Tua

Bagaimana Perempuan Bahagia?

happy

It’s always hard to start a writing. For me, yes it is. Jika tak mentok di awal pasti di tengahnya. Akhirnya, di tengah perasaan yang campur-aduk itu membuat kegalauan makin meningkat. Seringnya kabur main di media sosial atau malah tidur. Nah, sebenarnya sekarang pun masih bingung mau membahas apa, berhubung bacaan saya akhir-akhir ini hanya buku teks kuliah dan observasi ke hal-hal yang serupa itu, jadi agak kudet. Mumpung sedang mellow dan sentimental, saya bahas tentang hal-hal semacam itu saja.

Perempuan pernah merasa tua tidak sih? Pernah. Itu terjadi saat dia merasa tidak bahagia. Ini semacam pengalaman dan observasi saya. Kevalidannya jangan ditanya. Itu belum teruji secara ilmiah, alias saya belum bikin penelitian ilmiah tentang itu, dan tidak tahu jika ada hasil penelitian seperti itu. Ok, bagaimana hal itu terjadi?

Pernah mengamati perempuan membanding-bandingan dirinya dengan perempuan lain? Ini memang perilaku yang nggak masuk akal tapi sungguh nyata. Nah, kalau sampai ada perempuan yang seumuran, terus salah seorang di antara mereka merasa dirinya lebih tua dari segi raut wajah, pasti bakal sensitif dan uring-uringan sekali. Frustrasi muncul seketika. Kenapa itu orang bisa awet muda? Pakai perawatan apa? Dia makan apa aja atau dietnya bagaimana? Apa hidupnya bahagia banget? Bahkan, sampai ke hal-hal kejam sekali pun langsung divoniskan seperti, “itu pasti oplas!”

Pastinya, perempuan itu akan bahagia jika ada yang bilang: “kamu kok muda terus ya? wajah kamu imut, nggak kelihatan seumuran kamu, bahkan lebih mudaan kamu daripada adik kamu.” Wah, dijamin kata-kata itu bisa membuat perempuan bahagia untuk jangka waktu yang lama.

Permasalahan sekarang adalah bagaimana membuat perempuan bahagia? Banyak hal yang membuat perempuan bahagia, seperti menikmati melakukan hobi-hobinya, berkumpul dengan teman-teman perempuan terbaiknya, berkumpul dengan keluarga, dan memiliki waktu pribadinya yang berkualitas (me time). Kemudian, yang paling penting adalah mencintai orang yang juga mencintainya (*cough, ini skip aja, tapi penting!).

Nah, hal yang terakhir itu penting sekali rupanya. Saya tak bisa men-skip! Ini agak-agak ngeri sebenarnya. Ini cerita dari pengalaman teman. Ada yang bilang, ketika seseorang menikah, maka cinta itu akan datang juga. Katanya memang begitu. Jadi kalau di awal belum cinta, nanti akan cinta dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Hanya saja, itu tak seperti yang dikatakan banyak orang. Teman saya yang perempuan ini setelah nikah, tetap saja cinta dan ingat laki-laki yang pernah dia cintai dulu. Saya sampai terkaget-kaget. Kok bisa nikah sama suami yang sekarang? Nah, itu saya tidak mengerti logika perempuan yang bisa nikah dengan setengah hati. Sampai sekarang saya belum bisa memahami.

Cerita di atas mengerikan ya? Saya selalu berdoa agar tidak seperti itu nantinya antara saya dan pasangan hidup saya. Jika pun akan menikah dengan seseorang, pastikanlah hati kita sudah move on (beralih meninggalkan yang lama). Kasihan kan suaminya jadi diduakan? Dan satu hal lagi, pastinya si perempuan itu tidak bahagia seutuhnya. Ini kata saya. Pada faktanya dunia lebih rumit daripada teori saya pribadi. Ini baru versi perempuan, versi yang laki-laki juga sama loh. Ada suami yang rela menceraikan istrinya karena masih cinta sama mantannya. Ini cerita teman saya tentang temannya yang lain yang bikin kami berdua bergidik. Mengerikan ya? Kalau sudah begini, lebih baik resapi dan dalami kata-kata Ali bin Abu Thalib ini:

“Ulurkan cintamu sebab Tuhanmu dan tariklah cintamu sebab Tuhanmu. Pasti kamu tidak akan kecewa.” (Ali bin Abi Thalib RA)

Nah, kembali pada permasalahan pertama tadi. Tentang perempuan yang memikirkan “ketuaannya”. Pada umur tertentu, akan ada masanya perempuan mulai berpikir serius tentang dirinya. Sudah seberapa tua umur kronologis (dihitung dari tahun kelahirannya) dan umur psikologisnya (umur mental)? Mana yang lebih tua di antara kedua umur tersebut? Di umur kronologisnya sekarang, apakah masih pantas berperilaku seperti umur psikologisnya (jika umur psikologisnya lebih muda)? Nah, jika mereka sudah berpikir seserius ini, artinya mereka sudah mulai memikirkan masa depannya. Bagaimana dia akan mengelola kehidupannya di masa mendatang.

Terkadang, perempuan dengan usia mental lebih muda akan lebih lama menyadari hal di atas karena merasa hidupnya masih sama seperti yang dulu dan dengan kadar kebahagiaan yang sama. Jika mereka sadar dengan pilihan ini tak menjadi soal. Sulitnya adalah ketika baru sadar, dan terlambat menyadari. Kadang saya juga berpikir tentang ini, tentang diri saya, dan teman-teman perempuan saya.