Negosiasi

Keasingan dan Keterasingan

Kamu tahu bagaimana rasanya teralienasi? Sensasi aneh di mana kamu ditempatkan pada keadaan yang berbeda dari orang lain. Alinenasi istilah lainnya adalah keterasingan. Ada dua kondisi yang harus kita bedakan yaitu merasa asing karena dibawa ke situasi yang tidak kita kenali dan yang kedua diasingkan oleh orang lain disebabkan oleh penolakannya terhadap diri kita. Pilih yang mana?

Tentunya, keterasingan membuat kita tidak memiliki tempat untuk berpijak, tidak nyaman dengan diri sendiri, serta terhalangi oleh keadaan yang mengungkung diri kita. Ini lain halnya dengan kondisi asing di mana kita dibawa dan masuk ke lingkungan asing. Kita harus mengikuti semua hal yang sebenarnya tidak kita inginkan. Tidak ada yang menyenangkan kedua-duanya.

Saat kita dibawa kepada keasingan, kita diminta untuk menjadi sesuatu yang tidak kita pahami dan inginkan. Mungkin itu adalah akhir dari eksistensi diri kita. Jika kita menyetujuinya tanpa keberatan (consent), then you have to be responsible for it. Bagaimana jika tidak? Could things will be alright? Tak ada yang tahu. Bisa baik bahkan bisa lebih buruk. Yang pasti hal yang harus kita usahakan adalah negosiasi sebelum ditarik pada keasingan yang tidak kita inginkan. Bicara ini mungkin gampang, tapi realisasinya rumit. Apalagi jika kita harus bernegosiasi dengan tradisi masyarakat. Tampaknya tidak ada solusi selain mengikuti yang mereka inginkan. Jikapun mereka mengajukan syarat, apakah kita sudah bisa memenuhinya segera? Oh, betapa hidupmu dalam prahara. Bagaimanapun, saya selalu menolak berada dalam keasingan. Paling tidak saya harus meyakinkan diri apakah itu bisa saya terima atau tidak.

Keasingan dan keterasingan dua hal yg berbeda. Keasingan berarti kita merasa asing dengan keadaan yang ada sedangkan keterasingan adalah kita diasingkan oleh keadaan atau situasi. Kita bisa lepas dari kedua situasi tersebut karena kita bisa memilih untuk keluar dari keduanya. Yang jadi masalah adalah saat kita harus terikat dengan orang-orang yang ada dalam situasi tersebut. Maka inilah prahara tersebut.

Keasingan tidak melulu antara kita dengan lingkungan atau orang lain tetapi bisa juga terjadi antara kita dengan diri kita sendiri. Kita bisa merasa asing dengan diri sendiri karena munculnya hal-hal yang di luar kebiasaan kita atau hal-hal yang tidak kita dapati itu sebagai sosok diri kita. Keasingan bisa dikelola dengan pembiasaan. Pembiasaan akan membuat kita terbiasa. Jika berbicara perubahan, di sinilah kita bisa melihat prosesnya. Kehidupan itu dinamis, manusia berubah setiap saat. Ini artinya manusia adalah makhluk yang mampu mengelola keasingan.

Lain pula dengan keterasingan. Keterasingan membutuhkan konvensi dengan pihak yang mengasingkan karena keterasingan muncul dari perilaku lingkungan atau orang lain yang mengasingkan diri kita. Ini bisa terjadi pada pihak-pihak yang diboikot, dikarantina, atau dilokalisasikan. Keterasingan membutuhkan kekuatan dan kekuasaan untuk menghilangkannya. Perkara ini lebih rumit daripada keasingan karena sudah berkaitan dengan tarik-menarik kekuasaan antar individu ataupun kelompok.

Kenapa saya menulis ini? Karena kadangkala keasingan dan keterasingan itu muncul dalam kehidupan saya. Saya hanya sedang ingin mengurainya menjadi sebuah pemahaman yang membantu saya memahami hal tersebut. Ada kalanya kita punya kuasa untuk mengalienasi orang lain dan orang lain pun punya kuasa mengalienasi diri kita. Dalam bahasa lainnya, kita bisa memenjarakan orang lain dan orang lain bisa memenjarakan kita dengan suatu keadaan.

Photo credit to here

Advertisements

Bagaimana Caranya agar Kamu Mau? :)

keep-calm-and-persuade-me-2

“Bu, maaf. Apa sedang sibuk? Saya minta waktu Ibu sebentar.”

“Oh, iya. Mari ke ruangan saya.”

“Bu, saya mau minta surat rekomendasi Ibu untuk aplikasi beasiswa saya.”

“Oh ya? Boleh. Mau ngambil kuliah di mana, Bu”

“Ke Korea, Bu.”

“Wah, menarik sekali. Ini sudah lengkap semua berkas-berkas yang mau diajukan?”

“Tinggal surat rekomendasi dan terjemahan berkas pribadi saya seperti akte kelahiran dan KTP.”

“Semoga lancar ya, Bu. Saya juga berniat sekolah lagi, tapi belum tau kapan. Masih banyak pertimbangan. Oh, ya. Ini saya isi dulu ya form-nya. Besok Ibu bisa ke sini lagi untuk mengambilnya.”

