Pendidikan

Apa Artinya Membaca?

14670847_1001785846616849_8442569675272830306_n

Ah, saya baru benar-benar menyadarinya sekarang. Padahal saya sudah tahu keadaan itu sebelumnya. Mungkin ini sesuatu yang disebut pengabaian dan berujung pada sesuatu yang semakin buruk. Kemampuan membaca. Ya, ini tentang kemampuan membaca mahasiswa saya yang saya abaikan selama ini. Saya sibuk memahamkan mereka berdasarkan pembacaan saya terhadap buku-buku yang saya baca dan permasalahan-permasalahan yang saya analisis sebagai kasus dalam perkuliahan. Beberapa hari yang lalu, saya menemukan fakta yang semakin membuat saya merasa bersalah. Why did I leave them (my students) in that condition? It makes me sad.

Beberapa hari yang lalu, tiga mahasiswa menemui saya. Mereka meminta bantuan untuk menafsirkan pembacaan saya terhadap sebuah buku karena ada dosen yang meminta mereka untuk membuat presentasi dari rujukan sebuah buku. Saya kaget, apakah mereka tak bisa membacanya? Ya, memang saya akui itu adalah buku terjemahan yang mungkin sulit mereka pahami. Rata-rata buku terjemahan memang seperti itu karena konteks bahasa dan persepsi tidak selalu sama, jadinya ketika diterjemahkan banyak hal-hal yang sulit dipahami karena perbedaan padanan konteks dan faktanya. Itulah sebabnya, menurut saya, penting menguasai bahasa asing, agar mampu memahami konteks bahasa tersebut. Ya, ini memang suatu variabel lain yang mempengaruhi kemampuan membaca seseorang. Dan itu mungkin akan butuh waktu. Bagaimanapun, kemampuan membaca sangat penting untuk menghasilkan pemahaman tentang suatu ide atau ilmu. Akhirnya, saya benar-benar terusik dengan kondisi mahasiswa di atas, walaupun pada akhirnya saya membantu mereka “membaca” beberapa bagian buku tersebut.

Apa yang salah dengan metode pembelajaran kita selama ini? Kita pendidik memberikan tugas membaca pada mahasiswa, tapi jarang sekali mengajari bagaimana cara membaca pada mereka. Mereka disuruh membaca buku teks, jurnal, dan bahkan buku berbahasa asing, tetapi tidak mengevaluasi dan mengoreksi hasil pembacaan mereka. Ini akan membuat mereka lama dan salah dalam memahami. Itulah sebabnya diskusi sangat penting. Seringkali mahasiswa diminta untuk presentasi, kemudian mereka dibiarkan begitu saya, tanpa ada penguraian lebih lanjut dari pendidik. Ini bencana ilmu namanya. Mahasiswa akan pulang dengan pikiran yang bingung dan tidak memahami apa yang telah dia lakukan. Semua menguap begitu saja.

Ini artinya, mendidik adalah masalah bagaimana belajar bersama-sama mereka hingga mereka sampai pada pemahaman tertentu. Jika kita memberikan bacaan pada mereka, maka mereka perlu mengutarakan hasil pembacaan mereka, dan kita perlu mendampingi mereka dengan memberikan hasil pembacaan kita juga. Pada beberapa mata kuliah saya melakukan ini. Saya tahu betapa rendahnya minat baca mahasiswa beserta kemampuan mereka memahami bacaan. Ini yang membuat saya tidak sabar kemudian mengganti metode ini dengan ceramah dan presentasi yang saya lakukan sendiri. Sayangnya, justru ketidaksabaran saya membuat mereka tidak tumbuh sebagaimana mestinya. Tugas membaca saya hilangkan dari rutinitas mereka. What a big mistake I’ve done! Artinya, yang makin sering membaca adalah saya, bukan mereka. Ya, mereka punya pemahaman yang baik dan kritis, tapi tidak terbiasa menggali dari proses belajar sendiri.

Saya teringat akan metode belajar pada sebuah kelompok dakwah yang saya masuki beberapa tahun lalu. Metode belajarnya sangat luar biasa. Dari sinilah saya belajar yang benar dalam membaca dan memahami. Pada metode belajarnya, pengajar akan meminta seorang anggota yang diajarinya membaca satu paragraf dari sebuah buku berbahasa Arab, kemudian menerjemahkannya. Pengajar akan mengoreksi jika ada kesalahan membaca dan penerjemahan. Setelah itu, pengajar akan menjelaskan makna dari kalimat per kalimat pada paragraf yang telah dibaca dengan referensi dari buku-buku pendukung. Artinya, ada proses membaca, mengenali bahasa bacaan, dan menganalisis makna bacaan, dan memperluas dan memperdalam materi. Ini proses belajar yang memberikan hasil luar biasa. Saya berani mengatakan jika hasil didikan seperti ini telah menciptakan orang-orang dengan pemahaman kuat dari proses belajar yang benar dan sistematis. Tentunya hasil tidak akan menyalahi proses.

