Bahagia

Kemana Doa-doa Bermuara?

d702f04d86a0c229653b64e746d9fcae

Hari pertama di bulan Maret. Apa kabar? Sudah empat bulan rupanya aku tak pulang ke sini. Bukan tak ada yang akan ditulis tetapi dunia nyata tampaknya lebih menarik untuk “ditulis”.

Empat bulan bukan waktu yang singkat karena ada doa-doa yang selalu dirapalkan dan menunggu untuk dikabulkan. Memang tak selalu doa-doa dijawab secepat itu. Bahkan Allah sepertinya tak selalu berfokus pada apa-apa yang ingin kita capai. Dia ingin melihat kesungguhan dan kesabaran kita untuk tetap berdoa tanpa henti dan ragu serta hanya bersandar pada-Nya. Dengan kata lain, Dia menginginkan kedekatan itu terus berlanjut hingga kita tak lagi berfokus pada capaian-capaian kita tetapi justru menikmati saat-saat bersama-Nya. Bukankah itu sangat syahdu?

Sangat gampang bagi Allah untuk mengabulkan semua permintaan. Terkadang manusia memang egois karena seringkali hanya ingat akan keinginannya tapi lupa pada pemberi nikmat itu setelah didatangkan. Sangat tidak berterima kasih dan bersyukur. Untuk itu, kita memang harus selalu berpikir akan hal-hal mendasar ini, bahwa Allah hanya menginginkan ketaatan dan keterikatan kita pada-Nya.

Allah suka pada hamba-hamba yang selalu meminta kepada-Nya. Itu bukti bahwa manusia memang sangat membutuhkan Tuhannya. Akan tetapi, seberapa besarkah permintaan itu dibanding ketawakalan kita pada-Nya? Tawakkal berarti ikhlas dan mempercayakan semua urusan hanya pada Allah, dan tak ada kekhawatiran sedikitpun akan ketatapan-Nya. Tuhan tak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya. Kenapa ragu dengan keputusan Tuhan? Artinya semua harus disyukuri. Setiap ketetapan pasti ada kebaikan di baliknya. Tuhan tak pernah salah dalam menetapkan sesuatu. Dia lebih memahami qadar akan segala hal.

Percayakan saja semua urusanmu pada Allah. Semakin lama permintaanmu dikabulkan artinya semakin ingin Allah dekat denganmu. Kesulitan-kesulitan dan pengharapan itu bisa jadi jalan menuju dekat dengan Allah. Kelak mungkin kita tak akan lagi mementingkan itu. Tidakkah kau rindu pada-Nya? Sudah sampaikah sebuah hadis qudsi pada kita bahwa saat kita mendekat kepada-Nya sejengkal maka Dia akan lebih dekat sehasta. Saat kita berjalan kepada-Nya, Dia akan berlari menemui kita. Allah akan mengingat kita saat kita mengingat-Nya. Tak cukupkah kebahagiaan itu saat Allah senantiasa mengingat kita dalam dirinya? Bisa jadi itu satu hal yang akan kita dambakan pada akhirnya nanti, saat di akhirat, kita akan berbahagia saat catatan itu dibacakan.

photo credit: estuary photo

Advertisements

Menghitung Kesedihan dan Kebahagiaan

post-notes-corkboard-smiley-sad-cartoon-face-expression-happiness-versus-depression-concept-two-stuck-message-45726191

Setiap kali pulang ke rumah setelah aktivitas di luar, saya selalu berusaha mengingat apa saja kesedihan yang saya alami, berapa banyak kebahagiaan yang didapat, serta apa saja hal-hal menyebalkan yang merusak hari itu. Selain itu, yang terpenting adalah mengingat apa saja hal-hal yang harus saya syukuri dan renungkan.

Kebahagiaan yang besar ternyata bisa menghilangkan kekesalan dan kesedihan yang sedikit. Kesedihan yang banyak juga bisa menghapus kebahagiaan yang sedikit. Pernah suatu kali saya bertemu di bis dengan orang yang masuk ke dalam daftar orang paling menyebalkan yang pernah saya temui. Malam itu juga, semua kebahagiaan yang saya dapatkan dari pagi hingga sore hari hilang tak berbekas gara-gara di pengujung sore bertemu orang tersebut. Bagaimana tak menyebalkan jika dia yang posisinya adalah orang asing mencampuri privasi hidup saya dengan menanyakan secara detail tentang diri saya, pekerjaan saya, dan penghasilan saya. Hey, who do you think you are, man? Bahkan sampai-sampai menasihati dan menghakimi hidup saya yang dia tak tahu apa-apa sedikitpun. Kesalahan saya adalah terlibat pembicaraan dengannya. Akhirnya, saya simpulkan bahwa tak perlu meladeni setiap ajakan berkomunikasi jika lawan bicara tidak memiliki etika berkomunikasi. Mendiamkannya adalah yang terbaik daripada sampai pada sebuah komunikasi yang tidak efektif. Nah, itulah contoh betapa sebuah hal yang sangat menyebalkan bisa merusak kebahagiaan. Ini hanya bukti bahwa ada loh orang-orang sok tahu tapi tidak tahu harus berbuat apa dalam hidupnya kemudian berusaha mencampuri hidup orang lain. Orang-orang seperti itu sangat butuh pertolongan karena hidupnya menyedihkan.

