syukur

Sudut Pandang Nikmat dan Syukur

Apa yang diterima manusia adalah efek dari apa yang diperbuatnya. Kebaikan-kebaikan akan berbalas kebaikan dari Allah sedangkan kemungkaran akan berbalas dengan hal-hal yang juga buruk dan menyengsarakan sebagai akibat dari ulah yang diperbuatnya.

Kadangkala bahkan seringkali kebanyakan orang lebih menghargai balasan kebaikan dari hal yang kasat mata dan menguntungkan secara materi. Padahal, bisa jadi kebaikan yang diberi Allah adalah berupa nikmat semakin dekat dan taat kepada-Nya, dan keburukan dari Allah bisa datang dengan semakin dijauhkan diri kita dari Allah dan terlena dengan materi yang memperdaya akibat kemungkaran yang kita lakukan. Kesalahan besar dari cara pandang kita yang seringkali salah adalah hanya menganggap balasan kebaikan itu dari sisi materi dan kesenangan semata, padahal bisa saja kesenangan itu justru menjauhkan dari Allah.

Allah mengatakan setiap kebaikan yang dilakukan manusia adalah untuk dirinya, demikian juga setiap keburukan akan kembali ke manusia itu lagi.

Ada ayat dalam Al Quran yang membuat saya merasa malu di hadapan Allah. Bentuk sindiran yang sangat menohok bagi manusia. Kita sering lupa ini, mungkin karena kebanyakan manusia memang suka lupa bersyukur. Sudah diberi nikmat oleh Allah malah dibalas dengan lalai dan ingkar terhadap Allah, apalagi dengan seenaknya berbuat mungkar dan maksiat. Terkadang manusia benar-benar emang tak tahu diri.

“Dan apabila Kami berikan nikmat kepada manusia, dia berpaling dan menjauhkan diri (dengan sombong); tetapi apabila ditimpa malapetaka maka dia banyak berdoa.” (QS. Fussilat 41: Ayat 51)

Seringkali kita ingat dan taat pada Allah di saat-saat sulit, sedangkan di saat-saat senang dan lapang kita berpaling dengan lalai terhadap Allah. Kelalaian itu banyak sekali, mulai dari lalai beribadah, merasa paling hebat dan menguasai segalanya, berbuat maksiat dengan gampangnya, hingga menutup mata dari semua aturan-aturan yang dilanggar, seolah Allah tidak melihat dan diri tidak akan dihisab. Ya Rabb, jauhkan kami dari semua keburukan perbuatan.

Allah itu Maha Pemurah, Maha Penyayang dan, dan Maha Pemberi kelapangan. Pernahkah mengalami saat-saat sulit dan merasa buntu dan tak ada jalan keluar? Namun setelah berserah diri dan berdoa pada Allah, jalan dan kelapangan dibukakan oleh Allah. Bukankah pertolongan Allah itu sangat dekat? Kita yang sering pesimis, berputus asa dari kuasa Allah, merasa dunia akan berakhir, padahal ada Allah tempat bersandar dan bergantung. Berputus asa berarti meniadakan dan mengerdilkan kuasa Allah.

Setelah diberikan kemudahan dari Allah seringkali manusia lupa diri. Lupa bersyukur dan merasa dirinyalah yang telah mengusahakan apa yang dia dapat, peran serta Allah dilupakan hingga dia menjadi lalai dan tidak taat pada Allah. Setiap kemungkaran dan kemaksiatan itu akan membawa keburukan bagi hidup. Hidup menjadi tidak berkah, tidak tenang, banyak masalah, banyak yang dikhawatirkan, dan merasa beban hidup begitu besar. Kenapa? Karena Allah tidak ridha. Karena lupa untuk taat dan bersyukur pada pada Allah.

Apapun yang kita lakukan Allah harus selalu dilibatkan, karena Allah Maha Berkuasa dan Dia-lah tempat kita bergantung. Agar diri menjadi tenang dan ikhlas. Jadi ketentuan apapun yang diberi Allah setelah ikhtiar, itulah yang terbaik. Kemampuan untuk menerima ketetapan Allah itulah namanya tawakkal. Jika masih saja ngotot dan keras kepala tak mau menerima qadha Allah, maka bisa jadi kita belum bertawakkal atau berserah diri dengan ikhlas pada Allah.

