh, aku ingin mencintaiMu tulus bukan karena ada sesuatu yang kupinta dariMu. Cinta ini meminta keikhlasan yang tinggi dan pengakuan diri yang mendalam bahwa memang aku tak bisa hidup tanpaMu.

Ya Rahman ya Rahiim, Allah Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi. Dalam nama indahMu, Engkau adalah pemilik tertinggi cinta. Bagaimana mungkin aku akan menyerahkan cinta yang tak penuh kepadaMu? Justru aku yang tak tau diri jadinya.

Ya Aziz ya Kabiir, keperkasaan dan kebesaranMu melingkupi segalanya. Aku punya apa? Dan masih saja diri ini tak seutuhnya berserah diri kepadaMu. Masih saja taat ini tak sempurna.

Ya Shamad, kepada siapa lagi aku akan bergantung jika tidak kepadaMu? Semua selainMu adalah kefanaan. Hanya Engkau yang kekal, berdiri sendiri, dan meliputi segalanya.

Ya Ghaffur ya ‘Afuw ya Thawwab, aku selalu meminta ampunan dan maaf berkali-kali dan bertobat tak henti-henti. Karena sebanyak apa pun itu, tak akan pernah cukup. Pada akhirnya, RahmatMu lah yang mencukupi dan memenuhi segalanya.

MencintaiMu sangat berat, tapi aku sangat mau. Bahkan tak mengapa jika harus jatuh bangun. Aku ingin sampai pada maqam cinta yang tertinggi itu. Aku ingin sampai pada kesadaran penuh bahwa cara mencintaiMu berbeda dengan mencintai makhlukMu.

Ya Rabbi, masih saja terasa tabir itu. Kenapa jarak kita selalu bergeser jauh dan dekat? Tak pernah tetap saja dalam kedekatan. Hal itu membuatku sadar jika aku harus terus berjuang agar kita dekat. MencintaiMu adalah usaha dan kerja setiap saat, tak cukup sekali atau beberapa kali. CintaMu menuntut segalanya dariku. Kau ingin diriku untukMu. Jika tidak, Kau akan cemburu. Ya Rabb, bukankah cinta hebatMu seharusnya aku syukuri. Siapa yang bisa mencintai diriku sehebat diriMu? Engkau bisa memberi melebihi dari apa yang kuminta dan butuhkan. Bahkan ya Rabbi, ridhoMu adalah yang tertinggi dari segalanya. Bukankah Engkau pencinta sejati itu?

Hasbiyallah… Hasbiyallah. Hasbiyallah wani’malwakiil, ni’malmaula wani’mannashiir.

Siapa yang Menghilang?

Sejauh apa kau mencari ketenangan? Ke manapun kau lari tetap saja kau merasakan hampa.

Sudahlah, hentikan drama-drama tak bermanfaat serupa sinetron dan novel metropop. Cukup cari pemilik hatimu di hamparan sajadah. Shalatlah dan berdoa!

Tak usah kau cari jauh-jauh tempat penenang hatimu, pelepas gundahmu. Karena yang bermasalah adalah hati dan pikiranmu.

Kau meratap seolah kau tak punya siapa-siapa dan merasa sendiri. Katakan padaku siapa sebenarnya yang menghilang? Dirimu ataukah Tuhan? Kau merasa Tuhan menghilang padahal sesungguhnya kau yang menjauhkan diri dari-Nya dan sibuk dengan pikiran dan hatimu. Lalu kau sebut Tuhan tak peduli? Kau yang tak melibatkan Tuhan dalam perbincangan pikiran dan hatimu. Kau ingin melebih-lebihkan kesedihanmu dan berakhir menjadi artis drama tak tertandingi. Apa kau tak malu? Mungkin hanya Tuhan yang tak malu melihatmu.

Sudahlah, tanya pemilik hatimu. Bawa Dia dalam percakapanmu. Kau tahu Dia selalu ada besertamu. Dia melihatmu, mendengarmu, bahkan menyelami irama nadimu. Dia pemilik dirimu. Dan kau pura-pura tak tahu. Ini bentuk kebodohan nyata manusia pada umumnya.

Hamparkan sajadahmu, bicaralah pada Allah. Kau sudah terlalu lelah melarikan diri dan menyakiti dirimu sendiri. Karena sesungguhnya bersamaNya adalah obat bagimu, penawar rasa sakit, pengering luka yang melepuh, pengangkat duri yang menusuk dalam.

