Baik

Mengonstruksi Ilusi

Ini sebuah pembicaraan yang menarik. Beberapa hari ini saya terlibat diskusi serius dengan mahasiswa terkait masalah penerimaan terhadap realitas. Realitas berbeda dari fakta. Realitas bersifat relatif karena bisa dibangun sedangkan fakta adalah keadaan sesuatu  begitu adanya. Kadang memang tak semua orang rela menerima fakta apa adanya sehingga dia membangun realitasnya sendiri. Bahkan, bisa pula karena ada penolakan terhadap fakta yang tidak sesuai keinginannya. Di samping itu, bisa juga karena tidak memahami fakta yang ada sehingga dia membangun kerangka berpikir dengan asumsi.

Realitas yang tak diharapkan akan mengarah pada pembentukan realitas baru yang bisa disebut sebagai ilusi. Ilusi bisa diartikan sebagai fantasi yang diinginkan sebab fakta tidak mendukung harapan seseorang. Banyak orang pada akhirnya membangun ilusi yang dijadikan nyata olehnya. Mereka membangunnya lewat persepsi yang menyalahi hukum alam. Pada akhirnya, mereka hidup dalam ilusi yang dibayang-bayangi oleh rapuhnya bangunan realitas tersebut.

Ini terdengar filosofis, karena hal ini memang dilandasi oleh pikiran-pikiran mendasar tentang realitas walaupun semu. Terkadang manusia merasa nyaman dengan ilusi yang dia buat hingga dia mendapati ruang fantasinya hancur oleh ketidaksinkronan fakta dengan harapan.

Maka dari itu, untuk memeriksa kewarasan kita, perlu kiranya melihat apakah perkara hidup yang kita jalani berdasarkan ilusi ataukah hukum alam yang tidak saling bertentangan.

Hidup dalam fantasi atau ilusi sama seperti orang-orang yang terperdaya dengan angan-angan panjang hingga dia menyadari apa yang dia bayangkan adalah semu dan rapuh. Manusia pada umumnya hidup dalam ilusi yang dia bangun. Dalam konteks yang sangat serius atau “nyata” pun manusia masih sempat-sempatnya membangun ilusi yang dia jadikan reitas hidup yang diimpikan. Contohnya saja bagaimana orang-orang menciptakan konsep Demokrasi sebagai fantasi realitas yang kemudian mereka wujudkan dalam realitas nyata untuk mengatur urusan hidup mereka. Mereka sadar jika Demokrasi hanyalah ilusi, tapi mereka masih percaya dan ingin tetap berada dalam bayang-bayang ilusi yang mereka bangun.

Demokrasi tak pernah bisa menjadi nyata karena dari sifatnya sudah menyalahi hukum alam atau sunnatullah. Manusia saja yang bersikeras untuk menjadikan Demokrasi sebagai realitas mereka. Sampai sekarang Demokrasi tak pernah sampai pada tahapan yang diinginkan karena pada faktanya kehidupan sosiologis manusia tidak memungkinkan itu terwujud.

Demokrasi menginginkan semua orang bebas memberikan pendapatnya sekalipun itu salah dan mengandung bahaya. Mereka menganggap dengan dikeluarkannya aspirasi semua orang maka seseorang tersebut akan hidup bahagia sekalipun dia hidup dalam ilusi atau fantasi yang kapanpun dapat membahayakan dirinya dan orang lain.

Baik dan buruk serta salah dan benar tak pernah diperhitungkan dalam Demokrasi, demikian juga dalam ilusi dan fantasi manusia. Itulah sebabnya ini membahayakan. Seseorang menjalankan hidupnya hanya berdasarkan keinginan-keinginannya semata yang memuaskan hasratnya tanpa memperhitungkan kebaikan dan keburukannya. Sejatinya, baik dan buruk adalah proses alam. Alam sudah diberikan mekanisme oleh Allah untuk menjalankan segala sesuatu sesuai dengan standar kebaikan. Itulah sebabnya saat kehidupan manusia mengalami kekacauan (chaos) pasti ada hal yang melanggar hukum alam.

