Doa

Kata-kata yang Melemahkan Iman

Ada sesuatu yang bisa merusak keimanan. Berawal dari membandingkan dan mendengarkan pernyataan-pernyataan yang membuat rendah diri atau tidak percaya diri.

Membandingkan kesalihan diri orang lain dengan diri kita. Melihat saat orang lain yang dipandang lebih shalih mendapatkan semua yang diinginkannya dalam doa-doanya. Kemudian melihat kepada diri sendiri. Diri ini masih berusaha untuk shalih, berupaya membangun keshalihan diri, ingin belajar lebih baik. Kemudian datang sebuah pernyataan yang mematahkan niat-niat baik yang sudah terpupuk. Membuat diri tak punya arti dan kehilangan harapan. Sesorang berkata, bagaimana doa-doamu akan terkabul, kamu saja shalatnya masih belum khusyuk, amalan kamu masih pas-pasan. Belum lagi dosa juga masih numpuk. Wajar aja keinginanmu susah terkabul. Deg! Kok ini bener-bener bikin down ya.

Saya yang memang masih banyak kurang amal ini merasa rendah diri dan berprasangka buruk seketika pada diri sendiri. Jadi doa-doaku dan upayaku untuk taat selama ini sia-sia? Apakah aku hanya melakukan hal sia-sia? Tak didengar dan dilihat Allah? Berarti tak ada bedanya aku melakukan amalan itu dengan tidak melakukannya jika Allah tetap tak peduli. Apa Allah benar-benar menutup pendengaran dan rahmat-Nya pada orang-orang yang belum sempurna amalannya?

Menjadi khusyuk, menjadi taat, menjadi percaya akan janji Allah itu butuh usaha. Kenapa usaha-usaha untuk menjadi baik itu dipatahkan oleh pernyataan yang mengerdilkan dan membuat diri menjadi semakin terpuruk?

Ya Allah, seburuk-buruknya hamba. Engkau masih melihat dan mendengarnya kan saat dia ingin menjadi orang yang shalih dan ingin percaya pada kebesaran dan pertolongan-Mu?

Saya juga masih dalam tahapan memperbaiki diri menjadi lebih baik. Mendengar ucapan-ucapan yang melemahkan itu pun ikut merasa terpuruk. Ya Allah, jika diijabahnya doa-doa dan ketaatan hanya milik orang-orang paling shalih dan paling baik, apa pantas kami terus berharap kepada-Mu? Sedangkan untuk taat ini butuh proses dan kesabaran yang hebat. Dalam proses ini apakah diri kami tak pantas mendapatkan kebaikan-kebaikan dari-Mu?

Seharusnya yang datang kepada kami adalah dorongan untuk terus berbenah diri, semangat untuk selalu taat dan yakin kepada Allah. Bukan kata-kata negatif yang melemahkan jika pintu-pintu kemudahan dan rahmat hanya Engkau beri pada orang yang paling taat.

Seketika hati ini merasa sedih tak terkira. Merasa diri tak berguna. Untuk mencapai sebuah maqam tertinggi sebagai orang shalih itu proses dan perjuangannya luar biasa. Jadi, kalau hanya masih remah-remah begini tak ada artinya, maka harapan siapa yang tidak akan pupus? Seolah kami ini tak didengar dan dilihat Allah. Keinginan untuk berdoa seolah terlemahkan untuk dilakukan karena mengangggap Engkau tak akan mendengar.

Ya Rabb, bagaimanapun keadaanku aku masih berdoa pada-Mu karena aku tak punya tempat berharap selain kepada-Mu. Tak punya tempat meminta dan bergantung selain pada-Mu.

Ya shamad, ya Rahman, ya Rahim. Seandainya Engkau tak mau mendengar biarlah harapan-harapan ini terus berkembang dan ketaatan ini terus meningkat menjadi lebih baik. Seandainya diri-Mu tak mendengar biarlah diri ini terus percaya bahwa pada akhirnya Engkau akan mendengar.

Cukup ayat ini yang terus kupercayai dan menyemangatiku ya Rabb.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Aku itu dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

Advertisements

Siapa yang Menghilang?

Sejauh apa kau mencari ketenangan? Ke manapun kau lari tetap saja kau merasakan hampa.

Sudahlah, hentikan drama-drama tak bermanfaat serupa sinetron dan novel metropop. Cukup cari pemilik hatimu di hamparan sajadah. Shalatlah dan berdoa!

Tak usah kau cari jauh-jauh tempat penenang hatimu, pelepas gundahmu. Karena yang bermasalah adalah hati dan pikiranmu.

Kau meratap seolah kau tak punya siapa-siapa dan merasa sendiri. Katakan padaku siapa sebenarnya yang menghilang? Dirimu ataukah Tuhan? Kau merasa Tuhan menghilang padahal sesungguhnya kau yang menjauhkan diri dari-Nya dan sibuk dengan pikiran dan hatimu. Lalu kau sebut Tuhan tak peduli? Kau yang tak melibatkan Tuhan dalam perbincangan pikiran dan hatimu. Kau ingin melebih-lebihkan kesedihanmu dan berakhir menjadi artis drama tak tertandingi. Apa kau tak malu? Mungkin hanya Tuhan yang tak malu melihatmu.