Jangan jauh-jauh dari Allah. Kau tahu jika Dia tak pernah pergi dan menghilang. Kau saja yang tak kembali menemui-Nya.

Ash-Shabuur

Ada satu nama dalam Asmaul Husna yang membuat saya merasa malu dan bersalah terus pada Allah. Ash-shabuur, Allah Maha Sabar. Sabarnya Allah melebihi kesabaran yang dipunyai makhluk. Inilah satu nama baik Allah yang mengingatkan kita agar jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.

Kita manusia tak pernah luput dari berbuat hal-hal yang melanggar aturan Allah. Ada saja kesalahan yang kita sengaja, tidak disengaja, ataupun kesalahan yang kita sadari dan yang tidak kita sadari. Pada kondisi tertentu, terkadang saya merasa frustrasi saat tidak bisa berjuang menjadi lebih baik sebagai hamba Allah. Saya berjanji untuk menjadi lebih baik, namun sialnya saya terus saja mengulangi kesalahan yang sama. Saya mengutuk diri, menyesali diri, dan membenci diri. Saya merasa betapa sukar dan mendakinya jalan menuju surga. Ya, Allah apakah saya akan sampai ke sana?

Dalam keadaan yang hampir putus asa tersebut, saya mengingat Allah. Apakah Allah masih peduli dengan saya. Saya punya target dan harapan tapi justru saya sendiri yang menggagalkannya. Saya tahu, setiap langkah kita untuk menjadi lebih baik pasti akan diiringi ujian oleh Allah. Allah ingin mengukur diri saya, seberapa tangguh saya berjuang. Pada akhirnya saya mengakui kelemahan diri pada Allah bahwa saya belumlah cukup tangguh.

Jika tidak karena harapan yang diingatkan oleh Nabi Ya’qub di dalam Al Quran agar jangan berputus asa dari rahmat Allah, mungkin saya sudah lepas kendali. Jika bukan karena sifat Allah Yang Maha Sabar, pasti saya sudah berhenti berjuang.

“dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf 12: Ayat 8)

Allah bersabar dengan kesalahan yang kita lakukan berulang-ulang. Betapa banyaknya dosa anak Adam di dunia ini, dan Allah masih bersabar menunggu kita untuk berubah menjadi lebih baik dan kembali pada Allah.

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 54)

Betapa sangat memalukannya saat Allah terus bersabar tapi kita terus mengulangi kesalahan. Bagaimana jika waktu tenggang untuk kita telah habis diberi Allah?

Saya tahu jika yang mampu menolong kita hanyalah rahmat Allah semata. Betapa banyak orang-orang yang sudah ditolong Allah untuk kembali ke jalan lurus setelah kehidupan rusak yang mereka alami. Bukankah Allah Maha Pemaaf? Membaca kisah orang-orang yang berhijrah menuju jalan Allah sangat menggugagah pikiran dan hati kita. Kok Allah masih mau menerima mereka? Kok Allah bisa memberi hidayah kepada mereka? Padahal dosa-dosa mereka sudah tak tanggung-tanggung. Kita sebagai manusia belum tentu mau memaafkan orang yang sudah sangat jahat kepada kita.

Yaa Shabuur, seharusnya kesabaran Allah membuat kita malu dan tahu diri. Apa kita tega memanfaatkan kesabaran Allah untuk terus-terus berbuat kesalahan dan dosa? Jika iya, jahat sekali kita sebagai manusia. Jahat dan tak punya muka.

Bagaimanapun, Allah akan terus menguji kita sebagai pembuktian apakah kita sungguh-sungguh untuk berhijrah dan berjuang menjadi lebih baik. Sebagaimana yang dikatakan Allah dalam firman-Nya:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, Kami telah beriman dan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 2)

Ujian itu pun datang dengan berbagai bentuk. Saat kita sudah mulai lebih baik muncul rintangan, bisa perkara yang melalaikan, menjauhkan dari kebaikan, dan penolakan terhadap perubahan yang kita bawa. Allah kadang menguji kita dengan kelemahan kita. Apa kita bisa konsisten dengan niat dan tekad di awal. Allah menguji kita dengan sesuatu yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Ada orang diberi harta berlimpah, kekurangan uang, tawaran-tawaran yang menggelincirkan, serta kesulitan yang akan mendera jika teguh memegang kebenaran.

