dunia-akhirat

Tentang Pernikahan

Saat ini tiba-tiba saya jadi mempertanyakan kembali sesuatu yang saya masih berusaha untuk memahaminya, yaitu tentang pernikahan. Sebenarnya bagaimana orang-orang memandang pernikahan itu? Suatu ritual kehidupankah? Pernikahan itu apa maknanya? Pernikahan itu apa hanya untuk membebaskan dirimu dari tekanan dan tuntutan masyarakat agar tak lagi menjadi lajang? Apa orang yang menikah mengerti kenapa mereka menikah dan tujuan mereka menikah?

Setelah saya amati, kebanyakan orang menikah hanya menjalankan kebiasaan yang sudah-sudah. Semacam mengikuti tahapan kehidupan mulai dari lahir, sekolah, bekerja, menikah, punya anak, dan mati. Ya sekadar menjalankan ritual hidup. Mungkin benar kata teman saya. Saya belum punya cukup alasan untuk segera menikah. Jika hanya alasan kebutuhan seksual, semua orang juga butuh itu. Tapi apa hanya itu alasannya? Jika menikah hanya untuk seks, setelah kau bosan maka kau akan mencari pemuasan dari yang lain. Jika menikah artinya sekadar berbagi rumah bersama. Maka apakah akan ada gairah dan kegembiraan?

Jika menikah hanya untuk memiliki keturunan, kehadiran pasangan tidak akan berarti bagimu saat sudah ada anak yang kau harapkan. Atau jika kau tak mendapatkan anak, kau akan meninggalkan pasanganmu dan mencari lagi yang lain.

Jika menikah hanya untuk perubahan status. Maka, kau akan tetap kesepian dan tak bahagia karena tujuanmu bukan ketenangan dan kebahagiaan. Jika menikah karena ingin mendapatkan pasangan yang cantik atau ganteng, bukankah pada akhirnya itu akan pupus juga? Jika menikah karena ingin mendapatkan pasangan yang memiliki perkerjaan mapan, maka saat dia kekurangan kau akan mempertanyakan lagi arti dirinya bagimu.

Pernikahan itu sebenarnya direncanakan atau dipasrahkan? Teman saya mengatakan saya harus pasrahkan diri untuk menikah. Jika saat ini saya harus pasrah untuk menikah lalu apa artinya pernikahan itu? Itu sama dengan melakukan sesuatu hal yang tidak dipahami. Atau sesuatu yang tidak direncanakan tujuannya. Mungkin saya yang memang belum paham arti pasrah ini.

Ada teman saya yang bilang, jangan pilih-pilih lah. Terima saja yang di depan mata. Hah? Serius? Kamu itu akan menyerahkan dirimu pada seorang laki-laki tapi tidak memastikan orangnya bagaimana. Apa dia akan bertanggung jawab terhadap dirimu dalam memimpin, melindungi, menafkahi, mendidik, dan berbagi segala hal? Apa kau yakin dia adalah seseorang yang akan mau memahami dirimu, cara berpikirmu, harapan-harapanmu? Apa dia seseorang yang bisa membangun hubungan mutual respect yang saling menghargai dan menghormati? Nanti bagaimana jika dia memperlakukanmu semena-mena seolah kau tak punya harga diri? Apa dia seseorang yang bisa kau jadikan teman seperjuanganmu dalam kehidupan dunia dan akhirat?

Kadang saya bingung dengan orang yang menikah. Teman saya sudah menikah tapi dia masih mencari teman untuk berbagi, masih merasa kesepian. Di mana kesalahan itu terjadi? Sepertinya saya mulai merasa galau dengan definisi pernikahan bagi kebanyakan orang. Banyak kasus orang menikah, kemudian bercerai, mencari perempuan/laki-laki lain, atau berpoligami. Saya tak paham lagi dengan makna saling menyayangi dan menghargai. Jika begitu, pernikahan itu tak lebih dari surat kontrak saja.

Saya pernah dijodohkan atau dipertemukan dengan beberapa orang untuk tujuan menikah. Semua itu tak pernah berhasil. Kenapa? Karena saya merasa asing dan tak nyaman dengan orang-orang baru yang tak saya kenal. Menjadikan seseorang sebagai teman akrab saja butuh waktu untuk meyakinkan diri, apalagi orang baru yang akan dijadikan teman hidup. Dalam kesempatan lain, ada orang-orang yang sudah saya percaya ternyata mereka justru membuat kepercayaan saya menjadi hilang karena perilakunya. Ah, berurusan dengan manusia memang tak gampang, apalagi menjadikannya bagian dari hidupmu. Waah, pernikahan itu lama-lama menjadi suatu yang asing bagi saya. Mempercayakan dirimu kepada orang lain itu berat. Kau tak tahu akan diperlakukan dan diposisikan seperti apa oleh mereka pada akhirnya. Kata-kata saya ini menunjukkan saya masih sulit mempercayai seseorang.

