Manajemen emosi

Don’t Be Hasty

hastiness

Adakah yang lebih berat daripada perang melawan diri sendiri? Ketidakmampuan mengelola emosi dan keinginan adalah hal terberat saat kita secara dramatis menganggap itu suatu hal yang harus dipenuhi–dilaksanakan sekarang juga. Melelahkan harus menahan diri dan mengontrol pikiran sendiri. Benar rupanya jika rasionalitas tidak bisa sejalan dengan perasaan/emosi. Mereka berada di jalur sel saraf yang berbeda. Tak bisa disatukan, kecuali kita mengambil jeda sejenak. Jeda ini berarti menunggu, masuk ke ruang kosong, kemudian mempertemukan isi pikiran dan hati yang berseteru. Kita akan menemukan makna saat kita memberi waktu, saat tidak terburu-buru.

Dalam kajian Psikologi, kita mengenal kecerdasan emosi untuk pengelolaan emosi. Kecerdasan emosi berarti melibatkan kemampuan berkomunikasi dengan diri sendiri. Membiarkan pikiran dan perasaan kita bercakap-cakap, menimbang-nimbang berbagai hal, kemudian memutuskan. Ini lebih sulit daripada berkomunikasi dengan orang lain. Artinya, penyelesaian masalah di atas tak cukup diselesaikan dengan komunikasi intrapersonal, tapi membutuhkan komunikasi antarpersonal. Kita memberikan kesempatan pada orang lain untuk mendekonstruksi pikiran dan perasaan kita.

Selain itu, cara untuk melepaskan masalah di atas adalah dengan menangis. Ini cara sederhana yang ampuh. Setelah menangis biasanya pikiran dan perasaan akan lebih rileks. Sel-sel otak disegarkan kembali. Kita pun lebih waras dari keadaan sebelumnya. Ini memang selalu ada hubungannya dengan kajian Neurologi dan Psikologi. Sayangnya, saya kurang mendalami kedua ilmu itu sehingga proses ilmiahnya tidak tergambar secara jelas dalam tulisan ini.

Cara lain yang juga ampuh adalah beribadah. Spiritualitas sangat membantu menenangkan. Hubungan antara manusia dengan Tuhannya menembus batas-batas dan memberikan efek psikologis yang positif. Banyak mengingat Allah dengan beristighfar (memohon ampun pada Allah) dan memperbanyak dan memperpanjang doa terbukti mampu mengangkat beban pikiran dan perasaan. Ketika semuanya dikembalikan pada Allah, bukankah tak ada yang perlu dikhawatirkan? Karena semua berjalan atas kehendak Allah. Jikapun ada keingingan tidak terwujud, kita bisa ikhlas menerima.

Cara lain yang saya terapkan untuk mengelola emosi adalah dengan mengkonsumsi minuman berkafein. Ini cukup membantu memberikan sensasi menenangkan mood yang turun naik. Walaupun ini sifatnya sementara, tak ada salahnya juga dicoba. Tapi, saya tidak berani berlebihan mengonsumsi kafein khawatir memberikan efek kesehatan yang buruk.

Apa pun itu, kita harus selalu beri waktu. Sikap impulsif dan terburu-buru membuat masalah menjadi semakin runyam dan kita tak lebih dari orang mabuk yang berusaha memutuskan perkara. Jika kita sampai melakukannya, maka bersiaplah dengan masalah baru yang lebih buruk lagi. Jika pernah melakukan kesalahan itu, maka masuk ke lubang yang sama adalah kebodohan besar. Be sane!

I’m on my way to be sane right now. This short writing helps me a lot. 🙂

Photo credit: https://id.pinterest.com/pin/77687162294354456/

Menghitung Kesedihan dan Kebahagiaan

post-notes-corkboard-smiley-sad-cartoon-face-expression-happiness-versus-depression-concept-two-stuck-message-45726191

Setiap kali pulang ke rumah setelah aktivitas di luar, saya selalu berusaha mengingat apa saja kesedihan yang saya alami, berapa banyak kebahagiaan yang didapat, serta apa saja hal-hal menyebalkan yang merusak hari itu. Selain itu, yang terpenting adalah mengingat apa saja hal-hal yang harus saya syukuri dan renungkan.

