Ujian

Rahasia Pintu Surga

Ada 8 pintu surga, salah satunya diperuntukkan bagi orang yang mampu menahan marah dan mau memaafkan. Orang yang masuk pintu surga ini memang spesial, maka pantas Allah memberikan tempat mulia untuk mereka. Bagaimana dengan saya? Apakah saya akan dipanggil dari pintu tersebut dan melangkah ke dalamnya? Sungguh ini perkara sulit. Saya baru menyadarinya sekarang. Iya, kau akan tahu bagaimana sulitnya suatu hal hingga kau diuji dengan hal tersebut. Saya bukan orang yang gampang marah dengan melepaskan emosi berapi-api. Saya terbiasa diam atau paling tidak jika sudah cukup kesal akan bersuara ya mungkin semacam debat. Tapi, tetap saja ini adalah refleksi marah sebenarnya walaupun bukan dengan kata-kata keras dan kasar.

Kontrol emosi memang sangat penting apa pun keadaannya. Siapa sih yang tidak pernah kesal? Saya mungkin tak sering diberi ujian yang memancing kemarahan ini. Tapi saat menghadapinya, saya jadi berpikir memang sulit ternyata ujian emosi ini. Bisa jadi kau tak marah dan melupakan, tapi hatimu tidak mau memaafkan. Forgotten but not forgiven. Atau bisa jadi memaafkan tapi tak melupakan, forgiven but not forgotten, artinya masih ada yang belum selesai di dalam hatimu. Baru terasa kenapa ujian ini berbuah surga.

Semakin kita dewasa dan bertambahnya umur, maka akan semakin banyak masalah yang akan kita hadapi. Ini karena kita telah menjadi individu mandiri yang eksistensinya sudah diakui masyarakat dan lingkungan kita. Kita sudah dipandang sebagai manusia seutuhnya karena tidak lagi diberi label anak kecil, anak muda atau masih bau kencur. Tanggung jawab ada pada pundak kita pribadi. Dan ini akan semakin kompleks jika seseorang menikah. Membawa nama dua orang sekaligus untuk citra diri di masyarakat. Di sini saya belajar untuk selalu mindful. Sadar dan peka dengan keberadaan diri dan lingkungan.

Jika kita berbuat sesuka hati, maka akan seperti apa kita membangun konsep diri di hadapan diri sendiri dan orang lain? Identitas apa yang kita ingin orang lain memandangnya? Kita yang menentukan identitas dan citra diri di hadapan orang lain. Maka, menjadi diri sendiri adalah sangat penting. Menjadi pribadi yang kita sendiri menghargainya dan kita pun mencintainya, begitu pun orang lain memandangnya.

Apakah kau pernah membenci diri sendiri? Itu tandanya ada konsep diri yang tak kau sukai dalam dirimu. Saya sesekali membenci diri saya dalam keadaan tertentu. Kondisi itu sesuatu yang tidak ideal yang saya dapati dalam diri saya. Masing-masing kita memiliki konsep diri ideal dan standarnya pasti berbeda, bergantung pada apa yang kita pandang baik dan buruk serta benar dan salah. Jika kita melanggarnya pasti akan timbul ketidaksukaan yang berujung pada rasa bersalah, penyesalan, atau benci pada diri sendiri. Apakah reaksi dalam diri kita ini baik? Saya pikir ini baik, sebagai bentuk kepekaan dari kita terhadap apa-apa yang kita yakini. Nah, yang tak peka mungkin bisa dipertanyakan seperti apa konsep dirinya.

Kembali lagi ke pintu surga tadi. Sungguh Allah Maha Tahu apa-apa yang sulit dan penuh rintangan sebagai ujian hambanya. Lagi-lagi hidup itu memang lahan ujian. Tak hidup namanya jika tak ada ujian. Ini cara Allah menilai kualitas diri kita. Dan bagi saya, ujian adalah bentuk refleksi diri. Saya menulis ini untuk pengingat diri lagi. Kesalahan bisa dilakukan oleh diri kita sendiri dan/atau orang lain. Hal yang utama adalah bagaimana menyikapinya. Kita tak selalu ditakdirkan bertemu orang-orang baik dalam kehidupan kita. Bahkan, bisa jadi kitalah sosok yang buruk dan menjadi ujian bagi orang lain atas kelalaian dan kesalahan diri kita.

Untuk itu, sangat penting selalu introspeksi diri, belajar dari setiap masalah, dan bersiap-siaga pada ujian-ujian berikutnya. Terkadang, pelajaran dan ujian itu diberikan berkali-kali hingga manusia sampai pada tingkat kesadaran sempurna. Bahkan ada pula yang tak sadar-sadar dan tak belajar hingga berkubang dalam permasalahan yang sama seumur hidup. Nauzubillahi minzalik. Irhamna ya Allah. Nastaghfirullahal ‘azhim.