Sudahlah, tanya pemilik hatimu. Bawa Dia dalam percakapanmu. Kau tahu Dia selalu ada besertamu. Dia melihatmu, mendengarmu, bahkan menyelami irama nadimu. Dia pemilik dirimu. Dan kau pura-pura tak tahu. Ini bentuk kebodohan nyata manusia pada umumnya.

Hamparkan sajadahmu, bicaralah pada Allah. Kau sudah terlalu lelah melarikan diri dan menyakiti dirimu sendiri. Karena sesungguhnya bersamaNya adalah obat bagimu, penawar rasa sakit, pengering luka yang melepuh, pengangkat duri yang menusuk dalam.

Jangan jauh-jauh dari Allah. Kau tahu jika Dia tak pernah pergi dan menghilang. Kau saja yang tak kembali menemui-Nya.

A profane life

Hidup itu tidak suci. Manusia itu tidak suci. Manusia berbuat dosa setiap detik. Dosa kecil mana yang luput dilakukan dalam sehari? Ada saja kesalahan yang dilakukan, sadar atau tidak sadar. Sekali-kali karena manusia itu bukan makhluk suci. Kita harus tercabik-cabik, berdarah-darah, bahkan seperti ditarik untuk sekadar mengalami dosa. Dosa yang kita perbuat atas kebodohan diri, kelalaian diri, dan ketidaksabaran. Dosa yang menjadi bukti betapa kecil dan lemahnya kita. Apa yang kita banggakan sebagai manusia? Tidak ada! Kita sangat lemah; tak punya kuasa dan kendali; mudah tergelincir dan terkecoh; sedikit sekali ilmu yang dipunya.  

Rahmat Allah-lah yang telah meninggikan derajat manusia, yang membuatnya lepas dari dosa dan kesalahan. Jika bukan karena rahmat Allah, apa yang akan menolong? Tak ada. Maka mintalah selalu ampunan, pertolongan, perlindungan, kasih sayang, dan petunjuk dari Tuhanmu— Allah SWT. Dia-lah satu-satunya tempat meminta, berharap, dan bersandar. Atas kehendak dan kekuatan-Nya semua terlaksana. La haula walaquwwatta illabillahil ‘aliyyil’azhim. 

Allah, we are sinners. Please, forgive us.

Photo credit: here

Kemana Doa-doa Bermuara?

d702f04d86a0c229653b64e746d9fcae

Hari pertama di bulan Maret. Apa kabar? Sudah empat bulan rupanya aku tak pulang ke sini. Bukan tak ada yang akan ditulis tetapi dunia nyata tampaknya lebih menarik untuk “ditulis”.

Empat bulan bukan waktu yang singkat karena ada doa-doa yang selalu dirapalkan dan menunggu untuk dikabulkan. Memang tak selalu doa-doa dijawab secepat itu. Bahkan Allah sepertinya tak selalu berfokus pada apa-apa yang ingin kita capai. Dia ingin melihat kesungguhan dan kesabaran kita untuk tetap berdoa tanpa henti dan ragu serta hanya bersandar pada-Nya. Dengan kata lain, Dia menginginkan kedekatan itu terus berlanjut hingga kita tak lagi berfokus pada capaian-capaian kita tetapi justru menikmati saat-saat bersama-Nya. Bukankah itu sangat syahdu?

Sangat gampang bagi Allah untuk mengabulkan semua permintaan. Terkadang manusia memang egois karena seringkali hanya ingat akan keinginannya tapi lupa pada pemberi nikmat itu setelah didatangkan. Sangat tidak berterima kasih dan bersyukur. Untuk itu, kita memang harus selalu berpikir akan hal-hal mendasar ini, bahwa Allah hanya menginginkan ketaatan dan keterikatan kita pada-Nya.

Allah suka pada hamba-hamba yang selalu meminta kepada-Nya. Itu bukti bahwa manusia memang sangat membutuhkan Tuhannya. Akan tetapi, seberapa besarkah permintaan itu dibanding ketawakalan kita pada-Nya? Tawakkal berarti ikhlas dan mempercayakan semua urusan hanya pada Allah, dan tak ada kekhawatiran sedikitpun akan ketatapan-Nya. Tuhan tak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya. Kenapa ragu dengan keputusan Tuhan? Artinya semua harus disyukuri. Setiap ketetapan pasti ada kebaikan di baliknya. Tuhan tak pernah salah dalam menetapkan sesuatu. Dia lebih memahami qadar akan segala hal.

Percayakan saja semua urusanmu pada Allah. Semakin lama permintaanmu dikabulkan artinya semakin ingin Allah dekat denganmu. Kesulitan-kesulitan dan pengharapan itu bisa jadi jalan menuju dekat dengan Allah. Kelak mungkin kita tak akan lagi mementingkan itu. Tidakkah kau rindu pada-Nya? Sudah sampaikah sebuah hadis qudsi pada kita bahwa saat kita mendekat kepada-Nya sejengkal maka Dia akan lebih dekat sehasta. Saat kita berjalan kepada-Nya, Dia akan berlari menemui kita. Allah akan mengingat kita saat kita mengingat-Nya. Tak cukupkah kebahagiaan itu saat Allah senantiasa mengingat kita dalam dirinya? Bisa jadi itu satu hal yang akan kita dambakan pada akhirnya nanti, saat di akhirat, kita akan berbahagia saat catatan itu dibacakan.

photo credit: estuary photo