Ini pembelajaran penting bagi pendidik, terutama saya. Saya suka membaca, saya membaca apa pun dari teks-teks berbahasa Indonesia maupun Inggris, tetapi saya tidak menularkan kebiasaan ini pada mahasiswa saya. Ketidaksabaran saya membuat saya mendidik mereka secara instan dan tidak mengakar proses belajarnya. Ke depannya harus ada kelas membaca agar tradisi membaca menjadi kebiasaan. Bukankah kita sadar bahwa tingkat membaca masyarakat kita sangatlah rendah, jauh dari standar rata-rata. Kita tak punya buku-buku wajib baca di sekolah. Kita punya perpustakaan di sekolah dan universitas, tetapi fungsinya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Perpustakaan kondisinya seperti museum, buku seperti barang antik. Proses menjadi anggota perpustakaan dipersulit, sistem kontrolnya pun sangat tidak efektif. Maka wajarlah jika banyak yang malas ke perpustakaan, banyak buku yang hilang tak kembali, banyak buku yang melapuk, bangku-bangku kosong, tak ada diskusi di ruang-ruang baca. Ini keadaan kita hari ini.

Mungkin situasi yang ideal baru kita temui di toko buku, sebutlah Gramedia. Di sana terlihat orang-orang yang punya minat membaca, punya keinginan untuk memiliki buku, membelinya, membawanya segera pulang, dan melahapnya. Bahkan di Jepang, ada istilah tsundoku orang-orang yang gila membeli dan mengoleksi buku, dan hanya membiarkannya tersusun di rak buku, hingga tidak sempat membacanya. Istilah ini tidak ada sinonimnya pada bahasa lain. Artinya istilah ini muncul dari gaya hidup masyarakat. Bahasa muncul dari gaya hidup dan mempengaruhi persepsi. What about us? Kita masih jauh dari hal itu. Semoga akan ada perubahan dalam sistem pendidikan kita, termasuk metode pembelajaran kita.

Advertisements

Ketika Mahasiswa Saya Bertanya

idea-edited

Hasil akhir dari pendidikan adalah mencetak generasi yang beriman dan bertaqwa, cerdas secara akademik, memiliki kesadaran akan lingkungan, serta memiliki visi untuk membangun peradaban menjadi lebih baik. Setidaknya itu yang ingin saya capai sebagai seorang pendidik.

Dalam tiap perkuliahan saya selalu meminta pendapat mahasiswa tentang berbagai hal, seperti isu-isu yang sedang tren saat itu, persepsi mereka tentang berbagai masalah sosial yang berkaitan dengan perkuliahan, serta solusi mereka dalam menyelesaikan masalah-masalah yang saya ajukan. Menurut saya, brainstorming sangat penting bagi perkembangan pemikiran mereka. Tujuan saya tidak lain adalah untuk mengukur kepekaan mereka terhadap lingkungan serta menuntut kepedulian serta kekritisan mereka menganalisis permasalahan. Kenapa saya melakukan itu? Sederhana saja, karena dalam hidup kita memang akan selalu dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan dan permasalahan-permasalahan yang datang silih berganti. Otak kita tidak akan pernah berhenti berpikir tentang ini hingga mati.

Di awal memang terasa berat bagi mahasiswa saya. Mereka seperti hilang ide, tidak tahu harus memberikan solusi dan opini apa. Bahkan ada yang sampai menguap-nguap segala karena hampir hilang akal (hehe…lebay). Saya berasumsi jika orang-orang yang tidak memiliki pemikiran dan solusi tentang sesuatu hal biasanya orang yang malas atau tidak terbiasa berpikir, kurang peka dengan lingkungan, jika ada masalah cenderung mengabaikan bukan menyelesaikan. Maka dari itu, ini adalah semacam simulasi atau latihan yang saya terapkan pada mereka. Setelah setengah semester berjalan, hasilnya lumayan terlihat. Mereka tidak lagi menjadi cuek, ngobrol sana-sini, dan menganggap kuliah hanya rutinitas membosankan.