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 35)

Allah sudah sangat jelas menerangkan bahwa ujian akan selalu diberikan dengan berbagai macam bentuk untuk menguji ketaatan dan keteguhan manusia dalam jalan kebenaran dan ketaatan pada Allah.

Saya terkadang merasa sedih kenapa Allah memberi ujian yang membuat saya justru tergelincir hingga saya harus jatuh lagi dan mengulang lagi dari awal semuanya. Tapi, saya kemudian sadar, Allah bersabar melihat proses diri saya. Allah tahu manusia itu tak sempurna. Allah mau saya berjuang terus walaupun harus jatuh bangun, terhempas, dan terseret. Allah menguji saya apakah saya akan kembali pada-Nya lagi setelah saya tergelincir, apakah saya akan tegap berdiri lagi setelah terlempar. Dan apa saya tetap mengingat-Nya dalam keadaan apapun.

Saya menulis ini sebagai bentuk perenungan agar menjadi manusia yang tahu diri di depan Allah. Allah sudah baik kok masih saja dikhianati dengan kesalahan yang sama. Saya sadar jika saya lemah, tak akan kuat berjuang sendiri. Allah mau mengingatkan, jika berjuang maka mintalah selalu kekuatan dan perlindungan pada-Nya. Minta untuk selalu dikuatkan agar terus istiqamah dalam jalan kebaikan. Siapa yang menjamin dan menjaga keistiqamahan selain Allah. Jadi, jangan sok kuat dan merasa diri sudah kuat. Kita selalu butuh Allah. Dan Allah sangat suka hambanya bergantung pada-Nya.

Kelayakan

Mencintai sesuatu yang layak untuk dicintai,

Merindukan sesuatu yang layak untuk dirindukan,

Mempertahankan sesuatu yang layak untuk dipertahankan,

Memperjuangkan sesuatu yang layak untuk diperjuangkan.

Mengharapkan sesuatu yang layak untuk diharapkan.

Menangisi sesuatu yang layak untuk ditangisi,

Meminta sesuatu yang layak untuk diminta.

Semua kelayakan itu dimulai dari Allah. Saat semuanya atas ridha Allah, maka semua layak dilakukan.

Release it, content it!


Tuhan mengujimu sampai kau benar-benar tangguh. Hingga yang tersisa adalah penyerahan dirimu pada-Nya seutuhnya. Lalu,  kenapa masih berusaha mengambil alih semua urusan seolah kau mampu mengendalikannya sekehendakmu? Berhentilah. Serahkanlah dan lepaskanlah. Itu lebih baik bagimu. Karena dirimupun seutuhnya adalah milik-Nya.

Berhentilah mengkhawatirkan segala sesuatu, kecuali amalmu pada-Nya. Berhentilah memaksakan sesuatu yang kau tak tahu baik buruknya. Berhentilah memikirkan sesuatu yang tak membawa peningkatan derajatmu di hadapan Tuhanmu. Berhentilah membuat dirimu berlelah-lelah untuk sesuatu yang tak bermakna bahkan sia-sia.

Allah dekat, lebih dekat dari urat nadimu. Dia menggenggam hati dan jiwamu. Kemana kau akan pergi? Kemana akan lari? Ah, jahat sekali saat kau berpaling dan mencari pertolongan selain dari-Nya. Kau membiarkan dirimu terlunta-lunta mencari pertolongan lain. Akhirnya, tercabik-cabik hilang arah.

Sudah cukup menyibukkan diri dengan pikiran dan kehendakmu sendiri. Lepaskanlah dan serahkan pada Allah. Kau akan terbebas, ternaungi, terampuni, dan terberkahi. Kau akan dicintai dan ditunjuki.

Lepaskan dan serahkan semua pada Allah.

