Berjuang

For Those Who Are Battling

img_20180328_0229442019223316.jpg

Source: https://youtu.be/EPJSkSn7rt0

Jika tulisan-tulisan di sini adalah bagian dari terapi, maka itu belumlah cukup. Untuk tetap menjadi waras, kau memang harus melakukan banyak hal. Berjuang untuk tidak terkalahkan oleh kecamuk pikiran sendiri. Ya, pada akhirnya pikiran kita bisa mengalahkan diri kita sendiri. Dia bisa menjadi kawan dan lawan dalam waktu bersamaan. Bukankah ia sesuatu yang lebih membahayakan daripada musuh di depan mata yang bisa kau kenali?

Dalam dirimu ada monster kecil yang bisa berubah menjadi besar jika tak mampu kau kendalikan. Dia bisa mengaum bahkan menerkammu. Untuk itu, adakalanya kau harus melawan dirimu sendiri. Monster itu ada dalam setiap diri manusia. Bukankah Rasulullah sudah menyebut ini dalam sebuah riwayat berikut:

Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya” (Hadits shahih diriwayatkan oleh ibnu Najjar dari Abu Dzarr).

Adakah manusia yang aman dari dirinya sendiri? Tak ada. Jika ada yang mengatakan demikian, sungguh dia telah berbohong.

Sebagaimana yang diungkapkan di atas, menulis ini hanya sebagian kecil usaha untum terus menjadi waras dan tidak melampaui batas. Ada banyak hal lain bisa dilakukan yaitu berbicara dengan orang-orang terdekat yang kau percayai. Mereka adalaj penolongmu. Paling tidak bisa mendukungmu, memberikan pandangan alternatif, atau mungkin menyadarkanmu dengan cara yang berbeda. Mereka berharga.

Tetaplah di jalur yang benar, jangan pernah melampaui batas.

I keep myself sane and right. This is my battle.

Advertisements

Ash-Shabuur

Ada satu nama dalam Asmaul Husna yang membuat saya merasa malu dan bersalah terus pada Allah. Ash-shabuur, Allah Maha Sabar. Sabarnya Allah melebihi kesabaran yang dipunyai makhluk. Inilah satu nama baik Allah yang mengingatkan kita agar jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.

Kita manusia tak pernah luput dari berbuat hal-hal yang melanggar aturan Allah. Ada saja kesalahan yang kita sengaja, tidak disengaja, ataupun kesalahan yang kita sadari dan yang tidak kita sadari. Pada kondisi tertentu, terkadang saya merasa frustrasi saat tidak bisa berjuang menjadi lebih baik sebagai hamba Allah. Saya berjanji untuk menjadi lebih baik, namun sialnya saya terus saja mengulangi kesalahan yang sama. Saya mengutuk diri, menyesali diri, dan membenci diri. Saya merasa betapa sukar dan mendakinya jalan menuju surga. Ya, Allah apakah saya akan sampai ke sana?

Dalam keadaan yang hampir putus asa tersebut, saya mengingat Allah. Apakah Allah masih peduli dengan saya. Saya punya target dan harapan tapi justru saya sendiri yang menggagalkannya. Saya tahu, setiap langkah kita untuk menjadi lebih baik pasti akan diiringi ujian oleh Allah. Allah ingin mengukur diri saya, seberapa tangguh saya berjuang. Pada akhirnya saya mengakui kelemahan diri pada Allah bahwa saya belumlah cukup tangguh.

Jika tidak karena harapan yang diingatkan oleh Nabi Ya’qub di dalam Al Quran agar jangan berputus asa dari rahmat Allah, mungkin saya sudah lepas kendali. Jika bukan karena sifat Allah Yang Maha Sabar, pasti saya sudah berhenti berjuang.

“dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf 12: Ayat 8)

Allah bersabar dengan kesalahan yang kita lakukan berulang-ulang. Betapa banyaknya dosa anak Adam di dunia ini, dan Allah masih bersabar menunggu kita untuk berubah menjadi lebih baik dan kembali pada Allah.

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 54)

Betapa sangat memalukannya saat Allah terus bersabar tapi kita terus mengulangi kesalahan. Bagaimana jika waktu tenggang untuk kita telah habis diberi Allah?

Saya tahu jika yang mampu menolong kita hanyalah rahmat Allah semata. Betapa banyak orang-orang yang sudah ditolong Allah untuk kembali ke jalan lurus setelah kehidupan rusak yang mereka alami. Bukankah Allah Maha Pemaaf? Membaca kisah orang-orang yang berhijrah menuju jalan Allah sangat menggugagah pikiran dan hati kita. Kok Allah masih mau menerima mereka? Kok Allah bisa memberi hidayah kepada mereka? Padahal dosa-dosa mereka sudah tak tanggung-tanggung. Kita sebagai manusia belum tentu mau memaafkan orang yang sudah sangat jahat kepada kita.

Yaa Shabuur, seharusnya kesabaran Allah membuat kita malu dan tahu diri. Apa kita tega memanfaatkan kesabaran Allah untuk terus-terus berbuat kesalahan dan dosa? Jika iya, jahat sekali kita sebagai manusia. Jahat dan tak punya muka.

Bagaimanapun, Allah akan terus menguji kita sebagai pembuktian apakah kita sungguh-sungguh untuk berhijrah dan berjuang menjadi lebih baik. Sebagaimana yang dikatakan Allah dalam firman-Nya:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, Kami telah beriman dan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 2)

Ujian itu pun datang dengan berbagai bentuk. Saat kita sudah mulai lebih baik muncul rintangan, bisa perkara yang melalaikan, menjauhkan dari kebaikan, dan penolakan terhadap perubahan yang kita bawa. Allah kadang menguji kita dengan kelemahan kita. Apa kita bisa konsisten dengan niat dan tekad di awal. Allah menguji kita dengan sesuatu yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Ada orang diberi harta berlimpah, kekurangan uang, tawaran-tawaran yang menggelincirkan, serta kesulitan yang akan mendera jika teguh memegang kebenaran.