Mengingat kesedihan, seharusnya muncul pertanyaan apakah yang sedang kita rasakan adalah keputusasaan, kelemahan atau rasa tidak bersyukur? Jika ketiga hal itu yang meliputi pikiran maka tak ada pilihan lain selain kesedihan yang muncul. Jadi, jika kesedihan datang, pikirkanlah ketiga hal itu, kita sedang dalam keadaan bagaimana sebenarnya. Setidaknya, saya sering berhasil mengidentifikasi kondisi saya kemudian menata kembali pikiran secara rasional setelah merefleksi diri. Sangat mengkhawatirkan jika dalam kesedihan ternyata kita justru sedang mengingkari rahmat Allah yang banyak dengan merasa diri tidak bahagia dan banyak kekurangan. Atau merasa putus asa padahal belum sepenuhnya berusaha. Malaikat mungkin akan sinis melihatnya. Jadi, tak baik baper berlama-lama. Jika pada faktanya ada orang-orang yang dilebihkan oleh Allah dari berbagai hal yang menyenangkan di dunia, bukan berarti Tuhan tidak adil, karena itu bukan ukuran Allah dalam memandang seseorang.

Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya. (Quran surah Al Isra ayat 21)

Lihat, betapa filosofisnya Allah mengajak kita berpikir mendalam memahami makna hidup. Bukankah yang diinginkan-Nya seberapa taat kita kepada-Nya. Secara esensi, ketaatan itu dimaknai sebagai kebahagiaan.

Pada faktanya, kebahagiaan itu sangat banyak dibandingkan kesedihan. Bahagia dengan apa yang dimiliki. Perlu diperhatikan, untuk hal ini kita harus membedakan antara pasrah dengan keadaan dan optimis melangkah ke depan. Jika ada sesuatu yang memang tak membawa perbaikan dan kemajuan, bukan berarti kita harus tinggal lama berada dalam ketidakmenentuan. Diri kita terlalu berharga untuk disia-siakan oleh keadaan yang tidak mendukung dengan baik. Jika punya kekuatan dan keyakinan bahwa keadaan akan berubah maka bertahanlah, jika tidak maka tinggalkan. Beri waktu untuk berkontemplasi dan mencari ruang baru.

Mengapa saya menulis tentang ini? Tujuan awal saya adalah untuk melepaskan beban psikologi, karena menulis adalah salah satu caranya. Saya menulis manajemen emosi ini untuk diri pribadi, kalau-kalau di kemudian hari saya lupa saat mengalami masalah psikologi. Kadang pikiran yang stabil dan tenang dapat dikacaukan oleh situasi insidental yang membuat proses berpikir menjadi terburu-buru dan tidak terarah. Beri waktu untuk berpikir secara bijak di ruangan yang tenang dan nyaman, jauh dari keriuhan. Tuhan selalu dekat di tempat-tempat seperti itu, kecuali jika pikiran memang tidak tertuju pada Tuhan maka apa daya, di tempat yang eksklusif sekalipun keputusasaan tak akan habis-habisnya.

Saya mengimani Allah, itulah sebabnya semua hal selalu kembali ke sana. Dari tidak ada, saya menjadi ada, hingga nanti akan kembali kepada ketidakadaan. Itu sudah cukup menjelaskan tentang siapa saya. Artinya, keyakinan ini yang membentuk diri saya dan cara saya mengelola hidup.

Dunia ini terlalu riuh. Tak semua harus dituruti. Kita perlu mengambil ruas jalan sendiri untuk memahami esensi diri. Seperti kata sebuah kutipan yang sangat membekas bagi saya: Follow your heart, but take your brain with you. Tuhan sangat tahu kenapa memberi bekal akal pada kita.

Bagaimana Perempuan Bahagia?

happy

It’s always hard to start a writing. For me, yes it is. Jika tak mentok di awal pasti di tengahnya. Akhirnya, di tengah perasaan yang campur-aduk itu membuat kegalauan makin meningkat. Seringnya kabur main di media sosial atau malah tidur. Nah, sebenarnya sekarang pun masih bingung mau membahas apa, berhubung bacaan saya akhir-akhir ini hanya buku teks kuliah dan observasi ke hal-hal yang serupa itu, jadi agak kudet. Mumpung sedang mellow dan sentimental, saya bahas tentang hal-hal semacam itu saja.