A profane life

Hidup itu tidak suci. Manusia itu tidak suci. Manusia berbuat dosa setiap detik. Dosa kecil mana yang luput dilakukan dalam sehari? Ada saja kesalahan yang dilakukan, sadar atau tidak sadar. Sekali-kali karena manusia itu bukan makhluk suci. Kita harus tercabik-cabik, berdarah-darah, bahkan seperti ditarik untuk sekadar mengalami dosa. Dosa yang kita perbuat atas kebodohan diri, kelalaian diri, dan ketidaksabaran. Dosa yang menjadi bukti betapa kecil dan lemahnya kita. Apa yang kita banggakan sebagai manusia? Tidak ada! Kita sangat lemah; tak punya kuasa dan kendali; mudah tergelincir dan terkecoh; sedikit sekali ilmu yang dipunya.  

Rahmat Allah-lah yang telah meninggikan derajat manusia, yang membuatnya lepas dari dosa dan kesalahan. Jika bukan karena rahmat Allah, apa yang akan menolong? Tak ada. Maka mintalah selalu ampunan, pertolongan, perlindungan, kasih sayang, dan petunjuk dari Tuhanmu— Allah SWT. Dia-lah satu-satunya tempat meminta, berharap, dan bersandar. Atas kehendak dan kekuatan-Nya semua terlaksana. La haula walaquwwatta illabillahil ‘aliyyil’azhim. 

Allah, we are sinners. Please, forgive us.

Photo credit: here

Kemana Doa-doa Bermuara?

d702f04d86a0c229653b64e746d9fcae

Hari pertama di bulan Maret. Apa kabar? Sudah empat bulan rupanya aku tak pulang ke sini. Bukan tak ada yang akan ditulis tetapi dunia nyata tampaknya lebih menarik untuk “ditulis”.

Empat bulan bukan waktu yang singkat karena ada doa-doa yang selalu dirapalkan dan menunggu untuk dikabulkan. Memang tak selalu doa-doa dijawab secepat itu. Bahkan Allah sepertinya tak selalu berfokus pada apa-apa yang ingin kita capai. Dia ingin melihat kesungguhan dan kesabaran kita untuk tetap berdoa tanpa henti dan ragu serta hanya bersandar pada-Nya. Dengan kata lain, Dia menginginkan kedekatan itu terus berlanjut hingga kita tak lagi berfokus pada capaian-capaian kita tetapi justru menikmati saat-saat bersama-Nya. Bukankah itu sangat syahdu?

Sangat gampang bagi Allah untuk mengabulkan semua permintaan. Terkadang manusia memang egois karena seringkali hanya ingat akan keinginannya tapi lupa pada pemberi nikmat itu setelah didatangkan. Sangat tidak berterima kasih dan bersyukur. Untuk itu, kita memang harus selalu berpikir akan hal-hal mendasar ini, bahwa Allah hanya menginginkan ketaatan dan keterikatan kita pada-Nya.

Allah suka pada hamba-hamba yang selalu meminta kepada-Nya. Itu bukti bahwa manusia memang sangat membutuhkan Tuhannya. Akan tetapi, seberapa besarkah permintaan itu dibanding ketawakalan kita pada-Nya? Tawakkal berarti ikhlas dan mempercayakan semua urusan hanya pada Allah, dan tak ada kekhawatiran sedikitpun akan ketatapan-Nya. Tuhan tak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya. Kenapa ragu dengan keputusan Tuhan? Artinya semua harus disyukuri. Setiap ketetapan pasti ada kebaikan di baliknya. Tuhan tak pernah salah dalam menetapkan sesuatu. Dia lebih memahami qadar akan segala hal.

Percayakan saja semua urusanmu pada Allah. Semakin lama permintaanmu dikabulkan artinya semakin ingin Allah dekat denganmu. Kesulitan-kesulitan dan pengharapan itu bisa jadi jalan menuju dekat dengan Allah. Kelak mungkin kita tak akan lagi mementingkan itu. Tidakkah kau rindu pada-Nya? Sudah sampaikah sebuah hadis qudsi pada kita bahwa saat kita mendekat kepada-Nya sejengkal maka Dia akan lebih dekat sehasta. Saat kita berjalan kepada-Nya, Dia akan berlari menemui kita. Allah akan mengingat kita saat kita mengingat-Nya. Tak cukupkah kebahagiaan itu saat Allah senantiasa mengingat kita dalam dirinya? Bisa jadi itu satu hal yang akan kita dambakan pada akhirnya nanti, saat di akhirat, kita akan berbahagia saat catatan itu dibacakan.

photo credit: estuary photo