Kebahagiaan yang besar ternyata bisa menghilangkan kekesalan dan kesedihan yang sedikit. Kesedihan yang banyak juga bisa menghapus kebahagiaan yang sedikit. Pernah suatu kali saya bertemu di bis dengan orang yang masuk ke dalam daftar orang paling menyebalkan yang pernah saya temui. Malam itu juga, semua kebahagiaan yang saya dapatkan dari pagi hingga sore hari hilang tak berbekas gara-gara di pengujung sore bertemu orang tersebut. Bagaimana tak menyebalkan jika dia yang posisinya adalah orang asing mencampuri privasi hidup saya dengan menanyakan secara detail tentang diri saya, pekerjaan saya, dan penghasilan saya. Hey, who do you think you are, man? Bahkan sampai-sampai menasihati dan menghakimi hidup saya yang dia tak tahu apa-apa sedikitpun. Kesalahan saya adalah terlibat pembicaraan dengannya. Akhirnya, saya simpulkan bahwa tak perlu meladeni setiap ajakan berkomunikasi jika lawan bicara tidak memiliki etika berkomunikasi. Mendiamkannya adalah yang terbaik daripada sampai pada sebuah komunikasi yang tidak efektif. Nah, itulah contoh betapa sebuah hal yang sangat menyebalkan bisa merusak kebahagiaan. Ini hanya bukti bahwa ada loh orang-orang sok tahu tapi tidak tahu harus berbuat apa dalam hidupnya kemudian berusaha mencampuri hidup orang lain. Orang-orang seperti itu sangat butuh pertolongan karena hidupnya menyedihkan.

Mengingat kesedihan, seharusnya muncul pertanyaan apakah yang sedang kita rasakan adalah keputusasaan, kelemahan atau rasa tidak bersyukur? Jika ketiga hal itu yang meliputi pikiran maka tak ada pilihan lain selain kesedihan yang muncul. Jadi, jika kesedihan datang, pikirkanlah ketiga hal itu, kita sedang dalam keadaan bagaimana sebenarnya. Setidaknya, saya sering berhasil mengidentifikasi kondisi saya kemudian menata kembali pikiran secara rasional setelah merefleksi diri. Sangat mengkhawatirkan jika dalam kesedihan ternyata kita justru sedang mengingkari rahmat Allah yang banyak dengan merasa diri tidak bahagia dan banyak kekurangan. Atau merasa putus asa padahal belum sepenuhnya berusaha. Malaikat mungkin akan sinis melihatnya. Jadi, tak baik baper berlama-lama. Jika pada faktanya ada orang-orang yang dilebihkan oleh Allah dari berbagai hal yang menyenangkan di dunia, bukan berarti Tuhan tidak adil, karena itu bukan ukuran Allah dalam memandang seseorang.

Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya. (Quran surah Al Isra ayat 21)

Lihat, betapa filosofisnya Allah mengajak kita berpikir mendalam memahami makna hidup. Bukankah yang diinginkan-Nya seberapa taat kita kepada-Nya. Secara esensi, ketaatan itu dimaknai sebagai kebahagiaan.

Pada faktanya, kebahagiaan itu sangat banyak dibandingkan kesedihan. Bahagia dengan apa yang dimiliki. Perlu diperhatikan, untuk hal ini kita harus membedakan antara pasrah dengan keadaan dan optimis melangkah ke depan. Jika ada sesuatu yang memang tak membawa perbaikan dan kemajuan, bukan berarti kita harus tinggal lama berada dalam ketidakmenentuan. Diri kita terlalu berharga untuk disia-siakan oleh keadaan yang tidak mendukung dengan baik. Jika punya kekuatan dan keyakinan bahwa keadaan akan berubah maka bertahanlah, jika tidak maka tinggalkan. Beri waktu untuk berkontemplasi dan mencari ruang baru.

Mengapa saya menulis tentang ini? Tujuan awal saya adalah untuk melepaskan beban psikologi, karena menulis adalah salah satu caranya. Saya menulis manajemen emosi ini untuk diri pribadi, kalau-kalau di kemudian hari saya lupa saat mengalami masalah psikologi. Kadang pikiran yang stabil dan tenang dapat dikacaukan oleh situasi insidental yang membuat proses berpikir menjadi terburu-buru dan tidak terarah. Beri waktu untuk berpikir secara bijak di ruangan yang tenang dan nyaman, jauh dari keriuhan. Tuhan selalu dekat di tempat-tempat seperti itu, kecuali jika pikiran memang tidak tertuju pada Tuhan maka apa daya, di tempat yang eksklusif sekalipun keputusasaan tak akan habis-habisnya.

Saya mengimani Allah, itulah sebabnya semua hal selalu kembali ke sana. Dari tidak ada, saya menjadi ada, hingga nanti akan kembali kepada ketidakadaan. Itu sudah cukup menjelaskan tentang siapa saya. Artinya, keyakinan ini yang membentuk diri saya dan cara saya mengelola hidup.

Dunia ini terlalu riuh. Tak semua harus dituruti. Kita perlu mengambil ruas jalan sendiri untuk memahami esensi diri. Seperti kata sebuah kutipan yang sangat membekas bagi saya: Follow your heart, but take your brain with you. Tuhan sangat tahu kenapa memberi bekal akal pada kita.