Perempuan pernah merasa tua tidak sih? Pernah. Itu terjadi saat dia merasa tidak bahagia. Ini semacam pengalaman dan observasi saya. Kevalidannya jangan ditanya. Itu belum teruji secara ilmiah, alias saya belum bikin penelitian ilmiah tentang itu, dan tidak tahu jika ada hasil penelitian seperti itu. Ok, bagaimana hal itu terjadi?

Pernah mengamati perempuan membanding-bandingan dirinya dengan perempuan lain? Ini memang perilaku yang nggak masuk akal tapi sungguh nyata. Nah, kalau sampai ada perempuan yang seumuran, terus salah seorang di antara mereka merasa dirinya lebih tua dari segi raut wajah, pasti bakal sensitif dan uring-uringan sekali. Frustrasi muncul seketika. Kenapa itu orang bisa awet muda? Pakai perawatan apa? Dia makan apa aja atau dietnya bagaimana? Apa hidupnya bahagia banget? Bahkan, sampai ke hal-hal kejam sekali pun langsung divoniskan seperti, “itu pasti oplas!”

Pastinya, perempuan itu akan bahagia jika ada yang bilang: “kamu kok muda terus ya? wajah kamu imut, nggak kelihatan seumuran kamu, bahkan lebih mudaan kamu daripada adik kamu.” Wah, dijamin kata-kata itu bisa membuat perempuan bahagia untuk jangka waktu yang lama.

Permasalahan sekarang adalah bagaimana membuat perempuan bahagia? Banyak hal yang membuat perempuan bahagia, seperti menikmati melakukan hobi-hobinya, berkumpul dengan teman-teman perempuan terbaiknya, berkumpul dengan keluarga, dan memiliki waktu pribadinya yang berkualitas (me time). Kemudian, yang paling penting adalah mencintai orang yang juga mencintainya (*cough, ini skip aja, tapi penting!).

Nah, hal yang terakhir itu penting sekali rupanya. Saya tak bisa men-skip! Ini agak-agak ngeri sebenarnya. Ini cerita dari pengalaman teman. Ada yang bilang, ketika seseorang menikah, maka cinta itu akan datang juga. Katanya memang begitu. Jadi kalau di awal belum cinta, nanti akan cinta dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Hanya saja, itu tak seperti yang dikatakan banyak orang. Teman saya yang perempuan ini setelah nikah, tetap saja cinta dan ingat laki-laki yang pernah dia cintai dulu. Saya sampai terkaget-kaget. Kok bisa nikah sama suami yang sekarang? Nah, itu saya tidak mengerti logika perempuan yang bisa nikah dengan setengah hati. Sampai sekarang saya belum bisa memahami.

Cerita di atas mengerikan ya? Saya selalu berdoa agar tidak seperti itu nantinya antara saya dan pasangan hidup saya. Jika pun akan menikah dengan seseorang, pastikanlah hati kita sudah move on (beralih meninggalkan yang lama). Kasihan kan suaminya jadi diduakan? Dan satu hal lagi, pastinya si perempuan itu tidak bahagia seutuhnya. Ini kata saya. Pada faktanya dunia lebih rumit daripada teori saya pribadi. Ini baru versi perempuan, versi yang laki-laki juga sama loh. Ada suami yang rela menceraikan istrinya karena masih cinta sama mantannya. Ini cerita teman saya tentang temannya yang lain yang bikin kami berdua bergidik. Mengerikan ya? Kalau sudah begini, lebih baik resapi dan dalami kata-kata Ali bin Abu Thalib ini:

“Ulurkan cintamu sebab Tuhanmu dan tariklah cintamu sebab Tuhanmu. Pasti kamu tidak akan kecewa.” (Ali bin Abi Thalib RA)

Nah, kembali pada permasalahan pertama tadi. Tentang perempuan yang memikirkan “ketuaannya”. Pada umur tertentu, akan ada masanya perempuan mulai berpikir serius tentang dirinya. Sudah seberapa tua umur kronologis (dihitung dari tahun kelahirannya) dan umur psikologisnya (umur mental)? Mana yang lebih tua di antara kedua umur tersebut? Di umur kronologisnya sekarang, apakah masih pantas berperilaku seperti umur psikologisnya (jika umur psikologisnya lebih muda)? Nah, jika mereka sudah berpikir seserius ini, artinya mereka sudah mulai memikirkan masa depannya. Bagaimana dia akan mengelola kehidupannya di masa mendatang.

Terkadang, perempuan dengan usia mental lebih muda akan lebih lama menyadari hal di atas karena merasa hidupnya masih sama seperti yang dulu dan dengan kadar kebahagiaan yang sama. Jika mereka sadar dengan pilihan ini tak menjadi soal. Sulitnya adalah ketika baru sadar, dan terlambat menyadari. Kadang saya juga berpikir tentang ini, tentang diri saya, dan teman-teman perempuan saya.