Setiap memohon sesuatu pada Allah, kita juga harus senantiasa memohon keridhaan-Nya. Bisa saja Allah tak ridha dan apa yang kita minta tak dikabulkan dan diberikan jalan. Untuk itu kita harus yakin bahwa Allah lebih tahu yang terbaik untuk kita.

Berikhtiar, bertawakkal, dan ikhlas. Itulah kunci bersyukur pada Allah. Atas ketetapan terbaik dari Allah, Allah menyuruh kita untuk menyebut-nyebut nikmat itu dengan banyak bersyukur pada-Nya. Bersyukur tidak hanya dilakukan pada setiap keinginan kita yang dikabulkan Allah, tapi setiap jawaban-jawaban dan jalan-jalan yang tidak kita bayangkan dan kehendaki sebelumnya. Sulit memang, tapi itulah ikhlas. Allah tahu yang terbaik untuk kebaikan diri kita. Allah mengetahui apapun tentang diri kita yang tidak kita ketahui. Masya Allah, betapa Maha Besar Allah.

Allah SWT berfirman:

فَاذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَاشْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 15)

Advertisements

Keberhasilan yang Menentramkan

Hidup terasa cukup sempurna saat kita memiliki teman-teman terbaik yang selalu hadir dalam keadaan terburuk dan terbaik. Mereka bahagia saat kita bahagia dan mereka hadir membawa semangat dan menenangkan di kala gundah dan sedih. Katakanlah kita hidup di situasi yang berbeda dan menghadapi persoalan berbeda, dan mengalami ketidakwarasan yang berbeda. Namun, kehadiran mereka mampu sebagai penyeimbang dan pembawa kestabilan. Kenapa? Karena kita bersama teman-teman terbaik yang senantiasa saling mengingatkan, menghibur, dan menguatkan. Dia tahu kondisi terburuk kita dan hadir sebagai penyelamat, begitu juga saat kondisi terburuknya kita hadir menemaninya dan meluruskan jika salah.

Sebenarnya apa yang sedang ingin saya bahas? Ini bukan semata soal adanya teman dalam kehidupan kita, tetapi bagaimana teman mampu membantu kita memandang dunia menjadi lebih luas dan dalam. Saya bersyukur diberi teman-teman terbaik yang senantiasa memandu pikiran dan kehidupan saya. Mereka sedikit banyaknya adalah bagian dari diri saya. Begitupun sebaliknya. Ada bagian diri saya di dalam jiwa mereka. Mungkin ini yang namanya soulmates. Belahan jiwa ternyata tak melulu tentang pasangan hidup yang melengkapi tapi juga teman-teman yang separuh diri mereka ada dalam pikiran dan jiwa kita.

Pagi ini saya mendapat nofikasi Whatsapp dari teman saya. Teman yang ada saat kondisi saya terpuruk. Tampaknya kali ini kami bertukar tempat. Saya dalam kewarasan optimal dan dia dalam kegalauan yang hampir menuju ketidakwarasan. Nah kan. Setiap orang akan mengalami ketidakwarasan yang berbeda-beda dalam hidupnya dikarenakan kondisi-kondisi tertentu yang terlalu membuat buyar dan tertekan.

Apakah yang sedang dihadapi teman saya itu? Rupanya dia sedang berusaha memahami kembali makna pencapaian dalam hidup. Apa sih yang dia galaukan? Ternyata dia berpikir ulang tentang arti pernikahan. Wah? Saya awalnya terbingung-bingung dan kaget. Apakah dia menyesal telah menikah? Teman saya menikah tahun lalu atas dasar keputusan mendadak karena dorongan orangtua dan usianya yang genting kian memaksa. Dia menikah dengan seseorang yang tidak masuk kriteria idamannya tapi masih bisa dia terima. Paling tidak, laki-laki yang dia nikahi shalih dan mampu menjadi pemimpin baginya. Saya dulu cukup kaget mendengar keputusannya, bahkan memastikan apa dia sadar melakukan itu dan siap menerima konsekuansinya. Seakan tak percaya dia akan membuat keputusan secepat dan senekat itu. Tapi mau bagaimana, itu sudah pilihannya. Setelah menikah apa dia bahagia? Apakah suaminya baik? Sebenarnya dia cukup bahagia dengan suami yang menyayanginya dan siap menghadapinya dengan penuh kesabaran.

