Teman

Create Your Visionary Future

Cara terbaik untuk melepaskan diri dari kondisi stagnan adalah dengan belajar. Belajar bisa dilakukan dengan berbagai cara di antaranya dengan membaca buku, mempelajari aktivitas fisik baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya, melakukan pembicaraan dua arah dengan orang lain, dan melakukan hobi baru yang menyenangkan dan menantang.

Kesemua hal itu membutuhkan kerja otak yang di luar kebiasaan. Otak akan mulai mempelajari sesuatu yang baru dan mengirimkannya sistem saraf agar bisa diterima dan dibiasakan oleh sistem tubuh kita.

Saya jadi berpikir, saat mengalami kegalauan atau tekanan mental justru seseorang membiarkan otaknya bekerja pada satu hal saja yaitu masalah yang menjadi kegalauan tersebut. Justru dengan demikian otak menerima beban yang sangat berat karena tidak adanya kedinamisan dalam aktivitas. Ternyata otak bisa mengalami kelelahan karena tertumpu pada satu hal saja dan sifatnya tidak produktif. Artinya otak selalu ingin bekerja melakukan aktivitas produktif dan positif. Positif di sini maksudnya adalah yang membawa kepada hal-hal visioner dan membangun.

Luar biasa sekali. Saya kadang jadi merasa bersalah sudah membebani otak dengan hal-hal tidak produktif yang membuatnya menjadi kaku, kelelahan, dan buntu. Saya menyadari ini setelah mulai membaca buku baru (bukan buku akademik yang biasa saya baca) yang memberikan pengetahuan baru bagi saya. Saya membeli banyak buku beberapa minggu lalu dengan konten yang variatif. Ada buku puisi Aan Mansyur, Al-Hikam oleh Ibn ‘Athailah, dan Tinta Emas Sejarah Islam. Buku-buku ini mulai saya baca dua hari belakangan. Saya adalah seorang tsundoku, punya hobi koleksi buku dengan motivasi membaca tidak sebanding dengan hasrat membeli buku yang lebih besar. Sebagian besar uang saya dibelanjakan untuk buku (jika tidak beli baju hehe).

Banyak buku yang tersimpan di rak buku belum saya baca hingga tuntas, paling hanya satu hingga dua bab yang saya baca seperti buku Mukaddimah Ibnu Khaldun yang mulai saya baca lagi kemarin. Luar biasa, isinya benar-benar menggugah pikiran saya tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang intelektual muslim. Selama ini karena membaca tidak tuntas jadinya pengetahuan saya tidak utuh dan menyeluruh tentang buku tersebut, hanya membaca yang dirasa dibutuhkan dan menarik saja. Sekarang saya bertekad untuk membuat daftar buku yang akan dibaca sekaligus tenggat waktu selesainya.

Pengetahuan baru ini menyegarkan otak saya dan saya berpikir masalah yang saya hadapi sebenarnya hal sepele dan sudah selesai, saya saja yang suka drama kalau lagi PMS. Apa yang terjadi dalam hidup saya adalah skenario terbaik dari Allah untuk saya. Allah selalu baik pada saya. Seharusnya saya bersyukur atas kesudahan masalah yang ditetapkan Allah untuk saya. Ah, tapi memang masalah hati selalu menyita banyak perhatian manusia (yah mulai lagi…).

Saya punya banyak aktivitas produktif untuk dilakukan sebenarnya yang selama ini saya abaikan. Saya ingin meningkatkan kualitas memasak di dapur yang selama ini saya tekuni, meningkatkan kemampuan berbahasa asing yang tidak mengalami progress (terutama bahasa Arab), menambah hafalan ayat Quran yang gak nambah-nambah, hingga melakukan aktivitas fisik baru yaitu menyetir dan berenang. Sampai sekarang saya kurang termotivasi melakukan dua hal ini, sukanya jadi penumpang aja males bawa mobil. Dan berenang sepertinya hobi baru yang akan menarik dilakukan, tapi mungkin tidak dalam waktu dekat ini (ngeles lagi). ๐Ÿ˜

Ok, bukankah banyak yang harus dilakukan dalam hidup untuk menjadi manusia berkualitas, kenapa membiarkan diri larut pada sesuatu yang tidak produktif?

Dan satu lagi yang harus saya lakukan yaitu hati-hati memilih teman, termasuk calon teman hidup. Salah-salah bisa menumpulkan diri sendiri.

Catatan: patah hati memang sakit, tapi lebih sakit lagi kalau sampai salah mencintai. Biarlah kita pergi meninggalkannya dan dia pergi dengan orang lain, asal kita tidak menjadi korban jangka panjangnya dalam pernikahan. Jangan galau! Yak, baper lagi, coy!) ๐Ÿ˜†

Advertisements

Tentang Kita

Hidup pun bukan tentang menjalaninya sendiri tp berbagi pengalaman yang mengantarkan kita pada siapa kita. Kita tidak tumbuh sendiri. Kita adalah apa-apa yang kita bagi bersama orang lain. Akan tetapi pada akhirnya kita akan menanggungnya sendiri.

Hidupmu adalah tentang dengan siapa kau bagi selama ini. Adakalanya kehidupanmu kau bagi dengan orang-orang yang salah. Mereka akan menjadi pelajaran bagimu. Terkadang kita tak bisa menolak dengan siapa kita berbagi kehidupan. Lingkungan yang melingkupi adalah kumpulan manusia yang tidak bisa kita pilih satu per satu untuk bersinggungan dengan diri kita.

Kita harus tahu jika ini bukan surga yang di sana tidak ada hal sia-sia terjadi, di mana tak akan ada orang yang datang untuk mencelakaimu, membencimu, atau menghancurkanmu. Ini dunia fana, kumpulan manusia dengan segala tabiatnya.

Kita adalah dengan siapa kita bergaul dan dengan siapa kita menghabiskan hidup. Kita adalah irisan diri dari diri-diri yang berbaur dengan kita.

Satu hal yang mungkin bisa kita lakukan untuk perubahan yaitu masuk ke lingkungan baru yang akan menyumbangkan konsep diri yang baru.

Kita adalah dengan siapa kita berteman dan menghabiskan waktu berbagi pikiran dan perilaku.

Rasulullah SAW bersabda:

โ€œSeseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.โ€ (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Allah berfirman dalam Al Quran:

“Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku), sungguh dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika (Al-Qur’an) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia.”
(QS. Al-Furqan 25: ayat 28-29)