Kuat

Obrolan Penting!

Halooo!

Adakah yang merindukan saya? Hehe… Sudah lama sekali tak bikin tulisan di sini, bahkan sepatah kata pun tak ada dalam jangka waktu cukup lama dari biasanya.

Ada satu hal yang saya sadari bahwa keluar dari comfort zone membuat saya berani membangun cita-cita. Berani untuk lebih kuat dan mandiri, semakin dikuatkan agar jangan sampai bergantung pada siapa pun kecuali Allah. Orang-orang di sekelilingmu tak selalu mereka baik padamu, bahkan tak semuanya suka dengan harapan-harapanmu, dan mungkin kualitas dirimu. Maka dari itu, saya berusaha untuk selalu percaya diri dalam mengandalkan usaha sendiri ketimbang meminta kemudahan dari orang lain. Karena selama hidup ini, yang pernah saya mintai pertolongan untuk urusan besar hidup saya hanyalah Allah, orangtua, dan adik-adik saya. Selebihnya, saya tak pernah libatkan banyak orang lain.

Keluarga kita paling tahu siapa kita, dan kita juga tahu keluarga kita dari sisi terdalam mereka. Bahkan, untuk urusan pelik sekalipun saya pernah tak melibatkan keluarga karena khawatir memberatkan mereka dan takut mereka juga khawatir dengan diri saya. Setidaknya, saya bisa bertanggung jawab terhadap diri saya sendiri. Loh, kok jadi ngomongin diri dan keluarga ya hehe. Gimana lagi, blog ini memang tempat curhat paling bebas untuk saya. Jika ada yang tersasar ke sini tolong diabaikan saja kisah-kisah saya ini ya. Hidupmu lebih berharga dari sekadar membaca curhatan saya ini hahaha. Kecuali hidupmu tak banyak masalah. Ya silakan saja membaca perspektif saya yang mungkin berbeda dari orang kebanyakan ini.

Jadi, saya tuh mau bahas apa sih sebenarnya? Nah, intinya adalah menghargai diri sendiri sangat penting agar kita bisa menghargai orang lain. Kita tidak akan semena-mena memperlakukan dan memberatkan orang lain. Ini hal yang saling berkait sebenarnya. Inspirasi saya menulis ini gara-gara ada anak muda keturunan Cina yang videonya beredar luas sedang menghina-hina Presiden. Kata-katanya sangat kasar. Walaupun tak suka dengan seseorang bukan berarti kita bisa seenaknya menghina orang sedemikian rupa. Saya juga orang yang sering mengkritik penguasa tapi tidak menghina dan berkata kasar.

Tahu tidak, apa yang terjadi setelah video itu beredar? Aparat keamanan langsung menemui anak muda tersebut dan setelah terlibat pembicaraan dengan keluarganya, aparat menganggap apa yang dilakukannya hanya bercandaan untuk lucu-lucuan. What? How come? Berkat ulah anak tersebut, orangtuanya harus turun tangan dibuat repot. Sampai-sampai si orangtua membuat video permintaan maaf untuk presiden dan seluruh rakyat Indonesia. Lalu masalahnya di mana? Kasus ini pada akhirnya diselesaikan dengan jalan damai. Saya cukup ternganga karena selama ini siapa pun yang berani menghina presiden pasti akan langsung dipenjara, gak ada ampun. Lalu ini kenapa bisa lolos? Asumsi netizen adalah karena dia anak orang kaya, keturunan Cina, dan bapaknya cukong (ini label yang diberi netizen) berpengaruh, serta yang paling penting latar belakang keluarganya pendukung pemerintah. Aparat dan pemerintah jadi lunak dibuatnya.