Advertisements

I got a bad score

Untuk menilai diri, kita harus melalui sebuah ujian. Kita sudah biasa dengan ujian mulai dari SD sampai ke bangku perkuliahan. Nilai atau skor yang dihasilkan adalah kualitas diri kita, dengan catatan tes tidak dilakukan dengan kecurangan.

Ujian dilakukan setelah kita melaksanakan serangkaian pembelajaran. Ujian memang tidak memandang kita siap atau tidak karena waktunya telah ditentukan. Artinya, dalam keadaan apa pun kita harus terus mempersiapkan diri, apalagi saat jadwalnya sudah diumumkan. Berlatih adalah cara jitu untuk lulus ujian dan mendapat nilai terbaik, dengan melatih diri mengerjakan berbagai soal untuk meningkatkan penguasaan pengetahuan yang telah dipelajari. Latihan yang sedikit akan berakibat kurang tangkasnya kita menjawab soal. Seringkali menyebabkan kita jadi kewalahan, buntu, dan senewen.

Sebelum ujian, tidak ada salahnya memprediksi skor untuk diri kita sendiri. Skor yang rendah di beberapa bagian bidang akan memetakan di mana kelemahan kita. Itulah yang harus diperbaiki. Sebagaimana skor yang saya dapatkan untuk tes IELTS beberapa waktu lalu. Tak disangka justru nilai terendah saya dapatkan pada bagian Writing. Saya cuma dapat poin 4.5 selebihnya memuaskan. Saya cukup kaget. Kok bisa? Padahal selama ini listening yg membuat saya khawatir.

Kenapa hasil tes saya pada Writing sangat rendah? Ternyata setelah saya sadari, selama ini saya mengabaikan latihan Writing. Saya merasa sudah yakin akan bisa mempertahan skill Writing yang saya punya. Faktanya malah meleset. Skill yang tak pernah diasah akan berkarat. Ia akan menumpul dan tidak berkembang. Apalagi untuk tes IELTS yang topik Writing-nya tak bisa diprediksi. Saya sudah meremehkan sesuatu tanpa sadar. Jujur, saya cukup malas berlatih mengerjakan latihan Writing sebelum mengikuti tes. Saya berpikir, dengan membaca cara menulis yang baik dan benar sudah cukup. Ah, betapa salahnya. Itulah sebabnya membaca instruksi dan cara pengerjaan tidak sama dengan mempraktikkannya.

Baiklah, hasil Writing ini cukup membuat saya terguncang. Saya kok jadi bodoh banget. Kok menurun sekali kualitasnya. Saya tak henti-henti merutuk diri. Ah, bagaimanapun penyesalan tidak akan mengubah keadaan. Yang saya butuhkan sekarang adalah mulai berlatih Writing sesuai teknik yang benar. Menambah pengetahuan dengan bacaan yang memperkaya uraian tulisan.

Pelajaran yang bisa saya ambil adalah boleh saja merutuk, kecewa dan menyesal. Tapi bukan itu poin dari kegagalan dalam sebuah tes/ujian. Hasil hanyalah penanda kualitas dan pencapaian kita. Poin utamanya adalah perbaiki segera kekurangan dan berlatihlah dengan sungguh-sungguh agar tangkas dalam menghadapi ujian. Mampu membaca soal ujian dan mampu menyelesaikannya dengan baik sesuai teknik pengerjaannya.

Kasus di atas adalah sesuatu yang bisa menjadi percontohan bagi berbagai tes atau ujian yang dihadapi, tak terkecuali ujian hidup (eaaa…).

Mari mulai berlatih dari sekarang. Jangan lupa menilai diri sendiri melalui prediksi latihan-latihan yang kita lalukan. 😊

Ash-Shabuur

Ada satu nama dalam Asmaul Husna yang membuat saya merasa malu dan bersalah terus pada Allah. Ash-shabuur, Allah Maha Sabar. Sabarnya Allah melebihi kesabaran yang dipunyai makhluk. Inilah satu nama baik Allah yang mengingatkan kita agar jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.

Kita manusia tak pernah luput dari berbuat hal-hal yang melanggar aturan Allah. Ada saja kesalahan yang kita sengaja, tidak disengaja, ataupun kesalahan yang kita sadari dan yang tidak kita sadari. Pada kondisi tertentu, terkadang saya merasa frustrasi saat tidak bisa berjuang menjadi lebih baik sebagai hamba Allah. Saya berjanji untuk menjadi lebih baik, namun sialnya saya terus saja mengulangi kesalahan yang sama. Saya mengutuk diri, menyesali diri, dan membenci diri. Saya merasa betapa sukar dan mendakinya jalan menuju surga. Ya, Allah apakah saya akan sampai ke sana?