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 35)

Allah sudah sangat jelas menerangkan bahwa ujian akan selalu diberikan dengan berbagai macam bentuk untuk menguji ketaatan dan keteguhan manusia dalam jalan kebenaran dan ketaatan pada Allah.

Saya terkadang merasa sedih kenapa Allah memberi ujian yang membuat saya justru tergelincir hingga saya harus jatuh lagi dan mengulang lagi dari awal semuanya. Tapi, saya kemudian sadar, Allah bersabar melihat proses diri saya. Allah tahu manusia itu tak sempurna. Allah mau saya berjuang terus walaupun harus jatuh bangun, terhempas, dan terseret. Allah menguji saya apakah saya akan kembali pada-Nya lagi setelah saya tergelincir, apakah saya akan tegap berdiri lagi setelah terlempar. Dan apa saya tetap mengingat-Nya dalam keadaan apapun.

Saya menulis ini sebagai bentuk perenungan agar menjadi manusia yang tahu diri di depan Allah. Allah sudah baik kok masih saja dikhianati dengan kesalahan yang sama. Saya sadar jika saya lemah, tak akan kuat berjuang sendiri. Allah mau mengingatkan, jika berjuang maka mintalah selalu kekuatan dan perlindungan pada-Nya. Minta untuk selalu dikuatkan agar terus istiqamah dalam jalan kebaikan. Siapa yang menjamin dan menjaga keistiqamahan selain Allah. Jadi, jangan sok kuat dan merasa diri sudah kuat. Kita selalu butuh Allah. Dan Allah sangat suka hambanya bergantung pada-Nya.

The Lone Ranger itu tidak ada, hanya nama film saja

 

the_lone_ranger_movie-wide

Saat sendiri, kita sering merasa tidak berdaya padahal banyak orang di sekitar kita. Apalagi keadaannya adalah saat Anda sendirian dalam berjuang. Anda tak punya orang-orang di sekeliling Anda yang memiliki cita-cita sama dan pemikiran yang bisa dibagi bersama. Mereka hanya mendengar tapi tidak mengulurkan tangan dan ide. Ya, Anda semacam The Lone Ranger.

Mengubah keadaan tak bisa sendiri. Kita perlu mengumpulkan kekuatan untuk melakukannya. Sedihnya adalah saat Anda ingin menyatukan kekuatan, ada orang-orang yang terlihat ogah-ogahan. Itu hanya membebani dan tak perlu dilakukan karena secara materi tidak menguntungkan, mungkin begitu pikir mereka. Apa Anda sedih melihat situasi itu? Dengan kondisi seperti itu, tampaknya keadaan tidak akan berubah.

Saya harus mengatakan bahwa keadaan di atas sering mendorong seseorang untuk keluar dari lingkungan itu dan mencari yang baru. Jalan pintasnya memang demikian. Sampai kapan akan menunggu? Toh, kekuasaan saja tak punya, apalagi orang yang berkuasa tidak memiliki visi yang sama. Dorongan untuk pergi semakin menjadi-jadi.

Saya jadi teringat pada seorang teman. Entahlah, saya tidak tahu apa masih harus menyebutnya sebagai teman karena pertemanan kami tidak semulus yang diharapkan. Lepas dari itu, dia pernah berkata bahwa kondisi di atas sangat mustahil bisa diubah dengan tangan satu atau dua orang yang tak punya kekuatan. Itu karena semesta sistemnya tidak menghendaki perubahan itu sendiri. Seperti kata teman saya yang lain, mengubah sistem dari dalam itu sangatlah sulit, makanya dibutuhkan orang-orang baru dari luar untuk menggantinya. Hanya saja, ini bukan sistem sosial, tapi sebuah lembaga profit yang melayani kepentingan publik dengan struktur yang telah ditetapkan dari atas secara terpimpin bukan dimusyawarahkan apalagi voting. Ini tentu tidak setara jika dibandingkan.

Saya dalam kondisi ini justru teringat pada dokter Kang Mo Yeon, salah seorang tokoh utama dalam serial drama Descendants of The Sun. Dia pernah berkata pada Captain Yoo Si Jin, jika Si Jin tidak datang pastilah dia telah lari meninggalkan medan bencana. Waktu itu gempa bumi melanda sebuah wilayah dan menelan banyak korban. Dia berpikir demikian karena merasa sendiri, tak ada yang menguatkan dan memegang erat tangannya untuk bergerak bersama sebelum Si Jin datang. Saya hanya balik berpikir, kenapa harus memilih di posisi dokter Kang Mo Yeon bukan Captain Yoo Si Jin? Menjadi Yoo Si Jin sungguh berat. Dia mungkin memang terlahir menjadi The Lone Ranger, ah tapi dia tidak sendiri juga karena memiliki tim solid seperti Alpha Team. Jadi, The Lone Ranger itu siapa? Tak ada. Mungkin Batman atau Soe Hok Gie? Ah, cedih…

Saat ini, saya hanya ingin merenung dan berpikir lebih jernih dan bijak. Mungkin saya ini hanya sedang lebay. Kalaupun jejeritan orang hanya akan mendengar, tapi tidak menolong. Ah, tambah desperate saja. Jika saya tetap tinggal, apakah saya kian hari kian melemah kemudian menjadi bagian dari arus utama yang akhirnya melepaskan cita-cita untuk mengubah keadaan? Saya akan beri tahu seiring berjalannya waktu. Seiring semakin kencangnya badai otak yang menyerang.