Doa

A profane life

Hidup itu tidak suci. Manusia itu tidak suci. Manusia berbuat dosa setiap detik. Dosa kecil mana yang luput dilakukan dalam sehari? Ada saja kesalahan yang dilakukan, sadar atau tidak sadar. Sekali-kali karena manusia itu bukan makhluk suci. Kita harus tercabik-cabik, berdarah-darah, bahkan seperti ditarik untuk sekadar mengalami dosa. Dosa yang kita perbuat atas kebodohan diri, kelalaian diri, dan ketidaksabaran. Dosa yang menjadi bukti betapa kecil dan lemahnya kita. Apa yang kita banggakan sebagai manusia? Tidak ada! Kita sangat lemah; tak punya kuasa dan kendali; mudah tergelincir dan terkecoh; sedikit sekali ilmu yang dipunya.  

Rahmat Allah-lah yang telah meninggikan derajat manusia, yang membuatnya lepas dari dosa dan kesalahan. Jika bukan karena rahmat Allah, apa yang akan menolong? Tak ada. Maka mintalah selalu ampunan, pertolongan, perlindungan, kasih sayang, dan petunjuk dari Tuhanmu— Allah SWT. Dia-lah satu-satunya tempat meminta, berharap, dan bersandar. Atas kehendak dan kekuatan-Nya semua terlaksana. La haula walaquwwatta illabillahil ‘aliyyil’azhim. 

Allah, we are sinners. Please, forgive us.

Photo credit: here

Kemana Doa-doa Bermuara?

d702f04d86a0c229653b64e746d9fcae

Hari pertama di bulan Maret. Apa kabar? Sudah empat bulan rupanya aku tak pulang ke sini. Bukan tak ada yang akan ditulis tetapi dunia nyata tampaknya lebih menarik untuk “ditulis”.

Empat bulan bukan waktu yang singkat karena ada doa-doa yang selalu dirapalkan dan menunggu untuk dikabulkan. Memang tak selalu doa-doa dijawab secepat itu. Bahkan Allah sepertinya tak selalu berfokus pada apa-apa yang ingin kita capai. Dia ingin melihat kesungguhan dan kesabaran kita untuk tetap berdoa tanpa henti dan ragu serta hanya bersandar pada-Nya. Dengan kata lain, Dia menginginkan kedekatan itu terus berlanjut hingga kita tak lagi berfokus pada capaian-capaian kita tetapi justru menikmati saat-saat bersama-Nya. Bukankah itu sangat syahdu?

Sangat gampang bagi Allah untuk mengabulkan semua permintaan. Terkadang manusia memang egois karena seringkali hanya ingat akan keinginannya tapi lupa pada pemberi nikmat itu setelah didatangkan. Sangat tidak berterima kasih dan bersyukur. Untuk itu, kita memang harus selalu berpikir akan hal-hal mendasar ini, bahwa Allah hanya menginginkan ketaatan dan keterikatan kita pada-Nya.

Allah suka pada hamba-hamba yang selalu meminta kepada-Nya. Itu bukti bahwa manusia memang sangat membutuhkan Tuhannya. Akan tetapi, seberapa besarkah permintaan itu dibanding ketawakalan kita pada-Nya? Tawakkal berarti ikhlas dan mempercayakan semua urusan hanya pada Allah, dan tak ada kekhawatiran sedikitpun akan ketatapan-Nya. Tuhan tak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya. Kenapa ragu dengan keputusan Tuhan? Artinya semua harus disyukuri. Setiap ketetapan pasti ada kebaikan di baliknya. Tuhan tak pernah salah dalam menetapkan sesuatu. Dia lebih memahami qadar akan segala hal.

Percayakan saja semua urusanmu pada Allah. Semakin lama permintaanmu dikabulkan artinya semakin ingin Allah dekat denganmu. Kesulitan-kesulitan dan pengharapan itu bisa jadi jalan menuju dekat dengan Allah. Kelak mungkin kita tak akan lagi mementingkan itu. Tidakkah kau rindu pada-Nya? Sudah sampaikah sebuah hadis qudsi pada kita bahwa saat kita mendekat kepada-Nya sejengkal maka Dia akan lebih dekat sehasta. Saat kita berjalan kepada-Nya, Dia akan berlari menemui kita. Allah akan mengingat kita saat kita mengingat-Nya. Tak cukupkah kebahagiaan itu saat Allah senantiasa mengingat kita dalam dirinya? Bisa jadi itu satu hal yang akan kita dambakan pada akhirnya nanti, saat di akhirat, kita akan berbahagia saat catatan itu dibacakan.

photo credit: estuary photo