Akan tetapi, kemudian saya tersadar. Allah itu mengikuti prasangka hamba-Nya. Saya harus mulai membangun pikiran positif dalam diri saya terkait pernikahan. Saya ingin menikah dengan tujuan utama untuk menyempurnakan agama dan ketaatan saya pada Allah. Saya ingin menikah agar keimanan saya menjadi lebih baik, ibadah saya kepada Allah menjadi dimudahkan dan diridhai, urusan kehidupan saya akan dipermudah Allah karena adanya sosok pengganti mahram saya sebagai penjaga saya. Saya ingin seorang sahabat seperjuangan dalam kehidupan dunia menuju akhirat. Ini niat saya dalam menikah. Jika tak menemukan ini maka tak perlu memaksakan diri untuk menikah. Ada Allah yang Maha Menjaga.

Meluruskan kembali sesuatu yang sudah tercemari oleh realitas-realitas buruk tentang pernikahan yang saya lihat dari orang lain memang sulit. Saya takut jika pemikiran saya yang begitu sinis dengan fakta pernikahan orang lain akan membuat saya menjadi orang yang kehilangan objektivitas dalam memandang sesuatu yang sifatnya kasuistik. Cukuplah berbaik sangka pada Allah akan hal-hal baik yang sudah dijadikan-Nya syariat.

Advertisements

Take your chance, reach your dream!

Hari ini saya bersyukur masih memiliki teman yang bisa saya ajak berdikusi dan berbicara tentang hal apa pun tanpa harus merasa malu dan menutupi. Seolah kami menjadi penutup dan penjaga satu sama lain. Kami saling mendengarkan, saling mendukung, dan saling menguatkan, bahkan saling mengingatkan. Alhamdulillah. Saya bersyukur masih diingatkan, dikhawatirkan, dan dirindukan. Teman baik adalah anugrah terindah dari Allah.

“Kamu akan mendapatkan apa yang kamu cari”. Begitu adagium yang sering kita dengar. Jika kita mencari kebaikan maka kebaikanlah yang kita peroleh, dan jika yang kita cari adalah keburukan, maka jalan untuk disandingkan dengan keburukan akan diberikan dan dimudahkan juga. Bagitulah hukum alamnya. Walaupun terkadang ada kondisi-kondisi pengecualian yang menyelisihi kelaziman tersebut. Artinya, itu adalah kehendak Allah dalam menetapkan takdir untuk hambanya.

Pembicaraan saya hari ini adalah tentang perubahan-perubahan yang harus saya lakukan. Saya adalah orang yang selalu tak nyaman di dalam zona nyaman. Saya selalu mempertanyakan diri sendiri, apa ini sudah cukup saya lakukan dalam hidup? Sampai di sini sajakah pencapaian saya dalam hidup? Pencapaian ini dalam lingkup dua hal yaitu dunia dan akhirat. Saya tidak boleh merasa cukup atas kualitas diri yang ada sekarang. Saya harus meningkatkannya menjadi lebih baik. Termasuk keberadaan saya dalam sebuah lingkungan. Jika lingkungan itu membuat diri kita semakin buruk, maka waktunya berpindah karena memperbaiki ternyata justru dihalangi.

Kata teman saya, kita tidak boleh menyia-nyiakan potensi diri sendiri dengan mengorbankan diri dalam kesia-siaan dan membiarkan diri menjadi tumpul. Ya, menumpul adalah hal terburuk dalam hidup kita. Tajamkan terus potensimu untuk dunia dan akhirat, maka tak akan ada yang sia-sia.

“Kamu harus tega!” Begitu kata temanku. Tega keluar dari zona nyaman yang mengerdilkan diri sendiri. Ya, ini kata-kata lecutan yang cukup membekas kuat. Selama ini saya tidak tega menjadi orang yang hanya memikirkan diri saya saja. Akan tetapi, sebenarnya apa kiprah saya benar-benar dimanfaatkan oleh berbagai lini di lingkungan tempat saya berada? Tidak. Bahkan saya hanya bisa mengubah dan mempengaruhi satu lini saja, itu pun tidak diberikan sepenuhnya.

Yup, cukup! Sekarang berhentilah! Ambil langkah baru, dan mulai menata apa yang telah lama diabaikan. Bergerak menjadi diri baru yang nanti tidak akan disesali.