Dalam keadaan yang hampir putus asa tersebut, saya mengingat Allah. Apakah Allah masih peduli dengan saya. Saya punya target dan harapan tapi justru saya sendiri yang menggagalkannya. Saya tahu, setiap langkah kita untuk menjadi lebih baik pasti akan diiringi ujian oleh Allah. Allah ingin mengukur diri saya, seberapa tangguh saya berjuang. Pada akhirnya saya mengakui kelemahan diri pada Allah bahwa saya belumlah cukup tangguh.

Jika tidak karena harapan yang diingatkan oleh Nabi Ya’qub di dalam Al Quran agar jangan berputus asa dari rahmat Allah, mungkin saya sudah lepas kendali. Jika bukan karena sifat Allah Yang Maha Sabar, pasti saya sudah berhenti berjuang.

“dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS. Yusuf 12: Ayat 8)

Allah bersabar dengan kesalahan yang kita lakukan berulang-ulang. Betapa banyaknya dosa anak Adam di dunia ini, dan Allah masih bersabar menunggu kita untuk berubah menjadi lebih baik dan kembali pada Allah.

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 54)

Betapa sangat memalukannya saat Allah terus bersabar tapi kita terus mengulangi kesalahan. Bagaimana jika waktu tenggang untuk kita telah habis diberi Allah?

Saya tahu jika yang mampu menolong kita hanyalah rahmat Allah semata. Betapa banyak orang-orang yang sudah ditolong Allah untuk kembali ke jalan lurus setelah kehidupan rusak yang mereka alami. Bukankah Allah Maha Pemaaf? Membaca kisah orang-orang yang berhijrah menuju jalan Allah sangat menggugagah pikiran dan hati kita. Kok Allah masih mau menerima mereka? Kok Allah bisa memberi hidayah kepada mereka? Padahal dosa-dosa mereka sudah tak tanggung-tanggung. Kita sebagai manusia belum tentu mau memaafkan orang yang sudah sangat jahat kepada kita.

Yaa Shabuur, seharusnya kesabaran Allah membuat kita malu dan tahu diri. Apa kita tega memanfaatkan kesabaran Allah untuk terus-terus berbuat kesalahan dan dosa? Jika iya, jahat sekali kita sebagai manusia. Jahat dan tak punya muka.

Bagaimanapun, Allah akan terus menguji kita sebagai pembuktian apakah kita sungguh-sungguh untuk berhijrah dan berjuang menjadi lebih baik. Sebagaimana yang dikatakan Allah dalam firman-Nya:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, Kami telah beriman dan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 2)

Ujian itu pun datang dengan berbagai bentuk. Saat kita sudah mulai lebih baik muncul rintangan, bisa perkara yang melalaikan, menjauhkan dari kebaikan, dan penolakan terhadap perubahan yang kita bawa. Allah kadang menguji kita dengan kelemahan kita. Apa kita bisa konsisten dengan niat dan tekad di awal. Allah menguji kita dengan sesuatu yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Ada orang diberi harta berlimpah, kekurangan uang, tawaran-tawaran yang menggelincirkan, serta kesulitan yang akan mendera jika teguh memegang kebenaran.

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 35)

Allah sudah sangat jelas menerangkan bahwa ujian akan selalu diberikan dengan berbagai macam bentuk untuk menguji ketaatan dan keteguhan manusia dalam jalan kebenaran dan ketaatan pada Allah.

Saya terkadang merasa sedih kenapa Allah memberi ujian yang membuat saya justru tergelincir hingga saya harus jatuh lagi dan mengulang lagi dari awal semuanya. Tapi, saya kemudian sadar, Allah bersabar melihat proses diri saya. Allah tahu manusia itu tak sempurna. Allah mau saya berjuang terus walaupun harus jatuh bangun, terhempas, dan terseret. Allah menguji saya apakah saya akan kembali pada-Nya lagi setelah saya tergelincir, apakah saya akan tegap berdiri lagi setelah terlempar. Dan apa saya tetap mengingat-Nya dalam keadaan apapun.