Saya merasa perlakuan ini tak adil. Dari kasus yang sudah-sudah, selama ini pengkritik penguasa dengan ujaran kebencian yang dianggap kasar maupun tidak adalah dari kelompok orang-orang anti kebijakan penguasa, berlatar keluarga tidak kaya dan tidak berkuasa, bahkan yang punya nama namun berseberangan dengan pemerintah bisa diciduk. Mereka akan ditindak sesuai keinginan pemerintah yaitu dipenjara dan dipertontonkan di hadapan publik kesalahannya. Selama ini saya dan publik sangat paham bagaimana sikap seperti ini dilakukan pemerintah. Mereka tak mau dihina, tapi giliran yang menghina adalah kalangan pro-pemerintah, malah dibiarkan. Jadi tampaknya yang dilihat pemerintah adalah apakah kita kelompok pendukung mereka atau bukan. Jika bukan, maka siap-siap menerima perlakuan sesuka hati mereka.

Apakah kita mau hidup dengan cara ini? Membanggakan kekayaan dan status sosial, menekan orang lemah, dan membeli siapa yang bisa dibeli. Untuk apa? Untuk menolong diri kita agar urusan kita mulus? Padahal sebenarnya kita sudah merepotkan banyak pihak saat berbuat seperti ini.

Apakah membuat masalah sama dengan membela kebenaran? Tentu ini hal yang berbeda. Menjadi perusak beda dengan menjadi pembaharu. Walaupun pembaharu bagi banyak orang adalah sosok yang mengacaukan status quo dan zona nyaman orang-orang berkuasa. Yang repot adalah orang yang berkuasa, tapi itu perlu dilakukan agar mereka tahu diri dan tidak bermain-main dengan apa yang mereka lakukan karena bisa merugikan banyak orang. Justru sebenarnya yang dibuat repot oleh penguasa zalim adalah rakyatnya sendiri.

Oleh karena itu, menjadi mandiri membuat kita tahu diri, mengukur diri, dan berempati pada kehidupan orang lain yang melalui jalan hidup yang berbeda. Sekali lagi, kita harus menjadi diri sendiri dan berbuat yang terbaik untuk diri kita dan orang lain. Papa saya selalu berpesan agar berhati-hati bersikap. Saya paham ini. Walaupun seringkali saya tak tahan juga bersuara mengkritik kebijakan penguasa yang merugikan. Saya melakukan ini bukan untuk diri saya, tapi agar orang memahami apa kewajiban pemerintah dan apa hak rakyat. Karena selama ini rakyat sudah berbuat banyak dengan menerima apa pun yang diingini pemerintah. Kenapa pemerintah sering lupa akan perannya sebagai pelayan rakyat? Kenapa mereka malah ingin diperlakukan bak raja? Inilah kesalahan awal yang dilakukan penguasa saat menjadikan dirinya raja dan tidak memberikan contoh perilaku baik untuk masyarakat. Padahal pemerintah seharusnya adalah pihak pertama yang menjadi teladan rakyatnya, karena sudah memikul kekuasaan sebagai pengelola dan penggerak arah negara ini.

Advertisements

Pejuang Tidak Menyerah

Apa yang paling mudah dalam hidup ini? Yang paling mudah adalah menyerah. Perangmu adalah saat kau berusaha untuk tidak menyerah.

Tuhanku, Engkau mengirimku ke dunia ini untuk berjuang kan? Pejuang itu tak pernah menyerah kan Rabbku? Aku memang tak pernah mengatakan menyerah. Aku hanya khawatir aku akan menyerah. Aku memang butuh banyak dilatih lagi untuk kuat. Aku juga tahu jika tak semua latihan yang Kau beri mampu kulewatkan dengan baik dan membuatku kuat. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah latihan hidup. Aku menulis kitab hidupku seperti ini. Apa ini menarik bagiMu? Mungkin jika dijual di toko buku tak akan laku. Bukankah semua orang menyukai sosok pahlawan dan pejuang? Tak ada yang suka pecundang dan orang yang tak tahan banting. Jadi plot twist seperti apa yang harus kubuat untuk sebuah buku yang baik dan menarik?

Aku selalu membenci versi diriku yang tidak ideal. Aku membenci sesuatu yang bertentangan. Mungkin aku harus berhenti menjadi perfeksionis dan menerima kelemahan dan kekurangan. Tapi saat melihat orang lain bisa berjuang lebih kuat bukankah sebuah kebodohan bersikap pasrah? Artinya aku bisa berjuang lebih kuat juga seperti mereka yang tak kenal lelah. Paling tidak, aku bisa menuliskan kisah luar biasa untuk diriku sendiri dan kupersembahkan dengan bangga di hadapan Rabbku. Bukuku akan dibacakan nanti di hari akhir kelak. Sudah sampai di mana aku berjuang menuliskan kisah terbaik yang akan berakhir baik?