Lalu di mana masalahnya? Nah, itu dia. Dia merasa tidak puas dengan hidup yang dijalaninya. Setelah menikah dia berhenti bekerja dan pulang ke kampung halamannya. Sekarang sudah memiliki bayi dan harus tinggal di rumah mengasuh setiap waktu. Apa lagi yang membuat tidak puas? Saya bertanya-tanya. Bukankah bagi banyak orang pernikahan adalah salah satu keberhasilan hidup? Apalagi punya anak. Sedangkan saya masih belum bisa meraih itu. Terkadang hidup memang aneh. Saya merenungi kesendirian saya sedangkan teman saya meratapi pernikahannya.

Akhirnya saya memahami bahwa apa yang dikatakan banyak orang sebagai keberhasilan belum tentu sebuah keberhasilan. Dan saya yang dikatakan belum berhasil belum tentu begitu. Teman saya justru iri dengan keadaan saya yang masih lajang, bisa berkarir, melakukan banyak hal yang saya sukai. Ya seperti menikmati hidup mungkin tepatnya. Padahal, dia tidak tahu apa yang saya rasakan. Bagaimana saya merasa kesepian dan merasa ada yang kurang. Dan saya juga ternyata baru tahu apa yang dia rasakan saat kegundahan melandanya. Ternyata pernikahan bukan bukti keberhasilan seseorang dalam hidup. Bahkan, ada teman saya yang lain dan sudah menikah menyarankan agar saya tidak perlu ngotot terburu-buru untuk menikah apalagi salah pilih pasangan. Jika waktunya tiba maka ia akan tiba juga katanya. Sebelum itu datang lebih baik optimalkan potensi diri untuk melakukan banyak hal yang positif seperti belajar, berkarya, dan mengeksplorasi hal yang kita suka dan tekuni.

Lalu apa sih sebenarnya keberhasilan itu? Kenapa makna keberhasilan jadi tidak pasti? Tulisan ini terinspirasi dari kajian Shubuh ustadz Abdul Somad tadi pagi tentang sukses hakiki. Kita mungkin sudah tahu, tapi sering lupa. Sukses yang sebenarnya yaitu senantiasa berada di jalan kebenaran yang diperintahkan Allah. Saya mencoba mengaitkan makna itu dengan kasus yang dialami teman saya, termasuk kasus saya sendiri. Saya menemukan makna keberhasilan dengan bahasa yang berbeda. Keberhasilan adalah saat kita ikhlas menerima apa yang diberikan Allah untuk kita. Menyukuri apa yang ada di hadapan kita. Makna keberhasilan bukan memiliki kekayaan berlimpah, punya paras cantik dan ganteng, menikah, punya anak, punya karir hebat, dan jabatan tinggi. Kenapa? Karena orang-orang yang memiliki hal tersebut masih saja tidak bahagia dengan apa yang mereka dapat. Bagaimana dengan orang yang hidup pas-pasan tapi bahagia? Atau tidak menikah dan punya anak tapi bahagia? Ternyata inti dari semua kebahagiaan yang berbanding lurus dengan keberhasilan itu adalah rasa syukur. Penerimaan atas keadaan yang ada dengan ikhlas. Bukankah setelah itu tak ada lagi kegalauan dan kekhawatiran? Saya berpikir, Allah pasti ingin membawa kita pada pemahaman ini. Berhasil berarti bersyukur atas apa yang Allah beri. Tetap berusaha memperbaiki diri dan melakukan yang terbaik untuk perubahan kehidupan di dunia dan akhirat yang diridhai Allah. Keberhasilan itu standarnya Allah yang menentukan. Apakah itu? Taqwa. Orang-orang bertaqwalah yang dikatakan Allah orang beruntung, sukses, dan berhasil. Bukan yang lainnya. Rasanya hidup lebih berarti dengan memaknai berhasil berdasarkan standar Allah ini.

”Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al A’raf: 69).

”Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al Maidah: 35).

“Maka adapun orang yang bertobat dan beriman, serta mengerjakan kebajikan, maka mudah-mudahan dia termasuk orang yang beruntung.” (Al-Qashas 67)

Masih banyak ayat-ayat yang membahas definisi dan contoh menjadi sukses/beruntung. Sungguh pandangan Allah lebih menentramkan untuk hidup kita daripada mengikuti pandangan manusia kebanyakan. Karena Allah lebih tahu apa yang harus dipentingkan dan yang terbaik untuk diri kita. Jadi, syukuri apa yang ada dalam diri kita dan terus berdoa meminta kebaikan.

Kemana Doa-doa Bermuara?

d702f04d86a0c229653b64e746d9fcae

Hari pertama di bulan Maret. Apa kabar? Sudah empat bulan rupanya aku tak pulang ke sini. Bukan tak ada yang akan ditulis tetapi dunia nyata tampaknya lebih menarik untuk “ditulis”.

Empat bulan bukan waktu yang singkat karena ada doa-doa yang selalu dirapalkan dan menunggu untuk dikabulkan. Memang tak selalu doa-doa dijawab secepat itu. Bahkan Allah sepertinya tak selalu berfokus pada apa-apa yang ingin kita capai. Dia ingin melihat kesungguhan dan kesabaran kita untuk tetap berdoa tanpa henti dan ragu serta hanya bersandar pada-Nya. Dengan kata lain, Dia menginginkan kedekatan itu terus berlanjut hingga kita tak lagi berfokus pada capaian-capaian kita tetapi justru menikmati saat-saat bersama-Nya. Bukankah itu sangat syahdu?

Sangat gampang bagi Allah untuk mengabulkan semua permintaan. Terkadang manusia memang egois karena seringkali hanya ingat akan keinginannya tapi lupa pada pemberi nikmat itu setelah didatangkan. Sangat tidak berterima kasih dan bersyukur. Untuk itu, kita memang harus selalu berpikir akan hal-hal mendasar ini, bahwa Allah hanya menginginkan ketaatan dan keterikatan kita pada-Nya.

Allah suka pada hamba-hamba yang selalu meminta kepada-Nya. Itu bukti bahwa manusia memang sangat membutuhkan Tuhannya. Akan tetapi, seberapa besarkah permintaan itu dibanding ketawakalan kita pada-Nya? Tawakkal berarti ikhlas dan mempercayakan semua urusan hanya pada Allah, dan tak ada kekhawatiran sedikitpun akan ketatapan-Nya. Tuhan tak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya. Kenapa ragu dengan keputusan Tuhan? Artinya semua harus disyukuri. Setiap ketetapan pasti ada kebaikan di baliknya. Tuhan tak pernah salah dalam menetapkan sesuatu. Dia lebih memahami qadar akan segala hal.

Percayakan saja semua urusanmu pada Allah. Semakin lama permintaanmu dikabulkan artinya semakin ingin Allah dekat denganmu. Kesulitan-kesulitan dan pengharapan itu bisa jadi jalan menuju dekat dengan Allah. Kelak mungkin kita tak akan lagi mementingkan itu. Tidakkah kau rindu pada-Nya? Sudah sampaikah sebuah hadis qudsi pada kita bahwa saat kita mendekat kepada-Nya sejengkal maka Dia akan lebih dekat sehasta. Saat kita berjalan kepada-Nya, Dia akan berlari menemui kita. Allah akan mengingat kita saat kita mengingat-Nya. Tak cukupkah kebahagiaan itu saat Allah senantiasa mengingat kita dalam dirinya? Bisa jadi itu satu hal yang akan kita dambakan pada akhirnya nanti, saat di akhirat, kita akan berbahagia saat catatan itu dibacakan.

photo credit: estuary photo