Saya menulis ini sebagai bentuk perenungan agar menjadi manusia yang tahu diri di depan Allah. Allah sudah baik kok masih saja dikhianati dengan kesalahan yang sama. Saya sadar jika saya lemah, tak akan kuat berjuang sendiri. Allah mau mengingatkan, jika berjuang maka mintalah selalu kekuatan dan perlindungan pada-Nya. Minta untuk selalu dikuatkan agar terus istiqamah dalam jalan kebaikan. Siapa yang menjamin dan menjaga keistiqamahan selain Allah. Jadi, jangan sok kuat dan merasa diri sudah kuat. Kita selalu butuh Allah. Dan Allah sangat suka hambanya bergantung pada-Nya.

Ilmu dan Perjalanan


Hidup adalah perjalanan. Terkadang memang tidak selalu kita tahu aturan mainnya hingga mesti terjatuh dulu baru menyadari kesalahan. Bisa juga kita melaluinya dengan seperangkat pengetahuan yg memandu hingga kesalahan-kesalahan bisa teratasi. Namun, bagaimanapun, hidup akan selalu memberikan ujian dan permasalahan baru dan kita tak tahu rumusnya. Kita meraba-raba, menerka-nerka, menimbang-nimbang, bahkan bisa jadi memakai suatu stategi tertentu untuk menjalaninya, akan tetap saja itu adalah sebuah ujian yang baru. Maka, bisa dipastikan ada kesalahan-kesalahan yang dilakukan. Atau bisa juga manusia diberi permasalahan yang sama tetapi tak mampu atau lupa mengidentifikasinya hingga mengulangi kesalahan yang sama karena tidak berhati-hati. Semata-mata semua itu karena manusia sangat sedikit ilmunya dan sering mengikuti kehendaknya saja. Tidak tahu mana yang baik dan buruk untuk dirinya, kadang tahu tapi memaksakan kehendak. Saat menyadari kesalahan barulah dia mengerti.

Manusia akan selalu diuji dengan sesuatu yang sering membuatnya terkecoh dan terlalaikan. Dia akan diuji dengan sesuatu yang terlalu disukainya atau hal-hal yang tak disukainya. Seberapa tangguh manusia dalam menjalani dan menyelesaikan masalahnya, maka di situlah keberhasilannya dalam menjalani hidup. Itulah mungkin yang dinamakan tingkatan ujian dan orang-orang yang berhasil akan naik derajat ke yang lebih tinggi di sisi Allah Swt. Jika dia masih gagal, maka ujian yang sama akan terus menghadangnya sampai dia melewatinya. Subhanallah.

“Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapai (derajat itu) dengan amal-amal kebaikannya, maka Allah akan menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu.” (H.R. Athabrani)

Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya lemah dia diuji dengan itu (ringan) dan bila imannya kuat dia akan diuji sesuai dengan itu (keras). Seseorang akan diuji terus menerus sehingga dia berjalan di muka bumi ini bersih dari dosa-dosanya” (H.R. Bukhari)

Islam sudah memberi sekumpulan aturan sebagai panduan. Apa pun ujian dan permasalahannya akan dapat diselesaikan asal selalu merujuk pada aturan tersebut. Seringkali, manusia lupa untuk menguasai atau mengabaikan aturan-aturan tersebut hingga membiarkan hasrat dan keinginan yang menguasai. Maka wajar terjadi kesalahan yang tak bisa dielakkan. Ya, mengabaikan aturan adalah kesalahan paling sering dilakukan. Tapi yang paling fatal adalah tidak mempelajari aturan. Maka saat kesalahan terjadi dia tak sadar jika itu adalah sebuah kesalahan. Ini cukup mengerikan jika kita tak tahu kesalahan kita. Artinya, tidak akan ada kesadaran untuk memperbaiki diri karena apa yang dilakukannya masih dianggap benar, dia hanya menganggap kurang beruntung saja.

Sampai di sini, yang ingin saya katakan adalah sangat penting sekali untuk berilmu sebelum beramal. Penting untuk mengetahui aturan-aturan dalam menjalani kehidupan. Dengan demikian kita akan terhindar dari kesalahan. Jika kita salah akan segera beristighfar dan memperbaikinya.

Bagi seorang muslim penting baginya untuk mengkaji aturan dalan Al Quran dan hadis sebagai sumber utama aturan. Kita bisa memperdalamnya lagi dalam kajian qiyas dan ijtihad, serta ijma’ atau kesepakatan para ulama.

Dalam Islam, menuntut ilmu adalah wajib. Ilmu yang utama adalah ilmu Islam yang akan menjadi landasan dan panduan dalam kehidupan. Ilmu-ilmu untuk urusan dunia pun tak lepas dari perhatian dalam Islam agar manusia mengetahui cara memfasilitasi dan memenuhi kehidupannya dengan baik. Maka dari itu, mari kita semakin bersemangat dalam menuntut ilmu, terutama ilmu Islam. 😊

Photo credit here