Aku selalu menyukai kisah happy ending. Setiap cerita pendek yang kubuat selalu berakhir bahagia karena itulah harapanku untuk setiap kisah, termasuk kisah kehidupan sendiri. Apa pun yang kita lakukan, lakukanlah dengan baik untuk sesuatu yang baik. Intinya di sini adalah kebaikan bukan capaian yang diberi tepuk tangan atau puja puji manusia, tapi untu mendapat ridha Allah. Bukankah semua capaian dan puja puji bisa direkayasa? Orang-orang bisa berpura-pura dengan hidup mereka dengan keberhasilan semu. Tapi bukan itu tujuanku. Mungkin karena orangtuaku tak pernah mengajariku untuk bermuka dua dan menipu diri sendiri.

Apa lagi yang membuatku bersedih? Aku hanya merasa kurang tangguh dibanding para pejuang yang ikhlas dan tak kenal lelah. Kemarin aku bercerita dengan seorang teman. Bukan teman yang terlalu dekat tapi dia sungguh luar biasa. Kami bercerita bagaimana menghadapi karakter masyarakat yang secara moral dan etika kurang baik, dan sulitnya lagi mereka ada bersama-sama kita dalam sebuah kelompok/organisasi. Ya, karena karakter mereka adalah cerminan masyarakat kita, begitu kata temanku ini.

Temanku berkata tetaplah dengan prinsipmu, tetaplah kuat, dan jangan mudah dilemahkan oleh kata-kata negatif mereka. Jika kita salah akui kesalahan dan perbaiki. Aku cukup tergugah dengan caranya bersikap. Ini bukan sekadar kata-kata karena dia memang menjalankannya. Aku tahu itu berat.

Sekali aku pernah berhadapan dengan seseorang yang sangat sinis, selalu iri dan mencari-cari kesalahan diriku. Dia seperti mendapat kemenangan ketika dapat menyalahkanku dengan kekuranganku. Orang seperti itu pernah membuatku menarik diri bahkan hingga keluar dari sebuah organisasi. Aku merasa tidak nyaman dan berbaur bersama orang seperti itu hanya akan merusak diriku. Ya, aku memilih menghindar dan yang paling menyedihkan aku keluar dari kelompok, aku tampak sudah menyerah dengan keadaan. Aku melakukan ini karena tidak rela dan tidak mau mencederai diri lebih dalam lagi bersama toxic people.

Lalu bagaimana reaksi temanku ini? Dia juga mengalami hal yang sama, tapi dia lebih kuat dariku. Dia mencoba bertahan, tetap berjuang dengan visi dan misi organisasi dan mengabaikan orang-orang yang mencoba melemahkannya. Dia begitu kuat. Dia bisa menutup telinganya dari tuduhan-tuduhan dan ketidaksukaan beberapa orang yang iri terhadap perjuangannya. Dia mampu sekuat itu menghadapi karakter manusia-manusia yang secara langsung melemahkannya. Di sinilah aku berpikir, temanku ini adalah contoh terbaik untukku dalam perjuangan. Dia masih kuat tegak berdiri. Dia bukannya tidak merasa terpuruk dan dibuat tak berarti, tapi tekad dan niat baiknyalah yang membuatnya bertahan. Bukankah tujuan kita untuk kebaikan Rusyda, untuk ridha Allah? Kenapa harus kalah? Begitu katanya.

Di sini aku terpana. Dia benar-benar seorang pejuang. Dan aku masih saja dengan egoku tak mampu bersabar menghadapi tekanan-tekanan yang melemahkan. Temanku berpesan, jika aku berjuang pastikan aku siap menghadapi hal-hal terburuk dan mampu mengabaikan hal-hal yang tidak bermanfaat. Ah, betapa keras dan teguhnya.