Bagi saya pribadi, mendidik itu tidak gampang. Banyak yang harus diubah dari mahasiswa saya mulai dari etika, kedisiplinan, tradisi akademik, serta visi hidup mereka–paling tidak menjadi manusia baik dan bermanfaat bagi orang lain. Terkadang saya kurang sabar dan sedikit keras dengan meminta mereka berpikir seperti saya berpikir, meminta mereka lebih fokus dan serius dalam berpikir. Bahkan tak jarang ceramah kuliah berubah menjadi ceramah seorang ibu kepada anak, dan bisa seperti eksekutor hukuman saat mereka memperlihatkan sikap tidak baik dan melanggar komitmen kuliah. Ini juga yang terkadang membuat mereka terkaget-kaget dengan perubahan sikap saya yang kalem menjadi sedikit “ganas”.

Namun demikian, saya tak pernah berteriak, berkata-kata kasar, dan marah di depan mereka, hanya omongan yang agak sarkastik saja, dan bikin wow. Kata teman saya, cara ini yang membuat dia merasa tertampar tanpa dipukul. Itu sakiiit. Contohnya: “Kamu tidak perlu isi KRS dan masuk kelas saya kalau memang tidak ingin belajar, semua berawal dari niat.” “Saya lari-lari ke kampus sampai kelas agar tidak melebihi batas telat, kamu kok bisa-bisanya minta agar jumlah ketidakhadiranmu dikurangi karena sering telat?” “Hal-hal dangkal seharusnya tidak perlu dibahas dan dipertanyakan lagi, lebih baik pertanyaannya yang bisa dianalisis dan dikaitkan ke fakta-fakta lain.” Itu semua disampaikan sambil ngomong kalem loh. Semoga tidak ada yang tersinggung. 🙂

Bagaimanapun, mereka harus menjadi orang-orang yang kuat pemikiran dan baik perilakunya. Efek dari apa yang saya lakukan memang tidak sederhana. Pada akhirnya, keingintahuan dan kekritisan mereka membuat saya harus dihadang berbagai pertanyaan dan sanggahan dari mereka. What a life! Ini akhirnya mengajari saya untuk selalu sabar dan sadar dalam memberikan argumentasi logis dan menjauhi logical fallacies. Mereka tak boleh dibodohi dengan opini bohong dan logika yang salah. Sikap merasa paling benar, merendahkan, dan sok hebat itu berbahaya. Ini yang sangat saya takutkan. Saya mewanti-wanti mahasiswa agar jangan sampai bersikap demikian.

Pernah mahasiswa saya bertanya apa pendapat saya tentang memilih pemimpin nonmuslim. Saya ada di pihak mana dan apakah salah jika memihak? Ketika saya menjelaskan karakter budaya masyarakat, mereka selalu menanyakan karakter saya seperti apa, identitas apa yang saya pilih dan prioritaskan. Mereka bisa bertanya sampai sejauh itu. Itu tidak mudah menjawabnya karena harus memberikan keadilan berpikir. Saya selalu mengatakan, tiap orang berhak dengan pilihan-pilihannya. Pilihan-pilihan itu tentu didasari oleh pemikiran, ideologi, atau identitas yang mereka utamakan. Manusia dengan banyak identitas yang dimilikinya tentu memiliki satu identitas yang ditonjolkannya yang bisa dipengaruhi oleh agama, etnis, aliran politik, ideologi ekonomi, kewarganegaraan, dll.

Dari sekian banyak identitas itu, saya mempertanyakan kekonsistenan mereka dalam menjaga identitas yang mereka prioritaskan. Kita tidak bisa mengatakan identitas kita adalah seorang muslim jika pemikiran, perilaku dan cara berpakaian kita jauh dari nilai-nilai keislaman. Identitas itu membutuhkan  pertanggungjawaban. Benar jika identitas ada yang sifatnya permanen dan ada yang tidak permanen (bisa diubah). Sesuatu yang sifatnya permanen adalah bawaan lahir seperti jenis kelamin dan ras, sedangkan nilai-nilai yang dianut bersifat dinamis dan sangat mungkin berubah. Di sinilah dituntut kesadaran manusia terhadap dirinya, mencari jati dirinya.

Tampaknya saya memang terpengaruh dengan aliran filsafat eksistensialisme. Ini yang mengajari saya menjadi manusia yang mengada (efek kuliah Critical Theory di Sastra). Dalam hal ini, saya hanya mengambil konsepnya saja, karena seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa manusia itu nilai-nilai yang diadopsinya bersifat dinamis, akan ada perkembangan pemikiran, perubahan, dan penambahan karena proses belajar yang membuat mereka menganut nilai-nilai baru, mengasimilasikannya, ataupun mengintegrasikannya. Kita hari ini tidak sama dengan yang dulu dan hari esok. Semoga apa yang kita yakini dan pilih adalah hal yang lebih baik yang akan mengarahkan dan mengembalikan kita kepada jalan yang diridhai Allah.

Pic credit: http://www.click4assistance.co.uk/dyn/blogs/idea-edited.gif