Marriage

Apa yang Mengubah Seorang Laki-laki?

wedding-day-rings-gold-wedding-ring

Siapa yang menyangka laki-laki keras kepala itu telah menjadi seorang ayah sekarang. Sejujurnya dia adalah laki-laki kedua kebanggaanku. Aku lebih tua dua tahun darinya, tetapi dia memiliki citra diri yang lebih kuat, memiliki pemikiran dan kata-kata yang memukau. Dia adalah seseorang yang kata-katanya aku percayai dengan sungguh-sungguh. Beginilah jika aku sudah mengagumi seseorang, seperti tawanan perang yang bertekuk lutut. Tapi, kalau aku ceritakan betapa tengilnya dia, tentu tak akan ada yang percaya mengapa aku menyukai seseorang seperti itu.

Sekarang, pernikahan dan kelahiran buah hati telah mengubahnya sedemikian rupa. Begitu cepat dia belajar memahami, bertanggung jawab atas semua keputusan yang dia ambil dan pertahankan selama ini. Pernikahan adalah puncak keberanian dan refleksi keras kepalanya. Dia punya determinasi. Itu membuatku salut, sekaligus ingin melihat bagaimana dia mengadu nasib dengan kekurangannya. Seolah ingin membuktikan: dia pasti bisa menghadapi semuanya. Pada akhirnya, harus diakui jika dia berupaya belajar menjadi manusia dewasa seutuhnya, menantang diri menghadapi semua permasalahan hidup. Dia bisa melalui semua itu. Dia telah lebih cepat dariku… sudah lebih dulu merancang dan menggenggam dunia yang rumit. Walaupun sebelumnya sangat tidak dipercaya dia bisa bangkit setelah kejatuhan yang membuat mati harapan.

Jika ada yang bertanya, “Apa salah satunya yang mengubah seorang laki-laki?” Jawabannya adalah pernikahan. Ya, pernikahan bisa mengubah segalanya. Mungkin bukan bagi semua orang. Bagi laki-laki yang sudah kuanggap sebagai mindmate ini, hal itu adalah fakta. Dia mengambil kesempatan itu, bertemu dengan seseorang yang dia inginkan, dan dia pun diinginkan, mereka punya cita yang sama, kemudian mereka bersepakat membangun kehidupan bersama. Maka, keberanianlah yang berbicara pada akhirnya. Tuhan sangat berbaik hati padanya, bukan? Mungkin aku perlu bertanya, doa apa yang dia minta kepada Tuhan hingga Tuhan membukakan jalan pada keputusan besar dalam hidupnya. Apa keseriusan yang paling berpengaruh? Jika demikian, aku tak punya itu selama ini, seolah Tuhan belum berkata, “Ya, ini saatnya!”

Lalu, apa yang akan mengubah seorang perempuan sepertiku? Yang terlalu mengikuti kata hati?

Advertisements