Dari pembicaraan ini yang bisa saya sampaikan adalah seharusnya manusia berhenti bermain-main dengan fantasi dan ilusinya karena saat hal tersebut mereka paksakan menjadi realitas, maka mereka akan mengalami kehancuran atau kekacauan hidup.

Allah lebih tahu mana yang baik dan buruk. Itulah sebabnya, manusia perlu memahami aturan Penciptanya agar selamat dan aman kehidupannya di dunia dan akhirat. Jadi, berhati-hatilah mengonstruksi ilusi menjadi realitas, kelak kita akan mendapatkan apa yang kita tuai.

Advertisements

Ya Allah, Aku Ingin dan Butuh…

Ada yang kau inginkan tetapi itu bukan yang kau butuhkan dan harapkan. Kau mencintai sesuatu tetapi pada versi yang berbeda. Kadang kau ingin yang ada di depan matamu, tapi itu tidak memenuhi yang kau butuhkan. Ada yang kau butuhkan tapi tidak kau inginkan. Kapankah keinginan dan harapan bertemu? Ah, sungguh! Kesempurnaan memang langka dan itu hanya dari Allah.

Tiap orang memiliki keunikan dan ketertarikan yang berbeda. Itulah sebabnya tak ada yang sia-sia di muka bumi ini. Allah sudah mengatur segalanya. Masya Allah, sungguh Allah Maha Adil. Di samping itu, kita akan melihat pula bagaimana manusia menjalani hidupnya dengan cara yang berbeda. Manusia diberi dua jalan yaitu jalan kebaikan dan keburukan. Ada yang mengambil jalan keburukan ada pula yang mengambil jalan kebaikan sebagaimana firman Allah:

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan).”
(QS. Al-Balad 90: Ayat 10

Ada manusia yang bertindak mengikuti keinginan-keinginannya tanpa melihat baik buruknya. Itu semua pilihan manusia itu sendiri. Di sini Allah memberikan peringatan bahwa ada manusia yang justru mengambil jalan keburukan dalam hidupnya karena jalan kebaikan dianggap sukar untuk dijalani. Padahal jalan yang sukar itulah yang lebih disukai Allah. Jalan di mana manusia berhati-hati melangkah agar tidak terjerumus pada keburukan. Dan jalan di mana manusia harus rela berkorban dengan hal-hal yang dia cintai untuk kebaikan.

Allah tidak memaksa. Dia memberikan arahan untuk hidup dengan cara yang benar agar hidup manusia tidak sia-sia. Bahkan, Allah memberikan ganjaran pahala dan surga bagi yang mengikuti jalan kebaikan. Memang, sesuatu yang berharga tentu tidak didapat dengan cara yang mudah, butuh perjuangan dan kesungguhan.

Ada kalanya kita dihadapkan pada pilihan-pilihan hidup yang sulit. Tidak semua harapan kita bisa terkabul sesuai keinginan. Kita ingin mendapatkan yang sempurna dalam pandangan kita. Hanya saja hidup tidak sesempurma itu. Terkadang kita mendapati sesuatu yang kita inginkan tapi justru bukan itu yang kita butuhkan. Terkadang pula mendapati sesuatu yang kita butuhkan tapi malah tidak kita ingini. Manusia memang banyak permintaan dan tak pernah puas ya.

Allah pasti tidak setega itu menurut saya. Karena manusia punya persepsi berbeda dan keinginan-keinginan berbeda tentu, kerelatifan itu membuka jalan untuk terpenuhinya kenginan manusia. Paling tidak hampir mendekati keinginannya yang sempurna. Allah yang menjadikan sesuatu indah bagi kita, yang pastinya sesuai dengan standar kebenaran dari Allah.

Jika kita berharap sesuatu pada Allah, mintalah sesuatu yang kita inginkan dan butuhkan sesuai maunya Allah. Tak ada yang salah jika meminta sesuatu yang baik pada Allah. Bukankah Allah Maha Kaya? Allah senang dimintai oleh hamba-Nya, jadi jangan malu meminta pada Allah asalkan yang diminta tidak mengandung mudharat dan maksiat. Allah senang diminta hal-hal baik. Dan jangan lupa untuk terus menjadi hamba yang lebih baik agar kita pantas mendapatkan kebaikan yang kita minta.