Keinginan

Mengejar yang Tak Berfaedah

Kita manusia adakalanya dihadapkan pada kejadian-kejadian yang menguras perhatian dan tenaga yang lebih besar, bahkan mampu memperdaya kita menjadi sosok yan tidak biasa. Pernah mengalami ini? Tentunya semua orang pernah mengalaminya. Untuk hal-hal baik tentu ini tidak ada masalah, tapi bagaimana jika sebuah kejadian pada akhirnya membuat kita terbawa, terhanyutkan, bahkan terlalu memaksa diri untuk mendapatkan apa yang kita inginkan walaupun itu faedahnya sedikit?

Kejadian seperti ini bisa menimpa siapa saja. Saat seseorang dibutakan oleh kenginannya, maka dia bisa melanggar batas-batas norma, bahkan nilai yang dia yakini bisa dilibas. Biasanya dalam kondisi ini seseorang sudah tidak bisa berpikir logis dan rasional. Salah-benar, baik-buruk bukan patokan lagi, tapi sudah digiring oleh keinginan atau hawa nafsu.

Seseorang bisa saja kehilangan akal sehatnya tatkala terpukau oleh sesuatu yang dia kagumi, ingini, atau harapkan. Hal tersebut membuatnya lupa mempertimbangkan hal yang lain yaitu apakah itu baik untuk dirinya.

Akhirnya, seseorang bisa saja mengejar-ngejar sesuatu yang tidak berfaedah bagi dirinya. Dia menjadi posesif untuk memenuhi keinginannya. Sebelum sampai ke tahap mengejar-ngejar, pertimbangan matang perlu dilakukan. Apakah yang dikejar mendatangkan manfaat dan memberikan kebaikan atau justru malah tidak bermanfaat dan mendatangkan mudharat. Jadi tak perlu terburu nafsu. Jangan berfikir itu adalah satu-satunya yang bisa dikejar. Kalau yang dikejar yang baik tentu tidak salah.

Manusia betapa sangat gampang dibutakan, diperdaya, dan dibuat terhanyut oleh sesuatu yang tidak berharga.

Untuk itu dalam keadaan apapun tantanglah diri sendiri untuk mampu menggunakan rasionalitas dan standar nilai baik-buruk agar tidak salah kejar. Karena akan ada masa di mana kita akan sampai pada sebuah kesadaran rasional dan di saat itulah seseorang mulai menyesal dan meratapi pilihannya.

Advertisements

Mengonstruksi Ilusi

Ini sebuah pembicaraan yang menarik. Beberapa hari ini saya terlibat diskusi serius dengan mahasiswa terkait masalah penerimaan terhadap realitas. Realitas berbeda dari fakta. Realitas bersifat relatif karena bisa dibangun sedangkan fakta adalah keadaan sesuatu  begitu adanya. Kadang memang tak semua orang rela menerima fakta apa adanya sehingga dia membangun realitasnya sendiri. Bahkan, bisa pula karena ada penolakan terhadap fakta yang tidak sesuai keinginannya. Di samping itu, bisa juga karena tidak memahami fakta yang ada sehingga dia membangun kerangka berpikir dengan asumsi.

Realitas yang tak diharapkan akan mengarah pada pembentukan realitas baru yang bisa disebut sebagai ilusi. Ilusi bisa diartikan sebagai fantasi yang diinginkan sebab fakta tidak mendukung harapan seseorang. Banyak orang pada akhirnya membangun ilusi yang dijadikan nyata olehnya. Mereka membangunnya lewat persepsi yang menyalahi hukum alam. Pada akhirnya, mereka hidup dalam ilusi yang dibayang-bayangi oleh rapuhnya bangunan realitas tersebut.

Ini terdengar filosofis, karena hal ini memang dilandasi oleh pikiran-pikiran mendasar tentang realitas walaupun semu. Terkadang manusia merasa nyaman dengan ilusi yang dia buat hingga dia mendapati ruang fantasinya hancur oleh ketidaksinkronan fakta dengan harapan.

Maka dari itu, untuk memeriksa kewarasan kita, perlu kiranya melihat apakah perkara hidup yang kita jalani berdasarkan ilusi ataukah hukum alam yang tidak saling bertentangan.

Hidup dalam fantasi atau ilusi sama seperti orang-orang yang terperdaya dengan angan-angan panjang hingga dia menyadari apa yang dia bayangkan adalah semu dan rapuh. Manusia pada umumnya hidup dalam ilusi yang dia bangun. Dalam konteks yang sangat serius atau “nyata” pun manusia masih sempat-sempatnya membangun ilusi yang dia jadikan reitas hidup yang diimpikan. Contohnya saja bagaimana orang-orang menciptakan konsep Demokrasi sebagai fantasi realitas yang kemudian mereka wujudkan dalam realitas nyata untuk mengatur urusan hidup mereka. Mereka sadar jika Demokrasi hanyalah ilusi, tapi mereka masih percaya dan ingin tetap berada dalam bayang-bayang ilusi yang mereka bangun.

Demokrasi tak pernah bisa menjadi nyata karena dari sifatnya sudah menyalahi hukum alam atau sunnatullah. Manusia saja yang bersikeras untuk menjadikan Demokrasi sebagai realitas mereka. Sampai sekarang Demokrasi tak pernah sampai pada tahapan yang diinginkan karena pada faktanya kehidupan sosiologis manusia tidak memungkinkan itu terwujud.

Demokrasi menginginkan semua orang bebas memberikan pendapatnya sekalipun itu salah dan mengandung bahaya. Mereka menganggap dengan dikeluarkannya aspirasi semua orang maka seseorang tersebut akan hidup bahagia sekalipun dia hidup dalam ilusi atau fantasi yang kapanpun dapat membahayakan dirinya dan orang lain.

Baik dan buruk serta salah dan benar tak pernah diperhitungkan dalam Demokrasi, demikian juga dalam ilusi dan fantasi manusia. Itulah sebabnya ini membahayakan. Seseorang menjalankan hidupnya hanya berdasarkan keinginan-keinginannya semata yang memuaskan hasratnya tanpa memperhitungkan kebaikan dan keburukannya. Sejatinya, baik dan buruk adalah proses alam. Alam sudah diberikan mekanisme oleh Allah untuk menjalankan segala sesuatu sesuai dengan standar kebaikan. Itulah sebabnya saat kehidupan manusia mengalami kekacauan (chaos) pasti ada hal yang melanggar hukum alam.

Dari pembicaraan ini yang bisa saya sampaikan adalah seharusnya manusia berhenti bermain-main dengan fantasi dan ilusinya karena saat hal tersebut mereka paksakan menjadi realitas, maka mereka akan mengalami kehancuran atau kekacauan hidup.

Allah lebih tahu mana yang baik dan buruk. Itulah sebabnya, manusia perlu memahami aturan Penciptanya agar selamat dan aman kehidupannya di dunia dan akhirat. Jadi, berhati-hatilah mengonstruksi ilusi menjadi realitas, kelak kita akan mendapatkan apa yang kita tuai.