Ini petikan percakapan saya dengan seorang dosen baru di kampus yang berniat mencoba peruntungan untuk beasiswa doktoral ke Korea Selatan. Keberanian dan semangatnya bikin saya iri sangat. Betapa tidak? Dia sangat optimis dan sudah memantapkan segalanya. Ini baru yang namanya determinasi tingkat tinggi. Ini yang harus dipunyai seseorang jika benar-benar niat. Saya sendiri memang belum dalam kondisi niat tingkat tinggi, jadi wajar tak punya keinginan kuat seperti yang teman saya punya.

Saya tidak tahu harus mengatakan ini sebagai takdir ataukah pilihan saya untuk tidak melanjutkan mimpi-mimpi saya dulu. Ya, katakanlah sebuah keadaan dapat membuat sebuah takdir berjalan. Tapi sungguh, menyalahkan orang lain atas jalan hidup kita atau menyalahkan takdir adalah benar-benar pengecut sekali. Saya hanya bisa mengatakan jika saya telah gagal bernegosiasi. Gagal bernegosiasi dengan orang-orang terdekat saya dan dengan diri saya sendiri. Bagaimanapun, negosiasi adalah hal yang sangat penting ketika pilihan-pilihan kita melibatkan banyak orang.

Negosiasai adalah sebuah keahlian yang harus dipunyai oleh seorang komunikator untuk memenangkan hati komunikannya. Praktiknya bisa dalam banyak hal, apakah komunikasi lintas budaya, komunikasi bisnis, atau public relations dengan internal atau eksternal perusahaan. Pada berbagai peristiwa komunikasi ini, negosiasi atau lobi akan dihadapkan pada dua persepsi yang berbeda namun berupaya untuk mencari jalan sepakat. Penting sekali untuk mendalami persepsi komunikan kita dan bagaimana masuk ke dalam jalan pikiran mereka. Dengan demikian, kita akan dapat menyesuaikan mana persepsi kita yang dapat mereka toleransi atau bisakah mengajukan toleransi bersyarat ataupun jalan tengah.

Tidak sederhana sekali. Negosiasi butuh ilmu dan kepekaan yang kuat. Negosiasi atau yang lebih dikenal dengan lobi bukanlah hal yang baru di masyarakat kita. Dalam berjual-beli saja kita saling melobi atau tawar-menawar. Oknum-oknum pejabat pemerintah sangat senang dilobi perusahaan-perusahaan besar karena mereka tahu apa keuntungan yang akan mereka dapatkan. Bahkan, yang lebih tak rasional adalah mahasiswa melobi dosennya untuk mengubah nilainya. Saya heran, kok bisa-bisanya nilai ditawar-tawar. Jika bukan karena kesalahan penilaian dari saya, maka lobi-lobi yang dilakukan mahasiswa adalah sia-sia bagi saya. Saya benar-benar tak bisa bernegosiasi untuk masalah ini. Ini tentu akan berbeda jika masalahnya adalah hal-hal yang bisa dikompromikan, belum jelas arah dan duduk perkaranya. Tapi, jangan anggap pula lobi-lobi perusahaan-perusahaan besar pengemplang pajak dan jual-beli undang-undang di DPR sana adalah suatu yang wajar.

Negosiasi butuh etika dan aturan. Tak bisa memakai jalan-jalan pintas yang justru melanggar hukum dan norma sosial, semacam suap dan gratifikasi. Komponen-komponen komunikasi sosial perlu dipertimbangkan secara mendalam dalam proses negosiasi. Kata Lionel Zetter, seorang public relations, “siapa yang Anda ketahui tidak lebih penting daripada apa yang Anda ketahui.” Artinya, orang-orang akan lebih tertarik pada argumen kita, bagaimana kita mengemukakan masalah, memberikan alasan, dan menjawab pertanyaan sanggahan dengan baik adalah hal-hal yang penting.

Kembali pada komponen komunikasi sosial tadi. Perlu kiranya membekali diri atau menambah wawasan tentang gaya berbahasa sesuai konteks, memahami nalar sosial masyarakat/komunikan, menyadari perbedaan komunikasi lintas gender, hubungan emosional dan pemikiran yang baik, paham aspek-aspek verbal dan nonverbal dalam berbahasa, serta intonasi kata dan penyampaian maksud yang dipahami dengan baik oleh lawan bicara.

Jadi, melobi itu tak gampang ya? Semakin kita memahami kultur pihak yang bernegosiasi dengan kita, maka akan semakin baik negosiasinya. Yang terpenting sekali lagi adalah punya niat dan keinginan yang kuat agar maksud dapat dipahami dan disepakai orang lain. Seringkali ini adalah hambatan, selain terlalu menggebu-gebu hingga tak dapat mengontrol emosi saat bernegosiasi. Rupanya Emotional Quotient (EQ) sangat penting sekali dalam hal ini.

Ini adalah rumusan cara negosiasi berdasarkan teori, perlu praktik untuk menyempurnakannya. Let’s try it! 🙂